NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga, Didekap Sang Mafia

Dibuang Keluarga, Didekap Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arraziq

Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.

Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.

Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di bawah pengawasan

Pagi itu, meja makan mansion Alister kembali diselimuti keheningan yang canggung. Aisha duduk berseberangan dengan Devan. Efek dari kejadian semalam masih tersisa tebal di antara mereka. Aisha memutar-mutar sendok di dalam mangkuk bubur ayamnya tanpa selera, sesekali melirik pria berjas gelap di depannya.

Devan tampak seperti biasa, tenang, fokus pada berkas tablet di tangannya, seolah perdebatan soal kotak musik dan masa lalu tidak pernah terjadi. Namun, jika Aisha mengamati lebih dekat, Devan tidak menyentuh kopi hitamnya sama sekali pagi ini.

"Kenapa tidak dimakan?" suara Devan memecah kesunyian. Dia menyandarkan tabletnya di meja, menatap Aisha dengan raut datar.

"Masih memikirkan hal konyol semalam?"

Aisha menghentikan gerak jemarinya. Dia mendongak, mencoba memasang wajah setenang mungkin.

"Tidak. Saya hanya belum terlalu lapar."

Devan mendengus pelan.

"Habiskan. Hari ini kamu harus ikut ke kantor Alister Group. Aku tidak mau Bi Sumi melapor kalau kamu pingsan lagi di rumah karena menolak makan."

Aisha menaikkan sebelah alisnya, terkejut.

"Ke kantor? Untuk apa? Bukankah perjanjian kita mengatakan saya tidak perlu mencampuri urusan pekerjaan Anda?"

"Kemarin berita pernikahan kita sudah dirilis secara resmi. Para pemegang saham dan jajaran direksi ingin melihat langsung 'Nyonya Alister' mereka," potong Devan tegas, memberikan alasan yang terdengar sangat profesional.

Namun di dalam hatinya, alasan Devan jauh lebih sederhana, dia tidak ingin meninggalkan Aisha sendirian di mansion saat ingatan gadis itu mulai terusik. Devan tahu, menahan Aisha di bawah jangkauan pengawasannya adalah satu-satunya cara memastikan Aisha aman dari rasa penasaran yang bisa membahayakan jiwanya sendiri.

"Siapkan dirimu dalam waktu lima belas menit. Mobil sudah menunggu," tambah Devan lalu berdiri, merapikan jasnya tanpa memberi ruang untuk bantahan.

***

Gedung Alister Group menjulang tinggi di pusat kawasan bisnis ibu kota. Gedung pencakar langit berarsitektur kaca modern itu memancarkan kekuasaan yang luar biasa. Saat Rolls-Royce Devan berhenti di lobi utama, puluhan karyawan dan sekuriti langsung berbaris rapi memberikan penghormatan.

Devan turun lebih dulu, lalu secara alami mengulurkan tangannya pada Aisha. Meski masih diliputi kebingungan atas misteri Devan, Aisha menyambut genggaman tangan yang kokoh dan hangat itu.

Mereka melangkah bersama menuju lobi, menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata. Bisik-bisik kagum terdengar di mana-mana, terpesona oleh keserasian sang CEO muda yang biasanya dingin dengan istrinya yang tampak anggun.

Begitu pintu lift khusus eksekutif tertutup dan membawa mereka ke lantai teratas, genggaman Devan perlahan melonggar, namun tangannya berpindah ke pinggang Aisha, menjaga posisi gadis itu tetap dekat dengannya.

"Di lantai ini hanya ada ruangan kerjaku, ruang rapat utama, dan sekretariat," Devan menjelaskan singkat saat mereka keluar dari lift.

"Kamu bisa berada di ruang kerjaku selama aku memimpin rapat jam sepuluh nanti."

Ruang kerja Devan di gedung Alister Group sangat luas, bahkan lebih luas daripada ruang kerjanya di mansion. Dinding kaca raksasa memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian lantai 45. Ada satu set sofa kulit hitam mewah, meja kerja marmer, dan pintu tersembunyi yang menuju ke ruang istirahat pribadi.

