NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb5

Ryn kembali ke apartemen yang ia sewa. Pikirannya masih tertuju pada Sian dan wanita dewasa tadi.

'Pergilah, aku masih ada pekerjaan.' Sian mengusir Ryn begitu saja dan beralih menemui entah itu siapa Ryn tak tahu. Bisa jadi kekasihnya, mantan atau mungkin wanita bayaran.

"Kenapa duniaku mendadak menjadi Sian?" Gumam Ryn menghela nafas kasar. Sian bagai oasis ditengah gurun bagi Ryn. Meski ia tahu Sian tidak akan tertarik padanya secara pribadi. Yang Sian tahu Ryn hanyalah bekas wanita malam. Ingin sekali Ryn melepaskan gelar itu, membersihkan namanya.

Lebih baik Ryn menyibukkan diri agar melupakan Sian sejenak saja. Ia memilih berbelanja ke mini market di sebrang gedung apartemen. Uangnya masih cukup untuk biaya sehari-hari, Ryn tidak perlu takut kelaparan.

'Lihat, aku masih bisa hidup meskipun sendirian.' batin Ryn menyemangati diri.

Membeli telur, sereal, susu dan roti yang Ryn utamakan. Merasa cukup ia berniat membayar belanjaan miliknya di kasir.

"Maaf nyonya, mesin kami masih rusak. Silahkan bayar tunai." Ujar kasir memberitahu seorang nenek di hadapan Ryn.

"Aku tidak ada, rumahku jauh dari sini. Berikan nomer rekeningmu aku akan membayarnya." Perintah nenek memilih solusi lain.

"Nyonya, aku juga tidak memiliki uang sebanyak itu." Keluh sang kasir tak bisa membantu.

"Aku tidak mungkin meminta cucuku datang, dia sangat sibuk mencari uang." Gumam Nenek masih bisa di dengar kasir maupun Ryn.

"Biar aku yang membayar milik nenek." Setelah menimbang akhirnya Ryn memutuskan untuk membantu sang nenek. Ia merasa tidak tega.

"Oh gadis baik, terima kasih. Aku akan menggantinya." Nenek menyodorkan ponsel miliknya, Ryn hanya tersenyum dan menjawab "aku tidak menggunakan rekening nenek. Jika bisa nenek sumbangkan saja ke panti asuhan." Tolak Ryn ikhlas membantu.

Usai membayar mereka keluar minimarket bersama, keduanya bahkan kompak menikmati es krim rasa coklat.

"Namaku Sansan, rumah temanku tidak jauh dari sini." Nek Sansan memperkenalkan diri pada Ryn. Rupanya Sansan sedang bertamu ke rumah sang sahabat.

"Aku Zhao Ryn, panggil saja Ryn. Aku akan mengantar nenek kesana." Nek Sansan langsung menggeleng tak ingin merepotkan Ryn.

"Aku masih sehat dan kuat, jangan meremehkanku anak muda." Tolaknya penuh candaan.

"Aku tahu nek, aku hanya ingin menemani sekalian jalan sore." Ryn mengabaikan penolakan dari nenek berusia tujuh puluh dua di sampingnya.

Sekitar sepuluh menit berjalan kaki akhirnya mereka tiba di depan gedung apartemen nek Sansan. Keduanya saling melambaikan tangan salam perpisahan. Lalu Ryn kembali ke apartemennya.

Hidupnya sudah cukup baik hari ini, Ryn sangat bersyukur dan menikmatinya. Semoga seterusnya terhindar dari rasa sakit dan kesedihan.

Di ruang kerja, Sian memijat keningnya menahan kekesalan luar biasa. Mantan kekasihnya tiba-tiba muncul meminta kembali bersama setelah selingkuh bahkan sampai bertunangan.

"Aku tahu kau masih mencintaiku Sian. Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi." Tangan wanita itu tak hentinya meraba dada Sian, membuat empunya risih. Segera Sian melepaskannya.

"Jangan bicara omong kosong Yuri. Lebih baik kau pergi." Sian memanggil Jun melalui intercome untuk membawa Yuri keluar dari ruang kerjanya.

