Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat
Selir Zhou tinggal di halaman barat.
Meskipun ukurannya hampir setengah lebih kecil dibanding halaman timur, tempat itu jauh lebih indah.
Deretan pohon begonia sedang bermekaran, menebarkan kelopak merah muda dan putih di tanah. Beberapa pot anggrek menghiasi ambang jendela, tirai bambu baru tergantung di pintu, bahkan anak tangganya pun mengilap karena dibersihkan dengan teliti.
Ketika Lin Xiao tiba, Selir Zhou sedang duduk di serambi menikmati matahari.
Tiga pelayan mengelilinginya. Satu memijat kakinya, satu mengupas jeruk, dan satu lagi berdiri sambil membawa obat penenang kandungan.
Begitu melihat Lin Xiao, Selir Zhou terkejut sesaat, lalu memasang senyum lembut yang sudah sangat dikenalnya.
"Wah, kenapa Kakak datang?"
Ia menopang pinggangnya seolah hendak berdiri, tetapi segera ditahan oleh pelayan di sampingnya.
"Kakak, silakan duduk. Tubuhku sedang tidak nyaman, jadi aku tidak bisa menyambutmu."
Kata-katanya terdengar sopan.
Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
Lin Xiao tidak mempermasalahkannya. Ia duduk sendiri di bangku batu di samping.
"Duduk saja. Jangan sampai kandunganmu terganggu."
Selir Zhou tersenyum.
"Kakak tampak sangat segar hari ini. Pakaian ini juga indah. Kalau tidak salah, kain ini hadiah dari Nyonya Tua tahun lalu, bukan? Kakak belum pernah memakainya. Kenapa tiba-tiba dipakai hari ini?"
Sekilas, itu terdengar seperti pujian.
Padahal, ia sedang mengingatkan semua orang bahwa seorang istri sah bahkan harus mengandalkan hadiah Nyonya Tua untuk mendapatkan pakaian bagus.
Lin Xiao tidak menanggapi.
Tatapannya jatuh pada piring buah di depan Selir Zhou.
"Jerukmu terlihat enak."
Senyum Selir Zhou sedikit membeku.
Karena jeruk itu adalah jeruk manis dari selatan yang dikirim sebagai upeti. Pagi tadi, Nyonya Tua hanya menerima tiga keranjang.
Satu keranjang untuk dirinya sendiri.
Satu untuk Marquis muda.
Dan satu lagi untuk Selir Zhou.
Sementara Shen Qingyue bahkan tidak pernah melihat kulit jeruknya.
Selir Zhou jelas menyadari hal itu. Senyumnya semakin dalam.
"Kalau Kakak menyukainya, aku akan meminta seseorang membungkus beberapa untuk dibawa pulang."
"Baik."
Lin Xiao mengangguk.
"Kalau begitu, terima kasih."
Kali ini, senyum Selir Zhou benar-benar kaku.
Ia mengira Lin Xiao akan menolak atau merasa malu, seperti biasanya. Tak disangka, wanita itu justru menerimanya dengan tenang, seolah jeruk itu memang haknya.
Selir Zhou memberi isyarat kepada pelayan di sampingnya, yang segera pergi membungkus jeruk.
Lin Xiao duduk santai sambil mengamati bunga-bunga di halaman.
"Halamanmu terawat dengan baik."
Ia berkata,
"Begonia bermekaran dengan indah, anggreknya pun segar. Tidak seperti halaman timurku, yang hampir ditumbuhi rumput liar."
Selir Zhou tersenyum.
"Kakak bercanda. Halaman timur adalah kediaman istri sah. Tentu jauh lebih megah daripada tempatku."
"Entah megah atau tidak, yang penting nyaman ditinggali."
Lin Xiao tersenyum.
"Aku ini pemalas dan tidak suka mengurus hal-hal seperti itu. Tidak seperti dirimu. Sedang mengandung pun masih bisa merawat halaman serapi ini. Tidak heran Nyonya Tua selalu memujimu sebagai wanita yang cakap."
Kedengarannya seperti pujian.
Tetapi jika dipikirkan baik-baik, maknanya terasa aneh.
Seorang wanita hamil tidak beristirahat dan malah sibuk mengurus halaman.
Nyonya Tua memujinya karena dia terus berada di sisinya.
Seorang selir yang terlalu suka menonjolkan diri... sebenarnya sedang merencanakan apa?
Senyum Selir Zhou mulai goyah.
Ia menunduk dan mengusap perutnya.
"Hari ini Kakak datang menemuiku, apakah ada sesuatu?"
"Tidak ada urusan besar."
Lin Xiao menjawab santai.
"Pagi tadi kita bertemu di tempat Nyonya Tua, dan aku melihat wajahmu tampak sehat. Jadi aku ingin datang dan berbincang. Kita ini saudari, seharusnya lebih sering saling mengunjungi, bukan?"
