Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.Badai Di gerbang Kota
## Bab 35: Badai di Gerbang Kota
Perjalanan menuju Kota Daun Perak memakan waktu beberapa jam. Sepanjang jalan, Mu Qingwan mencoba membuka percakapan untuk mengorek latar belakang Fang Yuan. Namun, pemuda berambut biru keputih-putihan itu hanya diam, berjalan dengan santai dengan kedua tangan yang nyaman bersarang di dalam saku jubah putih-hitamnya, seolah-olah dia sedang berjalan-jalan di taman belakang rumahnya sendiri.
Hingga akhirnya, tembok kota kuno yang terbuat dari batu hitam setinggi belasan meter muncul di balik cakrawala. Kota Daun Perak.
Namun, suasana di gerbang kota tampak tidak biasa. Puluhan kultivator yang mengenakan jubah hitam dengan sulaman tengkorak manusia di dada mereka tampak sedang memblokade jalan masuk. Mereka memeriksa setiap kereta dan orang yang lewat dengan kasar.
"Nona Muda! Itu orang-orang dari Sekte Tengkorak Hitam!" bisik salah seorang prajurit Keluarga Mu dengan wajah panik.
Mu Qingwan menghentikan langkahnya, wajah cantiknya seketika menegang. "Mengapa mereka berani menjaga gerbang kota? Apakah situasi di dalam kota sudah berubah?"
"Hahaha! Mu Qingwan! Akhirnya kamu keluar juga dari Hutan Binatang Buas!"
Sebuah tawa arogan yang memekakkan telinga terdengar dari arah gerbang kota. Sesosok pemuda kurus berwajah pucat dengan kantung mata hitam pekat melangkah maju, dikelilingi oleh belasan murid sekte. Di pinggangnya tergantung sebilah belati beracun yang memancarkan aura hijau pekat.
Dia adalah **Gu Yan**, Tuan Muda Kedua dari Sekte Tengkorak Hitam, seorang ahli Tahap Pengumpulan Tingkat Kedelapan.
"Gu Yan! Apa maksud dari semua ini?! Mengapa Sekte Tengkorak Hitam memblokade gerbang?!" tuntut Mu Qingwan, tangannya langsung memegang gagang pedangnya.
"Apa maksudnya?" Gu Yan menyeringai kejam, matanya menatap tubuh Mu Qingwan dengan pandangan cabul. "Ayahku dan Leluhur Keluarga Lin saat ini sudah berada di dalam kediaman Keluarga Mu-mu untuk memaksa ayahmu menandatangani surat penyerahan seluruh bisnis tambang. Dan kamu, Mu Qingwan... mulai hari ini akan menjadi pelayan pemuas nafsuku!"
"Kamu... bajingan!" Mu Qingwan gemetar hebat karena amarah yang membakar.
Gu Yan tertawa terbahak-bahak, namun pandangannya kemudian beralih dan mendarat pada sosok Fang Yuan yang berdiri di samping Mu Qingwan. Melihat penampilan Fang Yuan yang begitu *stylish*, wajah tampan di atas rata-rata, dan rambut biru keputih-putihan yang mencolok, ego Gu Yan langsung tersengat.
"Hei, bocah aneh! Siapa kamu?!" bentak Gu Yan, menunjuk Fang Yuan dengan belatinya. "Berani-beraninya berjalan di samping wanita milikku! Berlutut dan potong kedua tanganmu sekarang, atau aku akan memberi makan anjing-anjing sekte dengan dagingmu!"
Mendengar ancaman itu, prajurit Keluarga Mu di belakang langsung memandang Gu Yan dengan pandangan seolah-olah melihat orang mati. Mereka tahu persis monster macam apa yang baru saja dibangunkan oleh pemuda bodoh itu.
Fang Yuan perlahan mengalihkan pandangannya. Mata kirinya yang keemasan menatap Gu Yan dengan ekspresi yang sangat malas—seolah-olah dia baru saja melihat sebutir debu yang mengotori sepatunya.
Senyum nakal yang sangat dingin terukir di wajah sempurnanya.
"Berlutut? Memotong tangan?" Fang Yuan mendengus remeh, suara merdunya mengalun santai namun sarat akan aura kematian yang absolut. "Bahkan pemimpin sektenmu pun harus merangkak seperti anjing jika ingin berbicara denganku. Makhluk tidak berguna sepertimu... berani menggonggong di hadapanku?"
"Cari mati! Habisi dia!" raung Gu Yan yang merasa terhina.
*SHUT! SHUT!*
Dua murid senior Sekte Tengkorak Hitam yang berada di Tahap Pengumpulan Tingkat Ketujuh langsung melesat maju, belati beracun mereka mengarah langsung ke titik-titik fatal di tubuh Fang Yuan.
Fang Yuan tidak memasang kuda-kuda. Dia hanya menarik tangan kanannya dari saku jubahnya dengan gerakan yang sangat lambat, lalu membuat satu gerakan horizontal ringan di udara—***Jejak Telapak Cangqiong***.
*BUMMM!!!*
Gelombang tekanan udara transparan yang bercampur dengan *Qi* murni Tahap Pengumpulan Tingkat Sembilan meledak keluar. Dua murid senior yang melesat maju itu bahkan tidak sempat berteriak saat tubuh mereka hancur berkeping-keping di udara, berubah menjadi hujan darah yang mengerikan.
Gelombang kejut itu terus melesat maju, menghantam Gu Yan yang berdiri sepuluh meter di belakang.
*BRUAAAKKK!*
Gu Yan terlempar bagai layang-layang putus, menghantam tembok batu kota hingga retak sedalam setengah meter. Seluruh tulang di tubuhnya remuk, dan dia memuntahkan darah segar bercampur potongan organ dalam.
"A-Apa... Kekuatan macam apa ini..." rintih Gu Yan dengan mata melotot jantungan penuh kengerian spiritual yang tak terbatas, sebelum akhirnya kepalanya terkulai, tewas seketika.
Hanya dengan satu kibasan tangan kasual, Tuan Muda Kedua dari Sekte terkuat di kota itu tewas mengenaskan beserta para pengawalnya.
Suasana di depan gerbang kota seketika sunyi senyap bagai kuburan. Para kultivator dan warga yang menyaksikan kejadian itu langsung berlutut ketakutan, tidak berani mendongakkan kepala mereka untuk menatap sang "Iblis Berambut Biru".
Fang Yuan memasukkan kembali tangannya ke dalam saku jubah putih-hitamnya, lalu melangkah santai melewati mayat Gu Yan, memasuki gerbang kota.
"Arah kediaman Keluarga Mu," ucap Fang Yuan datar tanpa menoleh ke belakang. "Pimpin jalan sekarang, Qingwan. Aku sedang ingin membersihkan beberapa sampah lagi hari ini."