Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Penuh Kesalahpahaman
Malam akhirnya benar-benar menyelimuti Kota Weiyang. Langit dipenuhi ribuan bintang, sementara lentera-lentera yang menggantung di sepanjang jalan memancarkan cahaya kekuningan yang hangat.
Di saat yang sama, rombongan Kelompok Harta Langit akhirnya kembali memasuki halaman Penginapan Kayu Mawar. Kereta kuda berhenti satu per satu. Para pengawal segera turun lebih dulu, disusul Lan Suya dan para tetua Harta Langit.
Di belakang mereka, Gao Rui perlahan melangkah turun dari kereta. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, pandangannya langsung menyapu ke segala arah. Ke kanan dan ke kiri. Lalu menuju aula utama penginapan.
"..."
Matanya mencari sosok bertubuh tinggi besar yang sangat dikenalnya. Namun sosok itu, tidak ada. Sha Nuo sama sekali tidak terlihat.
Gao Rui menghela napas pelan.Ia tetap mencoba bersikap tenang. Mungkin Paman Nuo sedang berada di ruang makan atau mungkin ada di taman. Namun setelah beberapa langkah memasuki aula, ia tetap tidak menemukan pria itu.
Tanpa sadar, Gao Rui kembali menghela napas.
"Paman Nuo..."
Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya berbalik menuju taman belakang penginapan. Tempat itu adalah lokasi pertama kali dirinya bertemu dengan Sha Nuo. Ia masih mengingat jelas bagaimana pertemuannya pertama kali dengan pria itu.
"Mungkin... Paman Nuo ada di sana."
Langkah Gao Rui menjadi sedikit lebih cepat.
Tak lama kemudian, ia memasuki taman. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membuat permukaan kolam kecil beriak lembut.
Namun bangku taman nampak kosong. Tidak ada siapa pun.
Gao Rui berdiri memandang bangku itu beberapa saat. Kemudia, perlahan ia berjalan mendekat dan duduk di sana.
"Haa..."
Ia mengembuskan napas panjang. Tatapannya mengarah ke langit malam.
"Aku benar-benar... tidak bisa menepati janjiku."
Suara itu begitu pelan. Hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.
Semakin dipikirkan, semakin besar rasa bersalah yang memenuhi dadanya.
"Paman Nuo pasti kecewa..." gumamnya dalam hati.
Entah mengapa, memikirkan kemungkinan itu membuat dadanya terasa sesak. Pria itu telah memperlakukannya dengan begitu hangat. Bahkan sehari sebelumnya terus-menerus membelikannya makanan sepanjang perjalanan. Namun dirinya malah menghilang begitu saja tanpa kabar.
"..."
Gao Rui kembali menghela napas. Ia tetap duduk di sana.
Angin malam terus berembus. Waktu berlalu perlahan. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Hingga akhirnya, setengah jam telah berlalu.
Gao Rui perlahan berdiri.
"Paman Nuo sepertinya benar-benar sudah beristirahat..." gumamnya pelan.
Ia memutuskan untuk kembali ke kamar.
Baru saja ia hendak meninggalkan taman...
Swussh!
Sebuah bayangan hitam tiba-tiba melayang turun dari langit. Tubuh itu mendarat ringan di tengah taman tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"...!"
Gao Rui langsung menghentikan langkahnya. Di hadapannya, Sha Nuo berdiri sambil membawa wajah yang sedikit kelelahan.
Sha Nuo juga ikut membeku. Tatapan kedua orang itu langsung bertemu.
"..."
"..."
Tidak ada yang berbicara. Suasana taman tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Di dalam hati Sha Nuo, ia langsung mengumpat dirinya sendiri.
"Aih... aku benar-benar ceroboh."
Melihat Gao Rui berada di taman malam-malam seperti ini, ia langsung mengambil kesimpulan sendiri. Menurutnya, bocah itu pasti telah menunggunya di taman ini sejak siang tadi.
Sementara itu, di sisi lain, Gao Rui juga memiliki pemikiran yang sama sekali berbeda.
"Paman Nuo... Sepertinyaia sudah pergi makan siang lebih dulu..."
"Mungkin ia menungguku cukup lama di penginapan."
"Karena aku tidak kunjung datang... akhirnya ia pergi sendiri."
Memikirkan itu, rasa bersalah Gao Rui kembali membuncah.
Ia segera melangkah mendekati Sha Nuo. Lalu menangkupkan kedua tangannya dengan hormat.
"Paman Nuo... maaf."
Sha Nuo langsung berkedip beberapa kali.
