Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : BUNGKAM
Kediaman Putra Mahkota
Malam harinya seluruh pelayan dan kasim Istana Timur tak terkecuali milik Putri Mahkota dikumpulkan di lapangan dekat taman istana. Putra Mahkota duduk di depan mereka yang berlutut ketakutan. Sore tadi Wu An mendapatkan kabar bahwa ada pelayan di Istana Timur yang menyebarkan berita negatif mengenai Putra Mahkota di luar sana.
Putra Mahkota duduk santai sambil menyesap tehnya, tetapi para pelayan yang berlutut tidak demikian. Tubuh mereka gemetaran dan kedua telapak tangan mereka juga basah karena keringat. Siapa yang memiliki mulut bocor itu? Mereka yang tidak melakukannya terus mengutuk pelayan yang telah bertindak kurang ajar sehingga menyeret mereka semua.
Li Yan menunggu selama sepuluh menit tetapi tidak ada satu orang pun yang berani maju untuk mengaku. Li Yan mengetukkan jemarinya di sandaran tangan, membuat suasana semakin mencekam. Ia menghela napas lalu berkata,
"Baiklah, kalau kalian tidak ada yang mau mengaku apa boleh buat. Wu An, mulai dari barisan pertama"
Wu An sudah menarik pedang panjangnya keluar, semua pelayan memohon ampun dan menangis meminta keringanan.
*TRANG!!*
Li Yan menendang meja bulat berisi teko teh hingga mengenai pelayan yang berlutut di depan. Pelayan itu berteriak histeris kesakitan karena tehnya baru diseduh. Pelayan yang lainnya bersujud hingga menghentakkan kepala mereka ke tanah berulang kali.
Tapi Li Yan tidak merasa kasihan sedikit pun. Putra Mahkota menatar satu persatu para pelayannya. Ia mengingat masa lalunya, bagaimana mereka berkomplot bersama Sun Ling untuk membuat dirinya terpaksa diusir dari kediaman Istana Timur. Karena cinta dan kebaikannya dulu, mereka bertindak seenaknya.
Setelah itu banyak pelayan yang berteriak memohon ampun dan memberikan pembelaan. Melihat ini, Li Yan hanya tersenyum tipis dan berkata,
"Apakah selama ini aku pernah bertindak tidak masuk akal pada kalian? Tetapi karena kebaikan itu kalian berani menginjakku, hah?!"
Kali ini Li Yan tidak akan menjadi pria baik hati demi seorang wanita.
Dulu ia bodoh, berpikir bahwa takhta otomatis akan langsung jatuh ke pangkuannya karena dia adalah Putra Mahkota. Semua orang yang dulu pernah mengkhianatinya akan merasakan sakitnya pembalasan darinya.
Li Yan lalu mengatur napasnya dengan tenang, dan duduk kembali di atas kursinya. Kini ia kembali menjadi Putra Mahkota yang lembut dan bijaksana. Ia tersenyum dan meminta mereka untuk menemukan pelakunya. Jika tidak, maka bukan hanya mereka yang sengsara, tetapi keluarga yang berada di luar tembok istana juga akan terkena dampaknya.
Akhirnya ada seorang pelayan wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan menarik paksa seorang gadis pelayan yang wajahnya sudah basah oleh tangis dan ketakutan. Pelayan wanita itu mendorong si gadis pelayan ke bawah kaki Li Yan.
"Yang Mulia, mohon maafkan saya. Tetapi demi diriku sendiri dan keluargaku, aku berani bersumpah bahwa aku melihat gadis ini keluar mengendap-endap dari Istana Timur di siang hari," ujar pelayan itu sambil bersujud.
Li Yan tersenyum dan bertepuk tangan pelan. Ia mengangkat ujung dagu gadis pelayan itu.
"Siapa namamu?"
Si gadis pelayan itu tergagap untuk menjawab, bahkan pelipisnya penuh keringat. Ia tak bisa menjawab satu kata pun. Gadis inilah yang memakai penutup wajah yang dilihat Ye Ning sebelumnya. Sebenarnya Li Yan sudah tahu dari awal siapa pelaku yang menyebarkan gosip itu. Tetapi ia ingin menanamkan ketakutan dan memberikan peringatan kepada semua pelayannya agar ke depannya tidak sembarangan berbicara.
