Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Rumah Aman dan Luka Baru
00.37 AM - Safehouse Tim Intel, 15 km dari Hutan Cibiru
Rumah itu sederhana, dindingnya dari kayu, ada bau kayu basah kecampur antiseptik. Di luar, hujan masih rintik-rintik, di dalam hanya ada suara jam dinding dan napas Galen yang tidak teratur. Galen terbaring di sofa panjang dengan, selimut menutupi sampai dada. Luka jahit 8 tusuk di lengan kirinya masih nyut-nyutan, demamnya 39.2°C dan Nabila duduk di lantai, kepalanya bersandar di pinggir sofa.
Di tangannya ada baskom air hangat, handuk, dan Alkitab kecil milik Galen yang dia temukan di laci.
Tok…
Tok …
Pak Anton masuk membawa bubur ayam, teh jahe, dan obat.
"Gimana?" Tanya Pak Anton
"Demamnya belum turun, Pak, tapi udah sadar sekali." Jawab Nabila
"Bagus, 2 orang anak buah Arvin sudah kami tangkap di hutan. Sisanya masih kami kejar." Ujar Pak Anton sambil meletakkan nampan.
"Kalian istirahat. Aku dan 2 anggota jaga di luar 24 jam" Lanjut Pak Anton
"Terima kasih, Pak" Ucap Nabila, membuat pan Anton mengangguk.
Pintu tertutup lagi, Galen membuka mata.
"Kamu... belum tidur?" Tanya Galen membuat Nabila tersentak.
"Kamu bangun? Ada yang sakit?" Tanya Nabila begitu khawatir
"Sakit kalau kamu nggak di sampingku," Jawab Galen sambil senyum menggoda
“Gombal” Balas Nabila
Nabila menahan tangis lalu dia menyuapi Galen pelan. Satu sendok, dua sendok dan Galen tetap nurut. Tapi selesai makan, dia pasti menggenggam tangan Nabila.
"Nabila..." Ucap Galen
"Hmm?" Tanya Nabila
"Makasih ya, udah nggak ninggalin aku. Dari hutan, dari goa, sampai sekarang." Jawab Galen
Nabila menggeleng
"Seharusnya aku yang makasih, kamu yang kehilangan banyak darah karena aku." Ujar Nabila, Galen mengangkat tangan kanannya yang sehat, mengusap pipi Nabila, ada lebam kecil di sana.
"Kamu hebat, tadi di goa kamu nggak panik. Kamu doa. Kamu perban aku" Ujar Galen
Nabila menunduk.
"Aku takut, Galen. Takut kehilangan kamu" Jawab Nabila
Galen menarik napas.
"Denger, aku juga takut. 29 tahun aku hidup, nggak pernah takut mati. Tapi semalam... aku takut kalau itu terakhir kali aku lihat kamu" Ujar Galen
Hening….
Galen menggenggam tangan Nabila lebih erat.
"Ingat janji kita?" Tanya Galen
"Janji di atas luka?" Tanya Nabila tersenyum sambil nangis
"Ingat, aku mau jadi rumahmu." Tambah Nabila
"Bagus" Jawab Galen mengangguk.
"Berarti aku harus cepat sembuh, biar bisa nepatin janji aku sama kamu. Lamar kamu di kafe tempat pertama kita ketemu. Ingat? Kamu numpahin kopi ke jas aku." Lanjut galen membuat Nabila tertawa kecil.
"Ih malu... itu 6 bulan lalu" Ujar Nabila sambil cemberut
"Iya, dan sejak itu hidupku berubah," Galen berbisik
"Tuhan bawa kamu buat ubah aku" Lanjut Galen
*****
Jam 02.10 demam Galen naik lagi 39.5°C membuat Nabila panik, dia basahi handuk, lalu mengompres dahi, leher, dan ketiak Galen dan setiap usapan disertai doa.
“Tuhan Yesus... aku mohon. Jamah tubuhnya, sembuhkan dia. Dia milik-Mu” Ucap Nabila
Galen membuka mata.
"Kamu doa lagi?" Tanya Galen
"Iya" Jawab Nabila mengangguk.
"Boleh aku bacain Alkitab buat kamu?"
Galen tersenyum
"Boleh. Mazmur 23 ya. Favorit aku" Jawab Galen
Nabila membuka Alkitab kecil itu, suaranya bergetar tapi tenang.
"Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang..."Sampai ayat terakhir, suara Nabila pecah.
"Kebaikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa."Galen menutup mata, air mata mengalir di pelipisnya. "Amin..." Ucap Nabila
"Nabila..." Panggil Galen
"Iya?" Tanya Nabila
"Doain aku juga dong, kayak tadi di goa." Jawab Galen
Nabila menggenggam kedua tangan Galen, mereka berdoa bersama.
"Tuhan Yesus..." suara Galen pelan.
"Terima kasih untuk Nabila. Terima kasih Engkau sudah jaga kami di hutan. Ampuni aku kalau selama ini aku hidup egois. Kalau Engkau masih kasih aku nafas... pakai hidupku buat jadi berkat. Buat Nabila. Buat yayasan 'Untuk Anggita' nanti. Dan kalau Engkau ijinkan... ijinkan aku jadi suami yang takut akan Tuhan buat dia. Dalam nama Yesus. Amin.""Amin," Lanjut Galen dadanya sesak.
Jam 02.50.
"Nyanyi dong, lagu rohani. Biar aku cepet sembuh." Pinta Galen.
Nabila mikir lalu dia nyanyi pelan, suaranya nyaris berbisik.
"Yesus... kau sungguh baik...Yesus... namamu indah..."Galen ikut menggumam. Matanya mulai berat.
"Tidur di sini," Bisik Galen sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Sempit nggak apa-apa ?” Tanya Nabila
“Aku butuh kamu." Jawab galen
Nabila ragu 3 detik, lalu dia naik berbaring di samping Galen. Kepala Nabila di dada Galen, tangan Galen yang sehat melingkar memeluk bahunya terasa hangat dan aman.
"Galen..." Panggil Nabila
"Hmm?" Tanya Galen
"Kalau semua ini selesai, kita beneran buka yayasan ya. Bantu korban kayak Anggita" Jawab Nabila
"Iya" Ujar Galen mencium puncak kepala Nabila.
"Dan kita beneran nikah di gereja, diberkati Tuhan" Lanjut Galen
"Janji?" Tanya Nabila
"Janji, di hadapan Tuhan dan jemaat" Jawab Galen
Mereka diam, mendengarkan detak jantung masing-masing. Jam 03.30 keduanya tertidur.
Untuk pertama kali, tanpa senjata, tanpa lari. Hanya ada damai, tapi damai itu tidak lama. 04.15 AM di luar safehouse. Ponsel pak Anton bergetar, pesan whatsapp masuk.Foto: Dira, adik Nabila. 19 tahun. Diikat di kursi kayu. Mulut dilakban. Matanya sembab.
Caption:
"Galen. Nabila. Jam 8 malam ini, Gudang Tua Pelabuhan. Datang berdua. Tanpa polisi. Tanpa trik. Kalau telat 1 menit, kirim peti jenazah."
Pak Anton langsung mengepal, dia menatap ke dalam jendela. Ke 2 orang yang baru saja menemukan "rumah" dalam pelukan.
"Perang belum selesai, Galen..." Ucap Seseorang