Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Penawar Racun dan Kemilau Istana Pesisir
Matahari terbenam membiaskan warna jingga kemerahan di atas cakrawala ketika Bahari Perkasa akhirnya merapat kembali di dermaga kayu Ulin Pelabuhan Bandan. Berita tentang keberhasilan misi menembus Selat Lintah Laut, tumbangnya kelompok bajak laut Ki Ranajaya, serta dibawanya Bunga Teratai Hitam telah menyebar cepat bagaikan kilat melintasi penjuru kota pelabuhan.
Ratusan warga pesisir, prajurit kedatuan, hingga para pedagang dari mancanegara berkumpul di sepanjang garis pantai untuk menyambut kedatangan kapal perang tersebut. Suara sorak-sorai membahana membelah deru ombak sore saat Marno, Sari, dan Si Mbah melangkah turun melintasi titian kapal, diikuti oleh prajurit yang mengawal Ki Ranajaya dalam belenggu rantai besi.
Pangeran Arya Braja sendiri berdiri di ujung dermaga bersama barisan pengawal kerajaan. Wajah sang pangeran yang tadinya diliputi kecemasan kini terpancar oleh rasa lega dan rasa hormat yang mendalam.
"Nyi Sari, Ki Pande Marno!" seru Pangeran Arya seraya melangkah maju menyambut mereka. "Kalian telah melakukan hal yang hampir tak mustahil. Tak hanya membawa pulang Bunga Teratai Hitam, tetapi juga membebaskan jalur pelayaran kita dari cengkeraman bajak laut Ki Ranajaya!"
"Ini semua berkat kerja sama tim dan keberanian para prajurit Kedatuan, Pangeran," sahut Marno dengan rendah hati sambil mengangguk hormat.
Sari memegang bumbung bambu kedap air di dadanya dengan sangat hati-hati. "Pangeran, kita tidak boleh membuang waktu. Racun *Darah Gurita Putih* di dalam tubuh Laksamana Reksapati harus segera dinetralkan sebelum fajar esok menyingkap kegelapan, atau organ dalamnya akan rusak permanen."
"Benar sekali. Mari langsung menuju Kediaman Laksamana!" perintah Pangeran Arya tegas.
Rombongan segera bergerak menuju Istana Pesisir di sisi utara pelabuhan. Kediaman Laksamana Reksapati berada di sebuah kediaman megah beratap tumpang tiga yang dikelilingi oleh taman bunga melati dan kolam air tawar. Suasana di dalam kamar utama terasa amat hening dan tegang. Di atas pembaringan berukir, sang laksamana terbaring lemah; kulit wajahnya pucat pasi dengan urat-urat kebiruan membayang tebal di leher dan lengannya. Dua tabib senior kedatuan berdiri pasrah di samping tempat tidur, tampak gelisah tak berdaya.
Sari segera mengambil alih situasi. Ia meminta prajurit menyiapkan sebuah tungku pemanas kecil, mangkuk tembaga murni, dan air suling segar. Dengan jemari yang sangat terampil dan tenang, Sari memetik kelopak Bunga Teratai Hitam satu per satu. Setiap kelopak beludru gelap itu dipotong halus, lalu dicampurkan dengan serbuk **Penawar Tujuh Angin** dan minyak ekstrak kayu manis yang ia racik dari Karang Tumpuk.
Marno berdiri menjaga di pintu kamar bersama Si Mbah yang duduk tenang di pundaknya. Marno mengamati setiap gerakan ramuan yang dibuat Sari. Ia sadar, seperti halnya menyatukan dua jenis besi yang berbeda dalam tungku tempa, meracik obat tingkat tinggi membutuhkan presisi, kesabaran, dan pemahaman mendalam tentang sifat dasar bahan yang digunakan.
*PSSSSST!*
Ketika kelopak Teratai Hitam bersentuhan dengan air suling panas di dalam mangkuk tembaga, uap kebiruan yang beraroma harum sangat segar membumbung memenuhi seisi kamar. Uap itu mengusir bau amis dan uap racun yang tadinya mengepul samar di sekitar pembaringan.
"Minumkan ini perlahan, Pangeran," ujar Sari seraya menyerahkan mangkuk tembaga berisi cairan bening keemasan yang telah disaring bersih.
