NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Bertemu Kirei Kembali

Setelah mengurus kelima preman kota bawaan Rendra agar tidak lagi menghalangi jalan dan membuat keributan di area parkir, Bumi, Alya, dan Dika langsung melangkah pergi meninggalkan lokasi tersebut. Mereka memutuskan untuk mencari tempat nongkrong yang santai di sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan yang masih berada di dalam wilayah sekitar kampus. Hal itu dikarenakan Alya dan Dika ternyata masih memiliki jadwal kelas kuliah lanjutan beberapa jam lagi, sehingga mereka tidak bisa pergi terlalu jauh dari area kampus. Sementara itu, Barong sendiri sudah disuruh untuk segera kembali ke pasar induk oleh Bumi guna memimpin anak-anak buahnya menjaga stabilitas keamanan di sana.

Suasana di warung pinggir jalan sore itu terhitung cukup teduh. Angin sepoi-sepoi berembus pelan menemani mereka bertiga yang sedang duduk berkumpul mengelilingi sebuah meja kayu panjang.

"Gila, Mas Bumi! Lu bener-bener gak ada obatnya tadi!" seru Dika membuka obrolan dengan wajah yang masih dipenuhi sisa-sisa rasa kagum dan heboh. Ia berulang kali menepuk meja dengan penuh semangat. "Gua beneran melongo pas lihat kelima preman berbadan gede-gede itu langsung tumbang kaku di aspal. Padahal mereka itu orang-orang diskotik yang terkenal sadis, tapi di tangan lu cuma butuh waktu beberapa menit doang! Lu pake ilmu apa sih sebenernya, Mas? Kok bisa secepat itu?"

Bumi yang sedang mengaduk es teh manisnya hanya terkekeh pelan menanggapi pujian temannya. "Halah, Dik, lu berlebihan banget deh. Gak ada ilmu mistis apa-apa kok. Itu cuma teknik memanfaatkan berat badan dan momentum lawan aja. Kebetulan gua kemarin sempet baca-baca sedikit tutorialnya di internet, terus pas tadi dipraktikkin ternyata pas banget kena ke titik saraf mereka. Jadi ya mereka lemes sendiri."

"Tetep aja aneh tapi nyata menurut gua, Mas," timpal Dika sambil geleng-geleng kepala takjub. "Kalau orang biasa yang nyoba, yang ada malah tangannya patah duluan digebuk sama orang-orang itu."

Sementara Dika terus-menerus memuji kehebatan Bumi saat mengalahkan preman tadi dengan menggebu-gebu, Alya justru bersikap sangat berbeda. Sejak mereka duduk di warung ini, Alya lebih banyak diam dan memilih untuk menjadi pendengar saja. Wajah cantiknya tampak merona kemerahan, dan sepasang matanya menatap Bumi dengan pandangan yang sangat dalam.

Di dalam lubuk hatinya, Alya merasa sangat terharu dengan perlakuan hangat serta perlindungan mutlak yang selalu diberikan Bumi kepadanya. Setiap kali dirinya berada dalam bahaya atau kesulitan akibat ulah Rendra, Bumi pasti akan selalu datang sebagai pelindung pertamanya tanpa pernah memedulikan seberapa besar bahaya yang harus dihadapinya sendiri.

Perasaan Alya kepada Bumi saat ini perlahan-lahan sudah mulai berubah drastis. Perasaan itu bukan lagi sekadar rasa pertemanan biasa atau rasa kagum seorang kuli panggul dengan anak pemilik warung makan. Kini, ada rasa nyaman yang teramat sangat mendalam, rasa aman yang mutlak, serta rasa kangen yang selalu menyergap dadanya setiap kali mereka tidak sedang bersama. Alya menyadari bahwa dirinya mulai jatuh hati sepenuhnya pada sosok pemuda bersahaja di hadapannya ini.

