Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas Baru
Lampu gantung kristal di koridor lantai dua sudah diredupkan, menyisakan pendar temaram yang sunyi. Adrian melangkah kaku memasuki kamar utama sebelah kanan. Aroma manis nan segar langsung menyapu indra penciumannya dengan pekat, membuat sarafnya kembali menegang.
Freya sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Gaun sutranya membungkus tubuh indahnya. Jemarinya sibuk menggeser layar ponsel.
"Lama banget sih, Mas Adrian? Aku hampir ketiduran tahu," sapa Freya riang, mendongak dengan poni yang bergoyang lucu.
Adrian tidak membalas sapaan itu. Wajah tegasnya luar biasa dingin dan kaku. Dengan gerakan cepat dan tegas, dia menyambar tiga guling tebal dari atas sofa santai di pojok ruangan.
BUG. BUG. BUG.
Adrian melempar guling-guling itu, menatanya berbaris lurus tepat di tengah-tengah ranjang berukuran king size tersebut.
"Ini apa lagi, Mas Adrian? Barikade baru?" goda Freya, bibirnya mengulas senyum geli menatap kelakuan suaminya.
"Garis batas," jawab Adrian tegas, suaranya menekan rendah sarat akan kemarahan yang belum padam.
Ia meletakkan jam tangan mewahnya di atas nakas dengan ketukan yang keras. "Kamu di sisi kanan. Saya di sisi kiri. Jangan berani melewati pembatas ini."
Freya menurunkan ponselnya, lalu menopang dagu dengan tangan kiri. Matanya berbinar jenaka menggoda suaminya. "Kalau aku sengaja melanggar bagaimana, Pak CEO? Mau lapor ke Papa Arthur lagi?"
"Jangan menguji kesabaran saya, Freya!" bentak Adrian dingin, matanya menyipit tajam penuh intimidasi.
"Saya berada di kamar ini karena terpaksa. Ancaman pembekuan aset adalah satu-satunya alasan saya menoleransi keberadaanmu!"
"Galak banget sih Tuan Kulkas ini," kekeh Freya renyah, sama sekali tidak goyah oleh aura intimidasi suaminya.
"Padahal kan seru, kita bisa tidur sedekat ini setelah tiga bulan pisah kamar."
"Bagi saya ini bukan hal seru. Ini gangguan sistem harian!" ketus Adrian kaku, rahang tegasnya mengeras sempurna.
"Saya tegaskan sekali lagi. Jaga jarakmu, urus kehidupan manjamu sendiri, dan jangan menyentuh wilayah saya satu senti pun!"
Freya justru memajukan wajahnya sedikit, menatap mata Adrian. "Bagaimana kalau tubuh aku sendiri yang tidak bisa diatur saat tidur nanti, Mas Adrian? Namanya juga tidak sadar."
"Kendalikan tubuhmu atau tidur di lantai!" ancam Adrian tajam, tidak memberi ruang kompromi sedikit pun.
"Okey, deal," sahut Freya dengan kedipan mata manja.
Ia merebahkan tubuh indahnya yang proporsional ke atas bantal empuk, memunggungi suaminya. "Kita lihat saja siapa yang bakal melintasi guling ini duluan malam ini. Good night, my frozen husband!"
Adrian mengembuskan napas panjang lewat hidung untuk menenangkan sarafnya yang kaku dan tegang. Ia mematikan sakelar lampu utama dengan sentakan jengkel, menyisakan pendar redup dari lampu tidur di sudut ranjang.
Tubuh tegapnya direbahkan di sisi kiri kasur dengan posisi telentang kaku bagai balok es, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya di dalam wilayah baru yang dipenuhi aroma memikat sang istri.
"Jangan harap saya lengah," desis Adrian ketus sambil menarik selimutnya kasar.
Freya tiba-tiba berbalik badan, lalu menepuk guling pembatas dengan gemas. "Sombong sekali. Memangnya Mas tahan dengan wewangianku ini?" godanya sambil mengibaskan rambut.
"Berisik, Freya! Cepat tidur atau saya kunci kamu di balkon!" bentak Adrian tajam. Rahangnya mengeras menahan dongkol.
Freya tertawa renyah, sengaja mendengus pelan di dekat telinga suaminya. "Coba saja kalau berani," tantang Freya manja. Ia sengaja menggeser posisi guling satu sentimeter ke arah kiri.
Adrian langsung melotot panik, refleks menjauhkan tubuhnya ke tepi kasur. "Sialan," umpat Adrian lirih, merutuki detak jantungnya yang mendadak tidak karuan.