NovelToon NovelToon
Istri Hasil Perjodohan

Istri Hasil Perjodohan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:231.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: To Raja

Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.

Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

"Keluarga sudah bisa menjenguk pasien, hanya saja, Karena pasien dalam keadaan koma maka kami hanya membatasi setiap kunjungan hanya boleh satu orang." Kata seorang suster yang bertugas.

"Baik Sus, terima kasih." Ucap Sania tersenyum.

"Ya sudah sayang, tunggu apa lagi, masuklah dan lihat suamimu." Veronika menguatkan anaknya. Karena meski ia melihat anaknya tetap tenang dan bisa tersenyum, ia yakin hati anaknya pasti begitu sakit dengan musibah yang menimpahnya kali ini.

"Baik Bu, kalau begitu aku akan masuk." Ucap Sania lalu berjalan ke ruang ganti untuk melakukan sterilisasi pada pakaiannya.

Setelah masuk ke ruangan yang dipenuhi bau obat itu, Sania bisa melihat Aris yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan berbagai selang memenuhi tubuhnya.

Hatinya terasa sakit, dan tanpa ia sadari air matanya sudah bercucuran ketika ia duduk di samping suaminya.

Dengan gemetaran Sania mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan suaminya yang begitu dingin.

"Sayang, aku ada di sini." Ucapnya dengan suara tercekat. "Aku tidak sendirian, aku datang bersama anak kita," Sania mengulurkan tangannya yang lain dan menyentuh perutnya. "Sayang apa kau juga merasakan kalau kita sedang berada di dekat Ayah?"

Sania awalnya begitu kuat dan masih bisa berbincang sendirian, namun lama kelamaan hatinya semakin sakit menerima kenyataannya.

Ia hanya bisa terdiam membiarkan air matanya bercucuran melihat kondisi Aris yang tidak bisa membuka matanya.

'Sayang, kumohon cepat sembuh, aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu. Beri aku kesempatan untuk mengatakan aku sangat mencintaimu. Beri juga kesempatan pada anak kita untuk merasakan pelukan seorang ayah.' Gumam Sania terus memandangi wajah Aris dan menggenggam erat tangan Aris.

Ia begitu lama berada dalam kamar Aris hingga akhirnya seorang suster menghampirinya "Maafkan saya Nyonya, tapi silahkan keluar sekarang, karena pasien harus tetap di jaga lingkungannya agar mempercepat proses penyembuhannya."

"Baik Sus, tolong perhatikan suami saya. Ucap Sania menyeka air matanya lalu kembali menoleh ke arah Aris. "Sayang, aku pergi dulu. Besok aku akan datang lagi, jadi kumohon jangan menyerah untuk berjuang lepas dari penyakitmu. Ingat aku, ingat anak kita yang membutuhkanmu."

"Silahkan saya antar keluar Nyonya." Ucap Sang suster lalu menuntun Sania keluar dari ruangan steril itu.

Veronika dan Marita yang menunggu Sania di luar segera menghampiri Sania ketika melihatnya keluar.

"Sayang, jangan menangis." Veronika kembali menenangkan putrinya.

"Iya sayang, Aris adalah anak yang kuat, ia pasti bisa melewati semua ini." Marita menambahkan.

"Terima kasih Bu," Sania mengusap air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan kedua ibunya itu.

Karena setiap hari hanya di beri kesempatan satu orang untuk mengunjungi Aris, maka semua orang kemudian kembali ke rumah.

Sania memasuki kamar Aris di lantai satu dan mengunci pintu kamar.

Ia berniat tidur di kamar itu, tapi akhirnya, ia bukannya tidur, ia malah menangis merindukan suaminya.

Sania menangis sampai akhirnya ketiduran. Pada malam hari, semua orang panik mencarinya.

"Bibi Sani, apa Bibi melihat Sania?" Tanya Veronika karena ia sudah mencari Sania ke kamarnya, tapi kamarnya kosong.

"Saya juga tidak tahu Nya, kalau begitu saya akan mencarinya dulu." Bibi Sani kemudian meninggalkan Veronika untuk mencari Sania.

"Ada apa Besan?" Tanya Marita saat melihat besannya sedang kebingungan.

"Ini, Sania tidak tahu dimana, padahal ia biasanya selalu berada di kamarnya." Jawab Veronika dengan wajah cemas.

"Kalau begitu aku juga akan mencarinya." Ucap Marita lalu mereka berpencar mencari Sania di setiap tempat di ruang itu.

Ketiganya kembali berkumpul di tempat semula saat mereka semua tidak menemukan Sania.

"Bagaimana Bi?"

"Saya sudah ke taman dan semua tempat yang sering Non Sania tempati, tapi saya tidak menemukan Non Sania." Jawab bibi Sani.

"Kemana dia ya?" Veronika begitu cemas.

"Ada apa Bu?" Tanya Adel yang baru saja turun dari lantai dua.

"Sayang, apa kau melihat kakakmu?" Veronika segera bertanya.

"Tidak Bu, apa Kakak tidak ada di kamarnya?"

"Tidak ada sayang." Veronika segera duduk di sofa karena kakinya segera melemas memikirkan putrinya yang tiba-tiba hilang.

"Bagaimana dengan kamar Kak Aris?" Lagi Adel bertanya.

Bibi Sani dan Veeronika segera berdiri dan berlari ke kamar Aris.