Namun, Bumi yang dasarnya memang kurang peka terhadap urusan asmara sama sekali tidak menyadari perubahan sikap maupun tatapan penuh arti dari Alya tersebut. Fokus pikiran Bumi saat ini hanya tertuju pada obrolan santainya saja dengan Dika.

"Eh iya, Dik," kata Bumi mengalihkan topik pembicaraan ke arah layar handphone-nya yang sedang menampilkan grafik. "Gimana portofolio saham lu sore ini? Udah lu cek belum?"

Dika langsung menepuk jidatnya. "Oh iya, gua hampir lupa gara-gara drama si Rendra tadi! Bentar gua buka aplikasi dulu, Mas."

Bumi mendekatkan duduknya ke arah Dika untuk mulai membahas tentang analisis pasar modal yang menjadi kegemarannya. "Nah, coba lu lihat emiten yang ini. Sekarang kita lagi membahas tentang saham-saham di sektor infrastruktur yang bakal bagus banget profitnya hari itu. Dari volume transaksi yang masuk sebelum penutupan sesi satu tadi, bandar kiranya udah mulai akumulasi di harga bawah. Gua prediksi dalam sisa dua jam ke depan, keuntungan kita bisa naik berkali-kali lipat."

"Wah, bener juga lu, Mas!" sahut Dika dengan mata berbinar-binar menatap layar hp Bumi. "Analisis lu emang gak pernah meleset. Untung gua kemarin ikut beli beberapa lot di emiten ini."

Ketika mereka bertiga sedang asyik-asyiknya mengobrol dan tertawa bersama membahas keuntungan saham di meja warung pinggir jalan tersebut, tiba-tiba langkah kaki dua orang terdengar mendekat ke arah area meja mereka.

Dika, yang posisi duduknya memang menghadap ke arah jalan raya, menjadi orang yang pertama kali mengenal dan menyadari kehadiran kedua orang tersebut bahkan sebelum mereka benar-benar sampai di depan meja kayu. Mata Dika langsung membelalak kaget, dan ia menyenggol lengan Bumi dengan cepat.

"Eh, Mas Bumi... Mas Bumi, coba lu lihat ke arah depan deh," bisik Dika dengan nada suara setengah tidak percaya. "Itu... itu bukannya cewek elegan yang kemarin ketemu kita di kafe modern pusat kota itu ya? Siapa namanya kemarin... Kirei, kan? Sama asistennya yang mukanya masam itu!"

Bumi dan Alya spontan ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Dika. Benar saja, dari arah trotoar jalan, tampak seorang wanita muda berpenampilan sangat modis dan elegan sedang melangkah terburu-buru mendekati mereka, diikuti oleh asisten pribadinya yang bernama Roni di belakangnya.

Saat melangkah sampai tepat di depan meja Bumi, wajah wanita muda itu langsung memancarkan ekspresi kegembiraan yang luar biasa besar, seolah-olah ia baru saja menemukan harta karun yang hilang. Ia langsung merapikan rambutnya dan tersenyum sangat lebar menatap Bumi.

"Akhirnya... akhirnya saya bisa ketemu kamu lagi!" seru wanita itu dengan napas yang agak terengah-engah karena habis berjalan cepat. Ia kemudian membungkukkan badannya sedikit dengan sopan ke arah mereka bertiga. "Selamat siang semuanya. Maaf kalau saya tiba-tiba datang mengejutkan kalian di sini. Saya mau mengenalkan lagi nama saya, mungkin kalian masih ingat, nama saya Kirei. Dan ini asisten saya, Pak Roni."

Bumi langsung berdiri dari kursinya dengan sikap yang santai namun tetap sopan. "Oh, Mbak Kirei. Iya, tentu saya masih ingat kok. Silakan duduk dulu, Mbak, kalau mau gabung. Ada perlu apa ya siang-siang begini main ke daerah sekitar kampus?"