"...Eh?"
Ia benar-benar tidak menyangka Gao Rui justru meminta maaf lebih dulu.
"Bocah ini... terlalu sopan." gumamnya dalam hati.
Padahal menurutnya, semua kesalahan berada pada dirinya sendiri. Sha Nuo segera menggeleng kuat-kuat.
"Tidak. Tidak perlu meminta maaf."
Ia tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
"Aku yang salah."
Nada suaranya terdengar sedikit gugup. Kemudian ia kembali berkata,
"Kalau begitu... bagaimana kalau besok siang kita makan bersama?"
Gao Rui memandang wajah Sha Nuo beberapa saat. Lalu senyum hangat perlahan muncul di wajahnya.
Di dalam benaknya, ia mengira Sha Nuo telah memaafkan dirinya.
"Tentu saja, Paman."
"Besok siang... aku akan menepati janjiku."
Mendengar jawaban itu, Sha Nuo langsung mengembuskan napas lega. Syukurlah, Gao Rui ternyata tidak marah kepadanya.
Senyum lebar kembali muncul di wajah pria bertubuh besar itu.
"Hahaha. Bagus. Kalau begitu besok kita makan yang paling enak."
Gao Rui menganggukkan kepala.
"Baik."
Beberapa saat kemudian, ia kembali menangkupkan kedua tangannya.
"Paman... aku izin kembali ke kamar dulu. Hari ini cukup melelahkan."
Sha Nuo segera mengangguk.
"Istirahatlah. Besok kita bertemu lagi."
Gao Rui tersenyum tipis.
"Baik."
Tak lama kemudian, ia berbalik dan berjalan meninggalkan taman.
Sha Nuo tetap berdiri memandangi punggung bocah itu hingga perlahan menghilang di balik lorong penginapan.
Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia menghela napas pelan.
"...Aih. Aku benar-benar ceroboh."
Tatapannya masih tertuju ke arah Gao Rui menghilang.
"Bocah itu... pasti kelelahan karena menungguku seharian."
...*******...
Sha Nuo tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia justru berjalan pelan menuju bangku taman yang tadi diduduki Gao Rui, lalu perlahan menjatuhkan tubuh besarnya ke sana.
"Haa..."
Ia menyandarkan punggungnya sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar taman. Beberapa saat kemudian, tatapannya bergeser menuju sebuah pohon besar yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.
Ia memandang ke arah batang pohon itu cukup lama. Lalu, dengan suara tenang, ia berkata,
"Keluarlah."
Suasana taman kembali sunyi. Namun hanya sesaat.
Swussh...
Sosok seseorang perlahan melangkah keluar dari balik pohon besar itu. Pria tersebut mengenakan jubah abu-abu sederhana. Wajahnya tampak berusia sekitar awal empat puluhan. Tatapannya tenang, tetapi memancarkan kewibawaan yang sulit dijelaskan.
Ia berjalan perlahan mendekati bangku taman. Orang itu tidak lain adalah pendekar terkuat Kelompok Harta Langit. Hakim Langit, Yuang Dao.
Sha Nuo sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Sejak tadi, ia memang sudah menyadari keberadaan pria itu.
Yuang Dao berhenti beberapa langkah di depan Sha Nuo. Keduanya saling memandang. Tidak ada satu pun yang lebih dulu berbicara.
Angin malam kembali berembus pelan, membuat ujung jubah mereka berkibar perlahan. Beberapa saat kemudian, Yuang Dao akhirnya membuka mulut.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekati Tuan Muda kami."
Nada suaranya datar. Namun setiap katanya terdengar tegas. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Sha Nuo.
"Tuan Muda Gao Rui adalah anak yang polos. Ia juga berhati baik."
"Karena itu..."
Tatapan Yuang Dao menjadi sedikit lebih tajam.
"...jauhilah dia."
Suasana taman kembali hening.
Sha Nuo hanya menatap Yuang Dao beberapa saat. Lalu...
"Hahaha..."
Tawa pelan keluar dari mulutnya. Semakin lama semakin keras.
"Hahaha!"
Ia menggeleng kecil sambil tersenyum.
"Jangan mengaturku."
Senyumnya memang masih terlihat santai. Namun sorot matanya sama sekali tidak berubah. Tetap tenang dan dalam.
Mendengar jawaban itu, tatapan Yuang Dao semakin tajam.
"Apa maksudmu mendekati Tuan Muda kami?"
Kali ini, nada suaranya terdengar jauh lebih dingin.
"Siapa sebenarnya dirimu?