NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Pengawal Bayangan Digital

​Reno mematung menatap layar ponselnya yang kini menghitam pekat memantulkan wajah pucatnya.

​Seluruh aliran darah di sekujur tubuhnya seakan tersedot habis ke dasar lantai menyisakan sensasi dingin yang luar biasa menusuk tulang.

​Gelas kaca berisi air putih dingin disodorkan tepat ke depan wajahnya dengan gerakan perlahan.

​"Kau berteriak seperti orang kesurupan kepada sebuah telepon genggam, apa yang sebenarnya sedang terjadi malam ini?"

​Radit berdiri bertolak pinggang sambil menatap sahabatnya yang hanya mengenakan celana pendek bermotif stroberi tersebut.

​Pemuda bertubuh gempal itu mengerutkan keningnya, tidak memahami alasan di balik raut wajah penuh keputusasaan yang tergambar jelas di wajah Reno.

​Reno menyambar gelas kaca itu dengan tangan gemetar, lalu menenggak isinya hingga tandas dalam satu tarikan napas panjang.

​Air dingin itu mengalir membasahi tenggorokannya, namun sama sekali gagal meredakan rasa panik yang bersarang di dadanya.

​"Pria paruh baya gila di dalam layar tadi baru saja menjadikan Luna sebagai target penculikan demi mengancamku."

​Gelas kaca kosong itu diletakkan dengan kasar ke atas meja ruang tamu, menghasilkan bunyi benturan yang cukup nyaring.

​Radit membelalakkan matanya, menyadari bahwa sahabat kurusnya ini benar-benar sedang berurusan dengan penjahat sungguhan dari dunia bawah tanah.

​"Kalau begitu kita harus segera melaporkan ancaman ini ke kantor polisi terdekat sebelum nyawa gadis pujaanku itu melayang!"

​{Polisi bahkan baru saja merazia lalu lintas di jalan raya, menampakkan diri ke sana sama saja dengan menyerahkan leherku ke dalam sel tahanan kota.}

​Reno menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak usulan logis yang justru akan menghancurkan masa depannya tersebut.

​"Aku tidak bisa melibatkan pihak berwajib, para penjahat siber ini pasti sudah menyadap seluruh saluran komunikasi darurat kepolisian kota."

​Ia meremas lututnya sendiri yang telanjang, mencoba menekan gelombang kepanikan yang terus-menerus menyerang sistem kewarasannya.

​Perasaan bersalah yang teramat sangat mulai menggerogoti dinding hatinya, menyadari bahwa gadis tak bersalah itu kini terseret ke dalam pusaran bahaya akibat perbuatannya.

​"Aku butuh celana panjang dan kemeja pinjaman sekarang juga, aku tidak mungkin menyelamatkan Luna dengan penampilan konyol seperti ini."

​Radit menghela napas panjang, lalu berjalan kembali menuju kamarnya untuk mencari pakaian bekas yang muat di tubuh kurus Reno.

​||||

​Suasana pagi akhirnya mengambil alih ruang tamu kontrakan Radit setelah malam yang terasa sangat panjang dan menyiksa.

​Reno duduk bersila di atas karpet tipis, mengenakan celana jogger kebesaran dan kaus oblong hitam hasil pinjaman dari lemari sahabatnya.

​Gulungan kain yang berlebih di bagian pergelangan kakinya membuat penampilannya terlihat semakin tidak meyakinkan sebagai seorang pahlawan.

​Ia sama sekali belum memejamkan mata sedetik pun sejak ancaman mengerikan dari Mr. X terngiang di telinganya semalam.

​Pikirannya terus berputar memikirkan skenario terburuk yang mungkin menimpa gadis berprestasi pujaan hatinya tersebut di lingkungan luar.

​Radit yang masih terlelap di atas sofa sesekali mendengkur keras, tidak terpengaruh oleh beban dunia yang sedang dipikul oleh sahabatnya.

​{Aku tidak bisa sekadar berdiam diri menunggunya diserang secara mendadak, aku harus menjadi pengawal bayangannya dari jarak jauh mulai detik ini juga.}

​Tangan kanannya menggenggam erat ponsel hitam misterius itu, merasa sangat bergantung pada kecanggihan teknologi dari masa depan di dalamnya.

​Sebuah dilema moral sempat melintas singkat di dalam benaknya mengenai batasan privasi yang akan segera ia langgar.

​Namun, keselamatan nyawa Luna jelas menempati urutan prioritas tertinggi yang mengalahkan segala macam aturan etika sosial mana pun.

​"Siri-usly, aktifkan modul penyadapan hantu sekarang juga, aku perlu memantau pergerakan Luna secara penuh tanpa terdeteksi sedikit pun."

​Layar gelap di genggamannya seketika menyala terang, memproyeksikan deretan teks berwarna biru yang bergulir dengan sangat cepat.

