NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Semakin dekat

Johan langsung memberi perintah melalui saluran komunikasi. "Seluruh kendaraan, kurangi kecepatan. Berhenti seratus meter sebelum truk. Formasi bertahan."

"Siap."

Konvoi keluarga Moretti perlahan melambat. Tiga SUV hitam berhenti dengan jarak yang teratur. Mesin tetap menyala, sementara para pengawal bersiap tanpa membuat gerakan yang mencolok.

Aurora masih tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di bahu Adrian.

Leonardo melirik ke arah mereka, lalu berbisik, "Biarkan saja."

Adrian hanya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, sebuah drone hitam berukuran kecil lepas landas dari atap SUV paling depan. Dengung baling-balingnya nyaris tak terdengar saat melesat menuju lokasi truk.

Di dalam mobil komando, Johan mengawasi layar tablet. "Naikkan ketinggian lima puluh meter."

"Baik."

Gambar dari drone mulai terlihat jelas.

Sebuah truk kontainer berwarna putih memang melintang di tengah jalan. Namun... tidak tampak bekas tabrakan ataupun kerusakan.

"Perbesar kabin sopir."

Operator segera memperbesar gambar. "Kosong, Tuan."

"Kolong truk."

Layar kembali berubah, tidak ada siapa pun.

Johan mengernyit. "Periksa area sekitar."

Drone kembali naik, lalu memutar perlahan mengelilingi lokasi.

Lima detik... sepuluh detik...

Tiba-tiba operator menahan napas. "Kontak!"

"Apa?"

"Empat... tidak, enam orang bersenjata bersembunyi di balik lereng sebelah kiri."

Layar kembali diperbesar.

Enam pria berpakaian kamuflase tampak berjongkok di balik semak-semak, masing-masing membawa senapan laras panjang dengan peredam suara.

Johan langsung menghubungi Adrian. "Don, saya melihatnya."

Tatapan Adrian berubah sedingin es. "Mereka bukan perampok."

"Benar."

"Lalu?"

"Mereka sedang menunggu kita masuk ke dalam jangkauan tembak."

Leonardo menghela napas pelan. "Berarti benar-benar penyergapan."

Adrian tetap tenang. "Berapa jumlahnya?"

"Enam penembak yang terlihat."

"Yang terlihat," ulang Adrian pelan. "Berarti yang tidak terlihat mungkin lebih banyak."

Aurora masih tertidur, sama sekali tidak menyadari situasi yang berubah genting.

Adrian menoleh kepadanya sesaat. Wajah gadis itu tampak damai, seolah untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir ia bisa beristirahat tanpa rasa takut.

Sorot mata Adrian sedikit melembut, kemudian ia kembali fokus. "Johan."

"Ya, Don."

"Jangan serang."

Johan sempat terdiam. "Kita mundur?"

"Tidak." Adrian memandang peta digital di layar. "Drone kedua."

"Diterbangkan?"

"Iya, cari jalan di belakang mereka."

Operator segera mengendalikan drone kedua yang terbang lebih tinggi. Beberapa menit kemudian, hasil pemindaian mulai muncul.

"Tuan Johan!"

"Ada apa lagi?"

"Di belakang posisi penembak terdapat sebuah jalan tanah."

"Ke mana arahnya?"

Operator memperbesar peta. "Menuju sebuah gudang tua sekitar dua kilometer dari sini."

Adrian langsung memperhatikan layar. "Gudang itu..."

Johan mengangguk. "Tidak terdaftar sebagai bangunan aktif."

Adrian mengetukkan jarinya pelan di sandaran kursi. "Kalau mereka sengaja membuat penyergapan di sini..."

"Berarti gudang itu kemungkinan besar adalah tempat berkumpul mereka," sambung Johan.

Adrian menggeleng pelan. "Belum tentu markas utama."

"Kalau begitu?"

"Hanya pos pengawas."

Leonardo menatap Adrian. "Apa rencanamu?"

Adrian menjawab tanpa ragu. "Kita beri mereka apa yang mereka inginkan."

Johan sedikit bingung. "Maksud Don?"

"Satu mobil akan berpura-pura mundur. Begitu mereka merasa berhasil mengusir kita..." sudut bibir Adrian terangkat tipis, "mereka pasti akan kembali ke tempat asalnya untuk melapor."

"Dan Jordi masih membayangi mereka," gumam Leonardo sambil tersenyum tipis.

"Tepat." Adrian menekan tombol komunikasi. "Hubungi Jordi."

Beberapa detik kemudian suara Jordi terdengar.b"Aku mendengarkan."

"Target mulai bergerak."

"Perintah?"

"Jangan sentuh seorang pun."

"Aku hanya mengikuti?"

"Iya."

"Sampai mereka membawa kita kepada orang yang benar-benar berada di atas mereka."

Jordi tersenyum tipis di balik sambungan. "Dimengerti, Don."

Sambungan terputus.

Di dalam mobil, Aurora sedikit bergerak dalam tidurnya. Kepalanya semakin bersandar ke bahu Adrian. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam ujung lengan jas pria itu, seolah mencari rasa aman.

Adrian melirik sekilas, ia tidak melepaskan genggaman kecil itu. Justru ia duduk sedikit lebih tegak agar Aurora tetap tidur dengan nyaman.

Leonardo yang melihat pemandangan itu hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Di tengah situasi seperti ini, kau masih sempat menjadi sandaran."

Adrian menjawab pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aurora. "Selama dia masih bisa tidur dengan tenang... berarti tugasku belum gagal."

Di luar kendaraan, suasana hening mulai berubah. Dari kejauhan, salah seorang penembak akhirnya mengintip ke arah konvoi melalui teropong.

