Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Pertama
Pagi itu, Desa Tsukimori diselimuti langit ke abu-abuan, membuat udara terasa jauh lebih menusuk dari biasanya. Keiko baru saja selesai menyapu halaman sempat mendongak. Ia sudah bisa menebak bahwa hujan akan segera turun.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar:
────────────────────────
YAMATO TRANSPORT
Selamat siang.
Paket atas nama
Keiko Aoyama
telah tiba di Kantor Desa Tsukimori.
Silakan diambil sebelum pukul 17.00.
Terima kasih.
────────────────────────
Keiko tersenyum. Tanpa melihat nama pengirim di resi, ia sudah tahu siapa pengirimnya. Ibunya memang selalu begitu; hampir setiap minggu selalu ada saja yang dikirimkan—entah makanan, pakaian, atau barang-barang yang menurut sang ibu "pasti dibutuhkan" anaknya, meski belum tentu demikian.
Keiko bergegas mengambil dompet dan ponselnya. Tangannya hampir meraih payung yang bersandar di dekat pintu, namun ia urung. "Sepertinya masih sempat," gumamnya. Lagipula, kantor desa hanya berjarak sepuluh menit dengan berjalan kaki. Ia pun menutup pintu dan bergegas menyusuri jalan desa.
Beberapa warga yang sedang menyapu halaman menyapanya ramah. "Ohayou, Keiko-chan."
"Ohayou!" balas Keiko ceria.
Angin bertiup semakin dingin saat ia melewati toko kelontong keluarga Kyo yang masih tertutup rapat. Tak lama, bangunan kantor desa tampak di depan mata. Petugas yang berjaga langsung mengenalinya.
"Keiko-san? Ada paket untukmu," ucapnya, lalu melangkah ke ruang belakang. Tak lama, ia kembali membawa kardus berukuran sedang.
Keiko membuka sedikit lakban penutupnya. Di dalamnya tersusun rapi beberapa bungkus teh jahe instan, syal rajut berwarna krem, obat flu, vitamin, camilan kesukaannya, dan secarik surat kecil yang dilipat sederhana. Keiko tersenyum geli. "Ibu benar-benar..."
Namun, sebelum ia sempat membaca surat itu, suara gemuruh terdengar menggelegar dari luar. Brak!
Dalam hitungan detik, hujan turun begitu deras hingga halaman kantor desa berubah putih oleh percikan air. Petugas itu menoleh ke luar jendela. "Wah, deras sekali."
Keiko mendekap kardus itu ke dadanya. "Padahal tadi langit baru mendung."
"Musim begini memang sulit ditebak," sahut petugas itu.
Sepuluh menit berlalu, namun hujan tak kunjung mereda. Air mulai meluap di sepanjang jalan desa, sementara angin membawa butiran hujan masuk hingga ke teras kantor. Petugas itu menatap Keiko ragu. "Mau saya pinjamkan payung?"
Jarak rumahnya sebenarnya tidak jauh. Jika ia berlari, mungkin hanya butuh waktu beberapa menit. "Tidak apa-apa," jawab Keiko seraya tersenyum. "Aku akan berlari saja."
"Hati-hati, ya!"
"Arigatou!"
Keiko menarik napas panjang, memeluk kardus itu erat-erat di balik jaket tipisnya, lalu menerobos tirai hujan. Air langsung membasahi rambut dan pakaiannya dalam sekejap.
"Ya ampun..." tawanya pecah di tengah lari.
Sepatunya terasa berat oleh air, namun ia tidak berhenti. Begitu gerbang rumahnya terlihat, Keiko mempercepat langkah. Ia melompati genangan kecil di depan pagar, lalu bergegas naik ke selasar kayu.
"Hah... hah..." napasnya memburu.
Pakaiannya basah kuyup hingga menempel di kulit, dan rambutnya menutupi wajah. Saat sedang sibuk mengatur napas, tiba-tiba terdengar suara ringan dari atas pagar.
Bruk.
Seekor kucing abu-abu melompat turun ke selasar. Bulunya basah kuyup, air menetes dari ujung ekornya hingga membentuk titik-titik kecil di lantai kayu. Keiko yang masih terengah-engah justru tertawa kecil.
"Hahaha... kamu juga kehujanan?"
Si kucing melirik sekilas, lalu tanpa mempedulikan nasibnya yang basah, ia duduk dengan tenang dan mulai menjilati bulunya.
"Dasar sombong," Keiko menggeleng geli seraya membuka pintu.
Keiko buru-buru masuk ke kamar mandi. Air hangat langsung mengalir dari pancuran, mengusir dingin yang sejak tadi merayapi tubuhnya. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan pakaian kering dan rambut yang masih lembap.
Ia membuka kardus kiriman ibunya kembali. Secarik surat di bagian paling atas membuat sudut bibirnya terangkat:
Keiko,
Ibu lihat ramalan cuaca minggu ini sering hujan. Jangan bandel. Kalau keluar rumah bawa payung. Minum vitamin yang Ibu kirim. Jangan sampai sakit dan jangan lupa jimat
— Ibu.
Keiko terkekeh pelan. "Sudah terlambat, Bu..." gumamnya sambil melirik ke luar jendela. Hujan masih turun dengan lebat, seolah tak berniat berhenti hari ini.