"Silahkan nona." Jun mempersilahkan Yuri yang terlihat marah enggan meninggalkan Sian.

Mood Sian di sisa jam kerjanya jadi hancur berantakan akibat kedatangan Yuri. Terlebih dia gagal menemui Ryn tadi. Beberapa staf di ruang rapat menjadi pelampiasan Sian.

"Kalian semua tidak becus menangani masalah sekecil ini." Maki Sian tanpa berteriak ataupun menggebrak meja, namun berhasil memberi tekanan tersendiri bagi mereka.

"Besok masalah keterlambatan peluncuran sudah harus selesai, rapat kita akhiri." Ucap Asisten Jun menutup pertemuan alot hari itu. Sian bergegas keluar membawa aura dinginnya.

Niat hati ingin menemui Ryn, Sian malah melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Glenn langsung mendatangi Ryn sepulang kerja.

"Kau tahu dari mana alamatku?" Tanya Ryn penasaran, sedikit kurang nyaman dikunjungi Glenn secara tiba-tiba.

"Dari resume milikmu." Jawab Glenn.

"Sebaiknya kau pulang Glenn, kau pasti lelah setelah bekerja seharian." Ryn menyarankan agar Glenn segera pergi.

"Aku datang memberimu ini." Ryn menerima secarik kartu nama staf personalia Le Star Group.

"Tuan Lee memberimu kesempatan Ryn. Semoga kau berhasil." Ujar Glenn penuh harap.

"Terima kasih Glenn. Aku masuk dulu." Ryn menyudahi obrolan keduanya, tak sungkan meninggalkan Glenn yang masih sabar berdiri memandangi kepergian Ryn.

Ryn hampir berteriak saat seseorang menahan pintu apartemen yang hendak ia buka. Takut itu pengawal klub yang Yuni kirim untuk menjemputnya.

Ryn yang terkejut nafasnya terdengar memburu oleh Sian.

"Ini aku." Suara Sian kembali menenangkan Ryn yang sejujurnya sangat takut jika harus menghadapi orang suruhan Yuni. Pernah sekali ia menolak ikut malah berakhir babak belur di area wajahnya.

"Sian... " Sapa Ryn setelah dirinya kembali rileks. Sian menangkap perubahan Ryn dari takut hingga nyaman ketika tahu dirinya yang datang. Berbeda dengan sikap Ryn saat Glenn menemuinya tadi, terkesan acuh dan dingin.

"Kau membiarkan aku terus berdiri?" Tanya Sian memastikan, seketika Ryn langsung membuka pintu rumah lebar-lebar mempersilahkan Sian masuk melalui tatapan.

Sian mengamati apartemen yang Ryn sewa, tidak begitu luas namun tetap rapi dan enak dipandang. Ryn mengambil jus dalam kemasan di lemari pendingin lalu meletakkannya diatas meja tamu.

"Ayo buat perjanjian."  Ucap Sian tiba-tiba, Ryn menatapnya seolah menunggu penjelasan Sian. "Jadilah kekasih Pura-puraku dihadapan papa dan keluargaku." Lanjutnya. Ryn salah sangka, ia mengira Sian memintanya menjadi pemuas ranjang. Haha kasihan sekali Ryn, Sian masih enggan menyentuhmu hanya karena dia tahu kau wanita penghibur.

"Setuju." Putus Ryn. "Tidak perlu membayarku, aku anggap ini balasan ku karena kau telah membebaskanku dari Vick." Tambah Ryn menegaskan dirinya tak ingin mengambil keuntungan apapun dari Sian.

"Aku akan tetap memberimu fasilitas. Kekasih Sian tidak boleh kekurangan apapun." Ucap Sian tanpa ingin dibantah oleh Ryn.

"Baiklah." Jawab Ryn pasrah menuruti keinginan pria yang sempat tersenyum tipis dan singkat sekali. Manis, andai Ryn bisa sering menyaksikan hal langka itu kedepannya.

***

Ryn mulai bekerja hari ini sebagai petugas pramusaji di restoran Le Star Hotel. Sebagai peserta uji coba Ryn masih mengenakan seragam hitam putih lengkap dengan rompi hitamnya.

