Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Kedua
Deg!
Cahaya putih keluar dari lukisan sosok wanita berambut panjang dan berpakaian putih itu.
Chloe yang masih duduk di atas lantai tidak bergerak sedikit pun. Di matanya tidak ada ketakutan yang terlihat.
Ia hanya duduk diam menatap cahaya putih yang perlahan berubah menjadi sosok wanita paruh baya. Wanita itu berdiri di hadapannya dengan senyum lembut.
Rambut panjangnya tergerai. Gaun putihnya berkibar pelan, padahal tidak ada angin. Wajahnya... wajah yang sama persis dengan wanita di lukisan.
"Siapa kau?" tanya Chloe sambil beranjak berdiri. Tubuhnya masih terasa sedikit sakit.
Sosok itu hanya tersenyum, menatap wajah tirus Chloe yang kini sudah berdiri di hadapannya. Lalu ia mengangkat tangannya. Dingin, tapi menenangkan. Ujung jarinya menyentuh pipi Chloe.
"Aku ibumu, Nak," jawabnya pelan, suaranya serak.
Chloe mengerutkan kening. "Ibu...?! Aku tidak mempunyai ibu," ucapnya sambil menggeleng. Ia menepis jari dingin yang menyentuh pipinya.
"Kau benar...." Air mata wanita itu jatuh. "Ibu yang salah. Ibu yang meninggalkanmu bersama ayahmu... Ibu... Ibu tidak bisa hidup dengan seorang monster pembunuh berdarah dingin seperti ayahmu...." ucap wanita itu dengan suara bergetar.
Chloe diam. Ia terus menatap sosok wanita paruh baya yang berwajah pucat itu dengan tatapan penuh tanya.
"Kau pantas membenci Ibu, Daisy...."
Deg.
Nama itu menghantam kepala Chloe seperti palu.
"Tapi di kesempatan ini, Ibu mohon untuk terakhir kalinya kepadamu," lanjut wanita itu. Air matanya mengalir di pipinya. "Balaskan dendammu. Balaskan dendam adikmu yang saat ini tubuhnya kau tempati."
Chloe mundur selangkah. Kepalanya berdenyut-denyut sakit.
"Apa maksudmu... tubuh yang kutempati?" Suaranya bergetar.
Wanita itu tersenyum perih. "Chloe sudah mati dua jam yang lalu, Nak. Dia lelah menghadapi siksaan yang diberikan oleh orang serakah itu. Adikmu menyerah. Yang bangun sekarang... adalah kau. Jiwa Daisy. Putri sulungku, yang aku tinggalkan bertahun-tahun lalu."
Chloe terdiam mendengar apa yang dikatakan wanita di hadapannya.
"Maafkan Ibu," bisik sang wanita. Tubuhnya mulai memudar, tertelan cahaya putih. "Balaskan dendammu. Balaskan dendam Ibu dan adikmu. Ambil apa yang menjadi hakmu."
"Ibu...!? Adik!?" Chloe menggelengkan kepalanya, bersamaan dengan sosok wanita yang mengaku sebagai ibunya menghilang di hadapannya.
Sunyi.
Hanya tersisa kanvas dan lukisan seorang wanita yang menutup matanya. Wanita yang sama yang berbicara kepadanya. Napas Chloe memburu.
Tiba-tiba ingatan asing membanjiri kepalanya. Tangisan yang merintih, ketakutan, dan penyiksaan.
Darah, pembunuhan yang disengaja, harta warisan yang direnggut... bercampur menjadi satu.
Flash
Seorang wanita tertawa keras sambil menodongkan pistol ke kepala seorang wanita lain.
"Mati kau.... Hahaaa.... Dan seluruh hartamu akan menjadi milikku!"
Dor!
"Ibu..."
Flash
"Lepaskan aku! Aku tidak gila.... Aku waras! Jangan menyakitiku... Ayah...." Seorang wanita muda berteriak memohon. Tapi tak ada seorang pun yang mendengarkannya. Seolah-olah teriakannya itu hanya angin lalu. Ia diseret paksa masuk ke dalam rumah sakit jiwa oleh seorang dokter pria.
Flash
"Jangan mendekat... Jangan menyuntikku... itu racun!" Rintihan Chloe di dalam ruangan yang gelap. Ia disuntik cairan berwarna perak oleh seorang dokter pria dengan cara yang kasar.
"AAAKH...!!!"
Chloe berteriak sambil memegangi kepalanya. Dadanya terasa sesak. Ingatan itu terasa sakit. Terlalu nyata.
"Jadi... jadi aku.... kembali hidup," gumamnya pelan. Suaranya serak. "Dan... dan pemilik tubuh ini adalah adikku.... Chloe."
