"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Amarah Sang Tuan Muda
Deru mesin SUV hitam yang dikemudikan oleh sopir pribadi keluarga Dewangga membelah jalanan aspal menuju kawasan perumahan elite. Di kursi belakang, suasana tampak tenang. Naya duduk sambil memangku buku cerita, sementara Kenzie sudah terlelap dengan kepala bersandar di paha wanita itu. Jemari Naya bergerak teratur, mengusap pelan rambut halus sang anak sambung demi menjaga tidurnya agar tetap pulas.
Wajah Naya tetap jernih, tenang menghanyutkan. Kejadian di lobi sekolah tadi, di mana ia dikepung oleh tatapan sinis dan sindiran tajam dari Tante Sandra serta komplotan sosialita Clarissa, sama sekali tidak meninggalkan bekas kepanikan di gurat wajahnya. Bagi Naya, riak-riak kecil dari luar seperti itu tidak akan pernah bisa menjebol benteng pertahanan yang sudah ia bangun sekeras baja.
Namun, ketenangan di dalam rumah itu segera terusik begitu mobil berhenti di pelataran.
Pintu utama rumah mewah itu terbuka dengan sentakan kasar sebelum Naya sempat melangkah masuk bersama Kenzie yang baru saja terbangun. Arka berdiri di sana. Kemeja kerjanya berantakan, dasinya sudah terlepas entah ke mana, dan guratan di dahinya tercetak sangat dalam. Sepasang mata elangnya memancarkan kilat amarah yang membara, napasnya memburu kasar.
"Tuan Arka? Ada apa?" tanya Naya, suaranya mengalun sangat stabil dan rendah, langsung memasang mode waspada agar Kenzie tidak terkejut melihat kondisi ayahnya.
Arka tidak menjawab Naya. Ia menatap sopir pribadinya yang baru saja menurunkan tas sekolah Kenzie dengan pandangan tajam. "Heri, kembali ke paviliun belakang. Dan pastikan tidak ada satu pun pelayan yang mendekat ke ruang tengah."
"B-baik, Tuan Muda," jawab sopir itu gugup, buru-buru menunduk dan melangkah pergi.
Arka mengalihkan pandangannya pada Kenzie. Ekspresi wajahnya yang menyeramkan membuat bocah empat tahun itu refleks bersembunyi di balik kaki Naya, mencengkeram erat kain kulot hitam mamanya.
"Kenzie, masuk ke ruang bermainmu sekarang. Papa ada urusan penting dengan Mama," perintah Arka, suaranya bariton menekan, mencoba meredam getaran amarahnya agar tidak membentak sang anak seperti malam itu.
Naya mengusap bahu Kenzie dengan kelembutan yang menenangkan. "Masuklah, Sayang. Mama sudah siapkan susu cokelat di meja bermain. Nanti Mama menyusul, ya?"
Kenzie mendongak, menatap wajah tenang Naya sejenak sebelum akhirnya mengangguk patuh dan berlari kecil menuju ruang bermain di bagian dalam rumah.
Begitu sosok Kenzie tidak lagi terlihat, Arka langsung melangkah lebar mendekati Naya. Jarak mereka begitu dekat hingga Naya bisa merasakan hawa panas dari amarah yang sedang membakar dada pria itu.
"Kenapa kamu tidak langsung meneleponku saat kejadian di sekolah tadi, Naya?!" geram Arka, suaranya tertahan di tenggorokan namun sarat akan tekanan emosi. "Heri sudah melaporkan semuanya padaku lewat telepon semenit setelah kalian keluar dari gerbang sekolah! Tante Sandra dan komplotan Clarissa sengaja mempermalukanmu di depan umum, menyebarkan desas-desus kotor tentang ibumu dan utang keluargamu! Kamu mengerti tidak seberapa serius ini?!"
Naya bergerak mundur satu langkah dengan sangat anggun, memelihara jarak aman di antara mereka tanpa ada sekerat pun rasa takut. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Arka yang menggelap.
"Saya mengerti dengan sangat baik, Tuan Arka. Lalu, apa yang membuat Anda semurka ini? Apakah karena Anda mencemaskan reputasi nama besar Dewangga, atau karena Anda merasa sandiwara kita terancam gagal?" tanya Naya dingin, bicaranya terstruktur rapi tanpa intonasi tinggi.
