NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Pagi Seorang Istri

Nadia terbangun karena suara batuk.

Matanya langsung terbuka. Cahaya pagi masuk melalui tirai. Di sampingnya, Raka duduk di tepi ranjang, satu tangan menutup mulut, bahunya bergerak menahan batuk yang dalam.

Nadia bangkit.

"Mas."

Raka mengangkat tangan, memberi isyarat ia baik-baik saja, tapi batuknya belum berhenti.

Nadia turun dari ranjang, mengambil air hangat dari termos kecil yang semalam mereka isi. Ia juga mengambil obat yang Raka letakkan di meja.

"Minum."

Raka menurut setelah batuknya mereda.

Wajahnya pucat. Ada keringat tipis di dahi.

"Maaf, kamu jadi bangun."

Nadia duduk di sampingnya.

"Kita sudah membahas ini semalam."

"Membahas apa?"

"Jangan minta maaf karena bernapas."

Raka menatapnya, lalu tersenyum lemah.

"Saya akan berusaha mengingat."

Nadia memegang pergelangan tangannya. Denyutnya agak cepat, tapi tidak mengkhawatirkan. Ia tahu ini bukan kemampuan medis formal sepenuhnya. Ada naluri lain yang ikut bekerja sejak ia kembali hidup. Seolah tubuhnya menyimpan pengetahuan yang belum sempat ia pelajari.

"Mas Raka semalam kedinginan?"

"Sedikit."

"Kenapa tidak bilang?"

"Saya tidak mau membuatmu..."

Nadia menatapnya.

Raka menghentikan kalimat.

"Baik. Salah saya."

"Bukan salah. Tapi mulai sekarang bilang."

"Iya."

Pagi pertama sebagai istri dimulai dengan merebus air, mencari jahe di dapur, dan membuat minuman hangat seadanya. Nadia tidak merasa terbebani. Aneh, karena dulu ia benci pagi di rumah Arman. Setiap bangun, ia langsung menghitung apa saja yang mungkin salah.

Di sini, ia bergerak karena ingin, bukan karena takut.

Raka duduk di meja makan kecil, mengenakan jaket tipis. Ia tampak bersalah melihat Nadia sibuk.

"Saya bisa bantu."

"Duduk dulu."

"Saya tidak selemah itu."

"Dan aku tidak sekejam itu membiarkan orang yang baru batuk keras mengiris bawang."

Raka diam, lalu berkata, "Kalau begitu saya lipat selimut."

Nadia menoleh.

"Boleh."

Raka tampak senang karena diberi tugas.

Pemandangan itu hampir membuat Nadia tertawa. Laki-laki dewasa, baru menikah, merasa berguna karena boleh melipat selimut.

Sederhana sekali.

Setelah sarapan bubur instan yang ditambah telur, pintu diketuk.

Nadia dan Raka saling pandang.

"Siapa pagi-pagi?" tanya Nadia.

Raka berdiri.

"Mungkin Pak Harun."

Ternyata bukan.

Bu Lilis berdiri di depan pintu bersama seorang pembantu rumah keluarga Wiratmaja yang membawa rantang makanan. Wajah Bu Lilis tegang. Matanya langsung memindai Nadia, Raka, ruang tamu, lalu berhenti pada selimut yang dilipat rapi di kursi.

"Ibu," kata Raka.

"Kamu batuk?"

Raka terdiam sebentar.

"Sedikit."

Bu Lilis langsung masuk tanpa benar-benar menunggu dipersilakan.

Nadia mundur satu langkah, memberi ruang, tapi tidak menunduk berlebihan.

Bu Lilis menyentuh dahi Raka, memeriksa napasnya, lalu menatap Nadia.

"Dia tidak boleh kena dingin."

"Saya tahu."

"Obat paginya?"

"Sudah diminum."

"Sarapan?"

"Sudah."

"Apa?"

"Bubur telur."

Bu Lilis melihat ke dapur, seolah bubur telur adalah penghinaan.

"Saya bawakan sup ayam dan nasi tim. Raka biasa makan itu kalau batuk."

Nadia mengangguk.

"Terima kasih, Bu. Nanti siang saya hangatkan."

Bu Lilis menatapnya, mungkin berharap Nadia tersinggung atau merasa tersudut. Nadia tidak memberi reaksi itu.

Raka berkata, "Ibu tidak perlu repot."

"Kalau Ibu tidak repot, siapa yang mengurusmu?"

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Nadia melihat Raka menegang.

Ia hampir menjawab, tapi memilih menunggu. Ini rumah Raka. Ini ibunya. Jika Raka ingin hidup berbeda, ia perlu bicara.

Raka menarik napas.

"Saya mengurus diri saya sendiri, Bu. Nadia membantu sebagai istri, bukan perawat pengganti."

Bu Lilis terdiam.

"Ibu hanya khawatir."

"Saya tahu. Tapi Ibu tidak perlu datang pagi-pagi untuk memeriksa apakah Nadia gagal."

Wajah Bu Lilis berubah.

Nadia juga terkejut.

Raka batuk kecil setelah bicara terlalu panjang, tapi ia tetap berdiri.

Bu Lilis menatap anak bungsunya seperti baru melihat orang asing.

"Kamu sekarang bicara keras pada Ibu."

"Saya bicara jelas."

"Karena dia?"

Nadia berkata pelan, "Bu, Mas Raka bicara karena dirinya sendiri."

Bu Lilis menoleh.

"Saya belum bertanya padamu."

