Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pak Umar masih berdiri di depan pintu kamar Aisyah. Entah sudah berapa kali ia mengetuk pintu itu sejak tadi pagi. Suaranya mulai serak karena terus memanggil nama putri bungsunya, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
"Aisyah," panggilnya lagi, kali ini lebih pelan.
"Kalau kamu belum mau bicara sama Ayah, tidak apa-apa. Tapi setidaknya jawab Ayah sekali saja. Biar Ayah tahu kamu baik-baik saja."
Suasana di luar kamar Aisyah tetap hening, tak ada suara selain embusan napas Pak Umar sendiri. Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak merosot. Semalaman ia pun tak bisa memejamkan mata. Setiap kali menutup mata, yang terbayang justru wajah Aisyah yang menangis sambil berkata bahwa dirinya tidak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakaknya. Kalimat itu terus terngiang. Sebagai seorang ayah, hatinya remuk namun sebagai kepala keluarga, ia juga merasa tidak punya pilihan.
"Ya Allah," gumamnya lirih. "Tunjukkan jalan terbaik mu. Jangan biarkan masalah ini, menghancurkan ikatan keluarga diantara kamu."
Perlahan Pak Umar melangkah menjauh dari pintu kamar. Ia duduk di sofa ruang keluarga sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Rumah itu begitu sunyi. Biasanya, setiap pagi Aisyah sudah sibuk di dapur. Gadis itu selalu bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat mengajar mengaji di pesantren dekat rumah.
Suara langkah kakinya, suara piring yang beradu serta lantunan ayat suci yang sering Aisyah lantunkan sambil memasak, semuanya hilang pagi ini. Keheningan itu justru membuat rumah terasa semakin sesak.
Pak Umar menoleh ke arah jam dinding dan melihat waktu hampir menunjukkan pukul sembilan. Biasanya pada jam segini Aisyah sudah berada di luar rumah, namun sekarang, pintu kamar itu masih tertutup rapat.
Di dalam kamar, Aisyah duduk memeluk kedua lututnya di sudut ranjang. Matanya sembab, kelopak matanya membengkak karena terlalu banyak menangis. Sesekali ia mengusap wajahnya dengan ujung baju gamisnya, tetapi air mata baru kembali mengalir beberapa detik kemudian. Pandangan matanya kosong. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi belum menyentuh makanan sedikit pun. Di samping ranjang, Al-Qur'an masih terbuka pada halaman yang tadi pagi ia baca. Namun pikirannya tak mampu lagi mencerna setiap ayat yang dilihatnya. Yang terus berputar di kepalanya hanyalah satu kalimat.
"Menikahlah dengan Ammar."
Kalimat itu seperti gema yang tak kunjung menghilang. Semakin ingin dilupakan, semakin jelas terdengar. Aisyah menutup kedua telinganya.
"Tidak." Lirihnya. "Jangan lagi." Air matanya kembali menetes. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. "Ya Allah, Apa salahku sampai Engkau mengujiku seperti ini?" Suara lirih itu kembali berubah menjadi isak. "Aku tidak pernah meminta hidup seperti ini. Aku tidak pernah menginginkan suami orang apalagi suami kakakku sendiri." Dadanya kembali berguncang. "Kalau aku menerima, Kak Salsa pasti akan terluka. Tapi kalau aku menolak, Rumah tangganya bisa hancur." Aisyah menutup wajahnya. "Kenapa harus aku, Ya Allah? Kenapa bukan jalan lain?"
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Pak Umar yang masih duduk di ruang tamu spontan mengangkat kepalanya. Tak berselang lama, pintu rumah terbuka. Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan masuk dengan wajah yang masih terlihat pucat. Dialah Salsa.
"Assalamu'alaikum, Yah."
"Wa'alaikumussalam."
Salsa tersenyum tipis namun senyum itu langsung memudar ketika melihat raut wajah ayahnya.
"Yah..." Salsa mengernyit. "Ayah kenapa? Wajah Ayah pucat."
Pak Umar hanya menghela napas.
"Salsa."
"Ada apa?"
"Semalam Ayah sudah bicara dengan Aisyah."
Mendengar nama adiknya disebut, jantung Salsa langsung berdegup lebih cepat.
