Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji mantan yang kembali
Kuda berjalan dengan stabil. Dewa benar-benar menjaganya sesuai perkataannya. Pria itu juga tidak merasa risih meski kerap dirinya menjerit dan bergerak bebas yang membuat keseimbangan mereka nyaris goyah. Dewa bukannya kesal, pria itu justru tertawa lepas seolah ketakutan Aza lucu untuknya.
"Kamu sangat takut, Lea?" bisik Dewa di belakang.
Lea pegang erat tali kuda itu dengan gemetar, mengangguk-angguk lirih. Dewa tersenyum tipis. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menempelkan punggung Aza ke dadanya hingga Aza tak perlu merasa harus menyeimbangkan diri agar tidak jatuh lagi.
"Pegangan saja pada lenganku, Lea."
Mendengar itu Lea tertegun, ia hendak menoleh yang nyaris membuat tubuhnya oleng, "Tapi—!"
Karena dirinya yang terus bergerak sana sini. Kuda yang sensitif dengan penumpang yang tidak suka padanya langsung mengangkat kaki depannya kuat-kuat. Hendak menjatuhkan penumpang berisik di atasnya itu.
Dewa langsung siaga, ia tarik tali dan mengencangkan pegangannya dengan kuat, Sementara Lea langsung berbalik memeluk tubuh Dewa dengan erat. Menjerit ketakutan.
Ia benar-benar merasa bodoh. Tubuhnya tidak bisa diajak kompromi dan membuat Dewa kesusahan. Jika itu Ramdan, mungkin ia sudah disuruh turun dan beli jajan saja di deretan warung belakang.
"Ak-aku turun saja." cicit Aza malu, hendak turun.
Namun Dewa dengan cepat menahannya, membuat wanita itu menoleh, "Kenapa? Aku hanya merepotkan mu, aku akan turun saja."
"Kata siapa kamu ngerepotin aku?" ucap Dewa balik bertanya.
Aza tertegun. Disaat dirinya begitu menyebalkan Dewa justru tersenyum, lalu memacu kuda lagi untuk berjalan. Tubuh Aza kembali tegang.
"Dewa aku takut, aku mau turun saja." rengek Aza, mulai gemetaran.
Dewa hanya menimpalinya dengan tersenyum, jika kau takut kau boleh menghadap ke arahku."
Mendengar itu terkejutlah Aza. Daripada menerima saran memalukan itu, lebih baik ia berusaha mengendalikan tubuhnya. Dan sebisa mungkin mengusir rasa takutnya itu.
"Ak-aku disini saja." gagapnya, gemetar.
Dewa tersenyum saja, ia mulai memacu kuda lagi, membuat langkah kuda menjadi lebih kencang. Makin menegang tubuh Aza. Ia nyaris terjungkal ke depan. Namun karena pegangan Dewa pada pinggangnya sangat erat. Ia tidak jadi jatuh ke bawah.
Akhirnya ia memilih berpegangan pada lengan Dewa. Membuat pria di belakangnya itu tersenyum, "Kau mulai bisa menguasainya, Lea."
"Tap-tapi aku masih takut."
"Tidak apa-apa, itu wajar bagi pemula. Aku dulu juga begitu."
Aza merunduk dalam. Rasa tenang mulai timbul di dalam hatinya. Ia tak perlu merasa khawatir karena Dewa selalu menjaganya.
"Ternyata, di dahulukan dan di prioritaskan itu, semenyenangkan ini." batin Aza tanpa sadar.
Kini sudah genap satu jam Dewa menyusuri pantai dengan menaiki kuda bersa Aza. Sunset mulai timbul. Hampir tenggelam di ujung laut. Semburat orange merah memenuhi langit. Menerpa wajah putih mereka menjadi berkilauan emas.
"Apa kamu senang, Lea." bisik Dewa di telinga wanita di depannya.
Lea tatap haru matahari dan langit yang indah di ujung sana. Tersenyum mengangguk. Matanya berkaca-kaca karena untuk pertama kalinya. Ia kembali merasakan ketenangan setelah dirinya dilanda putus asa yang cukup lama.
"Dewa." lirih wanita itu lembut.
Dewa dekatkan wajahnya di bahu Aza, "Hm? Kenapa?"
"Apa ini mimpi?"
