Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Suara deru mesin angkutan umum yang mereka tumpangi perlahan menjauh, menyisakan keheningan sore di sebuah kawasan yang letaknya cukup jauh dari hiruk-pikuk kontrakan lama mereka. Adinda dan Dimas berdiri di tepi jalan berbatu, di depan sebuah rumah kecil bercat putih gading dengan halaman seadanya yang ditumbuhi pohon mangga muda. Rumah ini terletak di dalam sebuah gang yang cukup lebar, hanya berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari kawasan pasar induk kota.
Dimas menurunkan tas travel besar milik ibunya dari boncengan sepeda, sementara Adinda meraba bagian dalam tas rajutnya untuk mengambil seutas kunci dengan gantungan plastik bening. Tangan Adinda sedikit gemetar saat memasukkan anak kunci itu ke dalam lubang selot pintu kayu yang masih kokoh.
Klik.
Pintu terbuka dengan sekali putaran. Aroma udara bersih yang bercampur wangi cat baru langsung menyambut penciuman mereka. Rumah ini tidak besar, namun tata ruangnya jauh lebih sehat daripada kontrakan tripleks mereka yang dulu. Begitu masuk, terdapat ruang tamu kecil yang langsung terhubung dengan ruang tengah yang lapang tanpa sekat tripleks yang menyesakkan. Di bagian belakang, terdapat dua kamar tidur yang masing-masing memiliki jendela kaca sendiri, sebuah kamar mandi bersih dengan bak air keramik, dan yang paling membuat mata Adinda berbinar, sebuah ruang dapur yang luas dengan ventilasi udara yang sangat baik, sangat ideal untuk tempat produksi katering kecil-kecilannya.
"Alhamdulillah, Bu... Rumahnya bersih sekali. Jauh lebih bagus dari yang kemarin," ucap Dimas, wajah remajanya tampak begitu ceria saat meletakkan kardus berisi buku-buku sekolahnya di sudut ruang tengah.
Adinda mengelus dadanya, mengucap syukur yang tak terhingga di dalam hati. "Iya, Dimas. Alhamdulillah. Ini semua berkat kebaikan Pakde Danu dan Bude Anik. Tempat ini... rasanya seperti surga kecil kalau dibandingkan dengan kontrakan kita yang dulu."
Mereka tidak membuang waktu. Selagi sisa energi sore itu masih ada, Adinda dan Dimas mulai membagi tugas untuk merapikan barang bawaan yang tidak seberapa itu. Dimas membawa pakaiannya ke kamar sebelah kanan, sementara Adinda menata baju-baju kerjanya di kamar sebelah kiri. Kain-kain sarung dan dokumen penting dari dalam tas rajut langsung dipindahkan Adinda ke bagian dalam lemari kecil yang sudah disediakan di rumah kontrakan baru tersebut.
Setelah menyelesaikan urusan kamar, Adinda melangkah ke dapur. Ia mengeluarkan kantong plastik besar berisi sisa bahan katering yang ia bawa tadi siang. Dengan teliti, ia menyusun wadah-wadah plastik berisi bumbu halus, sayuran yang sudah disiangi, dan sisa bahan kering ke atas rak dapur yang bersih. Desain dapur ini benar-benar membuatnya merasa dihormati sebagai seorang wanita dan pekerja keras; tidak ada lagi dinding tripleks berjamur atau atap bocor yang selalu membuatnya cemas setiap kali hujan turun di tengah malam saat ia sedang memasak.
Tepat ketika adzan maghrib berkumandang dari masjid terdekat, seluruh pekerjaan merapikan barang-barang esensial itu selesai. Rumah baru mereka kini terasa hangat, diterangi oleh lampu neon putih yang terang benderang, bukan lampu kuning redup seperti di kontrakan lama.
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan ibadah, Adinda dan Dimas duduk bersila di atas tikar anyaman plastik di ruang tengah. Di hadapan mereka, sepiring nasi putih hangat dengan lauk ayam goreng sisa katering subuh tadi menjadi menu makan malam pertama mereka di tempat perlindungan yang baru.
"Bu," panggil Dimas di sela-sela makannya, menatap ibunya dengan pandangan serius. "Besok Dimas sudah bisa masuk sekolah lagi, kan? Dimas ndak mau ketinggalan pelajaran terlalu banyak, apalagi tugas-tugas guru pasti menumpuk."
Adinda tersenyum lembut, menyodorkan segelas air putih untuk putranya. "Tentu saja, Nak. Besok kamu berangkat sekolah seperti biasa. Kamu sudah menemani Ibu melewati bagian paling sulit hari ini dan sekarang tugas utamamu adalah belajar yang rajin. Biar urusan hukum dan operasional katering Ibu yang pegang bersama Pak Baskoro dan Pakde Danu."
