seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepedulian James.
Getar handphone Niko terasa di dalam saku celana, Neta yang terlihat terlelap dengan selang infus di tangan kirinya membuat pandangan mata Niko terpusat ke arah wanita cantik yang kini tengah berbaring di atas brangkar.
Tangan Niko terulur mengambil ponsel di saku celananya, nama James terlihat sedang menghubunginya.
Dengan gerakkan cepat Niko segera mengangkat panggilan dari James, suara James terdengar di balik handphone milik Niko.
"nik, gimana keadaan Neta...? Apa dia baik baik saja, sekarang dimana dia. Aku baru saja masuk ke apartemen Neta, dan dia tidak ada di dalam unit apartemennya."
Niko tahu jika James tampak sangat mengkawatirkan Neta, tapi melihat kondisi Neta yang lemas saat Niko menemuinya dan dengan posisi Neta yang terlihat sendiri membuat Niko kesal dengan James.
padahal sebelum Niko datang ke apartemen Neta, Niko meminta James untuk segera ke apartemen Neta untuk melihat kondisi Neta.
"dia baik baik saja, kakak tidak usah kawatir."
Jawab Niko dengan suara terdengar malas.
"sekarang dimana Neta...?"
Niko melihat jam di dinding rumah sakit, dia tersenyum sinis saat mengetahui jika ternyata hari sudah malam.
"aku akan menjaga kak Neta, lebih baik kakak tidak usah kemari."
tanpa menunggu jawaban dari James, Niko segera mematikan ponselnya.
Selimut yang menutupi tubuh Neta tersibak, dengan gerakkan perlahan Niko segera membenarkan posisi selimut milik Neta.
"kak maaf aku tidak memberitahu keberadaanmu ke kak James, aku tahu pasti dia lebih mementingkan kekasihnya dari pada melihat kondisimu sekarang."
Batin Niko merasa miris melihat ke arah Neta.
sedangkan di apartemen Neta, James yang masih berada di kamar apartemen milik Neta memandang tempat tidur Neta yang berantakan.
Ponsel milik Neta tergelatak di atas nakas, selimut Neta yang terlihat teronggok di lantai membuat hati James merasa semakin bersalah.
Tubuh James perlahan bergerak, tangannya terulur menarik selimut. James akan membersihkan apartemen milik Neta sebelum Neta kembali, dengan gerakan gerakkan kecil namun pasti apartemen yang tadinya berantakan kini telah rapi karena James yang membersihkannya.
"aku akan mencari kamu Neta, mungkin Niko membawamu di salah satu rumah sakit. Dan akan aku pastikan keadaan kamu baik baik saja."
Batin James sesaat sebelum pergi dari unit apartment Neta.
Sedangkan Neta yang baru saja sadar dari tidurnya dengan perlahan membuka kedai matanya, hal pertama kali yang dia lihat adalah Niko yang tertidur di sampingnya.
Beruntung ruang inap Neta di fasilitasi tempat tidur beserta sofa untuk penunggu pasien, jadi Niko bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya tanpa harus mencari cara untuk dia bisa tidur nyenyak menemani Neta di rumah sakit.
"Niko..."
Panggil Neta lirih.
Tubuh Neta yang masih lemas hanya bisa dia gerakkan sebagian, itupun harus membutuhkan tenaga sedikit besar dari nya.
Panggilan nama yang keluar dari mulut Neta membuat Niko terganggu di sela tidurnya, dengan perlahan Niko membuka matanya memastikan jika suara wanita yang memanggilnya adalah suara Neta.
Senyuman samar terulas dari wajah pucat Neta ketika keda mata Niko menatapnya, melihat jika Neta sudah sadar Niko segera beranjak dan menghampirinya.
"kak, ada yang bisa aku bantu. Kakak mau minum atau kakak mau apa...?"
Suara Niko terdengar serak, mendengar Niko yang sangat ingin membantunya membuat Neta merasa sangat terharu.