Dewa tatap mata Aza yang penuh binar, menatap kosong keindahan di depan sana dengan bibir merekah. Pria itu tersenyum menggeleng, "Tidak, kamu tidak bermimpi, Lea."
Tanpa sadar air mata Aza menetes. Membuat Dewa tertegun. Panik sendiri, "Hey...kenapa kamu menangis?"
Aza segera menghapus air matanya, tersenyum tipis. Lalu menggeleng lemah, kembali menatap sunset di depan sana.
"Aku hanya tidak mengira, kamu masih baik padaku. Padahal dulu aku sudah menyakitimu." lirihnya.
Dewa tersenyum, pria itu raih tangan Aza yang memegang tali kemudi, menggenggamnya erat.
"Apa kamu masih ingat kata-kata ku dulu, Lea? Jika kau merasa dunia tidak baik-baik saja, aku akan menerimamu apapun kondisimu."
Lea menangis disaat itu juga. Ia memang bahagia, namun ia takut Dewa juga akan sama seperti Ramdan padanya.
"Aku mandul, Dewa."
Ucapan Aza langsung membuat pria itu bungkam. Aza tersenyum getir. Ia tau, ia faham akan seperti apa respon Dewa. Semua orang menikah tentu ingin memiliki keturunan. Namun dirinya, dia mandul.
"Aku tidak pantas untukmu, Dewa. Aku tidak subur, aku tidak bisa memberikan keturunan. Aku mand—"
Ucapan Aza terhenti tatkala tiba-tiba Dewa menarik dagunya, lalu mengecup bibirnya lembut. Cukup lama, hingga Aza melotot.
Dewa lepaskan ciuman singkat mereka, memeluk tubuh Aza lebih erat dari sebelumnya. Ia benamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, mengecup bahunya beberapa kali.
"Aku tidak perduli, Lea! Mau kau bisa memberi keturunan atau tidak. Aku tidak perduli! Karena yang akan menemaniku hingga hari tua itu dirimu, bukan anak-anak."
Terenyuh langsung Aza disitu. Matanya berkaca-kaca, menatap kosong matahari yang hampir terbenam didepan sana, menjadi saksi bisu pengakuan mereka yang terdalam.
"Aku tidak perduli kau tidak bisa memberi keturunan. Aku tidak perduli memiliki anak atau tidak, dan aku tidak perduli apapun kondisimu yang menurutmu itu buruk. Bagiku itu kamu, Lea. Cukup kamu! Itu yang paling aku tunggu selama ini!"
Dada pria itu berdegup kencang. Baru kali ini ia mengakui segalanya di depan Aza. Mencurahkan segenap resah di hatinya selama ini. Bahwa ia tak butuh kekurangan apapun. Ia hanya butuh Aza, wanita pujaannya. Tetap di sampingnya apapun yang terjadi. Dan itu cukup baginya.
Aza menangis haru. Ia tak mengira, jawaban Dewa lagi-lagi diluar dugaannya. Dewa tidak menuntut seperti Ramdan. Pria itu sangat konsisten sedari dulu hingga sekarang. Hanya saja ia terkejut, baru kali ini Dewa mengucapkan lebih dari sepuluh kata dalam satu tarikan nafas. Hal itu cukup langka untuk pria cuek sepertinya.
"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu, Dewa?" lirih Azalea.
Meski ucapan Dewa begitu meyakinkan. Aza juga sering bertemu dengan laki-laki yang awalnya meyakinkan, lalu menghancurkan di akhir. Ia tidak bisa percaya begitu saja sekarang. Apalagi pada mantannya sendiri.
Dewa memeluk Aza semakin erat, "Bunuh aku jika aku mengingkari janjiku."
Aza terkejut, lantas menoleh, "Kamu gila yah?!"
"Iya, Za. Aku gila karena kamu! Aku tidak bisa lupain kamu. Sedetikpun! Sedari awal wanita yang aku cintai cuma kamu. Mungkin dulu aku mengecewakanmu. Tapi kali ini aku mohon, Lea. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Meski aku tidak sehumoris bajingan itu. Aku akan berusaha untuk memenuhi segalanya untukmu!"
Lagi-lagi Aza dibuat terkejut dengan pengakuan Dewa. Ia merunduk, menatap kosong leher kuda di depannya. Air matanya kembali luruh. Lalu selanjutnya senyum mengiringi cinta mereka yang bersemi kembali.
"Aku terima janjimu, Dewa."