Air matanya jatuh. Tapi bukan air mata lemah. Ini air mata amarah.
"Chloe... Ibu," ia menatap lukisan itu. "Maaf aku datang terlambat."
Tangannya terkepal kuat. Kukunya menancap ke telapak tangan sampai berdarah. Tapi ia tidak merasakan sakit.
Yang ia rasakan hanya dingin. Dingin yang menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.
"Ck."
Sebuah suara terdengar dari kepalanya. Suaranya sendiri, tapi bukan.
Lebih berat. Lebih kejam.
"Selamat datang, Kak."
Chloe tertegun. "Chloe?"
"Aku sudah menunggu lima tahun di sini, Kak. Di dalam tubuh ini. Menahan sakit. Menahan suntikan itu."
Suara itu tertawa pelan. "Terima kasih sudah datang. Sekarang.... Giliranku istirahat, dan giliranmu yang bekerja, Kak... Aku tahu kakak bukan wanita lemah seperti aku. Jadi semesta mempercayakan semuanya kepada kakak."
Cahaya di sekeliling Chloe meredup. Di belakang matanya ia bisa melihat bayangan seorang gadis memakai gaun putih. Tersenyum padanya sebelum akhirnya pudar.
"Chloe," air mata Daisy jatuh. "Aku janji."
Ia mengangkat wajahnya. Mata yang tadinya coklat pucat kini berubah. Merah. Tajam. Dan penuh emosi.
"Aku Queen Daisy. Kembali hidup di tubuh adikku yang hidupnya sangat malang. Dan aku berjanji akan membalas semuanya. Membuat orang yang menyiksa mereka menangis darah, memohon nyawa di bawah telapak kakiku."
KRAAAK!
Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Dokter Gio masuk dengan wajah terlihat panik. Di belakangnya ada dua orang suster.
"Apa yang kamu lakukan, wanita gila?!" bentak Dokter Gio.
Tapi ia langsung terdiam.
Di tengah ruangan yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela, berdiri seorang wanita.
Rambut panjangnya tergerai basah oleh keringat dan cat. Gaun rumah sakitnya robek. Dan di tangannya terdapat kuas lukis yang berlumur cat berwarna merah, menetes ke lantai persis seperti darah.
Ia menoleh ke arah Dokter Gio dengan senyum tipis. Dokter Gio dan dua orang suster di belakangnya membeku saat melihat mata wanita itu yang memerah seperti darah.
Hening selama tiga detik.
"Oh," kata Chloe pelan. Suaranya serak tapi tenang. "Kalian datang."
Ia mengangkat kuas itu. Menatapnya seperti menatap pisau. "Aku suka melukis... Apa kau menyukai lukisanku yang itu, Dokter?" ucap Chloe sambil menunjuk lukisan seorang wanita di kanvas.
Dokter Gio dan suster menatap lukisan seorang wanita di dalam kanvas. Wanita itu memakai gaun putih. Wajahnya tersenyum lembut. Tapi lehernya... berlumuran cat merah yang menetes sampai ke bawah kanvas.
"Sejak kapan kau melukisnya?" tanya Dokter Gio. "Dua jam lalu aku baru saja menyuntikkan obat ke dalam tubuhmu. Efeknya akan bertahan selama dua belas jam."
Tapi sekarang ia melihat wanita itu baik-baik saja. Tidak berteriak seperti orang gila. Tidak ketakutan saat melihat manusia. Wanita itu justru terlihat baik-baik saja.
Chloe memiringkan kepala. Cat merah dari kuasnya menetes pluk ... pluk ... ke lantai.
"Kenapa? Kaget ya," ucap Chloe dengan berbisik.
Ia melangkah mendekati kanvas itu. Jarinya mengusap wajah wanita di lukisan.
"Ibu," gumamnya. "Dia yang mengajari aku melukis. Sebelum dia meninggal karena dibunuh."
Hening.
Hanya ada suara tetesan cat di ruangan itu.
Dokter Gio menelan ludah. "Ambilkan suntikan, cepat!" ucapnya kepada suster yang berdiri di belakangnya.
"Baik, Dokter," ucap salah satu suster itu lalu berlari keluar dari ruangan.
Chloe tersenyum tipis. Tapi terlihat sangat menyeramkan. Matanya merah, tajam, dan kosong.
Ia tidak menoleh. Tetap mengusap kanvas itu dengan lembut.
"Terlambat, Dokter," bisiknya. "Obat kalian tidak mempan lagi sama aku."
Jangan lupa dukungannya guyss 🙏 😊 🤗 🥰.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,