Karena tidak menjawab sepatah kata pun, akhirnya Li Yan melepaskan dagunya dan menendangnya dengan ujung tumit sepatunya. Gadis itu terjatuh ke belakang, namun dengan cepat bersujud kembali. Li Yan menunduk menatapnya lalu berbisik,
"Bahkan untuk memegang jubahku saja kau tidak pantas. Lantas kenapa keberanianmu seolah kau adalah seorang putri?"
Gadis pelayan itu hanya memohon ampun dan bersujud berkali-kali sampai dahinya berdarah. Terlambat, Li Yan tidak akan pernah mentoleransi kesalahan sekecil apa pun lagi.
Ia berseru kepada semua pelayan yang ada di depannya,
"Baiklah. Malam ini aku akan mengampuni kalian. Tapi sebagai hukuman, kalian semua harus menyaksikan bagaimana jadinya jika kalian melanggar aturanku."
Li Yan berdiri lalu memanggil Wu An dan berbisik, "Potong lidahnya, dan sayat semua badannya. Biarkan dia mati kehabisan darah dan disaksikan semua pelayan yang ada di sini."
Wu An mengangguk dan menunduk hormat. Li Yan meninggalkan tempat itu diiringi dengan seruan terima kasih dari para pelayan yang selamat.
Sejak malam itu, semua pelayan merasakan trauma yang mendalam. Tidak ada lagi yang berani membicarakan Putra Mahkota dari belakang ataupun menyebut namanya sembarangan.
Kabar mengenai Putra Mahkota yang menghukum mati gadis pelayan karena menyebarkan desas-desus tidak berdasar telah sampai ke istana harem.
Keesokan paginya saat Ye Ning dan yang lainnya bersiap pergi menuju Aula Pendidikan Istana, mereka sudah mendengar berita mengerikan itu. Ming Zi hampir pingsan karenanya, hingga mereka harus menunggu agar gadis itu dapat menenangkan diri.
Lu Wan dengan panik bertanya, apakah selanjutnya akan terjadi sesuatu pada mereka? Ye Ning juga terkejut bahwa kejadian kemarin sampai ke telinga Putra Mahkota begitu cepat. Artinya, Li Yan juga memiliki banyak mata-mata.
Ming Zi melamun seperti rohnya melayang entah ke mana, ia meracau hebat dan itu membuat Lu Wan sangat khawatir. Bahkan Qing He pun ikut menunggunya dan mencoba menenangkannya.
Ye Ning menangkap kedua bahu dan menarik tubuh Ming Zi agar menghadapnya.
"Ming Zi..."
Namun tidak ada respons. Ye Ning menghentakkan tubuhnya dan berteriak,
"HAN MING ZI!" Mendengar nama lengkapnya disebut, Ming Zi tersadar dan menatap Ye Ning. Detik berikutnya, air matanya mengalir deras bak air terjun.
"Ke Ning... aku takut... aku takut... bagaimana ini," Ming Zi meraung dan memberontak.
Tapi Ye Ning menahan tubuhnya kuat-kuat, menatapnya dengan mata bulatnya yang tegas dan berkata,
"Dengar, kemarin kita tidak pernah melihat dua gadis pelayan apa pun. Kita tidak mendengar apa pun. Mengerti?!"
Ming Zi mengangguk cepat sebagai persetujuan. Qing He memandangi Ye Ning dengan raut kekaguman yang samar.
Setelah itu Ye Ning berdiri tegak, merapikan pakaiannya, dan mengajak mereka pergi ke Aula Pendidikan Istana secepatnya.
"Bersikaplah ceria seperti biasanya. Jika wajah kalian terlihat ketakutan, maka kita semua akan tamat."
Lu Wan dan Ming Zi akhirnya meneguhkan pendirian mereka, berdandan ulang, dan mereka berempat pergi bersama menuju Aula Pendidikan Istana dengan langkah yang dibuat santai.
Sesampainya di Aula Pendidikan Istana, mereka melihat kerumunan besar di depan kolam yang terletak tak jauh dari Balai Pertemuan. Penasaran dengan apa yang terjadi, Qing He berlari kecil mendekat. Ia berjinjit-jinjit agar dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di kolam itu.
Ternyata, ada sesosok tubuh wanita yang mengambang di atas permukaan air. Melihat itu, Qing He langsung menutup mulutnya dan mundur ke belakang. Ia berbisik gemetar kepada Ye Ning dan yang lainnya. Ming Zi sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berteriak, ia menggenggam tangan Ye Ning dan Lu Wan sangat erat hingga memerah.