"Apa mereka tidur pisah kamar?" Marita langsung bertanya karena merasa bingung.

"Iya Bu, mereka pisah kamar sejak lama." Jawab Adel sebelum berjalan menyusul Ibunya.

Veronika berdiri di depan kamar Aris dan mengetuk pintu itu. "Sayang, apa kau didalam?" Tanyanya.

Tak ada suara dari dalam.

"Coba saja buka pintunya Nya." Usul Bibi Sani.

Veronika segera memutar kenop pintu, tapi ternyata pintunya terkunci.

"Dikunci Bi."

"Kunci serepnya dimana Bi?" Adel segera angkat suara.

"Aduh Non, kunci serepnya juga di ambil Den Aris, katanya buat Non Sania." Kata Bibi Sani.

"Memangnya kenapa mereka pisah kamar?" Marita kembali bertanya di sela-sela kepanikan semua orang.

"Selama hamil Sania banyak ngidam yang aneh-aneh." Ucap Veronika menjawab.

"Ya sudah, mungkin Sania rindu dengan suaminya, jadi ia tidur di kamar suaminya. Kita tunggu saja dia keluar."

"Tapi Besan, bagaimana kalau ia malah larut dalam kesedihannya dan malah mencelakai dirinya sendiri."

"Itu tidak mungkin, ia hanya perlu waktu untuk menenangkan diri."

"Itu benar Nya, saya yakin saat ini Non Sania sedang tidur, makanya ia tidak mendengar kita."

"Ya sudah, tapi aku akan menunggu di sini." Kata Veronika dengan raut wajah cemasnya.

Segera Bibi Sani dibantu Adel mengangkat sofa panjang untuk Veronika dan Marita yang ingin menunggu Sania di depan kamar Aris.

'Ya ampun, Kak Sania benar-benar mencintai Kak Aris. Kalau gini caranya, bagaimana bisa aku berharap merebut Kak Aris? Apa lagi sekarang Kak Sania sedang mengandung anak Kak Aris.' Adel berdiri menatap pintu kamar Aris.

"Sayang, mengapa berdiri di situ?" Kemarilah dan duduk." Ucap Veronika.

"Ya Sayang, kemarilah." Marita juga mengajak Adel untuk duduk bersama mereka.

Adel menghela nafas lalu berjalan mendekati kedua ibunya itu dan duduk di antara mereka.

"Mengapa wajahmu lesu begitu?" Marita bertanya sambil memperhatikan raut wajah Adel yang begitu lesu.

"Bu, aku ingin bertanya sesuatu, boleh?"

"Apa itu sayang?" Marita dengan lembut memegang tangan Adel.

"Apa Ibu punya putra yang lain?"

"Ohh, putra Ibu cuma satu, Aris, dia pun anak kami satu-satunya." Jawab Marita.

"Lalu, apa Ibu punya keponakan lelaki?" Lagi tanya Adel penuh harap.

"Hahaha..." Veronika tertawa dengan sikap putrinya.

"Ibuuuu,," adel merengek karena tawa ibunya.

"Besan, dia ini sangat cemburu dengan kakaknya yang mendapat suami tampan seperti Aris. Dia bertanya padamu karena berharap Aris punya kerabat yang sama tampannya." Kata Veronika sambil terkikik.

"Ibu,,, kau membuatku malu!"

"Hahaha..." Marita pun ikut tertawa. "Jadi anak cantik ini mencari seorang pria tampan? Ibu bisa mengenalkannya padamu, tapi kau masih SMA, tunggulah sampai kau lulus kuliah dan Ibu akan memperkenalkan kalian." Kata Marita.

"Benarkah itu Bu? Apa dia lebih tampan dari Kak Aris?" Tanya Adel begitu antusias.

"Sasstttt,, bahkan Aris tidak ada apa-apa dengannya. Tapi kau harus selesai sekolah lebih dulu."

"Bagus! Aku pasti akan menyelesaikan sekolahku dengan cepat. Tapi Bu, bolehkan kami di jodohkan saja lebih dulu? Aku mau seperti Kak Sania." Kata Adel Punuh keyakinan.

"Okk." Jawab Marita menyetujui anak gadis itu.

"Baik Bu, terima kasih."

1
Dwi apri
beneran atau prank nih
Tiwik Firdaus
cerifanya berbelit2 ngak ada jnungnya
Agnes Orindo
sukaaa
Dyah Oktina
aduh... typo nama nya .... kadang membuatku yg baca bingung... sbetulnya namanya ibu nya aris itu karina atau marita??? 2 episod begitu
ㅤㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
wah perjodohan
semangat terus berkarya 👍
Momo R
mungkin itulah balasanya durhaka sama suami😂
Rostanti Arahman
heeee
Elen Situmorang
aku mampir
M m
bagus tapi endingnya ngegantung
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya
Yani Inaya Emerald Msi
aq dah klik favorit bang😄
Yani Inaya Emerald Msi
baru mulai baca, lanjutt thor
Maya Zaidan Zikco
aku mampir
Miadi
Good job, Adel
Miadi
Calon pelakor kedua yg harus dihempaskan
Miadi
Sanya, Sania, lama2 ketuker thor 🤭
Miadi
ganjen 😒
Miadi
Adel menjijikkan
Miadi
Orang kebakaran ni malahan asik MP 😅
Miadi
Gengsi digedein 😑
Miadi
Laki2 ky gitu 1 dari 1000
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!