​"Tutup sistem komentarmu, ini adalah masalah hidup dan mati yang melibatkan nyawa orang tak bersalah akibat kebodohanku kemarin!"

​Reno meremas pinggiran bodi ponselnya dengan gemetar, mengabaikan sindiran sarkastis yang sama sekali tidak memahami kerumitan emosi manusia tersebut.

​Sebuah peta digital muncul secara holografis di atas layar, menampilkan sebuah titik merah yang bergerak pelan di area kawasan kampus Universitas Megantara.

​{Kalau aku hanya menyadap frekuensi suaranya, aku tidak akan tahu pasti siapa saja orang yang sedang mendekatinya dari arah depan maupun belakang.}

​"Ambil alih kamera depan ponselnya secara diam-diam, pastikan lampu indikator kameranya tidak menyala sedikit pun agar dia tidak merasa curiga."

​||||

​Antarmuka layar ponsel Reno seketika berubah bentuk, menampilkan sebuah bingkai persegi panjang yang dipenuhi oleh efek gangguan statis singkat.

​Garis-garis distorsi itu dengan cepat menghilang, digantikan oleh tayangan video langsung yang sangat jernih dan stabil meskipun sudut kamera sedang bergerak.

​Sebuah teks peringatan kecil berwarna merah berkedip konstan di sudut kanan atas layar sentuh tersebut untuk mengingatkan status operasi ini.

​Melalui sudut pandang kamera depan yang diretas itu, Reno bisa melihat bagian bawah wajah Luna hingga ke area kerah kemejanya dengan sangat jelas.

​Gadis cantik itu tampaknya sedang memegang ponselnya setinggi dada sambil membalas pesan, mengarahkan kamera langsung ke postur tubuhnya secara tidak sengaja.

​Latar belakang tayangan video tersebut memperlihatkan deretan loker besi tua dan dinding beton yang sangat familiar bagi ingatan fotografis Reno.

​Itu adalah koridor belakang gedung laboratorium fakultas teknik yang biasanya selalu dijauhi oleh para mahasiswa karena lokasinya yang sangat terpencil dari keramaian.

​Reno memicingkan matanya, mengamati setiap detail pergerakan lingkungan yang terekam secara langsung melalui layar ponsel hitamnya.

​Napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari betapa rentannya posisi Luna yang sedang berjalan sendirian di area sepi tersebut pada pagi hari.

​{Kenapa dia harus melewati rute sunyi ini untuk menuju ke kelas, padahal jalan utama kampus jauh lebih aman dari ancaman penculikan komplotan mafia gila itu.}

​Luna terlihat sesekali menundukkan wajahnya untuk memeriksa notifikasi di layar, sama sekali tidak menyadari bahwa lensa perangkat kesayangannya sedang memantau situasi di sekeliling.

​Raut wajah gadis itu terlihat sangat tenang, menikmati keheningan pagi yang jauh dari hiruk pikuk mahasiswa lain di area utama kampus.

​Namun, pergerakan kamera yang sedikit berguncang mengikuti irama langkah kaki gadis itu tiba-tiba menangkap sebuah kejanggalan visual yang muncul perlahan di latar belakang.

​Sebuah kendaraan roda empat berwarna hitam pekat tampak berbelok masuk ke area koridor sepi tersebut dari arah gerbang pengiriman barang di ujung jalan.

​Mobil van berukuran besar dengan lapisan kaca sangat gelap itu melaju tanpa mengeluarkan suara deru mesin yang berarti, merayap pelan mengikuti arah langkah Luna.

​Reno langsung memajukan wajahnya mendekati layar, jantungnya kembali berdegup luar biasa kencang melihat sebuah ancaman nyata yang bergerak semakin dekat.

​Van misterius itu sengaja tidak menambah kecepatannya untuk mendahului posisi Luna, melainkan terus menjaga jarak konstan beberapa meter tepat di belakang punggung gadis itu.

​Jendela pengemudi di mobil tersebut tertutup sangat rapat, menyembunyikan identitas sosok pengintai yang sedang mengamati buruannya dari balik kemudi.

​{Orang-orang suruhan berbadan kekar milik Mr. X pasti sedang bersiaga penuh di dalam kabin gelap itu, menunggu momen yang tepat untuk menyeret Luna secara paksa ke dalam!}

​Bayangan buruk mengenai gadis pujaannya yang diikat di dalam mobil culikan membuat adrenalin Reno meledak hebat menghancurkan sisa-sisa kelelahannya.

​"Siri-usly, persiapkan seluruh modul peretasan daruratmu sekarang juga, kita harus mencegah mobil itu mendekati Luna bagaimanapun caranya!"

​Reno melompat berdiri dari atas karpet ruang tamu, seluruh otot di lengan dan kakinya kembali menegang merespons insting pelindung yang melonjak secara drastis.

​Layar sadapan di tangannya terus menampilkan pergerakan diam-diam mobil van hitam yang kini secara perlahan mulai berhenti di belakang tubuh Luna.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!