Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAHIRKAN KETURUNAN UNTUKKU
Aura menunduk sedikit, menatap Elisabeth yang terduduk di tanah bagaikan gembel.
"Wah... lihat siapa yang ada di sini," ucap Aura dengan nada suara manis tapi begitu menusuk.
"Keluarga Velis yang dulu sangat terhormat, sekarang malah jadi tontonan gratis di tengah jalan?" lanjut Aura menyunggingkan senyum miringnya yang amat memikat.
"Aura sialan! Untuk apa kamu ke sini?! Mau mengejekku, hah?!" jerit Elisabeth histeris, mencoba berdiri tapi kakinya lemas ketakutan.
Aura tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat renyah di tengah keheningan kerumunan.
"Mengejek mu?" ulang Aura menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa aku harus membuang tenaga untuk mengejek sampah sepertimu, Elisabeth?" cibir Aura telak tanpa ampun.
"Aku cuma mau melihat wajah hancur mu ini, ternyata jauh lebih menyedihkan dari yang kubayangkan," lanjut Aura dingin.
Baron Kenny melangkah maju dengan wajah memerah tahan malu dan marah.
"Lady Aura! Tolong jaga mulut Anda! Biar bagaimanapun kami ini..."
"Bangsawan?" potong Aura cepat, menatap Baron Kenny dengan tatapan merendahkan.
"Status kalian sudah dicabut Kaisar semalam, Baron, sekarang kalian cuma rakyat biasa yang terjerat utang," ucap Aura tegas, menghentikan langkah pria paruh baya itu.
Elisabeth mengepalkan tangannya di atas tanah, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang kotor.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Aura?!" teriak Elisabeth histeris dengan mata melotot.
"Kamu cuma wanita buangan yang ditinggal Pangeran! Jangan sok suci kamu!" lanjut Elisabeth berusaha menyerang secara verbal.
Aura menyilangkan kakinya, menatap Elisabeth dengan tatapan kasihan yang teramat sangat.
"Pangeran yang kamu banggakan itu sekarang sedang membusuk di penjara bawah tanah, Elisabeth," jawab Aura santai.
"Sedangkan aku?" ucap Aura menepuk dadanya pelan, menyunggingkan senyum penuh kebanggaan.
"Aku hidup bebas dan bahagia tanpa benalu seperti kalian," lanjut Aura, tersenyum puas.
Elisabeth bangkit dengan susah payah, kedua tangannya terkepal begitu kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan sampai berdarah.
"Kamu pikir hidupmu bakal selamanya di atas, Aura?!" bentak Elisabeth histeris dengan suara parau yang nyaris hilang karena terlalu keras berteriak.
"Tunggu saja pembalasanku! Aku tidak akan pernah tinggal diam melihatmu tertawa di atasku!" ancam Elisabeth dengan mata melotot nyalang, menatap Aura penuh kebencian.
Bukan nya takut dengan ancaman dari Elisabeth, justru Aura merasa geli, dia mendengus pelan, menatap wanita di depannya ini dengan sebelah alis terangkat tinggi-tinggi.
"Pembalasan, katamu? Pakai apa, Elisabeth?" sindir Aura tajam.
"Pakai baju kotor penuh lumpur itu? Atau pakai tumpukan utang yang sekarang mengejar-ngejar keluargamu?" lanjut Aura telak, membuat Elisabeth langsung terdiam seribu bahasa.
Baroness Olivia yang berdiri di sebelah putrinya ikut maju dengan dada naik turun karena emosi yang meluap-luap.
"Jaga mulutmu, Lady Aura! Jangan sombong dulu!" teriak Baroness Olivia membela diri.
"Sekarang kamu memang berada di atas angin, tapi roda itu berputar! Suatu saat nanti kehancuran akan menimpamu juga!" maki Baroness Olivia penuh sumpah serapah.
Aura sama sekali tidak gentar, justru dia melangkah maju selangkah, lebih dekat dengan wanita paruh baya itu, dengan dagu terangkat anggun.
"Roda berputar? Sayang sekali, roda kehidupanku diisi dengan kekayaan, status, dan kekuasaan," jawab Aura santai.
"Sedangkan roda hidup kalian? Cuma berputar di sekitar tempat sampah," cibir Aura tanpa ampun, membuat para penagih utang dan warga yang menonton langsung bersorak kecil mengejek keluarga Velis.
