Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
JURUS KELELAWAR 3
Pendekar Kelelawar duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalam, dan setelah merasa cukup, dia kembali menyerang Pendekar Naga Hijau.
Pendekar Kelelawar mengeluarkan jurus pamungkas, dan tubuhnya bergerak dengan cepat, mengeluarkan jurus andalan.
Wuzzzz... Cahaya hitam membungkus tubuh Pendekar Kelelawar.
Pendekar Kelelawar berubah menjadi kelelawar berukuran manusia, dengan sayap lebar yang terbang di udara, memutari Pendekar Naga Hijau.
Warga yang menyaksikan menjadi ketakutan dan khawatir akan keselamatan dua Pendekar Naga yang sedang bertarung.
"Wah keren tuh bang, kalong raksasa hehe..." teriak Apis kepada Oval.
"Batman Pis...." ucap Oval sambil pasang kuda-kuda bersiap menghadapi.
Kelelawar raksasa itu mengepakkan sayapnya, bersuara keras.
"Pittttttt pittt..."
Suara pekikan dari Kelelawar Raksasa.
Cahaya hitam bergumpal di kedua sayap dan dari sayapnya keluar puluhan cahaya hitam yang mengarah ke Pendekar Naga Hijau.
Puluhan pukulan sakti berwarna hitam menerjang Pendekar Naga Hijau.
Oval dengan cepat mengeluarkan jurus Tameng Naga untuk menahan puluhan pukulan sakti berwarna hitam.
DUAAARRR ... DUAAARRR!!!!!
Puluhan ledakan bergema bersamaan, membuat tanah bergetar dan berasap tebal.
Namun, sebelum serangan Pendekar Kelelawar selesai, Apis memanfaatkan kelengahannya untuk melepaskan pukulan sakti Naga Hitam.
"Ini kesempatan ku...." ucap Apis dalam hati.
"Jurus Pukulan Naga Hitam!!!!" teriak Apis.
Cahaya hitam meleset dari sisi kanan, menghantam kelelawar raksasa tersebut.
DUARRRRRRR......!!!!
Suara ledakan yang keras bergema dengan dahsyat.
Hancur raksasa kelelawar tersebut, dan berjatuhan.
Bupati Jordan terkejut melihat Kelelawar Raksasa hancur lebur.
Setelah kabut hilang, Oval berdiri dengan gagah, dan tanah yang sekitarnya cekung hingga 1 meter.
"Sungguh luar biasa pukulan tadi, namun Tameng Naga mampu mengatasi," ucap Oval kepada Apis.
Apis tersenyum, "Gila bro... Sampai cekung loh itu tanah," katanya.
Oval membalas, "Pasti lah, tadi puluhan yang datang sudah seperti hujan meteor."
Apis tertawa, "Tapi sudah selesai bang, Pendekar Kelelawar terlalu fokus ke abang, dia melupakan saya sehingga pukulan saya di makan mentah-mentah olehnya hehe... "
Oval mengangguk, "Batu besar aja hancur, apalagi tubuh yang lemah..."
Bupati Jordan yang melihat Pendekar Kelelawar, andalannya, tumbang menjadi panik.
Dia tidak percaya bahwa Pendekar Naga Hijau dan Pendekar Naga Hitam bisa mengalahkan pendekar andalannya.
Warga yang menyaksikan pertarungan tersebut bersorak gembira melihat Pendekar Kelelawar tumbang.
Mereka berhamburan dan mengejar Bupati Jordan dan anak buahnya yang hendak melarikan diri.
Warga yang marah melampiaskan amarahnya terhadap Bupati Jordan akhirnya mengepungnya dan memberikan hukuman yang setimpal.
Oval dan Apis berusaha melerai warga agar tidak main hakim sendiri, namun jumlah warga yang banyak dan tak terkendali membuat Bupati Jordan tidak bisa diselamatkan.
Akhirnya, Bupati Jordan pun tumbang di tangan warga yang marah.
Sore harinya, warga mengurus pemakaman dari para perusuh tersebut dan membersihkan area pertarungan yang terjadi di depan rumah Tohirin.
Oval dan Apis hanya bisa menyaksikan warga membersihkan area pertarungan dan mengurus pemakaman.
Mereka berdua hanya bisa berharap bahwa kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi di masa depan.
Tohirin yang menyaksikan semua kejadian tersebut hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Oval dan Apis atas bantuan mereka.
"Terima kasih, Pendekar Naga Hijau dan Pendekar Naga Hitam. Kalian telah menyelamatkan warga dari kejahatan Bupati Jordan," ucap Tohirin dengan tulus.
Malam harinya, rumah Pak Tohirin dipenuhi dengan warga yang berkunjung untuk mengucapkan terima kasih kepada Oval dan Apis.
Mereka membawa banyak hadiah, seperti uang dan makanan, namun Oval dan Apis menolaknya dengan sopan.
"Kami tidak membutuhkan hadiah, kami hanya ingin membantu warga yang membutuhkan," kata Oval dengan senyum.
