Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Malam pun merambat turun, menyelimuti istana dengan sunyi yang terasa lebih pekat dari biasanya. Di bawah cahaya remang bulan, Tuan Yamato dan Jinsei bergerak tanpa suara, meninggalkan area istana menuju hutan terlarang. Langkah mereka ringan, nyaris tak meninggalkan jejak, seolah malam sendiri berpihak pada niat tersembunyi yang mereka bawa.
Di sisi lain, Yua melangkah menuju kediaman Ryujin. Luka-luka Ryujin perlu segera dirawat, dan bagi Yua, itu bukan sekadar kewajiban melainkan balas budi. Ryujin pernah menolongnya ketika telapak tangannya terluka, dan kini giliran dirinya yang membalas kebaikan itu.
Namun di tengah perjalanan, tatapan Yua menangkap sosok yang bergerak di kejauhan. Tuan Yamato.
“Larut malam seperti ini dia mau pergi ke mana?” gumam Yua pelan, alisnya berkerut.
Rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Tanpa berpikir panjang, dia mempercepat langkah, lalu mengikuti dari jarak aman, berusaha tetap berada dalam bayang-bayang agar tak ketahuan. Sosok Yamato terus bergerak hingga akhirnya menghilang di area halaman belakang istana.
Belum sempat Yua memastikan arah, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
“Sedang apa kau di sini?” tanya sebuah suara tenang.
Yua terkejut dan segera berbalik. Di hadapannya, Kazura berdiri dengan tatapan datar namun waspada.
“Kau mengagetkanku saja” sahut Yua, menarik napas pendek untuk menenangkan diri.
Ketika dia menoleh kembali ke depan, jejak Tuan Yamato sudah lenyap tanpa sisa.
“Kau mau ke mana?” tanya Kazura lagi.
“Aku sebenarnya.. mau menemui Ryujin,” jawab Yua setelah jeda singkat.
“Begitu. Baiklah, sampai jumpa.”
Tanpa banyak kata, Kazura berbalik dan pergi, meninggalkan Yua yang kembali berdiri sendiri di tengah sepi malam.
Namun pikirannya tak lagi tenang.
“Kenapa dia.. (Tuan Yamato) pergi ke arah halaman belakang malam-malam seperti itu?” batin Yua.
Meski rasa penasaran masih mengganggu, Yua memilih melanjutkan langkahnya menuju kediaman Ryujin.
---
Sesampainya di kediaman Ryujin, Yua mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk ke dalam.
"Ryujin?"
Tidak ada jawaban.
Saat melangkah masuk, Yua langsung terdiam.
Ryujin sedang duduk di tepi ranjang dengan pakaian atas yang dilepas. Beberapa perban dan botol obat tergeletak di sampingnya. Ia tampak berusaha mengoleskan obat ke luka di bahunya seorang diri.
"Eh...?!"
Yua refleks memalingkan wajahnya.
Tubuh Ryujin dipenuhi luka gores dan memar akibat pertarungan sebelumnya. Ada bekas sayatan di dada, lengan, hingga bahunya. Otot-otot yang terbentuk dari latihan keras selama bertahun-tahun terlihat jelas di bawah cahaya lampu minyak yang redup.
"Yua?" Ryujin menoleh. "Kapan kau datang?"
Yua berdeham pelan, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Kenapa kau malah mengobati luka sendirian?"
"Aku tidak ingin merepotkan siapa pun."
"Kau ini.." Yua menghela napas panjang. "Bahkan luka sebanyak ini masih saja keras kepala."
Ryujin hanya tersenyum tipis.
Yua berjalan mendekat lalu mengambil obat dari tangannya.
"Sini. Biar aku yang melakukannya."
Ryujin menatapnya sesaat sebelum mengangguk.
"Baiklah."
Yua mulai mengoleskan obat ke luka-luka di bahu dan lengannya dengan hati-hati. Semakin lama, semakin jelas terlihat seberapa banyak luka yang diterima Ryujin dalam pertarungan tadi.
"Kau benar-benar bertarung tanpa memikirkan dirimu sendiri, ya?" gumam Yua.
Ryujin tersenyum kecil.
"Kalau saat itu aku mundur, mungkin yang terluka adalah orang lain."
Mendengar jawaban itu, tangan Yua sejenak terhenti.
Kemudian dia kembali melanjutkan perawatannya.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Hanya suara angin malam yang terdengar dari jendela.
Ryujin kemudian berkata pelan, "Saat kau datang menolongku tadi... entah kenapa aku merasa tenang. Aku pikir aku benar-benar tidak akan selamat."