Senyum Selir Zhou hampir runtuh sepenuhnya.
Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Shen Qingyue hari ini.
Biasanya, Shen Qingyue tidak pernah datang ke halaman barat. Kalaupun datang, wajahnya selalu muram dan dia akan pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata.
Namun, wanita di depannya sekarang duduk dengan santai, berbicara dengan tenang, seolah sedang minum teh di rumahnya sendiri.
Yang lebih menakutkan lagi...
Setiap kalimatnya terdengar sempurna.
Tetapi setiap kalimat juga membuat Selir Zhou merasa seperti duduk di atas jarum.
"Adik?"
Lin Xiao memiringkan kepala.
"Kenapa kau berkeringat? Apa mataharinya terlalu terik? Lebih baik masuk dan beristirahat."
Baru saat itulah Selir Zhou menyadari bahwa dahinya benar-benar dipenuhi lapisan keringat tipis.
Ia menggenggam sapu tangannya erat-erat dan tersenyum paksa.
"Memang agak panas... kalau begitu, aku akan masuk dulu."
"Baik."
Lin Xiao berdiri.
"Jeruknya akan kubawa pulang. Istirahatlah yang baik dan jangan terlalu lelah."
Ketika ia meninggalkan halaman barat, terdengar suara Selir Zhou memarahi seorang pelayan dengan nada rendah yang dipenuhi kekesalan.
Lin Xiao tidak menoleh.
Begitu keluar dari gerbang halaman barat, Qingxing yang memeluk bungkusan jeruk masih tampak linglung.
"Nyonya..."
"Hm?"
"Apakah... tadi Anda bertengkar dengan Selir Zhou?"
"Bertengkar?"
Lin Xiao meliriknya.
"Apa aku bertengkar?"
Qingxing berpikir sejenak lalu menggeleng.
"Sepertinya... tidak."
"Kalau begitu, masalahnya selesai."
Lin Xiao tersenyum.
"Aku hanya berkunjung dan membawa pulang beberapa jeruk."
Qingxing memandangi bungkusan jeruk di pelukannya, lalu mengingat percakapan selama setengah jam tadi.
Rasanya ada yang aneh, tetapi ia tidak bisa menjelaskannya.
Nyonya mereka tidak mengucapkan sepatah kata kasar pun, tidak memasang wajah dingin, bahkan terus tersenyum seperti sedang berkunjung ke rumah kerabat.
Namun, ekspresi Selir Zhou saat mereka pergi tampak lebih buruk daripada orang yang baru saja dimarahi habis-habisan.
Qingxing tiba-tiba teringat ucapan Lin Xiao pagi tadi:
"Terlalu banyak bicara hanya mendatangkan masalah."
Tetapi hari ini, nyonyanya sudah berbicara cukup banyak.
Dan orang yang terkena masalah tampaknya justru orang lain.
Sesampainya di halaman timur, seorang pelayan muda berpakaian biru sedang menunggu di depan pintu.
Begitu melihat Lin Xiao, ia buru-buru membungkuk.
"Nyonya, bagian keuangan mengirim hamba untuk menyerahkan jatah bulan ini."
Ia menyerahkan kantong kain yang terasa berat.
Lin Xiao menimbangnya tanpa membuka.
"Berapa jumlahnya bulan ini?"
"Lima tael perak dan seribu keping uang tembaga."
"Bagaimana dengan bulan lalu?"
Pelayan itu tertegun.
"Sama... juga lima tael."
"Kalau jatah Selir Zhou?"
Wajah pelayan itu langsung membeku.
"Ini... hamba tidak tahu..."
"Kau tahu."
Lin Xiao menatap matanya.
"Kau mengurus pembelian. Semua pengeluaran rumah tangga melewati tanganmu. Bagaimana mungkin kau tidak tahu?"
Pelayan itu membuka mulut, sementara keringat mulai muncul di dahinya.
Qingxing di samping bahkan tidak berani bernapas.
Lin Xiao tidak memaksanya.
Ia menyerahkan kantong itu kepada Qingxing, lalu berkata,
"Kembalilah dan sampaikan kepada bagian keuangan. Mulai bulan depan, jatah halaman timur harus mengikuti aturan untuk istri sah."
"Berikan sesuai seharusnya."
"Kalau kurang satu keping pun, aku sendiri yang akan menghadap Nyonya Tua."
Pelayan itu segera mengangguk dan hampir berlari meninggalkan tempat itu.
Qingxing menatap punggungnya.
"Nyonya... sebenarnya berapa jatah untuk istri sah?"
"Aku juga tidak tahu."
Lin Xiao menjawab santai.
"Tetapi dia tahu."
"Dia tahu bahwa jumlah yang diberikan kurang, makanya dia lari."