NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Repan menatap Edwan dengan ketenangan yang luar biasa. Tatapannya sama sekali tidak menyiratkan secercah rasa takut, meskipun pria yang berdiri tepat di hadapannya itu jelas-jelas merupakan salah satu petinggi dari geng paling berbahaya di Kota Bogor—Geng RJP.

"Kalau lo nggak punya urusan lain lagi di sini, gue mau pergi," ucap Repan santai, memperlakukan Edwan seolah-olah orang di depannya itu hanyalah siswa biasa yang sedang numpang lewat.

Ia melangkah pergi melewati Edwan begitu saja. Bimo, yang wajahnya masih terlihat pucat pasi dan gemetaran, buru-buru mengekor di belakang Repan dengan ekspresi ngeri.

"Tunggu dulu," suara Edwan terdengar pelan namun menusuk tajam.

Repan menghentikan langkah kakinya. Tapi ia memilih untuk tidak menoleh, hanya berdiri tegak dengan posisi punggung yang membelakangi Edwan.

"Lo punya kapasitas bertarung yang cukup tangguh," lanjut Edwan, dengan intonasi vokal yang kini terdengar jauh lebih serius.

 "Bagaimana kalau lo bergabung saja dengan Geng RJP? Gue punya wewenang penuh buat merekrut anggota baru."

Repan menarik napas pendek, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Gue nggak tertarik sama sekali. Cari saja orang lain," jawabnya singkat, lalu kembali mengayunkan kaki melangkah pergi.

Ekspresi wajah Edwan langsung menegang kaku, sepasang matanya menyipit tajam.

"Jangan merasa hebat dulu, Anak Muda. Mungkin lo beruntung bisa lolos dari sergapan Geng GBA. Tapi di hadapan Geng RJP, lo itu bukan siapa-siapa," ucap Edwan dingin.

Kali ini ia memutar tubuhnya, menatap punggung Repan dengan tekanan psikologis yang kuat.

"Gue nggak peduli. Dan gue juga nggak punya urusan apa pun dengan kelompok kalian," balas Repan tanpa sudi menoleh sedikit pun. Nada suaranya terdengar datar namun sarat ketegasan.

Edwan menyunggingkan senyuman tipis, lalu melangkah maju mendekat satu langkah.

"Kalau memang itu pilihan lo... dengar baik-baik ucapan gue. Kalau lo menolak bergabung, maka Geng RJP otomatis bakal menganggap lo sebagai ancaman mutlak. Dan lo tahu kan apa artinya itu?" ancamnya penuh tekanan.

"Lo bakal resmi jadi target buruan utama kami."

Bimo yang mendengarnya langsung terperanjat syok. Seluruh tubuhnya mendadak gemetaran hebat. Ia menatap bergantian antara Edwan dan Repan dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa.

Namun Repan tetap berjalan santai, seolah-olah ancaman pembunuhan karakter itu hanyalah angin lalu yang tidak penting.

"Lakukan saja kalau kalian memang mampu," jawabnya ringan, terus melangkah menjauh tanpa beban.

Seketika itu juga, senyuman di wajah Edwan berubah menjadi seringai ancaman yang mengerikan.

"Benarkah? Bagaimana kalau kami juga menjadikan keluargamu sebagai target selanjutnya?"

Langkah kaki Repan langsung terhenti seketika.

Hening. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa menusuk tulang.

Secara perlahan, Repan membalikkan badannya. Dengan langkah kaki yang mantap dan tenang, ia berjalan kembali mendekati posisi Edwan berdiri.

Sepasang mata mereka saling mengunci. Jarak mereka sangat dekat. Teramat tegang. Nggak ada satu pun dari mereka yang berkedip.

"Kalau kalian sampai berani menyentuh anggota keluargaku..." ucap Repan, kali ini dengan intonasi vokal yang terdengar sangat berat, dalam, dan mengerikan. "...gue pastikan. Gue bakal hancurkan geng kalian sampai berkeping-keping. Satu per satu. Jadi, pikirkan baik-baik risikonya sebelum kalian melakukan kebodohan itu."

Nada suara Repan memancarkan aura kematian yang nyata. Sorot matanya bagaikan bilah pisau tajam yang menghujam langsung ke dalam jiwa siapa pun yang menatapnya.

Edwan memang tidak bergeming dari tempatnya, namun untuk sepersekian detik, ketenangan di matanya sempat goyah.

Ia tidak merasa takut... tapi ada sesuatu dari cara bicara Repan yang sukses membuatnya merasa harus waspada. 'Anak ini... benar-benar berbeda dari yang lain.'

Bimo yang berdiri di belakang Repan bahkan nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan saksikan dengan kepala matanya sendiri. 'Si Repan sudah gila sepenuhnya! Dia berani-aninya mencari masalah dan mengancam balik Geng RJP?! Ini sama saja dengan menyerahkan surat kematian buat dirinya sendiri!'

Repan kembali membalikkan badannya, lalu melangkah pergi meninggalkan lokasi tanpa sudi menoleh lagi.