"Ini bukan cuma soal reputasi, Naya!" Arka memukul tiang pilar marmer di dekatnya dengan kepalan tangan, meluapkan rasa frustrasinya. "Clarissa sudah kelewatan! Dia menggunakan cara kotor untuk menyerang mentalmu di ruang publik. Dia ingin mengisolasimu agar kamu merasa tidak berdaya dan mundur dari pernikahan ini! Besok pagi, aku akan menyuruh tim hukum perusahaan untuk mengirimkan surat peringatan keras pada Tante Sandra, dan aku akan memindahkan sekolah Kenzie ke tempat yang lebih privat agar kamu tidak perlu berhadapan dengan manusia-manusia berlidah ular itu lagi!"
Naya menatap tangan Arka yang memerah akibat hantaman pada pilar, lalu beralih menatap wajah kacau sang tuan muda. Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin namun menghanyutkan—sebuah senyuman yang seketika memotong rentetan rencana impulsif Arka.
"Jika Anda melakukan semua hal itu besok pagi, Tuan Arka ... maka Clarissa akan langsung merayakan kemenangannya malam ini," ucap Naya, suaranya begitu tenang, bertindak bagai air es yang menyiram kobaran api amarah Arka.
Arka tertegun, rahangnya yang mengeras perlahan sedikit mengendur. "Apa maksudmu? Mereka merendahkanmu, Naya. Mereka menginjak harga dirimu di depan puluhan wali murid."
"Mereka mencoba menginjak saya, tapi mereka tidak berhasil," balas Naya tegas, matanya berkilat memancarkan kekuatan jiwa yang sekeras baja. "Di lobi sekolah tadi, tidak ada satu pun air mata yang keluar dari mata saya. Saya tidak menundukkan kepala, dan saya tidak memohon belas kasihan. Sebaliknya, saya membalikkan kata-kata mereka hingga mereka semua bungkam karena malu di depan umum."
Naya melangkah maju kembali, menatap Arka dengan pandangan mendalam yang mengunci pergerakan logika pria itu.
"Clarissa menyebarkan rumor itu dengan tujuan memancing reaksi emosional dari Anda. Dia ingin melihat Anda panik, marah, dan bertindak impulsif seperti memindahkan sekolah Kenzie atau menuntut keluarganya sendiri. Jika Anda menyerang balik dengan membawa tim hukum perusahaan untuk urusan seperti gosip ibu-ibu, publik justru akan melihat bahwa kita sedang ketakutan karena rumor itu mengandung kebenaran. Anda akan mengonfirmasi bahwa ada celah besar di dalam pernikahan kita yang membuat Anda begitu sensitif."
Arka terdiam seribu bahasa. Kalimat-kalimat yang tersusun rapi dari bibir Naya meredam seluruh amarah di dadanya dalam hitungan detik, menyisakan rasa takjub yang teramat besar yang kembali menghantam egonya. Wanita sederhana ini ... dalam kondisi tertekan di luar rumah, masih bisa berpikir sejauh itu untuk mengamankan posisi strategis mereka. Ketenangan mental Naya benar-benar berada di tingkat yang tidak pernah Arka bayangkan sebelumnya.
"Tapi ... bagaimana bisa kamu setenang ini, Naya?" suara Arka merendah, kehilangan seluruh urat kemarahannya, kini beralih menjadi nada parau yang sarat akan rasa kagum sekaligus perih. "Mereka membawa-bawa kondisi ibumu. Mereka menyindir kemiskinan masa lalumu. Sebagai seorang wanita, bagaimana bisa hatimu tidak terluka atau menangis?"
Naya mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruang bermain Kenzie yang tertutup. Sudut matanya melembut sesaat sebelum kembali beralih menatap Arka dengan keteguhan yang murni.