Yua sedikit terkejut mendengar pengakuan itu. Namun dia segera tersenyum.
"Karena itulah kita tidak boleh kehilangan harapan. Selama masih ada teman yang berdiri di sisi kita, selalu ada jalan untuk bertahan hidup."
Ryujin menatap wajah Yua dan mengangguk perlahan.
"Kau benar."
Di dalam hatinya, Ryujin merasa sangat tenang saat Yua berada di sisinya.
Malam masih panjang, dan perjalanan mereka untuk mengubah masa depan yang kelam masih jauh dari selesai. Namun setidaknya malam ini, mereka berhasil melewati satu rintangan bersama.
Setelah selesai, Yua membantu Ryujin mengenakan setelan atasnya.
"Untung lukanya tidak terlalu dalam, gunakan obatnya secara teratur agar cepat lukamu cepat kering."
Tiba-tiba Ryujin memegang tangan Yua.
"Terimakasih sudah menolongku tadi, jika tidak pasti aku sudah.."
"Jangan bicara seperti itu, kita harus saling melindungi apapun yang terjadi. ingat, kita harus menang." ucapnya sambil menepuk sebelah pundak Ryujin.
Ryujin mengangguk sambil tersenyum.
---
Di sisi lain, Tuan Yamato akhirnya tiba di Hutan Terlarang bersama Jinsei. Malam itu hutan terasa sunyi dan mencekam, hanya suara angin yang berdesir di antara pepohonan tua yang menemani langkah mereka.
Mereka memasuki rumah sederhana yang tersembunyi jauh di dalam hutan. Di dalam, Master Genjiro telah menunggu seolah mengetahui kedatangan mereka sejak awal.
Tuan Yamato membungkukkan badan memberi hormat, lalu meletakkan sebuah kotak kayu di hadapan sang guru.
Master Genjiro menatap kotak itu beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Dia akan kusimpan untuk sementara waktu. Suatu hari nanti, kita mungkin akan membutuhkannya lagi."
Tuan Yamato mengangguk pelan.
"Bagaimana perkembangan Kazura di istana?"
"Dia beradaptasi jauh lebih cepat dari yang kuduga. Selain itu, dia juga menjalankan setiap tugas yang kuberikan dengan sangat baik."
Kemudian pandangan Master Genjiro beralih kepada Jinsei yang sedang mengasah kekuatannya dengan rekannya.
"Jinsei."
"Ya, Guru."
"Untuk pelatihanmu selanjutnya, aku ingin kau mencapai tingkat Elite. Jalan menuju kekuatan itu tidak mudah, tetapi semakin keras kau berlatih, semakin dekat kau dengan apa yang kau inginkan."
"Baik, Guru. Mohon bimbinganmu."
Master Genjiro mengangguk pelan.
"Aku akan mengatur jadwal pelatihanmu. Untuk saat ini, fokuslah mengasah kekuatanmu terlebih dahulu. Waktumu tidak banyak, jadi bersiaplah."
---
Dua hari berlalu.
Perlahan, suasana istana kembali tenang. Kepanikan akibat serangan Makhluk Kutukan mulai mereda, dan para penghuni istana kembali menjalani aktivitas mereka seperti biasa.
Di sore hari yang cerah, Yua berdiri seorang diri di halaman belakang istana. Matanya tertuju pada deretan bunga yang tumbuh di dekat tembok batu tua.
Bunga-bunga itu masih bermekaran dengan indah. Tidak ada satu pun yang layu. Padahal musim telah berganti berkali-kali.
Yua mengernyitkan dahi.
Dia melangkah mendekat, memperhatikan setiap kelopak bunga dengan saksama.
"Waktu itu Tuan Yamato seharusnya datang ke tempat ini, bukan?"
Ingatan tentang kejadian beberapa hari lalu kembali terlintas di benaknya. Tatapannya perlahan beralih ke arah tembok tua yang menjulang di hadapannya.
"Tunggu..."
"Jangan-jangan pintu rahasia ini memang berhubungan dengan Tuan Yamato?"
Semakin dipikirkan, semakin banyak potongan kejadian yang terasa saling terhubung. Namun Yua masih belum memiliki bukti apa pun.
Dia menghela napas pelan.
"Aku harus mencari tahu kebenarannya."
Dengan tekad yang mulai tumbuh dalam hatinya, Yua pun berbalik dan meninggalkan halaman belakang istana, sementara bunga-bunga misterius itu tetap bergoyang perlahan diterpa angin, seolah menyimpan rahasia yang belum terungkap.