Pangeran Arya membantu menyangga kepala Laksamana Reksapati, sementara Sari meneteskan cairan penawar obat itu ke dalam mulut sang laksamana secara perlahan-lahan.
Selama beberapa saat yang menegangkan, tidak ada perubahan yang terjadi. Seluruh orang di ruangan itu menahan napas dalam keheningan yang mencekam. Namun, tak lama kemudian, dada Laksamana Reksapati mendadak terangkat naik saat ia menghela napas panjang!
*Crrrhaahhh!*
Warna kebiruan pada urat-urat lehernya perlahan memudar, berganti dengan rona kemerahan segar yang mengalir balik ke kulit wajahnya. Sang Laksamana perlahan membuka matanya yang tadinya layu, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang kian jernih.
"Pangeran... Arya...?" gumam Laksamana Reksapati dengan suara serak namun bertenaga.
"Laksamana! Anda sudah pulih!" seru Pangeran Arya gembira. Sang pangeran berpaling menatap Sari dan Marno dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih. "Luar biasa! Racun mematikan itu benar-benar netral tanpa sisa!"
Para tabib istana membungkuk dalam-dalam di hadapan Sari, mengakui keunggulan ilmu racikan herbalis muda dari perbukitan tersebut. Malam itu, Istana Pesisir dipenuhi oleh rasa syukur dan kehangatan yang luar biasa.
Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya, Pangeran Arya menggelar jamuan makan malam sederhana namun khidmat di balai utama istana. Di atas meja panjang dari kayu cendana, terhidang berbagai masakan khas pesisir—ikan bakar bumbu serai, kepiting kuah santan, dan buah-buahan segar yang belum pernah dirasakan oleh Marno maupun Sari di desa mereka.
Si Mbah mendapati tempat istimewa di samping Marno, menikmati pisang raja manis dan buah kelapa muda dengan gembira.
"Ki Pande Marno, Nyi Sari," ucap Pangeran Arya di tengah jamuan, seraya memberi isyarat kepada dua prajurit untuk membawa dua buah kotak kayu berukir berlapis kain sutra emas. "Kedatuan Pantai Selatan tidak akan pernah melupakan jasa kalian. Kotak pertama ini berisi tiga ratus keping uang emas untuk perbekalan dan pembangunan desa kalian."
Pangeran Arya kemudian membuka kotak kedua, yang berisi sebuah gulungan kitab kulit kuno dan sebuah belati kecil bergagang gading murni.
"Dan kotak kedua ini," lanjut Pangeran Arya dengan nada khidmat, "adalah **Peta Samudra Kuno** serta Belati Tanda Kehormatan Kedatuan. Peta ini memuat jalur-jalur rahasia dan perbatasan wilayah di seluruh pesisir selatan hingga kepulauan timur. Siapa pun yang membawa belati kehormatan ini akan disambut sebagai sahabat keluarga kerajaan di setiap dermaga kedatuan."
Marno dan Sari saling bertukar pandang. Mereka tersentuh oleh kebaikan dan kemurahan hati sang Pangeran.
"Pangeran Arya," kata Marno dengan suara berat dan tulus seraya menerima kotak tersebut. "Bantuan emas ini akan kami gunakan untuk memperbaiki sarana warga di Karang Tumpuk serta membangun balai pengobatan bagi Nyi Sari. Terima kasih atas kepercayaan dan penghormatan yang sangat besar ini."
"Kalian adalah pahlawan yang dikirimkan oleh alam untuk tanah ini," sahut Pangeran Arya tersenyum hangat. "Namun, saya tahu perjalanan kalian belum usai di sini. Hati seorang musafir sejati selalu dipanggil oleh petualangan baru di garis cakrawala."
Marno menatap ke luar jendela balai istana. Di kejauhan, lautan luas membentang gelap di bawah naungan cahaya bulan purnama yang anggun. Di balik ketenangan malam Pelabuhan Bandan, Marno bisa merasakan bahwa dunia luar yang mereka jajaki baru saja dimulai. Masih banyak tempat yang membutuhkan bantuan mereka, masih banyak rahasia ilmu tempa kuno yang belum terungkap, dan petualangan baru sudah menanti di seberang samudra.