Apis menambahkan, "Namun, kami memiliki saran untuk warga. Warga perlu menunjuk seseorang untuk mengorganisir pemerintah daerah yang baru untuk sementara menggantikan Bupati Jordan."
Warga yang hadir berdiskusi dan sepakat untuk menunjuk Pak Tohirin sebagai pemimpin desa yang baru.
"Pak Tohirin, Anda yang paling tepat untuk memimpin desa ini dan desa sekitarnya," kata salah satu warga.
Pak Tohirin terkejut namun menerima tanggung jawab tersebut dengan senang hati.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk memimpin desa ini dan desa sekitarnya," kata Pak Tohirin dengan tekad.
Oval dan Apis tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Pak Tohirin.
"Kami percaya bahwa Anda akan menjadi pemimpin yang baik, Pak Tohirin," kata Oval.
Dengan demikian, Pak Tohirin menjadi pemimpin desa yang baru, dan Oval dan Apis dapat melanjutkan perjalanan mereka dengan hati yang lega, mengetahui bahwa warga desa telah mendapatkan pemimpin yang baik.
Setelah larut malam dan keadaan sepi, warga yang berkumpul telah pulang ke rumah masing-masing.
Oval dan Apis akhirnya bisa bersantai di balai depan rumah Tohirin, ditemani oleh Tohirin sendiri.
Di depan mereka terdapat banyak makanan yang dibawa oleh warga sebagai tanda terima kasih.
"Bang, tadi siang waktu saya menahan pukulan sakti Pendekar Kelelawar itu, tangan saya berasa getar sampai persendian terasa sakit," ucap Apis sambil menggaruk kepala.
"Saya juga, pis. Merasakan hal itu, apalagi saya tadi puluhan pukulan sakti... Getar tubuh terasa seperti gempa bumi. Andai kamu tidak menyerang Pendekar Kelelawar dan pukulan yang jumlah puluhan itu tidak terhenti, mungkin tembus Tameng Naga saya itu," jawab Oval sambil tersenyum.
Oval kemudian beralih berbicara dengan Tohirin tentang keamanan desa sekarang bahwa Tohirin ditunjuk sebagai pemimpin baru.
"Pak Tohirin, sekarang Anda menjadi pemimpin baru desa ini. Pastikan Anda menjaga keamanan desa dengan baik," kata Oval.
Tohirin berterima kasih banyak kepada Oval dan Apis atas bantuan mereka.
"Terima kasih banyak, Pendekar Naga Hijau dan Pendekar Naga Hitam. Kalian telah menyelamatkan desa ini dari kejahatan Bupati Jordan.
Saya akan melakukan yang terbaik untuk memimpin desa ini," ucap Tohirin dengan tulus.
Tohirin juga memuji kesaktian Pendekar Naga.
"Banyak pendekar yang datang melawan Pendekar Kelelawar tapi kalah. Hanya Pendekar Naga yang mampu menyelesaikan masalah ini dalam satu hari. Kalian benar-benar luar biasa," kata Tohirin dengan kagum.
Oval dan Apis tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Tohirin atas pujian tersebut.
"Tidak apa-apa, Pak Tohirin. Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan," kata Oval dengan rendah hati.
Oval mengatakan kepada Tohirin, "Pak Tohirin, saya dan Apis akan pulang pagi-pagi sekali. Jika terlalu siang, takut warga berkumpul kembali dan membuat kerumunan."
Tohirin mengangguk dan mengiyakan permintaan Oval.
"Baiklah, saya akan menyiapkan bekal untuk pagi hari. Semoga perjalanan kalian lancar."
Setelah berbicara dengan Tohirin, Oval dan Apis memutuskan untuk beristirahat. Mereka tidur di balai, dengan langit sebagai atap dan angin malam sebagai pengantar tidur.
Meskipun tidak ada kasur yang nyaman, mereka dapat tidur dengan nyenyak setelah seharian berjuang melawan Bupati Jordan dan Pendekar Kelelawar.
Suara jangkrik dan angin malam menjadi pengantar tidur yang menenangkan bagi Oval dan Apis.
Mereka tidur dengan senyum, mengetahui bahwa desa telah aman dan warga telah mendapatkan pemimpin yang baru.
Siang itu, Oval dan Apis sudah melakukan perjalanan menuju pulang.
Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat di bawah pohon rindang yang rindang dan teduh.
"Pis, istirahat dulu di sini, kita makan siang," kata Oval kepada Apis. "Siapkan bekal yang diberikan Tohirin."
Dua kuda mereka merapat di pohon rindang, dan Oval serta Apis turun dari kuda.
Mereka mengeluarkan bekal yang diberikan Tohirin dan mulai makan dengan lahap.
Di perbukitan yang indah, dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus, Oval dan Apis menikmati makan siang mereka.
Mereka berdua menikmati keindahan alam sekitar sambil memulihkan tenaga mereka.
Selesai beristirahat dan tenaga pulih kembali, dua pendekar tersebut melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka naik kuda dan mulai bergerak lagi, dengan semangat dan energi yang baru.
"Ayo Pis Kita lanjutkan perjalanan pulang..." ucap Oval.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, dengan kuda mereka melangkah dengan mantap.