SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 TUMBAL KE DUA
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00:32 tengah malam...
Pak Diki dengan mudahnya bisa terlelap tidur setelah memperlakukan anaknya sekasar itu di ruang tamu.
Begitu juga dengan Bu Fitri, meskipun ia tadi sempat melihat dan sedikit membela Gendis, tapi ia tak mencoba menguatkan hati anaknya itu. Ia juga bisa terlelap tidur bersama suaminya.
Tapi tidak dengan Gendis...
Ia masih terjaga dari tidurnya...
Berbaring miring di atas kasurnya yang empuk, sambil memeluk bonekanya. Dengan air mata yang membasahi dua pipinya yang halus.
"Hiks hiks hiks..." suara tangis Gendis pelan.
Entah bagaimana perasaan dalam hatinya malam ini...
Yang pasti, penuh beban dan tekanan mental...
Dirinya tak pernah menyangka perjalanan hidup bersama kedua orang tuanya akan berubah seperti ini.
Meski secara kasat mata, bisa terlihat jelas bahwa kehidupan keluarganya mulai banyak perubahan.
Orang tuanya sudah tak lagi bertengkar karena uang yang sulit dicari, tak lagi bertengkar karena SPP sekolah Gendis yang menumpuk, atau hal-hal lain seperti sebelumnya.
Akan tetapi, bagi Gendis, kekayaan keluarganya kini terasa seperti penjara dan neraka batin yang baru.
Dan juga...
Satu hal lagi...
Entah sudah berapa kali, Gendis diganggu oleh sosok makhluk ghoib pesugihan milik orang tuanya itu.
Membuatnya terlihat seperti anak kelas 3 SD biasa, tapi di sisi lain sama sekali tak biasa.
Dan yang paling terlihat dari sikap orang tuanya adalah...
Mereka berdua sama sekali tak mengajarkan tentang ilmu agama pada Gendis.
Bahkan orang tuanya itu juga tak mendaftarkan Gendis ke tempat mengaji untuk anak-anak seusianya. Padahal di dekat rumah barunya ini, ada dua tempat mengaji untuk anak-anak.
Sebenarnya Gendis juga sudah beberapa kali meminta agar dia bisa ikut mengaji seperti anak-anak lain di dekat rumahnya yang baru ini.
Akan tetapi, jawaban orang tuanya selalu saja sama...
"UDAH, NANTI AJA KALO KAMU MAU NGAJI, SEKARANG GAK PENTING..."
Begitulah jawaban sang Bapak. Dan sang Ibu juga seperti tak punya kekuatan untuk mendukung keinginan Gendis.
"Ya Alloh, tolong sadarkan orang tuaku... Hiks hiks hiks..." ucap Gendis pelan sambil terus terisak di atas kasurnya.
.....
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Beberapa hari berikutnya...
Warung makan milik keluarga Gendis tetap ramai seperti biasa...
Orang-orang bergantian datang dari berbagai tempat. Ada yang dari wilayah sekitar, ada juga yang dari jauh, dan yang paling banyak berasal dari wilayah pertokoan dan juga wilayah pabrik sekitar. Dan juga ada yang sekadar lewat di jalan raya depan warung mereka, kemudian mampir untuk makan.
Pagi...
Siang...
Sore...
Malam...
Seakan-akan tak pernah berhenti datang dan perginya para pembeli...
Namun, ditengah ramainya pembeli siang hari ini, Toto yang menjadi karyawan paling muda, menghampiri Bu Fitri di dapur yang sedang sibuk memasak dengan karyawan perempuan.
"Bu, maaf, saya mau izin..." kata Toto.
"Eh Toto... Mau izin ngapain kamu? Ini warung lagi rame pembeli loh..." respon Bu Fitri sambil mengaduk bumbu bahan masakan di atas wajan.
"Maaf Bu, saya tadi pagi udah janji sama adik saya, mau anterin dia ke kampus." jawab Toto.
"Emang adik kamu masih kuliah? Kok berangkatnya siang-siang gini?"
"Iya Bu, hari ini adik saya ada jam kuliahnya siang Bu."
"Oh gitu..." respon Bu Fitri agak ketus.
"Saya janji Bu, gak lama-lama anter adik saya. Nanti langsung balik lagi ke sini kok..." ucap Toto mencoba meyakinkan istri Pak boss nya itu.
"Ya udah sana. Janji jangan lama-lama loh ya..."
"Iya Bu, saya janji..."
Akhirnya setelah mendapatkan izin dari Bu Fitri, segera Toto keluar dan menyalakan mesin motornya. Hendak menjemput sang adik di rumah, dan segera bergegas mengantarnya ke kampus.
Selama di perjalanan, terasa teriknya sinar matahari...
Sang adik yang benama Fahri mengobrol dengan Toto...
"Bang, buruan dikit napa sih bawa motornya, aku udah telat nih!" ucap Fahri.