"Duduklah di sana. Jika butuh sesuatu, panggil sekretarisku, Maya, bukan Maya yang kemarin, ini Maya yang profesional," puji Devan tipis atas humor kecilnya sendiri.

Aisha mengangguk dan duduk di sofa kulit.

"Terima kasih, Devan."

Devan menatapnya sejenak, ada keraguan samar di matanya seolah ingin menyampaikan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia hanya berbalik dan melangkah keluar menuju ruang rapat utama bersama para petinggi perusahaan.

Satu jam berlalu. Aisha mulai merasa bosan. Dia berdiri dan berjalan mendekati dinding kaca, menikmati pemandangan lanskap kota di bawahnya. Namun, rasa penasaran yang sempat ditahan oleh ucapan dingin Devan semalam, perlahan kembali muncul permukaan.

"Kalau kotak musik itu benar-benar barang lelang seperti kata Devan... kenapa ukiran namanya begitu spesifik? Dan kenapa Devan menyimpannya di laci rahasia bersama barang-barang paling berharga miliknya?" Gumam Aisha masih penasaran.

Langkah kaki Aisha membawanya mendekati meja kerja marmer Devan yang rapi. Di atas meja itu terdapat beberapa dokumen bertumpuk, tempat pena kristal, dan sebuah bingkai foto kecil yang menghadap ke arah kursi Devan.

Didorong oleh rasa penasaran, Aisha melangkah ke balik meja kerja Devan. Dia meraih bingkai foto kayu berwarna cokelat gelap itu dan membaliknya.

Aisha menghentikan napasnya seketika.

Foto di dalam bingkai itu bukan foto pemandangan, bukan pula foto profil bisnis. Itu adalah foto lama bergaya candid yang agak kusam. Di dalam foto itu, tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun sedang menggandeng erat tangan seorang anak perempuan kecil berpita merah yang berusia sekitar lima tahun. Anak perempuan di dalam foto itu sedang memegang sebuah kotak musik kayu kecil.

Tangan Aisha bergetar hebat hingga bingkai foto itu hampir terlepas dari jemarinya. Air mata hangat mendadak menetes, membasahi kaca bingkai tersebut.

Anak perempuan berpita merah di foto itu adalah dirinya sendiri semasa kecil, sebelum kecelakaan maut itu terjadi.

"Devan..." bisik Aisha dengan suara yang runtuh seketika.

"Kamu membohongiku... Kamu benar-benar anak laki-laki itu..."

Belum sempat Aisha menguasai kebingungannya yang meluap, pintu ruang kerja mendadak terbuka lebar.

Bukan Devan yang masuk, melainkan seorang pria muda berpenampilan rapi dengan raut wajah cemas dan terburu-buru. Itu adalah Asisten Arya, tangan kanan Devan yang menangani urusan-urusan paling sensitif Alister Group.

Arya tersentak saat melihat Aisha berdiri di balik meja Devan sambil memegang bingkai foto rahasia itu.

"Nona Aisha?" panggil Arya kaget.

Aisha dengan cepat menghapus air matanya dan mengangkat bingkai foto tersebut ke arah Arya yang sudah ia kenal sejak kemarin.

"Pak, tolong jawab saya dengan jujur. Siapa anak kecil di foto ini? Kenapa Devan menyimpan foto saya masa kecil?!"

Wajah Asisten Arya seketika berubah pucat pasasi. Dia sadar rahasia besar sang bos telah tersentuh.

"N-Nona Aisha, sebaiknya Anda letakkan kembali foto itu sebelum Tuan Devan kembali dari rapat—"

"Tidak!" potong Aisha tegas, matanya berkaca-kaca penuh emosi.

"Devan bilang kotak musik dan nama itu cuma kebetulan! Tapi foto ini membuktikan dia berbohong! Pak Arya, Anda sudah bekerja lama dengannya, tolong katakan, kenapa Devan menikahi saya? Kenapa dia menyembunyikan ini semua dari saya?!"

Arya menelan ludah dengan susah payah, tampak sangat dilematis. Dia menatap pintu yang terkunci rapat, lalu beralih menatap Aisha yang tampak begitu rapuh namun menuntut kebenaran.

1
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!