“Dia mantan terindahku, separuh ku ada bersamanya. Sedangkan kekasihku dia orang yang selama ini menjagaku, memberiku semangat, mengangkatku dari keterpurukan. Apa iya aku harus meninggalkan dia demi belahan jiwa ku, atau aku harus memilih dia dan meninggalkan belahan jiwaku untuk kedua kalinya , tapi rasanya sakit jika harus berpisah lagi dengannya” Dafa sangat dilema akan pilihannya.
“Ikutin saja apa kata hatimu” seseorang yang menghampirinya dan merangkul bahunya.
“Jika kamu mau bersama dia pergilah tinggalkan aku, aku sudah ikhlas dengan semua ini. Bukankah aku yang salah dalam hal ini? Aku yang telah meninggalkan kamu dan menyuruh kamu untuk bersama wanita lain.” Air matanya berjatuhan hati tak kuasa menahan rasa bersalah.
“Aku gak bisa ninggalin kamu aku juga gak bisa ninggalin dia, kamu belahan jiwa aku, separuh aku ada bersamamu. Aku ini memang egois aku gak bisa menentukan pilihanku aku gak bisa ninggalin kalian berdua, kalian berdua orang terpenting dalam hidupku setelah orang tua ku.” Menangis tersendak-tersendal dan memeluk mantannya
Dafa akhirnya memilih untuk menikah dengan Amanda.Dad
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safa Cantika humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
****
Hari demi hari Rara melewati ini semua, kadang ada Dafa di sampingnya.
Telah terjadi banjir bandang di kawasan Jawa Timur airnya tak kunjung surut. Semua warga terpaksa harus mengungsi. Mereka membutuhkan bahan pangan, pakaian dan obat - obatan
“Ya Allah kasian banget mereka” Rara melihat berita di televisi
“Kenapa Ra” tanya Manda yang sedang membuat mie instan
“Itu nda, banjir di jawa timur, kasian banget mereka”
“Mana” manda berjalan ke ruang televisi, duduk di sebelah Ra. “Aku buatin ini buat kamu “ memberikan semangkok mie ke Rara
“Makasih nda” mengambil mangkok mie, menyeruputnya perlahan
“Gimana kalau besok kita kasih tahu Dafa dan yang lainnya untuk menggalang Dana, lagian kan Dafa ketua senat pasti lebih mudah”
“Oke aku setuju itu”
Besoknya di kampus
“Guys, semalam aku sama Rara nonton di televisi di jawa timur banjir gimana kalau kita galang dana”
“Galang dana buat ngebantu mereka gitu”
“Iya den”
“Boleh aku setuju, tapi kita harus buat acara dulu biar penggalangan dana nya lebih banyak”
“Gimana kalau kita buat bazar kek gitu” Usul Rara
“Boleh aku setuju sama cantik” Dafa kecoplosan memanggil Rara dengan sebutan cantik
Denis menyenggol Dafa
“Ide Rara maksud guwe ya Rara” Dafa memperbaiki ucapannya
Cantik, sudah dua kali Dafa menyebutkan kata cantik di depan aku, apa ada yang disembunyiin Dafa ya, batin manda
“Iya aku setuju, aku nanti mau bernyanyi siapa tahu kan bikin ramai pengunjungnya”
“Ya boleh itu Ki”
Dua hari kemudian persiapan penyelenggaraan bazar telah selesai dan panggung juga sudah didirikan.
Kiki naik ke atas panggung bersama Aldi. Kiki bernyanyi dan Aldi bermain gitar
Denis, Dafa, Winda, Rara dan Manda menyaksikan penampilan Kiki dan Aldi
“Gila keren banget bang kiki, guwe baru tahu dia bisa nyanyi semerdu itu” Denis yang tidak menyangka kiki bisa bernyanyi
“Iya kamu bisa gak Den”
“Bisa”
“Bisa buat orang ketawa mah iya”
“Kan dapat pahala kalau bisa ngebuat orang tertawa apalagi kamu”
“Iya, gombal terus ya” Seru Rara meledek
“Dari pada galau terus”
Galau kaya aku yang melihat Dafa dengan Manda, batin Rara
“Den jangan ngomong gitu, kasian Rara” bisik winda
“Ra, sorry ya”
“Iya gak apa kok den, aku sudah biasa dengan ini semua”
Rara melihat ke arah kanan, Amanda berdiri di samping Dafa tangannya memegang lengan Dafa
Kamu kuat Ra, batin Rara
Kiki dan Aldi turun dari panggung. Rara berjalan ke arah panggung menggambil mic lalu bernyanyi lagu
“Telah aku maafkan Semua kesalahanmu
Asal kau mau berjanji Tidak mengulangnya lagi
Telah aku terima Sakitnya dikhianati
Sedalam cintaku ini Selama hidupku ini
Hatiku cuma ada satu Sudah untuk mencintaimu Tolong jangan sakiti lagi Nanti aku bisa mati
Cintaku cuma sama kamu Sayangku cuma untuk kamu Tolong jangan hancurkan lagi Nanti aku bisa mati”
Air mata Rara jatuh menyanyikan lagu ni, lagu ini seperti curahan hatinya kepada Dafa. Cintanya cuma satu sayangnya cuma satu untuk Dafa.