---
Di sisi lain, Jinsei tengah berjalan menyusuri jalanan Ibu Kota bersama Putri Hikari. Hari itu kota tampak ramai seperti biasa. Para pedagang menawarkan dagangan mereka dengan suara lantang, sementara warga lalu-lalang memenuhi setiap sudut jalan.
Namun bagi Jinsei, perjalanan itu sama sekali tidak menyenangkan. Dia berada di sana hanya karena perintah ayahnya untuk menemani sang putri.
"Lihatlah, bukankah suasana di sini jauh lebih menyenangkan? apalagi jika dibandingkan dengan istana yang membosankan." ujar Putri Hikari sambil tersenyum cerah.
Jinsei meliriknya sekilas.
"Bagaimana jika Kaisar mengetahui hal ini? seharusnya kau meminta izin terlebih dahulu."
Putri Hikari hanya mengangkat bahu.
"Jika aku meminta izin, mereka pasti akan mengirim pengawal ke mana-mana. Aku hanya ingin merasakan kebebasan, meskipun hanya sebentar."
"Jangan libatkan aku jika nanti terjadi masalah."
"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa."
"Jika saja ini bukan perintah ayah, aku tidak akan mau menemaninya" batin Jinsei.
Tiba-tiba seorang pedagang menawarkan barang dagangannya.
"Nona-nona, lihatlah kemari kami memiliki perhiasan cantik dan istimewa, berikan kesan menarik pada penampilanmu."
Mata Putri Hikari langsung berbinar.
"Ayo ke sana!"
Sebelum Jinsei sempat menolak, sang putri sudah menarik tangannya menuju kios tersebut.
Pedagang itu tersenyum ramah saat melihat mereka.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Silakan pilih apa pun yang cocok untuk pasanganmu, Tuan."
Jinsei langsung mengernyit.
"Tapi dia bukan.."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Putri Hikari sudah memotong.
"Bukankah ini cantik?"
Dia menunjuk sebuah jepit rambut berbentuk bunga dengan hiasan batu berwarna biru muda.
Jinsei melirik sekilas.
"Ya.. kurasa begitu."
Jawabannya terdengar datar tanpa antusiasme sedikit pun.
"Aku akan membeli yang ini."
Putri Hikari segera menyerahkan beberapa koin kepada pedagang. Setelah transaksi selesai, pedagang itu mengambil jepit rambut tersebut lalu menyerahkannya kepada Jinsei.
"Pakaikanlah untuknya, Tuan. Akan jauh lebih bermakna jika dilakukan oleh orang yang istimewa."
Jinsei memandang benda itu beberapa saat.
"Haruskah?"
Putri Hikari menatapnya dengan senyum kecil dan mata yang seolah memohon. Melihat ekspresi itu, Jinsei hanya menghela napas panjang.
"Baiklah."
Dengan gerakan canggung, dia menyematkan penjepit rambut bunga itu pada rambut Putri Hikari. Sang putri tampak begitu bahagia hingga senyumnya semakin lebar.
"Kau puas sekarang?" tanya Jinsei dengan nada kesal.
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berbalik dan berjalan lebih dulu meninggalkan tempat itu. Putri Hikari masih memegang penjepit rambutnya sambil tersenyum.
Entah mengapa, hal sederhana itu membuat hatinya terasa hangat. Namun beberapa saat kemudian, senyumnya perlahan memudar.
"Eh?"
Dia menoleh ke depan. Jinsei sudah berjalan cukup jauh.
"Jinsei, tunggu!"
Putri Hikari segera berlari mengejarnya. Namun Jinsei terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Keramaian pasar perlahan memisahkan mereka. Putri Hikari akhirnya berhenti. Dia menggembungkan pipinya dengan kesal.
"Menjengkelkan!"
Tatapannya tertuju pada punggung Jinsei yang semakin menjauh.
"Kenapa dia selalu bersikap dingin kepadaku? Apa dia benar-benar tidak menyukaiku?"
Rasa kecewa memenuhi dadanya. Tanpa sadar, dia mencopot penjepit rambut yang baru saja dipakaikan Jinsei. Lalu melemparkannya ke tanah. Putri Hikari menghela napas panjang. Saat itulah ia merasakan sesuatu.
Seolah ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Perlahan dia mengangkat kepala. Di seberang jalan, di antara kerumunan orang, berdiri seorang pria mengenakan topi jerami lebar. Wajahnya tertutup bayangan. Namun tatapannya jelas mengarah kepada Putri Hikari. Seketika perasaan tidak nyaman menjalar di hati sang putri.