Edwan hanya terdiam di tempatnya, matanya masih mengawasi punggung Repan yang menjauh dengan langkah tenang dan tanpa keraguan sedikit pun.

'Menarik... Sudah sangat lama aku tidak merasakan tekanan mental sebesar itu dari anak seumuran dia. Bocah itu bukan cuma sekadar tangguh... tapi dia sangat berbahaya. Mungkin sudah waktunya seseorang menguji seberapa jauh batas kekuatan yang dia miliki sebenarnya,' batin Edwan diiringi senyuman kecil, sebelum akhirnya ia berbalik arah melangkah pergi ke sisi sebaliknya.

Setelah mereka berjalan cukup jauh meninggalkan area lapangan dan situasi mulai kembali normal, Bimo akhirnya bisa bernapas lega sekaligus meledakkan emosinya.

"Pan... lo itu beneran udah gila ya?! Itu Edwan, Bro! Dia petinggi Geng RJP! Bukan cuma mentah-mentah menolak tawarannya, tapi lo malah balik mengancam dia?! Lo beneran pengin mati muda, hah?!"

Repan hanya melirik sahabatnya itu sekilas sambil mengangkat bahu acuh tak acuh.

"Kelompok berandalan kayak mereka itu nggak layak buat mendapatkan rasa hormat dari gue. Setidaknya sekarang mereka paham, gue bukan target empuk yang bisa dipermainkan sesuka hati."

Bimo terdiam terpaku selama beberapa saat, lalu menatap Repan dengan sorot yang jauh lebih serius.

"Tapi lo harus tetap ekstra hati-hati, Pan. Mereka itu... bukan sekadar geng motor ecek-ecek. Jaringan mereka punya orang-orang kuat di balik layar. Bahkan aparat kepolisian pun sering sengaja menutup mata atas aksi mereka. Mereka punya cara bersih buat melenyapkan orang tanpa meninggalkan jejak."

Repan menganggukkan kepalanya pelan merespons peringatan itu.

"Gue paham, lo nggak perlu khawatir berlebihan soal itu. Yang justru harusnya lo khawatirkan sekarang adalah kondisi fisik lo sendiri. Wajah dan tubuh lo penuh luka."

Bimo mengembuskan napas panjang, baru sadar kalau sekujur tubuhnya masih menyisakan rasa perih yang teramat sangat.

"Ah, bener juga ya. Sialan, berandalan-berandalan tadi benar-benar menghajar gue nggak ada akhlak kayak lagi mukulin samsak tinju!" gerutunya sambil menyentuh pelan pipinya yang lebam kebiruan.

Repan tersenyum tipis mendengarnya.

"Sebagai bentuk rasa tanggung jawab gue karena udah menyeret lo ke dalam situasi bahaya ini... gue bakal menanggung seluruh biaya pengobatan medis lo di rumah sakit."

Bimo langsung melirik kaget ke arah layar ponsel Repan.

"Anjrit... tumben banget lo royal, Pan! Lo lagi ketiban rezeki nomplok ya?! Biasanya perhitungan pelit setengah mati, tapi sekarang mendadak jadi dermawan kaya raya!"

Repan melempar senyuman kecil. "Cepat sana daftar ke bagian administrasi. Biar luka-luka lebam di mukamu itu nggak permanen. Kalau nggak, nanti malah berisiko bikin lo jomblo seumur hidup."

"Sialan... tega banget lo mendoakan sahabat sendiri jadi jomblo abadi?!" Bimo mendengus kesal, walau ulasan senyuman lebar tetap terpancar jelas dari balik wajahnya yang lebam.

"Oke-oke, gue langsung daftar sekarang!" serunya, lalu bergegas berjalan masuk menuju ke meja pendaftaran rumah sakit.

Repan mengembuskan napas pendek. Ia kemudian melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit Hermina yang tampak tenang, mencari sebuah bangku kosong untuk beristirahat sejenak.

Namun, saat ia melintas di dekat area lorong ruang tunggu, ekor matanya menangkap siluet seorang gadis cantik yang sedang duduk menyendiri di sudut kursi.

Wajah gadis itu tertunduk lesu, kedua tangannya tampak sibuk menggenggam sehelai tisu yang sudah basah. Sepasang kelopak matanya terlihat sembab dan memerah.

'Zahra? Bukankah itu Azizah Zahra? Gadis yang sekelas denganku,' batin Repan mengenali sosok tersebut.

Ia sempat merasa ragu untuk mendekat, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk mengambil langkah dan duduk di kursi kosong yang tepat berada di sebelah gadis itu.

Zahra sama sekali tidak bergeming. Meskipun Repan sudah duduk sangat dekat di sampingnya, siswi berhijab itu masih mempertahankan posisi tertunduknya. Bahunya tampak bergetar kecil menahan tangis.

"Lo Zahra, kan? Azizah Zahra?" sapa Repan pelan, dengan volume suara yang cukup untuk didengarnya.

