Lin Yue terjatuh dari tebing dan mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat asing, dimana gedung pencakar langit dan hal-hal yang belum pernah dia lihat di dunianya.
Bagaimana kah kehidupannya di dunia modern?
Slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Veil Asvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
'Kriiingg... Kriinggg....'
Ahin bergegas menghampiri telepon kantor dan mengangkatnya.
"Selamat pagi. Dengan Komandan Lui Ahin di sini."
"... "
"Apa?! Baik. Kami akan segera melakukan pengejaran."
"..."
"Baik. Selamat pagi."
Ahin meletakkan gagang telepon sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing. Telepon dari kantor kepolisian pusat negara membuatnya tidak memiliki waktu untuk merutuk sekarang juga.
Segera dia kembali mengambil gagang telepon, menekan tombol, memasukan beberapa kode untuk unit-unit yang berada di kantor kepolisian pusat kota Dyrhan.
"Panggil semua unit dan suruh mereka berkumpul di ruang rapat. Kita rapat lima menit lagi!"
Setelah itu Ahin meletakkan gagang telepon dengan keras.
"Komandan, ada apa?" Xia Ra muncul di belakangnya sambil membawa setumpuk dokumen tebal.
"Kepala Kepolisian pusat menelepon. Ada berita urgent dan kau juga ikut bergabung di ruang rapat, sekarang!"
"Baik." Xia Ra segera meletakkan dokumen itu dan berlalu dari sana.
Ahin memasuki ruang rapat. Pria itu menatap beberapa bawahan yang sudah berkumpul disana dengan wajah serius.
"Selamat pagi semuanya. Ini ada panggilan darurat." Ahin menatap peserta rapat dengan serius membuat mereka penasaran.
"Ada laporan dari kepolisian pusat. Penjahat kelas atas kabur dari penjara pusat dan sedang menuju ke kota ini."
Mereka terkejut. Penjahat kelas atas itu merupakan penjahat yang susah payah mereka tangkap selama sepuluh tahun terakhir. Mereka bekerja sama dengan semua kepolisian tiap daerah di negara dan berhasil menjebak nya dengan susah payah.
"Apa?"
"Kenapa bisa?"
"Sial!"
'Brakh'
Ahin menggebrak meja dengan keras membuat ruangan kembali hening.
"Kita buat beberapa kelompok. Kita akan melakukan pengejaran." Lalu dia mengambil sebuah spidol dan membuat sketsa di whiteboard.
"Kepolisian lalu lintas, cek CCTV setiap jalanan, bila perlu hentikan setiap kendaraan yang melintas. Lalu..." Ahin memberi instruksi dan membeberkan setiap rencana pada semua anggota yang hadir.
"Siap Komandan!" Koor mereka serentak dan segera membubarkan diri.
Lima jam kemudian....
'Brakh'
Dao Zhu membuka pintu ruang kerja Ahin dengan kasar. Nafas pria itu tampak memburu. Dengan wajah pucat, dia menatap Ahin yang menatap tajam dirinya.
"Lapor komandan! Penjahat itu memasuki bandara dan pesawatnya telah lepas landas!"
"A-apa?"
🐾🐾
'Drrrtt.... Drrtttt'
Veronica yang sedang berada di ruang tamu mengernyitkan dahi saat mendengar getaran sebuah ponsel. Segera wanita itu mengecek ponselnya, dan ternyata tidak berasal dari sana.
'Drrttt.... Drrttt...'
Wanita itu beranjak dari sana, mencari asal suara getaran itu dan melihat ponsel milik Regina yang tergeletak di atas nakas dekat televisi. Veronica melihat layar ponsel itu dan terlihat 'My Money1' terpampang di sana.
"My Money? Nama yang lucu." Gumamnya sambil geleng-geleng kepala. Tanpa menaruh curiga dan tak ingin ikut campur urusan orang, Veronica mengambil ponsel itu dan berjalan menuju dapur.
"Regina, ada telepon untukmu." Panggil Veronica sambil menyodorkan ponsel Regina.
Regina menatap Veronica yang kini berdiri di sebelah. Gadis itu tampak sibuk mengaduk masakan yang tampak menggugah selera.
"Tolong angkat untukku dan keraskan suaranya." Pinta Regina sambil mengangkat wajan. Dia tau jika Veronica menaruh curiga padanya.
"Baik. Ngomong-ngomong aroma masakanmu wangi sekali. Aku jadi lapar." Veronica nyengir sambil mengusap perutnya yang mulai lapar. Segera dia menjawab panggilan itu sesuai instruksi Regina.
"Halo Regina. Sudah lama kau tidak berkabar. Bagaimana cutimu?" Suara pria terdengar di seberang sana.
"Oh, Pak Kepala. Cutiku sangat baik. Bagaimana kabar kalian semua?"
"Kami di sini baik-baik saja. Hanya saja..." Ahin menggantung perkataannya membuat Regina penasaran.
"Hanya saja?"
Terdengar helaan nafas di seberang sana.
"Begini, Regina. Kami memerlukan bantuanmu."
"Bantuan apa?"
Sepertinya itu permohonan penting. Regina menyuruh Veronica menyelesaikan masakannya di dapur.
"Tolong, ya." Setelah berkata demikian Regina mengambil alih ponselnya dan berjalan keluar dapur.