Hujan baru benar-benar reda menjelang sore. Udara yang masuk dari celah jendela terasa lebih dingin dari biasanya. Keiko menghabiskan waktu di dalam rumah sambil membereskan kiriman ibunya. Syal rajut langsung ia gantung di dekat pintu, obat dan vitamin disimpan di lemari dapur, sementara camilan favoritnya ia pindahkan ke toples kaca yang hampir kosong.
"Aku benar-benar mudah ditebak," gumamnya sambil tersenyum. Ibunya selalu tahu apa yang sedang ia inginkan, bahkan sebelum Keiko sendiri menyadarinya.
Menjelang malam, tenggorokannya mulai terasa gatal. Keiko tidak terlalu memedulikannya; ia mengira itu hanya efek menghirup udara dingin setelah kehujanan tadi siang.
"Hachiu!"
Satu kali bersin. Disusul yang kedua. Ia mengusap hidungnya pelan. "Sepertinya hanya masuk angin."
Setelah makan malam seadanya, Keiko menyeduh satu sachet teh jahe kiriman ibunya. Kehangatan perlahan menjalar ke seluruh tubuh, meredam rasa dingin yang sempat mengganggu. "Lumayan," bisiknya. Ia mematikan lampu ruang tamu, memastikan pintu terkunci, lalu bergegas menuju kamar. Malam itu, hujan tak lagi turun, menyisakan hanya suara tetesan air dari ujung atap yang memecah kesunyian.
***
"Hachiu!"
Keiko terbangun dengan napas berat. Kepalanya terasa jauh lebih berat dari beberapa jam lalu. Tenggorokannya terasa seperti disayat, dan hidungnya benar-benar tersumbat hingga ia terpaksa bernapas melalui mulut.
"...Dingin sekali," rintihnya. Ia menarik selimut lebih tinggi, namun tubuhnya justru menggigil hebat. Setelah beberapa menit berusaha memejamkan mata tanpa hasil, ia memaksakan diri untuk duduk. Kepalanya langsung berdenyut nyeri.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju dapur. Rumah benar-benar sunyi, jam dinding sudah melewati tengah malam. Saat menatap cermin di kamar mandi, Keiko hanya bisa menghela napas pasrah; pipinya memerah, dan matanya tampak sembap.
"Fix... aku demam," gumamnya.
Ia mengisi ketel kecil dengan air dan menyalakan kompor. Sambil menunggu air mendidih, Keiko duduk di lantai dapur, memeluk kedua lututnya dengan erat. *Seharusnya tadi aku membawa payung,* batinnya menyesal.
"Hachiu! Hachiu!" Bersin kembali datang bertubi-tubi.
Air mendidih. Keiko menyeduh teh jahe sekali lagi, lalu membawanya perlahan kembali ke kamar. Setiap langkah terasa begitu berat. Begitu sampai di kasur, ia segera meringkuk di bawah selimut, menggenggam cangkir hangat dengan kedua tangan, berharap suhu tubuhnya bisa segera stabil.
Namun, rasa dingin itu justru semakin menjadi. Kepalanya berdenyut makin kencang. "Aku benar-benar sekarat," bisiknya dengan senyum tipis yang getir.
Entah sudah berapa lama berlalu dalam kesadaran yang timbul tenggelam, ia merasa ada sesuatu yang bergerak di ujung kasur. Keiko membuka mata perlahan; pandangannya buram, namun ia bisa menangkap bayangan abu-abu yang samar.
"...Abu?"
kucing itu melompat ke atas kasur dengan gerakan yang begitu ringan hingga nyaris tanpa suara. Keiko mengerjapkan mata. "Apa... aku sedang bermimpi?"
Tangannya terangkat lemah, hendak menyentuh bulu abu-abu itu, namun si kucing lebih dulu mendekat. Hidung kecilnya menyentuh ujung jari Keiko, lalu menyundulkan kepalanya pelan ke telapak tangan gadis itu.
Keiko tertegun. "Kamu... nyata?"
Ia ingin tertawa, namun tenggorokannya terlalu sakit. Dengan sisa tenaga, ia mendorong pelan kepala kucing itu. "Jangan dekat-dekat... aku sedang sakit. Nanti kamu tertular."
Dorongannya begitu lemah, si kucing hanya bergeser beberapa senti. Ia melompat turun sebentar, lalu kembali naik ke kasur. Kali ini, ia berputar beberapa kali untuk mencari posisi nyaman, lalu tubuh kecilnya meringkuk tepat di atas selimut yang menutupi perut Keiko.
Hangat.
Keiko mengintip dari balik selimut. Kucing itu tidak peduli sama sekali. Ia hanya menjilati kaki depannya, merapikan bulu di sekitar dada, lalu memejamkan mata. Tak lama, dengkuran halus terdengar. Getaran kecil itu merambat melalui selimut hingga terasa di tubuh Keiko.
Entah karena demamnya yang mulai mereda atau kehangatan tubuh kucing itu, rasa menggigil yang hebat perlahan menghilang. Keiko menatap sosok mungil yang kini tertidur tenang di atasnya.
"Terima kasih..." bisiknya nyaris tak terdengar. "...kucing galak."
Tak lama kemudian, matanya terpejam. Untuk pertama kalinya sejak demam menyerang, Keiko tertidur pulas. Di luar, angin malam berembus lembut melewati halaman, sementara si kucing abu-abu tetap meringkuk di tempatnya, menjaga tidur gadis itu hingga fajar menyapa.