Wajah Baron Kenny seketika berubah merah padam karena menahan malu yang luar biasa di hadapan publik.
"Cukup, Elisabeth! Berhenti membuat malu diri sendiri!" bentak Baron Kenny kasar, menarik tangan putrinya agar berhenti berteriak.
"Lepaskan aku, Ayah! Aku benci perempuan ini! Aku benci dia!" jerit Elisabeth histeris sambil meronta-ronta, menepis tangan ayahnya dengan kasar.
Elisabeth kembali menatap Aura dengan air mata yang bercampur debu di pipinya.
"Kamu merebut segalanya dariku, Aura! Kamu merebut Pangeran Luis, kamu merebut masa depanku!" tangis Elisabeth histeris penuh keputusasaan.
Aura tertawa kecil, menatap wanita yang sedang kehilangan kewarasannya itu dengan tatapan penuh penghinaan.
"Merebut?" ulang Aura dengan nada mengejek.
"Sadarlah, Elisabeth, aku tidak pernah merebut apa pun darimu, justru aku melepaskan sampah yang sengaja kamu pungut dari tempat sampah," jawab Aura tajam.
"Kalau kamu sebegitu inginnya dengan Pangeran bodoh itu, kenapa tidak kamu susul saja dia ke penjara bawah tanah sekarang!" lanjut Aura menyindir pedas.
Elisabeth mematung, tenggorokannya mendadak tercekat mendengar ucapan telak tersebut, tubuhnya gemetar hebat karena rasa malu dan amarah yang sudah mencapai puncaknya.
"Kamu... perempuan jalang..." bisik Elisabeth lemah, matanya menatap Aura dengan sorot mata membunuh.
Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan, derap langkah kuda berzirah emas dan perak terdengar begitu tenang namun penuh penekanan.
Orang-orang yang sedang menonton kehancuran kelurga Velis dan para penagih utang yang menyadari lambang kekaisaran langsung terbelah dua dan tertunduk rapat ke tanah.
Sebuah kereta kuda kekaisaran yang sangat tertutup dan berwibawa berhenti tepat di samping kereta Aura.
Nico turun lebih dulu dari atas kuda pengawal, melangkah cepat menghampiri Aura lalu membungkuk hormat.
"Lady Aura, Yang Mulia Kaisar meminta Anda untuk masuk ke dalam kereta beliau sekarang," ucap Nico dengan suara rendah tapi tegas, cukup terdengar oleh keluarga Velis.
"Kaisar? Untuk apa?" tanya Aura menaikkan sebelah alisnya.
"Ada hal penting yang harus dibicarakan secara pribadi," jawab Nico lugas tanpa memberi celah.
Aura melirik Elisabeth yang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya dan penuh kecemburuan, dia sengaja menyunggingkan senyum miring terakhir pada keluarga yang sudah hancur itu, Aura pun melangkah anggun menaiki tangga kereta kuda milik Kaisar Zane.
Brak.
Pintu kereta ditutup rapat dari luar oleh Nico, meninggalkan kerumunan yang makin gempar.
Di dalam kereta kuda istana itu, Kaisar Zane duduk sendirian di kursi utama, pria itu masih mengenakan jubah kebesarannya yang tegap, menatap Aura yang baru saja duduk di hadapannya dengan pandangan dingin yang mengintimidasi.
Suasana di dalam kereta mendadak terasa begitu sempit dan sesak dan penuh penekanan.
"Ada urusan mendesak apa sampai Anda harus menjemput saya di tengah jalan seperti ini, Yang Mulia?" tanya Aura santai, menyandarkan punggungnya tanpa ada rasa canggung.
Kaisar Zane tidak membuang waktu, pria itu memajukan sedikit tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut, mengikis jarak di antara mereka di dalam ruang kereta yang tertutup rapat itu.
Mata hitamnya yang tajam menatap lurus, mengunci manik mata Aura dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lahirkan keturunan untukku..." ucap Kaisar Zane dengan suara berat, rendah, dan penuh penekanan yang tidak menerima bantahan.
"Maka Akan kuberikan seluruh kekuasaan di bawah kakimu," lanjut sang Kaisar datar.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