Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Senyap di Pelabuhan Utara
Deru mesin SUV hitam itu akhirnya mati sekitar setengah kilometer di sebelah barat dermaga utama Pelabuhan Tua Sektor Utara. Nathan sengaja memarkir kendaraannya di balik barisan kontainer berkarat yang telah terbengkalai selama bertahun-tahun, menyamarkannya di antara bayangan-bayangan besi raksasa yang mulai keropos dimakan usia dan air garam.
Begitu pintu mobil dibuka, aroma udara malam yang sangat khas langsung menyergap indra penciuman Nathan, perpaduan antara bau air laut yang asin, karat logam yang basah, sisa-sisa bahan bakar solar, dan bau pekat lumpur hitam dermaga yang diaduk oleh derasnya air hujan.
Nathan melangkah keluar dari mobil. Hujan badai Megapura menghantam mantel panjang hitam tebalnya dengan kekuatan penuh, namun bahan kedap air berkualitas militer itu menahan kebasahan dengan sempurna. Ia menarik tudung mantelnya ke atas, menyembunyikan sebagian wajahnya yang kaku di balik bayang-bayang kain hitam.
Ia tidak terburu-buru. Nathan berdiri diam di samping mobil selama hampir tiga puluh detik, membiarkan matanya menyesuaikan diri sepenuhnya dengan kegelapan malam pelabuhan yang hanya diterangi oleh beberapa lampu halogen kuning yang berkedip-kedip redup di kejauhan.
Di telinga kanannya, earpiece satelit terenkripsi bergetar halus.
"Bos," suara Rendra terdengar sangat jernih di tengah desisan badai. "Visual termal dari satelit menunjukkan badai di atas pelabuhan semakin memburuk. Ini menguntungkan kita karena membatasi jarak pandang penjaga luar hingga kurang dari 10 meter. Namun, berhati-hatilah dengan dermaga belakang. Arus laut di sana sangat deras malam ini, kapal cepat milik Robert sudah menyalakan mesin cadangannya."
"Rute patroli terluar?" tanya Nathan, suaranya sangat rendah, hampir tenggelam sepenuhnya oleh gemuruh ombak yang menghantam dinding penahan beton dermaga di dekatnya.
"Ada dua orang yang berpatroli secara melingkar di luar Gudang nomor tujuh. Mereka membawa senapan serbu laras pendek dan sesekali memeriksa celah di antara kontainer penumpukan barang. Mereka bergerak setiap 5 menit. Jarak waktu yang sangat sempit, Bos."
"Itu lebih dari cukup," jawab Nathan dingin.
Ia memutuskan sambungan komunikasi, lalu mulai melangkah maju menembus badai. Langkah kakinya bergerak dengan kehalusan yang hampir mustahil dipercaya untuk seorang pria dengan perlengkapan tempur seberat itu. Ia tidak berjalan di area terbuka, tubuh tegapnya menyelinap dari balik kontainer satu ke kontainer lainnya, menyatu sempurna dengan kegelapan malam seperti hantu yang meluncur di atas air.
Udara dingin yang menusuk tulang tidak membuat otot-otot Nathan kaku. Sebaliknya, aliran adrenalin di dalam tubuhnya menjaga suhu tubuhnya tetap hangat, sementara fokus mentalnya menajam di batas maksimal. Di depannya, siluet abu-abu dari bangunan seng raksasa berlantai dua mulai terlihat di balik tirai hujan yang tebal.
Gudang nomor tujuh.
Sebuah bangunan tua beratap seng gelombang dengan beberapa jendela kaca berkawat yang sebagian besar telah pecah. Di pintu masuk utama yang terbuat dari besi geser tebal, sebuah lampu halogen besar terpasang di atasnya, memancarkan cahaya putih terang yang menyapu genangan air di area semen halaman depan.
Nathan menghentikan langkahnya di balik sebuah bangkai truk derek yang sudah berkarat, sekitar 20 meter dari sudut timur gudang. Dari posisi buta ini, ia mengamati situasi secara manual.
Rendra benar. Dua orang penjaga luar yang mengenakan jas hujan taktis hitam tebal tampak berjalan dengan langkah malas menyusuri dinding seng gudang. Senapan serbu jenis carbine kaliber 5,56 mm tergantung di dada mereka dengan posisi siap tempur, namun tubuh mereka yang sedikit membungkuk untuk menahan dinginnya angin laut menunjukkan bahwa kewaspadaan mereka telah menurun drastis.
Salah satu penjaga berhenti di dekat sudut timur, mengeluarkan sebungkus rokok dari balik jas hujannya, lalu mencoba menyalakannya di bawah lindungan tangannya dari rintik hujan. Temannya berdiri di sebelahnya, mengawasi jalan masuk utama dengan pandangan kosong.