"Tapi Ibu menunjuk saya tanpa menyebut nama."

Suasana menegang.

Pembantu yang membawa rantang tampak ingin menghilang.

Raka berdiri di antara mereka.

"Bu, terima kasih makanannya. Saya senang Ibu datang. Tapi lain kali telepon dulu. Ini rumah kami."

Rumah kami.

Nadia merasakan dua kata itu seperti dinding yang naik perlahan di sekelilingnya. Bukan dinding untuk mengurung. Dinding untuk melindungi.

Bu Lilis menelan amarah.

"Baik. Ibu pulang."

Ia berbalik, lalu berhenti.

"Nadia."

"Ya, Bu."

"Kalau Raka kambuh, hubungi rumah utama."

"Saya akan hubungi dokter dulu kalau darurat. Setelah itu saya kabari keluarga."

Bu Lilis tampak ingin membantah, tapi Raka mengangguk.

"Itu benar."

Bu Lilis pergi dengan wajah kaku.

Setelah pintu tertutup, Raka duduk pelan di kursi.

Nadia mengambil air.

"Minum."

Raka menerima.

"Saya terlalu keras?"

"Tidak."

"Ibu terluka."

"Mungkin. Tapi Mas Raka juga terluka bertahun-tahun."

Raka menatap air di gelas.

"Saya tidak ingin menjadi anak durhaka."

Nadia duduk di depannya.

"Anak yang punya batas bukan anak durhaka."

"Kamu yakin?"

"Aku sedang belajar yakin. Kita belajar sama-sama."

Raka tersenyum lelah.

Pagi itu, setelah Bu Lilis pergi, mereka membuka rantang. Sup ayamnya harum. Nadia menghangatkannya, lalu menyajikan untuk Raka. Ia juga makan sedikit.

"Enak," kata Nadia.

"Ibu memang pandai masak."

"Nanti aku belajar."

"Tidak perlu mengejar Ibu."

Nadia menatapnya.

Raka berkata, "Masakanmu semalam sudah cukup membuat saya senang."

"Mi goreng hampir gosong itu?"

"Iya."

Mereka tertawa.

Menjelang siang, Sari datang membawa beberapa piring dan kain lap. Rani ikut, berlari melihat rumah baru tante. Joko mengantar sampai depan, lalu pamit kerja.

Sari melihat wajah Raka.

"Mas Raka pucat."

"Sudah lebih baik," jawab Nadia.

Sari menurunkan barang, lalu berbisik pada Nadia di dapur.

"Bu Lilis sudah datang?"

"Sudah."

"Aku tahu. Tadi lewat gang, orang bilang mobilnya berhenti di sini."

Nadia menghela napas.

Rumah ini memang punya pintu. Tapi mata tetangga tetap punya jalan.

Sari menatapnya.

"Kamu kuat?"

"Aku tidak sendirian."

Sari tersenyum.

Sore harinya, kabar lain datang.

Bella dan Arman bertengkar di rumah Pak Darto. Arman menolak bekerja di bengkel Pak Jaya. Bella menangis karena takut akad mereka tertunda. Eyang Marni menyalahkan Nadia karena dianggap membuat Pak Hendra lebih keras. Bu Ratna mencoba menenangkan semua orang tapi gagal.

Kabar itu dibawa Rani, yang mendengar dari anak tetangga, lalu mengulang dengan polos.

"Katanya Tante Bella nangis keras sekali."

Sari menutup mulut Rani.

"Jangan ikut gosip."

Nadia hanya mengaduk teh.

Raka menatapnya.

"Kamu ingin tahu lebih banyak?"

"Tidak perlu."

"Yakin?"

"Kalau api sudah menyala, aku tidak perlu meniup setiap menit."

Raka tersenyum.

Malam itu, setelah Sari pulang, Nadia berdiri di depan pintu rumah kecil. Udara lembap. Lampu jalan berkedip. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji.

Raka berdiri di sampingnya dengan jaket.

"Dingin?" tanya Nadia.

"Sedikit. Tapi saya sudah bilang."

Nadia tersenyum.

"Kemajuan bagus."

Raka menatap rumah kecil mereka.

"Pagi pertama kita cukup ramai."

"Masih lebih tenang daripada rumah Pak Darto."

"Itu standar yang rendah."

"Benar."

Mereka tertawa pelan.

Nadia menutup pintu.

Kali ini, ketika kunci diputar, ia merasakan sesuatu yang jelas.

Di luar masih banyak orang ingin masuk.

Tapi untuk pertama kalinya, ia yang memegang kuncinya.

Di meja, rantang dari Bu Lilis masih tersisa setengah. Nadia memindahkannya ke wadah kecil, lalu memberi label sederhana dengan kertas. Sup ayam, pagi pertama.

Raka melihatnya dari pintu dapur.

"Kenapa diberi tulisan?"

"Agar besok tidak lupa."

"Lupa apa?"

Nadia menutup wadah.

"Bahwa bahkan hal yang datang dengan kontrol bisa kita ubah jadi makanan biasa."

Raka memikirkan kalimat itu, lalu tertawa pelan.

"Kamu punya cara aneh menamai kenangan."

"Lebih baik daripada membiarkan kenangan menamai kita."

Raka tidak membalas. Ia hanya berjalan mendekat dan, setelah jeda kecil, bertanya, "Boleh saya bantu simpan?"

Nadia menyerahkan wadah itu.

"Boleh."

Lalu mereka membuka lemari bersama, seperti dua orang yang benar-benar sedang belajar serumah.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!