Ia mengernyit. "Kenapa mereka belum maju?"

Beberapa detik kemudian, SUV paling depan perlahan mulai berputar seolah memutuskan untuk kembali ke arah kota.

Pria itu segera mengambil alat komunikasinya. "Target mundur."

Suara berat dari seberang menjawab singkat. "Jangan kejar."

"Baik."

Beberapa menit kemudian...

SUV paling depan benar-benar berbalik arah dengan kecepatan pelan, diikuti kendaraan ketiga. Dari kejauhan, konvoi itu tampak seperti memilih menghindari jalur yang tertutup truk.

Namun kenyataannya, SUV yang berada di tengah... kendaraan yang membawa Adrian, Leonardo, dan Aurora tetap berhenti di balik tikungan, tersembunyi oleh deretan pohon pinus yang lebat.

Johan turun dari mobil komando dan berjalan cepat menghampiri Adrian. "Don, sesuai perkiraan. Mereka mulai bergerak."

Adrian menatap layar tablet yang menampilkan rekaman drone. Di layar terlihat keenam penembak keluar dari persembunyian mereka. Salah seorang pria mendekati truk, lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangan.

Perlahan...

Truk kontainer yang semula melintang mulai dijalankan dan diparkir ke tepi jalan.

"Jalan sudah dibuka," gumam Johan.

"Tidak..." Adrian menggeleng. "Mereka sedang membersihkan jejak."

Benar saja... begitu truk dipindahkan, dua mobil SUV berwarna gelap keluar dari balik gudang tua yang sebelumnya terdeteksi drone.

"Target bergerak!" lapor operator.

Adrian segera menekan alat komunikasinya.

"Jordi."

"Ya, Don."

"Dua SUV hitam keluar dari gudang."

"Aku melihatnya."

"Ikuti dari jarak aman."

"Baik."

"Lakukan pergantian kendaraan bila perlu. Jangan sampai mereka menyadari keberadaanmu."

"Dimengerti."

Sambungan terputus.

Di dalam SUV, Aurora masih tertidur. Genggamannya pada lengan jas Adrian belum juga terlepas.

Leonardo memperhatikan keduanya sambil tersenyum tipis. "Dia benar-benar percaya padamu."

Adrian tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Dia hanya sedang lelah."

Leonardo terkekeh pelan. "Kau selalu mencari alasan."

Adrian tidak menjawab.

Namun sesaat kemudian...

Aurora bergerak pelan dalam tidurnya. Alisnya berkerut, napasnya mulai tidak teratur. "Tidak..." Suaranya lirih. "Jangan..."

Adrian langsung menoleh.

Aurora tampak sedang bermimpi, kepalanya bergerak gelisah. "Ibu..."

Bisikan itu membuat suasana di dalam mobil mendadak sunyi.

Leonardo ikut menatap Aurora dengan wajah serius. "Ibu..."

Air mata tipis mengalir dari sudut mata gadis itu. "Tolong... jangan tinggalkan aku..."

Adrian perlahan mengangkat tangan. Ia sempat berhenti beberapa detik, seolah mempertimbangkan tindakannya. Kemudian, dengan sangat hati-hati, ia menggenggam lembut tangan Aurora yang sejak tadi memegang lengan jasnya.

"Sudah..." Suara Adrian sangat pelan. "Kau aman."

Entah karena mendengar suara itu atau hanya kebetulan, napas Aurora perlahan kembali teratur. Kerutan di dahinya menghilang. Ia kembali tertidur dengan tenang.

Leonardo mengembuskan napas lega. "Sepertinya kau memang bisa menenangkannya."

Adrian tetap menatap Aurora. "Aku hanya tidak ingin dia bermimpi buruk."

Leonardo tersenyum kecil, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sementara itu...

Di jalan pegunungan beberapa kilometer dari sana, Jordi tetap membuntuti kedua SUV hitam menggunakan kendaraan sipil berwarna abu-abu.

Jaraknya hampir delapan ratus meter. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Seorang anggota elite di kursi depan melapor.

"Tuan Jordi, target tidak menuju kota."

"Lalu?"

"Mereka mengarah ke wilayah pegunungan utara."

Jordi membuka peta digital, beberapa detik kemudian matanya menyipit. "Di sana hanya ada satu bangunan besar. Sebuah pabrik pengolahan kayu yang sudah tutup hampir lima belas tahun."

Anggota elite mengernyit. "Tempat persembunyian?"

"Bisa jadi."

Jordi segera menghubungi Adrian. "Don."

"Aku mendengarkan."

"Target menuju pabrik kayu tua di pegunungan utara."

Adrian memandang Leonardo, tatapan keduanya bertemu.

Leonardo berkata pelan, "Aku mengenal tempat itu."

Adrian menoleh.

"Dulu..." ujar Leonardo dengan nada serius, "pabrik itu milik sebuah keluarga bangsawan yang bangkrut lebih dari dua puluh tahun lalu."

"Siapa pemiliknya?"

Leonardo terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Keluarga Bellini."

Mata Adrian langsung menyipit. Bellini, nama keluarga yang sama dengan nama belakang Aurora. Suasana di dalam mobil berubah hening. Adrian menatap Aurora yang masih tertidur dengan liontin bunga lily yang masih tergenggam di tangannya.

Potongan-potongan teka-teki yang selama ini terpisah mulai saling terhubung. Jika pabrik tua itu memang pernah menjadi milik keluarga Bellini. Maka kemungkinan besar, perjalanan mereka kali ini bukan hanya membawa mereka lebih dekat kepada Black Eagle. Tetapi juga... kepada asal-usul Aurora yang sesungguhnya.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!