"Karena saya tahu siapa diri saya yang sebenarnya, Tuan Arka. Dan yang paling penting, Kenzie ada di samping saya tadi," jawab Naya, suaranya begitu dalam, menggetarkan bagian terdalam dari batin Arka. "Anak Anda memegang tangan saya dengan sangat erat. Dia menatap saya dengan rasa bangga karena mamanya tidak mundur setapak pun dari serigala-serigala berbulu domba itu. Jika saya menangis atau menunjukkan kelemahan saya di sana, Kenzie akan tumbuh menjadi anak yang penakut, berpikir bahwa dunia luar bisa dengan mudah menghancurkan hidup kita."
Naya menarik napas panjang secara teratur, merapikan letak blus putih tulangnya yang sedikit kusut. "Tugas saya bukan hanya menjadi pajangan di samping Anda, tetapi menjadi contoh yang kokoh bagi anak Anda. Clarissa ingin menyerang lewat sekolah? Silakan. Selama Kenzie pulang dengan senyuman dan merasa aman di dekat saya, badai isu apa pun di luar sana hanya akan menjadi angin lalu yang membersihkan debu-debu di halaman rumah ini."
Arka terpaku, menatap Naya dengan debaran jantung yang kian tak terkendali. Rasa kagum yang berbaur dengan rasa butuh yang teramat besar merayap naik, menguasai seluruh kesadarannya. Pria kaku yang selama bertahun-tahun ini terbiasa berdiri sendiri menghadapi kerasnya persaingan bisnis dan dinginnya aturan keluarga Dewangga, sore ini merasa seperti menemukan sebuah oase yang begitu teduh dan kokoh. Nayara bukan sekadar tameng kontrak; wanita ini adalah obat penenang paling mujarab bagi jiwanya yang selalu tegang.
"Naya ...." Arka melangkah mendekat, mengulurkan tangannya secara perlahan, kali ini dengan gerakan yang sangat hati-hati dan tulus tanpa ada kepura-puraan untuk pelayan. Jemarinya yang besar menyentuh pundak Naya, merasakan kehangatan tubuh wanita yang berdiri tegap menjadi pelindung hidupnya.
"Maafkan aku," bisik Arka, matanya terkunci pada mata bulat Naya yang jernih. "Aku ... aku selalu gagal mengontrol emosiku jika itu menyangkut keselamatan kalian. Kehadiranmu di rumah ini ... benar-benar membuatku sadar betapa rapuhnya aku jika berjalan sendirian."
Naya merasakan sentuhan tangan Arka di pundaknya mengalirkan rasa hangat yang janggal, mengirimkan debaran yang sempat ia kunci rapat di kamar tidur tempo hari. Hati Naya berdesir, namun kekuatan mentalnya segera menarik garis pembatas yang tegas. Ia melepaskan diri dari sentuhan itu dengan satu gerakan mundur yang sangat anggun dan halus.
"Fokuslah pada pekerjaan Anda di kantor, Mas Arka. Selesaikan masalah pemutusan proyek sepihak oleh Maheswari Group dengan kepala dingin," ucap Naya, sengaja memanggil Arka dengan sebutan 'Mas' untuk mengingatkan pria itu bahwa hubungan mereka terikat oleh sebuah misi profesional di atas kertas kontrak. "Biarkan saya yang mengurus stabilitas emosi di dalam rumah ini dan menjaga mental Kenzie. Kita punya arisan keluarga besar di akhir pekan, dan itu adalah tempat di mana kita harus memberikan pukulan telak yang sesungguhnya pada Clarissa."
Arka menarik kembali tangannya yang terasa kosong di udara, mengembuskan napas panjang untuk menstabilkan debaran di dadanya yang kian liar. "Baik. Aku akan ikuti strategimu, Naya. Aku akan selesaikan urusan Maheswari di bursa saham besok pagi."
"Bagus," Naya mengangguk kecil, memberikan penghormatan formal yang sangat anggun sebelum berbalik menuju ruang bermain Kenzie. "Saya permisi menemani Kenzie minum susunya. Sebaiknya Anda mandi dan mengistirahatkan pikiran Anda."
Arka berdiri diam di ruang tengah yang luas, menatap punggung tegap Naya yang melangkah pergi dengan keanggunan mutlak tanpa menoleh lagi. Pria sedingin es itu memegang dadanya sendiri, merasakan sisa-sisa kehangatan kata-kata Naya yang baru saja menyelamatkan logikanya dari kehancuran impulsif.
Bersambung...