Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Di sisi lain, Raka duduk di balik meja kerjanya yang penuh tumpukan berkas. Selama liburan bulan madu kemarin, banyak pekerjaan yang tertunda.
Pintu ruangan terbuka, terdengar suara langkah kaki mendekat. Raka mengangkat wajah, ingin menegur siapa yang masuk tanpa mengetuk dulu.
“Hai, lama tak jumpa,” sapa Rizki sambil berdiri di depan meja.
“Kabarku kurang baik, bro,” jawab Raka sambil berdiri menyambut sepupunya. Keduanya berpelukan, sudah lama tak bertemu sejak Raka pulang ke Indonesia.
“Kurang baik bagaimana? Pengantin baru harusnya bahagia, tapi wajahmu malah murung. Apa istrimu tak cantik, atau ada hal lain yang bikin kecewa?” goda Rizki santai.
“Kapan kamu tiba disini? Bukannya kamu bilang tidak mau pulang karena wanita-wanita bule disana lebih menarik?” tanya Raka mengalihkan topik, tak ingin membahas rumah tangganya.
“Baru kemarin. Sudah bosan dengan suasana disana, ingin cari suasana baru saja. Sekarang mau lihat wanita lokal, siapa tahu ada yang lebih pas,” jawab Rizki sambil tertawa.
“Dasar playboy kelas kakab. Apa kamu tidak capek berganti pasangan terus? Hati-hati, jangan sampai ada setetes pun yang tertinggal, kalau belum siap di panggil 'ayah',” goda Raka.
“Tenang saja, aku selalu hati-hati. Masih ingin menikmati hidup sepuasnya,” jawab Dani santai.
“Kapan mau berhenti mencicipi banyak wanita?” tanya Raka sambil duduk kembali.
“Tak akan berhenti sampai ada yang benar-benar bisa membuat hati bergetar. Sejak tahu ibuku berselingkuh di belakang ayah, rasanya hati ini mati rasa terhadap wanita mana pun,” jawab Rizki dengan nada dingin, tangannya terkepal mengingat luka lama.
Rizki adalah korban keluarga yang retak. Dulu dia sering melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat. Awalnya dia selalu membela ibunya, menganggap ayahnya yang salah. Tapi semuanya berubah saat dia melihat sendiri kenyataan pahit yang terjadi.
Tangan Rizki mengepal erat sampai kuku jarinya memutih, saat kenangan pahit itu terlintas kembali di kepalanya.
Ia tumbuh di rumah yang tak pernah tenang. Sejak kecil, ia sering melihat ayah dan ibunya bertengkar hebat. Awalnya ia selalu membela ibunya, mengira ayah yang terlalu keras dan kasar. Ia merasa kasihan melihat ibunya yang sering menangis, dan selalu berusaha melindungi wanita itu. Namun semuanya berubah total pada suatu hari yang tak akan pernah ia lupakan.
Saat itu ia tanpa sengaja melewati pintu kamar orang tuanya yang tak tertutup rapat. Dari celah itu, matanya terbelalak tak percaya. Ia melihat ibunya sedang berpelukan mesra dengan pria lain, berbaring di atas tempat tidur yang seharusnya hanya milik ayah dan ibunya.
Darahnya langsung mendidih. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu itu dengan keras dan melompat masuk. Amarah yang meledak membuatnya langsung menerjang pria asing itu. Tinjunya melayang tanpa ampun, memukul wajah dan tubuh pria itu sampai terkapar di lantai.
Kedua orang di situ terkejut bukan main. Ibunya berteriak histeris, menutupi tubuhnya dengan selimut, wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia tak pernah menyangka anaknya sendiri yang akan melihat perbuatannya dan menangkapnya basah.
Setelah kejadian itu, Rizki mendesak ayahnya untuk menceraikan ibunya. Awalnya ayahnya menolak, karena masih mencintai istri dan tak ingin keluarganya berantakan. Namun saat Rizki menceritakan semua yang dilihatnya, ayah tertegun dan terkejut. Selama ini ia hanya berusaha menutupi segala kekurangan agar rumah tangganya tetap utuh. Rizki tak sanggup melihat ayahnya terus dibohongi dan disakiti, hingga akhirnya ia berhasil meyakinkan ayahnya untuk mengakhiri pernikahan itu.
*****
Siang itu, Laras berangkat ke kantor bersama Sari. Keduanya ingin mengantar makanan buatan sendiri untuk suami masing-masing.
