NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang yang Memilih Pewaris

​Sisa-sisa kabut putih pemburu perlahan menipis di udara lembah yang sunyi. Yu Chen berdiri kokoh seraya menurunkan gadis kecil berbaju compang-camping dari punggungnya. Sepasang matanya menatap lurus ke arah monumen purba yang membentang angkuh di hadapan mereka: Gerbang Reruntuhan Dewa Purba.

​Struktur pintu batu raksasa setinggi puluhan meter itu tampak menjulang menembus awan. Jutaan retakan dimensi membelah permukaannya, memancarkan riak energi makro yang sangat pekat dan menindas.

​Gadis kecil di samping Yu Chen menatap monumen itu dengan gemetar. Jemari mungilnya yang masih lecet bekas jeratan rantai Sekte Budak Hitam memegang erat jubah abu-abu Yu Chen. "Kakak... tempat ini terasa sangat menakutkan."

​Yu Chen berlutut, mengusap lembut kepala gadis itu. "Tetaplah di belakangku, Kecil. Selama aku masih bernapas, tidak ada bahaya yang kubiarkan menyentuhmu."

​Di dalam kesadaran spiritualnya, wujud jiwa Roh Menara kembali muncul dengan raut cemas. "Shen Yu, tempat ini memiliki usia prasejarah yang jauh lebih tua dari Sekte Dewa Kuno kita. Bahkan puluhan ribu tahun lalu, lembah mati ini disegel sebagai zona terlarang tingkat kematian."

​"Siapa yang mendirikannya, Kakek?" tanya Yu Chen tajam.

​"Tidak ada catatan pasti," jawab Roh Menara penuh misteri. "Namun legenda kuno mengatakan, tempat ini adalah pusara terakhir jatuhnya jasad fisik seorang Dewa Purba (Ancient God)."

​Deg!

​Dada Yu Chen berdesir. Dewa Purba—entitas kosmik tertinggi yang kastanya jauh di atas True God.

​Belum sempat Yu Chen mendalami legenda itu, sebilah liontin batu giok berbentuk bulan sabit di leher sang gadis mendadak memancarkan cahaya keemasan murni. Pendaran itu meluncur lurus, menghantam titik pusat gerbang batu.

​DUUUUM!!!!!

​Bumi bergetar hebat. Gerbang batu yang terkunci puluhan ribu tahun itu perlahan bergeser horizontal. Debu purba beterbangan saat celah lorong cahaya keemasan terbuka di hadapan mereka.

​"Dia mampu membuka segel ini?" gumam Yu Chen terkejut.

​"Bukan karena kekuatan gadis itu," pangkas Roh Menara cepat. "Melainkan resonansi garis darah purba yang terkandung di dalam liontin giok tersebut!"

​Dari balik lorong yang terbuka, gema suara tua yang berat bergetar keluar:

​"Eksistensi pemegang sah... garis darah warisan Phoenix Langit... diizinkan masuk..."

​Gadis kecil itu ketakutan dan menangis kecil. "Kakak... suara siapa itu? Hamba takut..."

​Yu Chen menggenggam jemari mungil itu. "Jangan takut. Tatap mataku dan melangkahlah bersamaku."

​Namun, saat telapak kaki Yu Chen baru terangkat setengah senti...

​BOOOOM!!!!!

​Ledakan energi berdarah membelah pintu luar lembah. Han Lie dari Sekte Iblis Darah melesat cepat dengan tombak hitam terhunus. "Bajingan kecil, berhenti!"

​Di belakangnya, Tetua Bai (Sekte Pedang Awan) dan Liu Gui (Lembah Racun) turut mendarat dengan aura Foundation Establishment yang mendidih. Namun, langkah ketiga master itu seketika membeku saat melihat gerbang terlarang yang terbuka lebar.

​"Reruntuhan Dewa Purba...!" bisik Tetua Bai dengan bibir bergetar.

​Han Lie meletuskan tawa serakah. "Hahaha! Siapa sangka mengejar tikus kecil sepertimu justru menuntunku ke warisan dewa yang paling agung?!"

​"Jangan buang waktu! Tangkap anak itu hidup-hidup!" seru Liu Gui seraya mengetukkan tongkat ularnya.

​Ketiga ahli itu melesat bersamaan bagai tiga pilar cahaya pembantaian. Namun, tepat sebelum ujung tombak Han Lie menyentuh batas gerbang...

​DUAAARRR!!!!!

​Kubah penghalang keemasan meledak secara instan, memukul balik energi mereka dan mementalkan Han Lie, Tetua Bai, serta Liu Gui sejauh puluhan meter hingga menghantam tebing batu!

​"Uhuk!" Han Lie memuntahkan darah segar akibat hantaman energi pelindung.

​Gema suara tua kembali terdengar, menindas dari dalam gerbang:

​"Eksistensi rendahan tanpa izin darah suci... dilarang melangkah menembus batas ini...!"