Dimas mengangguk patuh. Kelegaan yang terpancar dari wajah remaja itu menjadi obat penawar paling mujarab bagi segala rasa lelah yang menggelayuti tubuh Adinda. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Adinda bisa merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan perasaan aman yang mutlak.
Tidak ada suara motor sport yang meraung kasar di depan teras, tidak ada ketakutan akan langkah kaki yang membawa amarah, dan tidak ada lagi kecemasan akan hari esok. Mereka tertidur dalam kedamaian yang sejati.
Sementara itu, di sudut kota yang lain, suasana bertolak belakang sedang terjadi di rumah orang tua Bagas.
Malam kian larut, namun Bagas masih duduk di kursi teras rumah ibunya dengan wajah yang kusut dan pikiran yang berkecamuk. Di sampingnya, segelas kopi hitam yang sudah mendingin dibiarkan begitu saja tanpa disentuh. Amarah yang membakarnya sejak kemarin siang kini telah mengkristal menjadi rasa dongkol yang luar biasa, bercampur dengan ego yang terluka parah.
Ibunya, seorang wanita tua dengan guratan wajah yang ketat dan selalu memandang sinis kepada Adinda, keluar dari dalam rumah sembari membawa piring berisi camilan. Ia duduk di kursi sebelah Bagas, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Kamu itu keterlaluan memanjakan Dinda selama ini, Gas," omel ibunya, langsung menyiramkan minyak ke dalam api yang sedang membakar hati Bagas. "Istri macam apa itu? Cuma karena kamu protes masalah kamu nggak di kasih sarapan dan mengakibatkan telat kantor sedikit saja, dia sudah berani teriak-teriak membalas ucapan suaminya? Sampai bawa-bawa kata cerai segala lagi! Dia pikir dia itu siapa? Perempuan kampung yang ndak punya modal apa-apa selain jualan nasi kotak recehan itu!"
Bagas mengembuskan napasnya dengan kasar, mengacak rambutnya yang lecek. "Dinda benar-benar berubah, Bu. Kemarin siang itu matanya tajam sekali. Dia bahkan menantang Bagas untuk menamparnya dan mengancam akan melapor ke polisi dan ke kantor pusat kalau Bagas berani menyentuhnya. Bagas kan jadi bingung, Bu. Kalau dia benar-benar nekat lapor ke bos besar, bisa hancur reputasi Bagas yang sudah Bagas bangun susah payah di kantor."
Ibunya mendengus meremehkan. "Halah! Itu cuma gertakan sambal dari perempuan lemah seperti dia, Gas! Dia itu sengaja menakut-nakuti kamu karena dia tahu kamu takut kehilangan pekerjaan. Percaya sama Ibu, paling-paling sekarang dia sedang menangis sendirian di kontrakan sempit itu, kelaparan dan kebingungan karena kamu tinggal bertaruh malam di sini. Biarkan saja! Jangan kamu pulang dulu sampai dua atau tiga hari ke depan. Biar dia tahu rasa bagaimana rasanya hidup telantar tanpa ada suami yang menafkahi dan menampungnya di rumah itu!"
Mendengar hasutan dari ibunya, ego Bagas yang sempat menciut kemarin siang perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Pria itu menegakkan punggungnya, menyalakan sebatang rokok, dan mengangguk-angguk setuju. Di dalam benaknya yang sempit dan manipulatif, ia mulai meyakini kebenaran ucapan ibunya. Ia berpikir bahwa Adinda hanyalah seorang wanita emosional yang sedang meluapkan amarah sesaat karena kelelahan mengurus katering.
I
"Ibu benar," ucap Bagas dengan nada suara yang kembali meninggi dan penuh kesombongan. "Dinda itu ndak akan bisa hidup tanpa Bagas. Uang hasil kateringnya itu berapa sih? Paling cuma cukup buat beli beras dan bayar sekolah Dimas. Untuk biaya kontrakan, bayar listrik, dan kebutuhan lainnya, dia pasti ujung-ujungnya butuh uang dari Bagas juga. Kita lihat saja nanti, seberapa lama dia bisa bertahan mogok melayani Bagas."
"Nah, begitu! Kamu itu laki-laki, kepala keluarga! Jangan mau diinjak-injak sama perempuan yang modalnya cuma modal dengkul!" timpal ibunya dengan senyum puas, merasa berhasil mempertahankan dominasi anak laki-laki kesayangannya.
Bagas tersenyum sinis, membayangkan bagaimana wajah Adinda yang memohon maaf dan menangis menyesali perbuatannya saat ia pulang ke kontrakan nanti. Pria egois itu sama sekali tidak menyadari bahwa saat ia sedang menyusun strategi kesombongan bersama ibunya di teras rumah yang nyaman itu, rumah kontrakannya di gang sempit sudah kosong melompong. Segala jejak kepasrahan Adinda telah menguap, dan sebuah surat gugatan cerai yang sah secara hukum sedang diproses untuk meruntuhkan seluruh dunia kepalsuan yang selama ini ia agungkan.