Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Hujan rintik-rintik mengguyur jalanan saat Ophelia melangkahkan kaki keluar dari taksi pukul 22.30. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah teman Chloe, ponselnya bergetar tanpa henti.
Dua belas panggilan tak terjawab dari ibunya. Dan puluhan pesan singkat yang isinya hampir sama yang memintanya pulang.
Bajunya basah oleh gerimis, tapi Ophelia tidak peduli. Matanya tertuju pada sinar dari ruang tamu rumahnya.
Ophelia membuka pintu dengan hati-hati. Begitu pintu terkunci di belakangnya, Miranda langsung beranjak berdiri, berlari menyambutnya, dan memeluknya erat.
"Ophelia! Kau dari mana saja?” suara Miranda parau, basah oleh air mata yang sudah mengalir sejak berjam-jam lalu.
"Maaf, Mom. Aku sedang mengerjakan tugas kuliah," Ophelia berbohong. Sebenarnya dia sengaja mengabaikan panggilan itu. Ia butuh jeda untuk mencerna semua yang terjadi.
Miranda menariknya masuk, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Matanya yang sembab menatap ke sekeliling ruangan.
"Dia pergi, Ophelia. Giorgio pergi ke kantornya, tapi dia bilang ada orang jahat yang mengawasi rumah. Aku takut ditinggal sendiri."
Ophelia menahan napas. Di dalam dadanya, ada dua perasaan yang berkecamuk, kasihan pada ibunya yang ketakutan, dan sebuah amarah yang besar pada Giorgio.
"Mom, duduklah," ucapnya pelan, menuntun Miranda ke sofa. Ia mengambil selimut dan menyelimuti pundak ibunya yang dingin.
Miranda menggenggam tangan Ophelia dengan kuku-kuku yang masih basah oleh air mata. "Giorgio punya hutang.” Miranda memulai ceritanya. “Kita harus pergi, Ophelia. Giorgio bilang kita harus kabur minggu depan. Ke Eropa.”
Ophelia mengerutkan kening. "Tapi aku tidak mau kabur, Mom. Aku tidak mau meninggalkan kota ini, kuliahku, teman-temanku, semua yang aku bangun di sini. Kita bisa pergi dari rumah ini, ke tempat lain. Mungkin kita bisa menyewa apartemen. Tapi, kita harus berpisah dengan Giorgio. Dia lah sumber masalah kita.”
Miranda menangis. “Aku tak bisa meninggalkannya. Kita harus tetap bersamanya.”
Ophelia menarik napas panjang. Ia duduk di hadapan ibunya, memegang kedua tangan wanita itu, dan menatap matanya langsung.
"Mom, kita memang harus pergi. Tapi bukan kabur bersama Giorgio. Kau dan aku—kita pergi meninggalkan dia. Kita pindah ke apartemen, atau tinggal dengan Bibi Anna, adik daddy. Tanpa Giorgio. Dia tak tahu di mana rumah Bibi Anna, kan? Kita aman di sana.”
Miranda masih terisak, wajahnya berubah pucat. Lalu perlahan, dia menggeleng.
"Tidak, Ophelia. Aku tidak bisa meninggalkan Giorgio. Dia suamiku."
Ophelia mulai merasakan amarah itu mulai memuncak, menghadapi ibunya yang keras kepala.
"Suami? Mom, dia menggadaikan rumah ini! Dia menggadaikan nyawa kita ke mafia! Chloe bahkan menyuruh kita pergi darinya. Dia tega menjaminkan Chloe, putri kandungnya sendiri. Dan kau masih bilang tidak bisa meninggalkannya? Dia kejam, Mom."
"Kau tidak mengerti," Miranda memeluk dirinya sendiri, suaranya bergetar. "Giorgio bukan orang jahat. Dia hanya ... dia hanya terdesak. Dia mencintaiku dan kalian, Ophelia. Dia menjanjikan kita kehidupan yang lebih baik. Dan aku—aku tidak bisa sendirian. Aku sudah kehilangan ayahmu, aku tidak bisa kehilangan lagi. Aku mencintainya."
Kata cinta itu menusuk telinga Ophelia.
"Come on, cinta?" suaranya meninggi, nyaris membentak. "Cinta macam apa yang menyeret keluarganya ke dalam lubang hutang mafia? Cinta macam apa yang mengorbankan anaknya sebagai jaminan? Mom, lihat aku! Aku anakmu! Aku lebih berharga dari pria yang baru kau kenal dua tahun itu!"
Miranda terhenyak. Matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini karena terluka. "Jangan bicara seperti itu, Ophelia. Giorgio adalah bagian dari keluarga kita."
"Keluarga? Keluarga tidak saling mengkhianati, Mom!" Ophelia berdiri, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Ayah kandungku—ayah yang sungguh-sungguh mencintaimy dan aku—dulu pernah bilang, jika seseorang membuatmu menangis lebih sering daripada membuatmu tersenyum, maka itu bukan cinta. Itu penjara. Dan kau sedang duduk di penjara yang kau bangun sendiri, Mom!"
Miranda terdiam. Air matanya terus mengalir, tapi dia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, dan Ophelia melihat dengan jelas, ibunya tidak akan pernah memilihnya. Ibunya akan selalu memilih Giorgio.
Rasa geram dirasakanny. Bukan kebencian, tapi kekecewaan yang begitu dalam.
"Baiklah," bisik Ophelia akhirnya, suaranya dingin dan datar. "Kau mau bertahan dengan dia, silakan. Tapi aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan kita berdua. Aku akan mencari jalan keluarku sendiri."
Ophelia berbalik dan berjalan ke kamarnya, membanting pintu cukup keras. Di balik pintu, dia mendengar isak tangis ibunya yang semakin keras. Hatinya sakit, tapi dia tidak menangis.
Rasa geram pada ibunya dan Giorgio semakin membara.
*
*
(JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE DI SETIAP BAB YA)