Kirei menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar dadanya, lalu langsung duduk di kursi kosong di samping Alya, sementara Roni memilih berdiri tegak di belakang bosnya dengan ekspresi wajah yang kali ini jauh lebih tunduk dan tidak berani lagi meremehkan Bumi.

"Mas Bumi, jujur ya, saya selama ini bener-bener bingung dan pusing mencari keberadaan kamu!" buka Kirei dengan nada suara yang campur aduk antara lega dan gemas. "Niat saya sejak kemarin itu sebenernya cuma satu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya secara langsung kepada kamu. Strategi coret-coret di atas tisu yang kamu kasih ke saya waktu itu... semuanya terbukti sukses besar seratus persen! Perusahaan saya, PT Artha Samudra, sekarang sudah aman total dari krisis keuangan dan oknum sabotase internalnya sudah berhasil kami tangkap semua berkat bantuan ide jenius dari kamu!"

Bumi tersenyum tipis dan mengangguk santai. "Alhamdulillah kalau emang strateginya berhasil, Mbak Kirei. Saya ikut seneng mendengarnya. Tapi kenapa Mbak sampai repot-repot nyari saya segala? Kan urusannya udah beres."

"Ya jelas saya cari, Mas Bumi!" kata Kirei dengan nada gemas, sedikit menaikkan volume suaranya. "Kamu sudah menyelamatkan masa depan seluruh perusahaan keluarga saya, masa saya diem aja? Tapi masalahnya, beberapa kali saya sengaja mendatangi kafe tempat kita pertama kali bertemu itu buat nanyain data kamu ke pelayan, tapi mereka juga gak tahu. Saya bahkan sampai menyuruh Pak Roni buat keliling ke beberapa kampus besar di kota ini selama dua hari terakhir untuk mencari mahasiswa bernama Bumi, tapi hasilnya tetep gak ketemu juga!"

Kirei menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan wajah lelah namun bahagia. "Pencarian itu bener-bener sempat membuat saya merasa sangat frustrasi dan putus asa, Mas Bumi. Nah, karena hari ini kepala saya pusing banget habis keliling nyari kamu, akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah warung pinggir jalan dekat kampusnya ini buat beli minum."

Kirei kemudian menunjuk ke arah sudut jalan tempat ia memarkirkan mobilnya tadi. "Pas saya lagi duduk minum di seberang sana, secara gak sengaja saya melihat sosok kamu dari kejauhan sedang asyik ngobrol di warung tenda ini. Awalnya saya sempat ragu karena penampilannya agak samar dari jauh, tapi karena rasa penasaran yang teramat sangat besar, saya mutusin buat langsung mendekati meja ini bersama Pak Roni. Dan ternyata... dugaan saya bener-bener tepat seratus persen! Memang itu adalah kamu, Mas Bumi, cowok jenius yang dari kemarin saya cari-cari!"

Dika yang mendengar perjuangan sang CEO cantik mencari Bumi langsung tertawa lepas. "Wah, gila sih, Mbak Kirei sampai segitunya nyari Mas Bumi. Padahal Mas Bumi mah tiap hari kerjanya cuma nongkrong di kosan sambil main saham, Mbak, hahaha!"

Alya hanya tersenyum tipis mendengarnya, meskipun di dalam lubuk hatinya ada sedikit rasa cemburu yang halus melihat betapa gigihnya seorang CEO wanita kaya seperti Kirei demi bisa bertemu kembali dengan Bumi.

Kirei langsung menatap Bumi dengan tatapan mata yang penuh rasa hormat yang mendalam. "Pokoknya hari ini saya bener-bener bersyukur bisa ketemu kamu lagi, Mas Bumi. Kali ini, saya gak bakal lepasin kamu sebelum saya dapet nomor kontak dan alamat lengkap kamu. Saya berutang budi sangat besar sama kamu!"

Bumi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum santai, menyadari bahwa takdir tampaknya memang sengaja mempertemukan mereka kembali di warung pinggir jalan ini guna memulai babak baru kehidupannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!