"tidak, aku tidak ingin apa apa. Aku hanya ingin memanggilmu saja, kamu lanjut tidur. Sepertinya kamu masih mengantuk, jika aku mau ke kamar mandi sepertinya aku bisa sendiri."
ucapan Neta yang sok kuat membuat Niko gemas dengan kakaknya, dengan gemas Niko mengacak rambut kepala Neta.
"jangan sok kuat, kamu masih lemah. Jika mau ke kamar mandi biar aku gendong kamu kak."
tanpa menunggu aba aba, Niko segera menggendong Neta ala bridal style. Niko tahu pasti Neta akan ke kamar mandi, karena sejak tadi mereka kerumah sakit Neta belum sadarkan diri setelah di tanggani perawat serta dokter di UGD.
"kok kamu tahu sih kalau aku mau ke kamar mandi...?"
Neta semakin malu akan kepekaan adik semata wayangnya, dia merasa jika tidak perlu dia menjelaskan dan Niko akan tahu semuanya tentang keinginan Neta.
"kita lahir dari darah yang sama dan rahim yang sama, sepertinya aku dan kak Neta memiliki telepati yang sama satu sama lain. Haha..."
tawar pecah dari Niko membuat Neta sedikit kesal, ucapan Niko terdengar sedang mengejek Neta.
"tidak ada hubungannya nik, aku rasa kamu hanya care sama aku karena aku dulu sering membantumu, dan kamu ingin membalas kebaikan ku selama ini dengan memperhatikan ku bukan...?"
Ucapan Neta yang semuanya benar membuat Niko tersenyum lebar, Niko sudah mendudukan neta di atas toilet duduk dan infus Neta sudah Niko letakkan di tempat yang sudah di sediakan. dengan perlahan Niko memutar tubuhnya untuk segera keluar dari dalam kamar mandi.
"jika sudah selesai aku akan ke sini, ingat...!! Jangan sok mandiri."
Ucapan Niko membuat Neta seakan seperti anak kecil yng butuh pengasuhan dari orang dewasa, senyum lebar Neta berikan saat Niko perlahan keluar dari dalam kamar mandi.
Langkah kaki seseorang terdengar di lorong rumah sakit, langkah itu terdengar tergesa namun berat.
James yang dari tadi mencari keberadaan Neta di rumah sakit kini sudah menemukan keberadaannya wanita yang selama ini menjadi sahabatnya.
Lorong rumah sakit yang tampak sepi, membuat James dapat dengan mudah dan cepat menemukan kamar inap Neta.
Pintu kamar inap yang tertutup rapat membuat James segera menekan handel pintu, saat daun pintu terbuka tampak tempat tidur Neta yang kosong tanpa Neta tidur di atasnya.
James menoleh ke kiri melihat Niko yang sedang memainkan ponsel pintarnya, dengan langkah perlahan dan perasaan yang teramat bersalah James mendekati Niko.
"Niko..."
Panggil James dengan suara pelan.
Kepala Niko yang sejak awal terfokus memperhatikan ponselnya kini beralih melihat sosok laki laki tampan dengan tinggi 183 sedang memperhatikannya.
"hmm... Akhirnya kamu datang."
Suara Niko terdengar sangat ketus melihat James yang terengah memandang Niko, james hanya mengangukan kepalanya samar dia tahu jika Niko kesal dengan dirinya.
"dimana Neta...?"
Tanya James sambil duduk di samping Niko.
Belum juga Niko menjawab pertanyaan James, terdengar suara Neta memanggilnya dari dalam kamar mandi.
"Niko..." seru Neta.
Niko yang akan berdiri dan melangkah ke dalam kamar mandi di hentikan gerakkannya oleh James.
"biar aku saja."
James segera melangkah masuk kedalam kamar mandi, sendangkan Niko hanya menghela nafasnya berat.
Jujur Niko sangat kesal dengan James, tapi apa yang akan Niko lakukan jika melihat James yang ternyata masih peduli dengan Neta.
"James..."
Seru Neta sedikit terkejut melihat James yang masuk kedalam kamar mandi.