"Terus?"
Pak Umar mengusap wajahnya perlahan.
"Dia menolak."
Senyum tipis di bibir Salsa benar-benar menghilang. Matanya perlahan berkaca-kaca.
"Menolak?"
Pak Umar mengangguk pelan.
"Sejak semalam dia mengurung diri di kamar. Sampai sekarang belum mau keluar. Dia juga belum makan."
Mata Salsa membelalak.
"Apa?"
"Cadar yang dipakainya bahkan masih basah karena air matanya. Semalaman dia menangis." Setelah mengucapkan kalimat itu, Pak Umar menundukkan kepalanya. "Ayah sudah berkali-kali membujuknya. Tapi dia tidak mau membuka pintu."
Hati Salsa langsung terasa diremas sementara air matanya mulai menggenang.
"Aisyah." lirihnya. "Aku sudah menduga dia pasti akan seperti ini."
Pak Umar mengangkat wajah.
"Salsa.... Ayah benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Ayah merasa menjadi ayah yang sangat jahat."
Kalimat itu membuat Salsa menggenggam tangan ayahnya.
"Jangan bilang begitu. Ini bukan salah Ayah."
"Tidak." Pak Umar menggeleng. "Kalau saja Ayah tidak menyampaikan permintaan itu, mungkin Aisyah tidak akan menangis seperti sekarang."
Salsa menggigit bibirnya. Dadanya ikut sesak. Ia mengenal adiknya lebih dari siapa pun. Aisyah memang memiliki hati yang lembut, tetapi kalau sudah menyangkut prinsip hidupnya, gadis itu akan sangat sulit dibujuk. Apalagi kali ini yang diminta adalah menikahi suami kakaknya sendiri. Bahkan Salsa sendiri merasa permintaan itu begitu kejam. Namun ia benar-benar tidak melihat jalan lain. Kalau Ammar menceraikannya, Ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup. Perlahan Salsa menghapus air matanya.
"Biar aku yang bicara dengannya."
Pak Umar mengangguk pelan.
"Kalau memang masih ada orang yang bisa membuat Aisyah membuka pintu, Hanya kamu orangnya."
Tanpa membuang waktu lagi, Salsa segera berdiri. Langkahnya terasa berat ketika menaiki anak tangga menuju lantai dua.Semakin dekat ke kamar Aisyah, dadanya justru semakin berdebar. Di depan pintu berwarna putih itu, Salsa berhenti. Tangannya terangkat perlahan untuk mengetuk pintu kamar Aisyah.
Tok...
Tok...
Tok...
"Aisyah." Suaranya begitu lembut namun tak ada jawaban dan membuat Salsa kembali mengetuk pintu kamar Aisyah.
Tok...
Tok...
Tok...
"Dek.... Ini Kak Salsa. Ayah bilang kamu belum keluar dari kamar. Please... Kakak mohon tolong buka pintunya dulu. Ayo kita ngobrol."
Suasana tetap hening, tak ada suara sedikit pun dari dalam. Salsa menelan ludah sementara matanya mulai berkaca-kaca.
"Aisyah.... Tolong jangan seperti ini. Kalau kamu marah, kalau kamu benci sama Kakak, kakak terima. Tapi jangan mengurung diri begini."
Tetap tidak ada jawaban. Salsa menyandarkan dahinya pada daun pintu. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Dek.... Tolong buka pintunya. Sebentar saja. Kakak mohon."
Namun di balik pintu itu Aisyah hanya memejamkan matanya erat-erat. Kedua tangannya menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Salsa. Mendengar suara kakaknya yang bergetar. Mendengar tangis yang berusaha disembunyikan kakaknya. Dan justru karena itulah, Ia semakin tidak memiliki keberanian untuk membuka pintu. Sebab ia tahu, begitu pintu itu terbuka, hatinya akan semakin sulit berkata tidak.
Salsa masih menyandarkan dahinya pada daun pintu. Tangannya yang sejak tadi menggantung di sisi tubuh perlahan mengepal. Bibirnya bergetar, sementara air mata yang berusaha ia tahan akhirnya jatuh satu per satu membasahi pipinya.