Laras sudah berdandan rapi. Gaun pendek yang dipakainya membuat tubuh mungilnya terlihat lebih jenjang dan menarik. Sari pun tak ragu memuji penampilan menantunya.
“Bagus sekali, Nak. Kamu memang selalu tampil cantik dan enak dipandang. Ayo, kita berangkat sekarang,” ujar Sari tersenyum.
Sesampainya di gedung Wijaya Perkasa, keduanya melangkah masuk. Semua mata karyawan langsung tertuju pada mereka. Banyak yang memuji kecantikan Laras, istri dari pemimpin kedua perusahaan itu.
“Wah, istri Pak Raka cantik sekali. Menurutku jauh lebih cocok dibanding mantannya dulu,” bisik seorang karyawan.
“Tentu saja beda tingkatnya. Laras memang terlahir dari keluarga terhormat, berbeda dengan Rara yang hanya gadis biasa dan sikapnya sombong, penampilannya juga mencolok dan kurang pantas. Lihat saja Laras, anggun dan rapi, jelas beda sekali,” jawab temannya.
Sesampainya di lantai atas, mereka berpisah. Sari menuju ruangan Bima, sedangkan Laras berdiri di depan pintu ruangan Raka.
Sebelum pergi ke ruangan Bima, Sari sempat menepuk bahu Laras dan memberi semangat.
Setelah sekretaris membukakan pintu, Laras masuk ke ruang kerja Raka.
“Silakan masuk, Bu. Pak Raka ada di dalam,” kata sekretaris itu dengan sopan.
Laras tersenyum dan mengucap terima kasih.
“Siang, Kak.”
Di ruangan itu, selain Raka ada juga seorang pria yang tidak dikenalnya.
“Wah, istrimu cantik juga, Ka. Kalau begini, untung kamu batal nikah sama Rara. Dia lebih cantik dan anggun, beda sekali sama mantanmu. Kamu yakin nggak bakal luluh? Kalau kamu nggak mau, aku siap gantikan,” bisik Rizki hanya untuk didengar Raka.
“Dasar buaya, semua wanita terlihat cantik di matamu,” jawab Raka kesal.
“Memang aku suka wanita, tapi aku tahu mana yang pantas jadi istri. Dia jelas cocok, lihat saja penampilannya yang sopan,” kata Rizki tetap berbisik.
“Jangan nilai orang hanya dari luarnya saja. Banyak yang tampak baik tapi berbeda kenyataannya,” balas Raka mulai jengkel.
Laras merasa canggung. “Maaf, Kak, sepertinya Kakak sedang ada tamu. Aku cuma mau antar makan siang, tidak bermaksud mengganggu.”
“Kamu tidak mengganggu kok. Kenalkan, aku sepupu Raka. Namaku Rizki, selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf nggak bisa datang di hari resepsi,” kata Rizki sambil menjabat tangan Laras.
“Terima kasih, Kak Rizki. Maaf tadi aku tidak tahu kalau Kakak ini saudara suamiku,” jawab Laras sopan.
Raka sudah tak tahan lagi. “Sudah cukup, kamu pergi saja!”
“Wah, pengantin baru sudah nggak sabar ingin berdua,"
“Keluar atau aku usir paksa! Terlalu banyak bicara,” ancam Raka.
Setelah Rizki pergi, ruangan jadi sepi. Raka memijat pelipisnya sambil menghela napas panjang. Ia berniat menjauh dari Laras, tapi gadis itu malah datang sendiri.
“Kamu datang kesini untuk apa?” tanya Raka dengan nada dingin.
“Aku mau antar makanan, sekalian makan siang bersama,” jawab Laras sambil duduk di sofa dekat suaminya.
Ia membuka kotak bekal dan menyajikan makanan yang tadi dimasak bersama Sari. “Ayo dimakan, Kak. Kenapa cuma diam saja menatapku? Hati-hati nanti jatuh cinta,” candanya untuk mencairkan suasana.
“Mimpi! Mustahil aku suka gadis manja sepertimu. Kamu yakin makanan ini aman dimakan? Masa orang yang nggak pernah masak bisa membuatnya?” ejek Raka meremehkan.
“Memang aku belum pandai masak. Tapi tadi Mama memberitahuku langkah demi langkah, jadi pasti aman dimakan. Coba saja dulu, nanti tahu rasanya,” jawab Laras sabar.