​Yu Chen berbalik perlahan, menatap dingin ketiga tetua yang terkapar di tanah. Senyum sarkas terukir di wajah samarannya. "Tuan-tuan yang terhormat... jika ingin bertamu ke rumahku di masa depan, pastikan kalian membawa surat undangan resmi. Selamat tinggal."

​Yu Chen menggandeng sang gadis dan melangkah menembus lorong cahaya. Tepat di belakang tumitnya, gerbang batu raksasa itu tertutup rapat kembali dengan debuman kolosal—meninggalkan ketiga tetua yang meraung murka di luar.

​DUUUUM!!!!!

​Seketika, pemandangan dunia luar melenyap. Sebagai gantinya, terbentang panorama alam kuno yang amat luas di hadapan Yu Chen.

​Kubah langit di tempat ini berwarna ungu tua pekat dengan nebula mini yang berputar. Matahari emas dan bulan perak bersinar bersamaan di satu garis cakrawala. Di dataran tanah merah, berdiri puing-puing istana batu raksasa yang dikelilingi ribuan patung prajurit batu setinggi gunung.

​"Tempat ini terlalu besar untuk disebut reruntuhan," gumam Yu Chen.

​"Ini adalah sebuah [Dunia Kecil Mandiri (Pocket World)] yang terpisah dari hukum ruang Alam Kultivasi!" seru Roh Menara takjub.

​Gadis kecil di samping Yu Chen menarik jubahnya. "Kakak... di dalam dadaku, ada suara asing yang terus memanggil nama jiwaku..."

​"Dari arah mana?" tanya Yu Chen siaga.

​Gadis itu menunjuk sebuah gunung emas raksasa yang menjulang di pusat dunia kecil tersebut.

​WUUUNG!

​Liontin giok bulan sabit di leher sang gadis kembali menyala. Cahaya itu termaterialisasi menjadi wujud Phoenix Emas Kuno mini yang terbang mengitari mereka sebelum melesat menunjuk arah ke gunung emas.

​"Itu Jiwa Pelindung Klan Phoenix Langit!" bisik Roh Menara membelalak.

​Yu Chen bersiap melangkah mengikuti burung cahaya itu, namun tanah merah mendadak bergetar hebat.

​DUUM! DUUM! DUUM!

​Dari balik kabut merah, melangkah sosok prajurit zirah batu setinggi lima meter dengan mata menyala merah. Di dadanya terukir aksara kuno: [Penjaga Gerbang Inti].

​Prajurit batu itu mengarahkan tombak batu raksasanya lurus ke dahi Yu Chen, memancarkan suara mekanis yang dingin:

​"Penyusup... buktikan kelayakan garis darahmu di hadapan ujung tombakku...!"

​BOOOOM!!!!!

​Tombak raksasa itu dihantamkan ke bawah. Yu Chen melenting lincah ke samping. Tempat berdiri semula langsung hancur membentuk kawah amblas sedalam satu meter.

​"Daya hancurnya sangat berat!" gumam Yu Chen seraya menstabilkan kuda-kuda.

​"Jangan remehkan dia, Shen Yu! Kekuatan fisiknya setara kultivator Foundation Establishment tingkat menengah!" peringat Roh Menara.

​Yu Chen mencengkeram pedang tuanya dengan senyum liar. Sirkulasi Qi Kekacauan Purba membakar meridiannya. "Bagus. Jika dia terlalu lemah, latihan tanpa gelang 5.000 jin ini tidak akan menarik!"

​Namun, tepat saat Yu Chen bersiap menerjang...

​Gadis kecil di sampingnya mendadak melompat maju ke depan, merentangkan kedua tangan mungilnya. "Jangan...! Hamba mohon, jangan nyakiti Kakak Pendekar yang sudah menyelamatkan nyawaku...!"

​Anomali gila terjadi seketika.

​Sret!

​Prajurit batu setinggi lima meter itu mendadak membeku total di udara. Mata merahnya yang penuh hawa membunuh meredup, berganti menjadi pendaran cahaya keemasan yang suci. Prajurit itu menatap lekat liontin giok di leher sang gadis.

​Brummmm!

​Makhluk batu raksasa itu mendadak menjatuhkan lutut kanannya dan bersujud menyembah tepat di hadapan kaki mungil sang gadis compang-camping!

​Suara mekanis beratnya kini dipenuhi kesetiaan mutlak:

​"Hamba... Penjaga Gerbang Batas... memberikan salam takzim tertinggi... di hadapan Yang Mulia... Putri Penerus Garis Darah Suci Phoenix Langit...!!!"

​Boom!

​Menyaksikan fenomena itu, Yu Chen dan Roh Menara membeku total bagai patung. Otak dan logika spiritual mereka terguncang hebat.

​Mereka sama sekali tidak menduga... anak kecil fana yang diselamatkan Yu Chen dari Sekte Budak Hitam di tengah pelarian maut, ternyata memiliki identitas rahasia agung yang jauh lebih mengguncang langit daripada tebakan siapa pun! Petualangan di Reruntuhan Dewa Purba baru saja dimulai!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!