"Penjahat negara berhasil melarikan diri dan telah lepas landas dari kota ini. Dia merupakan orang yang sangat berbahaya." Suara Ahin terdengar serak sehabis menangis. "Apakah ada caranya untuk membawa penjahat itu kembali? Aku khawatir jika dia bebas, maka banyak nyawa orang lain yang akan dalam bahaya."
Ahin menceritakan tentang penjahat itu tanpa diminta. Dia juga mengirimkan foto penjahat itu pada Regina.
Penjahat yang membuat negara heboh dan dalam ketakutan selama sepuluh tahun. Banyak nyawa orang melayang sia-sia karena penjahat itu adalah seorang pebisnis gelap yang membunuh rekan, saingan dalam berbisnis maupun tidak. Membuat beberapa pengusaha gulung tikar, jutaan orang kehilangan pekerjaan, pembunuhan, penculikan dan berbagai kejahatan lainnya.
Regina terdiam. setelah berpikir cukup lama, gadis itu memutuskan membantu Lui Ahin. Bagaimana pun, pria itu telah banyak membantunya.
"Berikan titik koordinatnya, komandan. Jangan lupa bayaran untukku tiga kali lipat, ya."
Veronica yang mendengar percakapan Regina meski samar-samar menjadi tak habis pikir. Rupanya Regina merupakan orang yang sangat hebat dan sering kali di minta tolong oleh pihak kepolisian. Tetapi nama yang di sematkan untuk kepala Kepolisian membuat siapapun salah paham.
Veronica tidak ingin ikut campur lebih dalam dan memilih menyelesaikan tugas yang dititipkan oleh Regina.
🐾🐾
Regina memutuskan membersihkan diri lalu makan malam sambil menunggu titik koordinat si penjahat.
"Wah~ Dia benar-benar pria tampan~" Regina menatap ponselnya dengan mata berbinar.
"Pria tampan? Kau sedang jatuh cinta, ya. Aku turut senang." Veronica berkata dengan tulus.
Regina hanya tersenyum, lalu menunjukkan sebuah foto yang sukses membuat Veronica tersedak.
'Uhuk'
"Kau bercanda? Dia adalah penjahat kelas berat yang meresahkan beberapa tahun lalu! Jangan katakan kalau kau jatuh cinta padanya, Regina?!" Seru Veronica tak percaya.
Dia khawatir jika Regina memilih orang yang salah. Veronica tak ingin jika Regina memiliki nasib yang sama sepertinya.
"Tentu saja. Berkat dia, aku mendapatkan banyak uang. Aku pergi dulu untuk menangkap pria tampan sumber uang dulu, Veronica. Jangan lupa bereskan, ya~" Regina segera beranjak dari sana, tidak lupa mengambil kunci motor miliknya.
"Semoga berhasil! Jangan lupa traktirannya!"
Regina tiba di parkiran motor dan mengambil motor miliknya. Regina memutuskan mencari sebuah tempat sepi, agar tidak ada orang yang mencurigai dirinya.
Regina menepikan motornya dan menyembunyikan kuda besi itu di dalam semak-semak setelah memastikan kondisi jalanan yang tampak sepi dan aman.
'Ting'
Regina mengecek ponselnya dan melihat chat dari Ahin. Setelah membacanya, Regina memasukkan kembali ponselnya dan tersenyum senang.
"Wah~ Dia sudah terbang jauh meninggalkan negara ini. Aku menyusul mu, sayang~"
Setelah berkata demikian, Regina menghilang dari sana.
.
.
.
Seorang pria duduk santai di dekat jendela sebuah pesawat. Pria itu menghembuskan nafasnya lega, mengingat dirinya berhasil kabur dari kejaran polisi yang telah mengurungnya selama beberapa waktu.
"Akhirnya aku bisa bebas, khukhukhu..." Tawanya dalam hati sambil merencanakan kejahatan yang akan dia lakukan di negara tujuannya.
Tetapi bisik-bisik kehebohan terdengar di dalam pesawat, membuat pria itu mengalihkan perhatiannya.
Entah dari mana, muncul seorang gadis cantik secara tiba-tiba. Mata gadis itu tampak menyusuri dalam kabin pesawat sebelum mereka saling bersitatap.
Gadis itu sangat cantik, meski hanya memakai pakaian casual. Meski dirinya dulu sering bermain wanita, dia tak pernah menemukan gadis dengan kecantikan surgawi seperti di hadapannya.
Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Regina Xiau. Dia berteleport ke dalam pesawat yang masih terbang dan berhasil menemukan sang penjahat yang tengah menyamar. Gadis itu langsung menghampiri pria yang masih terpaku dalam mimpinya.
"Suamiku, sayangku~ Kita pulang, ya~" Panggil Regina dengan nada yang dibuat semanja mungkin, membuat beberapa penumpang laki-laki merona mendengarnya.
Pria itu tersadar, "Siapa yang kau panggil suami? Kita sedang berada di pesawat."
"Tentu saja, kamu~" Regina berkata enteng sambil mengedipkan matanya. Segera Regina menghampiri pria itu. Lalu dengan riang gadis itu memegang tangan pria itu dan segera menghilang dari sana, membuat para penumpang tercengang.
"Apakah tadi benar-benar menghilang?"
"Tidak mungkin!"
"Periksa pesawatnya!"
"Katakan pada pilot untuk mendarat darurat!"
Seketika kehebohan terjadi di dalam pesawat itu.