"Sialan, kenapa Robert harus paranoid seperti ini?" keluh salah satu penjaga, suaranya yang serak samar-samar terdengar oleh pendengaran tajam Nathan di sela-sela gemuruh guntur. "Tim Alpha dan Gamma adalah orang-orang terbaik di agensi. Tidak mungkin mereka semua gagal hanya untuk mengambil satu gadis manja di rumah tanpa penjagaan."
"Diamlah, bersyukurlah kamu tidak dikirim ke sana malam ini," jawab temannya dingin seraya membetulkan posisi tali senjatanya. "Robert bilang pengawal baru gadis itu bukan orang sembarangan. Dia khawatir jalurnya bocor."
"Ah, pengawal sipil apa yang bisa—"
Kalimat itu tidak pernah selesai.
Dari balik kegelapan kabut hujan di samping bangkai truk derek, sebuah siluet hitam meluncur keluar dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa. Sebelum penjaga kedua sempat menyadari adanya pergerakan udara yang aneh di sebelahnya, tangan kiri Nathan yang dilapisi sarung tangan Kevlar sudah mencengkeram rahang bawahnya dari belakang, sementara tangan kanannya yang memegang pisau taktis militer panjang meluncur dengan presisi mengerikan di bawah dagu pria itu.
Jleb.
Pisau baja hitam itu menembus tulang lunak rahang bawah dan langsung memotong batang otaknya. Penjaga kedua langsung kaku seketika, matanya melotot kosong tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun.
Penjaga pertama, yang masih sibuk memantik rokoknya, mendengar suara desau udara halus di sebelahnya. Ia menoleh perlahan. "Hei, ada apa dengan—"
Matanya melebar saat melihat tubuh temannya ditahan oleh sesosok pria bermantel hitam panjang yang matanya berkilat sedingin es di balik tudung kepalanya.
Sebelum ia sempat berteriak atau mengangkat senapan serbunya, Nathan melepaskan jasad di tangan kirinya dan melayangkan satu pukulan lurus yang sangat berat tepat ke arah jakun penjaga pertama.
KRAK!
Tulang rawan tenggorokannya hancur seketika di bawah hantaman buku jari Kevlar Nathan. Pria itu jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri yang kini tersumbat, mencoba menghirup udara yang tidak akan pernah bisa masuk lagi ke dalam paru-parunya.
Nathan tidak membiarkan pria itu jatuh menghantam tanah semen dengan keras yang bisa menimbulkan kebisingan. Ia menangkap kerah jaket taktis pria itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan kejam menghujamkan pisau taktisnya tepat ke arah jantung pria tersebut melalui celah ketiak kiri yang tidak terlindungi oleh rompi antipeluru.
Tubuh penjaga pertama mengejang sekali sebelum akhirnya lemas sepenuhnya.
Hanya butuh waktu kurang dari 4 detik bagi Nathan untuk melumpuhkan dua penjaga terluar tersebut tanpa menimbulkan alarm bahaya sedikit pun. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia menyeret kedua jasad tersebut ke kolong truk derek yang gelap, menyembunyikannya di antara roda-roda besi yang besar agar tidak terlihat oleh patroli berikutnya jika ada.
Nathan mengambil salah satu senapan serbu kaliber 5,56 mm milik korban, melepaskan magasinnya, lalu membuang senjata tersebut ke dalam genangan lumpur di bawah truk. Ia tidak tertarik menggunakan senjata bising milik musuh.
Ia menyeka sisa darah di bilah pisau taktisnya menggunakan jas hujan salah satu korban, menyarungkannya kembali ke dada kirinya, lalu menatap ke arah dinding seng Gudang nomor tujuh.
Pintu masuk utama adalah sebuah jebakan maut, seperti analisis Rendra melalui satelit termal. Robert telah menempatkan dua titik senapan mesin ringan di balkon lantai dua dalam yang mengarah langsung ke pintu masuk. Siapa pun yang mencoba masuk secara frontal akan langsung dicabik-cabik oleh rentetan peluru kaliber besar.
Nathan tidak akan melakukan kesalahan amatir seperti itu.
Ia berjalan memutar menuju sisi barat bangunan, area yang berbatasan langsung dengan tumpukan peti kemas tua yang menjulang tinggi. Di atas dinding seng lantai satu yang berkarat, terdapat sebuah jendela ventilasi udara berukuran 60 sentimeter yang tertutup oleh kawat kasa baja tebal. Jendela ini berada sekitar 4 meter di atas tanah.
Bagi manusia biasa, memanjat dinding seng yang basah dan licin tanpa alat bantu adalah hal yang mustahil. Namun bagi Nathan, struktur luar gudang ini penuh dengan celah taktis.