"Yeeeh... Sabar dong Ri, namanya juga motor tua." jawab Toto.
"Lagian kenapa sih malah pakek motor punya Ayah? Udah tau motornya lambat begini." jawab sang adik agak kesal.
"Ya kan motor Abang lagi di bengkel, kamu udah tau sendiri motor Abang lagi rusak Ri." sahut Toto yang juga jadi agak kesal.
"Ya lagian punya motor gak dirawat sih!" sahut adiknya lagi.
"Halaaah... Kamu tuh bisanya ngomong terus Ri! Kamu juga kalo lagi pake motor Abang, jarang banget beli bensin, atau paling enggak kamu bantu ganti oli nya kek." ucap Toto.
"Hehehe... Ya mangap Baaang..." celoteh Fahri.
"Mangap-mangap... Maaf kali!" sahut Toto.
"Naaah itu... Maaf... Hahaha..." respon Fahri sambil tertawa.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan yang ditemani teriknya matahari, akhirnya Toto sampai di depan kampus Fahri.
"Makasih Bang udah anterin aku..."
"Iya... Ya udah sana masuk kelas! Nanti malah makin telat kamu." ucap Toto.
"Iya Bang..."
Fahri pun mencium tangan kanan Toto...
Sebentar Toto melihat adiknya itu berjalan tergesa meninggalkannya. Akan tetapi, wajahnya heran ketika melihat Fahri kembali lagi mendekatinya.
"Loh? Kenapa balik lagi Ri?"
"Bang... Mau nanya boleh?"
"Nanya apaan?"
"Abang gajian kapan?"
"Lah, ya masih lama... Kerja di warung makan Pak Diki aja belom sebulan Abang. Kenapa emangnya Ri?"
"Hehehe... Kalo udah gajian, mau minta duit dong aku Bang..." jawab Fahri cengengesan.
"Idiiihhh... Enak aja minta-minta!"
"Ya kan buat aku Bang. Biasalah buat nambah uang jajan kuliah... Berbagi itu kan indah Bang... Hahaha..."
"Halaaah... Kamu tuh!" respon Toto sambil menjambak pelan rambut adiknya itu.
"Aduh duh..."
"Udah sana masuk kelas! Giliran telat nanti kamu malah nyalahin Abang!"
"Iya-iya..."
Akhirnya Fahri segera bergegas menuju kelasnya. Dan Toto pun mengendarai motor yang dibawanya untuk kembali ke warung makan.
Di tengah perjalanan, ternyata bensin motornya itu habis. Terpaksa dia berhenti dahulu di sebuah pom bensin yang tak jauh dari warung makan keluarga Gendis.
.....
.....
.....
Ketika sedang mengantri untuk mengisi bensin, Toto sepintas melihat satu sosok anak di seberang jalan...
Sosok anak yang sudah dia kenal...
Sosok itu adalah Gendis...
"Loh? Kenapa anaknya Pak Diki berdiri di sana?" gumam Toto sambil mulai mengisi bensin.
Toto memperhatikan sosok Gendis berdiri diam saja di seberang jalan sana. Tak bergerak. Namun mata Gendis yang putih itu terlihat menatap ke arahnya.
Ketika bensin sudah terisi, dan Toto sudah membayar, ia segera mendorong motornya ke sisi jalan keluar pom bensin. Ia tak langsung menyalakan mesin motornya.
"Gendis ngapain sih di sana? Kenapa dia ngeliatin aku kayak gitu ya? Apa dia mau nyeberang?" gumam Toto lagi dengan heran.
Dan sedetik kemudian...
Di mata Toto...
Sosok Gendis itu melambaikan tangan...
Namun terasa aneh lambaian tangan Gendis itu...
Lambaiannya seolah memiliki arti "Selamat Tinggal"...
Di tengah keheranan itu, Toto dibuat terkejut seketika, saat dirinya melihat sosok Gendis itu mulai berjalan pelan menyeberang.
"Loh?! Gendis?! Tunggu saya!!" teriak Toto.
Toto dengan insting naturalnya, tidak ingin Gendis tertabrak mobil.
Toto pun segera berlari ke tengah jalan...
Mencoba menghampiri Gendis yang sudah hampir ke tengah jalan...
Akan tetapi...
Tiba-tiba...
.....
.....
.....
"TIIIIIIIIINNNNN!!!!!"
.....
.....
.....
"BRAAAAKKKKK!!!!!!"
.....
.....
.....
Tubuh Toto terpental beberapa meter...
Tertabrak sebuah truk pengangkut pasir yang sedang melaju cukup kencang...
Tubuhnya langsung terkapar di antara pembatas tengah jalan...
Mengucur deras darah segar dari kepalanya yang pecah seketika terkena benturan pembatas jalan itu...
Sedikit bergetar tangan dan kaki Toto...
Dan...
Beberapa detik kemudian...
Tubuhnya berhenti total...
😆😆 lanjut kak👍👍👍