Sementara itu, Jinsei terus berjalan tanpa memedulikan keadaan di belakangnya. Namun setelah beberapa menit berlalu, dua mulai merasa ada yang aneh.
Terlalu sepi.
Biasanya Putri Hikari tidak akan berhenti mengajaknya berbicara. Jinsei akhirnya menoleh ke belakang. Langkahnya langsung terhenti.
Putri Hikari tidak ada.
Kerumunan manusia memenuhi jalanan, tetapi tidak ada tanda-tanda sang putri di antara mereka.
Ekspresi Jinsei berubah.
"Di mana dia?"
Dia segera berbalik dan menyusuri jalan yang tadi mereka lewati. Matanya bergerak ke segala arah. Mencari, mengamati, namun hasilnya nihil. Putri Hikari menghilang.
"Sial... jangan bilang terjadi sesuatu."
Jinsei mempercepat langkahnya. Semakin lama, rasa khawatir dalam dirinya semakin besar. Bukan hanya karena keselamatan sang putri. Jika sesuatu benar-benar terjadi pada Putri Hikari, dirinya pun tidak akan luput dari masalah besar.
"Demi langit... di mana dia?!"
Untuk pertama kalinya hari itu, kepanikan terlihat jelas di wajah Jinsei.
"Ini salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian."
Jinsei terus mencari tanpa henti. Hingga akhirnya, dia tiba di tempat terakhir sang putri terlihat.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia merasakan sesuatu terinjak di bawah kakinya. Jinsei menunduk. Matanya langsung membelalak. Di tanah tergeletak sebuah jepit rambut berbentuk bunga. Jepit bunga yang tadi dia pasangkan sendiri.
Kini benda itu telah patah dan retak akibat terinjak. Jinsei perlahan mengambilnya. Tatapannya berubah tajam. Perasaan buruk memenuhi pikirannya.
"Bukankah ini miliknya.."
Dia menggenggam penjepit rambut itu erat-erat.
"Jangan-jangan.."
Wajahnya menegang.
"Apakah seseorang mengenali identitasnya?"
Angin berembus pelan melewati keramaian kota.
---
Langkah kaki bergegas menginjak hamparan daun-daun kering yang berserakan di sepanjang jalan. Putri Hikari terus mengejar pria bertopi jerami yang sejak tadi menarik perhatiannya. Namun, setiap kali dia merasa hampir berhasil menyusul, sosok itu kembali lenyap ditelan lautan manusia.
Dengan napas yang mulai memburu, Putri Hikari menoleh ke segala arah, berusaha mencari keberadaannya. Hingga tanpa sadar, langkahnya membawanya ke sebuah gang sempit yang jauh lebih sepi dibanding jalan utama.
Perasaan gelisah perlahan merayapi hatinya.
"Apa aku ketahuan...? Jangan-jangan dia mata-mata ayah?" batinnya.
Belum sempat menemukan jawaban, suara langkah kaki berat terdengar dari ujung gang. Beberapa pria bertubuh kekar muncul sambil membawa senjata tajam. Tatapan mereka dipenuhi niat buruk.
Putri Hikari terdiam.
Di tempat itu, hanya ada dirinya seorang diri. Salah satu perampok menyeringai.
"Sendirian saja, Nona? tidak perlu takut. Hahaha!"
Perampok lainnya mengangkat pedangnya.
Ketakutan menghampirinya. Jantungnya berdegup kencang.
"Serahkan semua uang dan perhiasanmu, atau kami bunuh kau di sini!"
Mereka mulai mendekat perlahan. Putri Hikari mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur dinding batu yang dingin. Meski jantungnya berdegup kencang, dia berusaha mempertahankan wibawanya.
"Kalian akan menyesal karena telah lancang kepadaku!"
Ucapan itu justru membuat para perampok tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha sangat lucu. Memangnya siapa dirimu?" ejek salah satu dari mereka.
Tanpa menunggu jawaban, perampok itu langsung mengayunkan pedangnya ke arah Putri Hikari.
Clang!
Suara benturan logam bergema nyaring.
Pedang itu tertahan oleh sebuah katana yang muncul entah dari mana. Putri Hikari membelalakkan matanya.
Pria bertopi jerami.
Sosok yang sejak dari tadi dia kejar kini berdiri tepat di hadapannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu menolong Putri Hikari.
Pertarungan pun pecah.
Gerakannya begitu cepat dan tegas. Katana di tangannya menari di udara, memantulkan cahaya senja yang mulai meredup. Satu demi satu perampok tumbang tanpa mampu memberikan perlawanan berarti.