Cantik, apa itu perasaan kamu, maafin aku aku gak bisa ngebahagiin kamu, batin Dafa
Kok Rara nyanyi lagu itu ya, untuk siapa lagu itu, batin Manda
“Kasian ya Rara” Winda seakan mengetahui perasaan yang dialami Rara sekarang.
“Iya Win”
“Terima kasih untuk Rara yang telah menyumbang sebuah lagu, sekarang kita minta sebuah lagu dari ketua senat tampan kita Dafa Alghifari”
“Kok guwe”
“Ayo Daf lo pasti bisa, suara lo kan bagus” Denis menyemangati Dafa untuk maju ke atas panggung.
“Iya Sayang ayo”
Rara berdiri di tengah diantara Dafa dan Winda. Rara menggengam tangannya Dafa diam - diam seolah memberi semangat.
Dafa melihat genggaman itu lalu tersenyum. Dafa berdiri di tengah sebelah kirinya ada manda dan di sebelah kanannya ada Rara yang berdiri di samping winda dan denis.
Dafa berjalan ke atas panggung, mengambil gitar duduk di kursi lalu bernyanyi lagu
“Senyuman terlukis di wajahku Di saat ku mengingat kamu Tawamu manjamu membuatku rindu Tak sabar, ingin bertemu
Suara lembut menyapa aku Lembutnya, selembut hatimu Tulusnya, setulus cinta padaku Kusadar beruntungnya aku
Hidupku tanpamu Takkan pernah terisi sepenuhnya Karena kau separuhku Berbagi suka duka Saling mengisi dan menyempurnakan Karena kau separuhku
Separuh jalan hidupku
Kau separuhku”
Selama bernyanyi lagu itu kepala Dafa membayangkan semua kenangannya bersama Rara mulai dari dia ketemu Rara yang bertabrak karena Rara lari terburu - buru di hari pertama masuk sekolah, memanggil Rara dengan sebutan cantik, Rara mengerjai dia di hari ulang tahunnya dengan berpura - pura kecelakaan, melihat wajah Rara di kelas, menggendong Rara dan masih banyak lagi. Kenangan itu tidak ada satu pun terhapus dari ingatan Dafa.
Kok Dafa dan Rara bisa nyanyi lagu galau gitu ya, terus maksud liriknya kaya nyambung gitu, batin manda
Rara tersenyum melihat Dafa bernyanyi.
Apa lagu ini buat aku Daf, batin Rara
Acara berakhir dengan sukses. Dana yang terkumpulkan sudah banyak.
“Guys alhamdulillah acara kita sukses” Kiki menghitung jumlah dana yang berhasil dikumpulkan selama acara.
“Iya semua ini berkat Rara yang memberi ide cemerlang ini” jawab Dafa yang begitu senang dengan sukses acaranya karena Rara
Dafa bahkan memuji Rara di depan mata aku, senyumannya begitu tulus ke Rara gak kaya dia senyum ke aku yang terlihat terpaksa, tapi apa perasaan aku aja ya, batin manda melihat Dafa yang begitu dekat Rara belakangan ini.
Sebenarnya ada apa antara Dafa dan Rara, mereka terlihat sangat akrab seperti sepasang kekasih. Batin Manda yang mulai curiga kepada Dafa dan Rara.
“Sayang selamat ya acara yang kamu buat berjalan lancar” manda memeluk Dafa di depan sahabatnya.
Dafa sekarang miliknya Manda, batin Rara menahan air matanya
“Iya makasih manda” melepas pelukannya.
“Kenapa di lepas pelukan aku” tanya manda
“Iya gak apa - apa gak enak aja di lihatin mereka”
“Kami gak apa - apa” sambung Denis
Winda menyenggol Denis, lirikan matanya ke arah Rara.
“Apa sih”
“Itu lihat Rara kasian” Denis melihat Rara yang matanya berkaca - kaca.
“Kalian kenapa” manda menyadari keanehan Denis dan winda
“Oh enggak Denis digigit nyamuk” winda mengalihkan pembicaraan ia tidak ingin Manda mengetahui keadaan Rara
“Iya banyak kali nyamuknya” denis menepuk tangannya memukul nyamuk yang sama sekali tidak ada nyamuknya.
Karena acaranya di taman kampus jadi wajar kalau banyak nyamuk. Hujan turun deras
Semua mahasiswa berlarian mencari tempat teduh
“Kita main hujan dulu yuk” ajak Dafa kepada sahabatnya
“Ayo - ayo” denis menarik winda membuat tarian dansa dengan kekasihnya
“Den, basah den, aku gak bawa baju ganti” tangannya memegang tas untuk menutupi kepalanya
“Udah gak apa nanti kita beli lain” tangannya memegang pinggang Winda
“Guwe gak ah” kiki berlari mencari tempat teduh
“Guwe juga ogah, ki tungguin guwe” Aldi berlari mengejar Kiki.
“Daf aku juga mau dansa” Manda mengajak Dafa berdansa seperti Denis dan winda.