Staf lainnya terkejut melihat Ryn malah bekerja di bagian pelayanan. Pasalnya tidak ada pramusaji wanita disana, alasannya hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Mereka yang tadinya cukup tertarik pada masakan Ryn kini malah merasa ada sesuatu tentangnya yang tidak terlihat.

"Ada masalah apa? Bukankah wajar jika restoran hotel memiliki pelayan wanita." Kata Glenn angkat bicara. Dia sangat penasaran alasan mereka begitu berisik berdebat.

"Dude, kau tidak tahu apa-apa. Sebaiknya jangan tahu banyak hal." Pak Lim kepala head chef mengingatkan agar Glenn diam saja.

"Dulu pernah ada satu kejadian... "

" Fei, berhenti! Cepat kerjakan tugas kalian." Kembali pak Lim menghentikan acara bergosip mereka.

Glenn jadi yakin pernah terjadi sesuatu yang besar. Ryn seharusnya menolak pekerjaan itu jika memang posisi itu bermasalah. Kapan-kapan Glenn harus mencari tahu agar bisa melindungi Ryn.

Shift pagi tugas pertama Ryn ialah meng-handle sarapan para tamu. Mulai dari membersihkan meja, melayani keperluan tamu hingga menata kembali peralatan makan saat jam sarapan selesai.

"Aku akan mengantar minuman ke kamar tuan muda Lee." Bandi, senior Ryn memberitahu agar mereka tidak mencarinya.

"Biar aku saja kak, atau aku bisa menemanimu." Usul Ryn, dia hanya ingin tahu dimana letak kamar Sian.

"Tidak. Kau diam di sini saja." Tolak Bandi tegas.

"Menurut saja. Tidak ada dalam sejarah wanita mengantarkan pesanan ke kamar." Ujar Bass rekan Bandi menenangkan Ryn.

Ryn lalu memilih menata meja demi mengusir rasa bosan. Lelahnya bekerja berlangsung selama empat jam saja ketika waktu makan pagi berlangsung. Sisanya mereka hanya menunggu tamu datang makan siang atau menerima layanan kamar.

Ponsel Ryn terus bergetar di dalam saku rompinya. Siapapun yang menelpon Ryn benar-benar tidak perduli. Dia tidak mau ditegur karena bermain ponsel.

"Tip, aku dapat." Teriak Bandi saat dirinya kembali dari kamar Sian. Bass dan staf dapur lainnya ikut gembira mendengar hal itu. Bagaimana tidak, jika Sian memberi tip jumlahnya pasti sangat banyak. Cukup untuk mereka makan malam bersama di restoran yang sedang naik daun.

"Malam ini kita pesta." Bass dan Fei saling adu tos kegirangan. Sementara pak Lim, Glenn dan Ryn hanya terkekeh melihat tingkah mereka.

Akhirnya jam pulang tiba, Ryn mengganti seragamnya di loker khusus staf wanita. Sebelum pergi ia sempat mengecek ponsel, ternyata Yuni ibunya yang tadi menelpon.

"Nona... " Suara Jun berhasil mengejutkan Ryn, ponselnya bahkan sampai terjatuh.

"Asisten Jun, mengagetkan saja." Ryn berjongkok guna mengambil ponsel miliknya.

"Anda sudah di tunggu tuan muda di besmen. Oh ya, aku juga harus menyimpan kontak anda." Agar Jun tidak perlu menemuinya secara langsung. Orang-orang bisa berburuk sangka pada Ryn nantinya. Sian melarang hal itu.

"Baiklah." Keduanya bertukar nomer sambil berjalan pergi.

"Naik." Perintah Sian saat Ryn berhenti di hadapannya.

"Aku ingin ikut acara mereka." Tanpa sadar Ryn merengek manja, namun melihat ekspresi Sian yang datar langsung menciutkan nyali Ryn. Dia pasti menolak keinginannya.

"Kau baru bekerja satu hari. Biarkan mereka bersenang-senang." Jawab Sian telak.

Lalu mobil yang Sian kendarai sendiri meninggalkan hotel, membawa Ryn ke suatu tempat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!