Namun saat perhatian pria itu terfokus pada lawan di depannya, seorang perampok lain diam-diam menyerang Putri Hikari dari belakang.
Pria bertopi jerami segera berbalik dan menepis serangan tersebut. Namun ujung pedang lawan tetap sempat menggores lengannya. Darah segar mengalir membasahi kain pakaiannya.
Meski terluka, pria itu tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi kesakitan. Dengan satu tebasan cepat, dia menjatuhkan penyerang terakhir hingga terkapar di tanah.
Gang itu kembali sunyi.
Tanpa membuang waktu, pria bertopi jerami meraih tangan Putri Hikari. Mereka segera meninggalkan tempat itu sebelum para perampok kembali sadar.
---
Setelah tiba di jalan yang lebih ramai, pria itu akhirnya menghentikan langkahnya. Dia perlahan melepaskan genggaman tangannya.
"Pulanglah."
Suara itu terdengar datar dan dingin. Tanpa menoleh, dia melangkah pergi. Namun Putri Hikari dengan cepat meraih pergelangan tangannya.
"Tunggu!"
Pria itu berhenti. Tatapan Putri Hikari jatuh pada luka di lengannya.
"Kau terluka."
Pria bertopi jerami hanya melepaskan genggaman tangan Putri Hikari tanpa menjawab.
"Mengapa kau menolongku? siapa sebenarnya dirimu?" tanya Putri Hikari.
Tidak ada jawaban.
Pria itu kembali berjalan.
"Hei! Tunggu!"
Putri Hikari berusaha mengejarnya. Namun dalam hitungan detik, sosok bertopi jerami itu telah menghilang di antara keramaian, seolah hanya ilusi yang lewat sesaat.
Putri Hikari akhirnya berhenti. Nafasnya tersengal-sengal. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
---
Di sisi lain, Jinsei yang sejak tadi mencarinya hampir saja meminta bantuan para penjaga istana. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Putri Hikari berdiri tak jauh di depannya.
Wajahnya langsung berubah kesal.
Dengan napas tersengal karena berlari ke sana kemari, dia menghampiri sang putri.
"Darimana saja kau? akuu mencarimu ke mana-mana sejak tadi! apa kau sengaja mempermainkanku?" bentaknya.
Putri Hikari tersentak.
Bayangan kejadian di gang sempit itu masih membekas jelas di kepalanya. Dengan suara bergetar, dja menjawab,
"Maaf.. aku.. aku ingin kembali ke istana saja."
Jinsei mengernyit.
"Setidaknya jelaskan apa yang terjadi."
Putri Hikari menundukkan pandangannya. Dia tak sanggup menceritakan apa pun. Melihat tidak ada jawaban, Jinsei menghela napas panjang. Rasa kesalnya perlahan berubah menjadi kelelahan.
"Hah.. terserah."
Hari sudah mulai gelap. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka pun kembali menuju istana.
---
Sesampainya di istana, Putri Hikari berhenti sejenak.
"Maaf karena sudah membuatmu khawatir."
Jinsei menatapnya.
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku."
Putri Hikari menggenggam ujung bajunya.
"Aku.. belum bisa menjelaskannya sekarang."
Selesai berkata demikian, dia segera berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan Jinsei yang hanya bisa memandang punggungnya menjauh. Jinsei menghela napas pelan.
"Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?"
"Dan apa yang telah terjadi padanya hari ini? aku harus membuatnya bicara."
---
Setibanya di kamar, para dayang segera menyambut Putri Hikari dengan wajah cemas.
"Tuan Putri, Putri pergi ke mana saja? Kami sangat khawatir. Bagaimana jika Kaisar tiba-tiba datang mencari Putri?" seru salah seorang dayang.
Putri Hikari menggeleng lemah.
"Lupakan saja."
Dia berjalan menuju ruang pemandian.
"Siapkan air hangat untukku."
"Baik, Tuan Putri."
Tak lama kemudian, Putri Hikari berendam di dalam bak pemandian yang dipenuhi uap hangat. Biasanya air hangat mampu menenangkan pikirannya.
Namun malam ini berbeda.
Bayangan pria bertopi jerami itu terus muncul di benaknya. Sikapnya, gerakan pedangnya dan luka di lengannya. Putri Hikari menatap permukaan air yang beriak pelan.
"Jika dia benar-benar mata-mata ayah.."
Dia menggigit bibir bawahnya.
"Maka besok aku pasti akan mendapat masalah besar."
"Namun jika bukan.."
"Siapa sebenarnya dia?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Rasa frustrasi yang semakin menumpuk. Dia mencampak air dengan kesal.