Zahra tersentak kaget. Tangannya buru-buru bergerak mengusap sisa air mata di pipinya.

"Eh? Apa? Ah... maaf, aku nggak dengar waktu kamu ngomong." Vokal suaranya terdengar agak serak, diiringi senyuman gugup yang dipaksakan terbit di wajah cantiknya yang masih menyisakan gurat kesedihan. "Repan? Sejak kapan kamu ada di sini?"

"Baru saja duduk," jawab Repan tenang, sementara pandangan matanya terus mengamati raut wajah Zahra.

"Ah... maaf ya, aku tadi nggak sadar.." Zahra kembali menundukkan kepalanya, kali ini gerakannya terlihat canggung, bukan lagi sekadar bersedih.

Repan menatap Zahra lebih dalam. "Sebenarnya apa yang lagi terjadi? Kenapa lo menangis sedari tadi? Siapa anggota keluarga yang sedang lo tunggu di dalam ruang perawatan?"

Zahra sempat menggeleng cepat. "Nggak... aku nggak nangis kok. Tadi mataku nggak sengaja kemasukan debu jalanan aja," kilahnya, berusaha keras menutupi bulir air mata baru yang kembali meleleh di pipinya.

Repan memilih terdiam. Ia sangat paham kalau Zahra sedang berusaha keras menyembunyikan masalah berat seorang diri. Namun, ia tidak berniat mendesak. Keheningan sempat menyelimuti ruang di antara mereka selama beberapa detik... sampai akhirnya Zahra sendiri yang membuka suara dengan vokal bergetar.

"Ibu aku... lagi dirawat intensif di dalam. Kondisinya lagi sakit parah. Dan dokter bilang beliau butuh tindakan operasi secepat mungkin." Ucapannya meluncur nyaris menyerupai bisikan lirih.

Repan menganggukkan kepalanya perlahan. "Terus, kenapa tindakan operasinya sampai sekarang belum juga dilakukan?"

Zahra mengembuskan napas panjang yang berat, lalu menatap lurus ke arah lantai keramik.

"Kami... sudah kehabisan uang. Biaya tindakan operasinya sangat mahal. Ayahku bahkan sudah kebingungan harus meminjam dana ke mana lagi. Rumah satu-satunya milik keluarga kami bahkan terpaksa digadaikan buat menutup biaya rumah sakit selama sebulan belakangan ini..." tuturnya terbata-bata menahan sesak.

Bulir air mata kembali tumpah membasahi wajahnya, meskipun ia sudah mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menahan isak tangis.

Repan ikut menundukkan kepalanya sejenak. Lubuk hatinya merasa agak sesak menyaksikan Zahra harus memikul beban seberat itu sendirian di usianya yang masih remaja.

Di dalam lingkungan sekolah, Zahra dikenal sebagai sosok siswi yang sangat baik hati. Pribadinya sangat santun, dan ia selalu menjaga batas jarak pergaulan dengan para siswa laki-laki. Namun kini... gadis itu tampak begitu rapuh di hadapannya.

Zahra memang merupakan salah satu siswi berhijab terpopuler yang terkenal berparas sangat cantik di sekolah. Karena prinsip keagamaannya yang sangat kuat dalam menjaga diri, ia sudah menolak mentah-mentah ratusan pria yang mencoba mendekatinya—membuatnya dijuluki sebagai gadis milik publik karena sama sekali belum ada satu pun kaum Adam di sekolah yang sanggup merengkuh hatinya.

Repan merenung sejenak, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Zahra dengan sorot mata yang penuh keyakinan.

"Kalau memang itu masalahnya... gue bakal bantu membiayai seluruh biaya operasi ibu lo," ucap Repan datar, namun terdengar sangat tegas.

Zahra sontak menoleh cepat ke arahnya, sepasang kelopak matanya membelalak lebar. "Hah...? Tunggu, Pan... nggak usah repot-repot. Biaya operasinya itu mahal banget. Aku... aku tahu persis kalau keluarga kamu juga bukan dari kalangan orang berada."

Zahra berkata apa adanya. Seluruh warga sekolah sangat maklum kalau Repan hidup dalam kondisi yang serba sederhana, di mana cowok itu terkadang membawa bekal makanan sendiri dari rumah atau bahkan sering menumpang jajan gratis pada Bimo.

Zahra sama sekali tidak ingin merepotkan Repan, apalagi sampai meminta bantuan finansial sebesar itu untuk masalah keluarganya.

Repan menatap lurus ke depan. "Kalau gue punya kemampuan buat bantu, gue pasti bakal bantu. Bukan karena gue merasa kasihan sama lo... tapi murni karena itu adalah keinginan gue sendiri."

Zahra tertegun membisu. Sepasang matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan lagi karena gelombang kepedasaan, melainkan gelora rasa terharu yang teramat dalam.

Mereka berdua terdiam dalam balutan keheningan di atas bangku panjang lorong rumah sakit tersebut.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!