Ia melompat ke atas sebuah drum oli bekas di dekat dinding, menggunakannya sebagai tumpuan awal. Dengan satu tolakan kaki yang kuat, tubuhnya melesat ke atas. Tangan kanannya mencengkeram erat sudut lipatan seng dinding yang menonjol, sementara kaki taktisnya mencari pijakan mikro pada baut-baut baja struktur dinding yang menonjol keluar.
Dalam waktu kurang dari dua detik, Nathan sudah bergelantungan di dekat jendela ventilasi udara.
Ia merogoh sabuk taktis belakangnya, mengeluarkan sebuah alat pemotong kawat baja mikro buatan Rendra. Dengan kekuatan mekanis alat tersebut, ia memotong empat sudut kawat kasa baja ventilasi dalam hitungan detik tanpa menimbulkan suara berisik yang berarti.
Setelah kawat kasa terlepas, Nathan mendorong tubuhnya masuk melewati celah ventilasi udara yang sempit tersebut dengan kelenturan tubuh seorang pesenam profesional. Tubuhnya meluncur mulus ke dalam kegelapan bagian dalam gudang, mendarat tanpa suara di atas sebuah balok besi penyangga atap lantai dua yang berdebu.
Suasana di dalam gudang terasa sangat kontras dengan badai di luar. Di sini, udara terasa sangat kering, berdebu, dan dipenuhi oleh bau kayu lapuk dan bahan kimia tekstil kuno yang disimpan di dalam peti-peti kayu besar di bawah.
Nathan merayap perlahan di atas balok besi horizontal, bergerak seperti bayangan yang merangkak di langit-langit. Di bawah visual hijau kacamata malamnya, interior Gudang nomor tujuh terlihat sangat jelas.
Sekitar sepuluh meter di bawah posisinya, di tengah lobi utama gudang yang diterangi oleh beberapa lampu sorot gantung darurat, tampak sesosok pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja flanel merah yang dilapisi jaket kulit cokelat. Pria itu sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah panik, sesekali menyeka keringat dingin di dahinya meskipun suhu di dalam gudang cukup dingin.
Robert si Broker Timur.
Di sekeliling Robert, delapan orang penjaga bersenjata laras panjang berdiri dengan posisi siaga, membentuk perimeter pertahanan yang ketat di sekitar meja tumpukan dokumen logistik mereka. Dua orang di antaranya berada di balkon lantai dua yang berseberangan dengan posisi Nathan, berdiri di balik barikade karung pasir bersama dua pucuk senapan mesin ringan yang moncongnya mengarah langsung ke pintu gerbang bawah.
"Bagaimana mungkin mereka tidak merespons?!" raung Robert dengan suara serak yang dipenuhi kepanikan psikologis yang ekstrem, tangannya mencengkeram ponsel satelit di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tim Alpha tidak menjawab! Tim Gamma juga tidak menjawab! Bahkan patroli luar kita di dermaga belakang juga bungkam sejak sepuluh menit lalu! Sesuatu yang buruk sedang terjadi di sini!"
"Tenanglah, Bos," salah satu pengawal bertubuh kekar di dekat meja mencoba menenangkan. "Mungkin badai di luar merusak frekuensi repeater kita di pelabuhan. Kita masih memiliki delapan orang bersenjata lengkap di sini, dan posisi kita sangat aman di dalam gudang ini. Siapa pun yang mencoba masuk lewat pintu depan akan langsung hancur."
"Kamu tidak mengerti, bodoh!" teriak Robert, wajahnya memerah karena takut. "Pria yang menjaga anak Elena itu... dia bukan pengawal biasa! Orang dalam Megantara bilang dia menghabisi dua belas orang di Jalan Widya Mulia sendirian dalam waktu kurang dari dua puluh menit! Dia adalah monster! Kita harus pergi dari sini sekarang juga sebelum iblis itu menemukan tempat ini!"
Robert menunjuk ke arah pintu belakang gudang yang menuju ke dermaga darurat tempat kapal cepatnya bersandar. "Kemasi dokumen-dokumen itu! Kita berangkat ke utara malam ini juga! Aku tidak ingin mati di tempat terkutuk ini!"
Di atas balok besi langit-langit yang gelap, Nathan menatap ke arah Robert dengan senyuman tipis yang sangat mengerikan di wajahnya. Mata gelapnya berkilat dingin di balik kegelapan ruangan, menghitung setiap kepala yang sedang bersiap melarikan diri di bawah sana.
Perburuan di pelabuhan tua telah memasuki babak akhir, dan sang Raja Perang siap menjatuhkan hukuman mati dalam senyap dari balik bayang-bayang atap yang dingin.
- Assalamualaikum semuanya\, jangan lupa juga membaca karya Thea "Benci di Tepian Hari\, Lindung di Balik Bayang" sebuah kisah 2 anak manusia yang saling melindungi dalam bayangan. kisah yang akan menguras emosi kalian selama mengikuti perjalanan kisah mereka\, - Terima kasih semuanya