NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Alan Dalam Bahaya

"Justin, Helios! Mereka semua yang merubung di tengah laut itu adalah kawanan Siren liar pantai barat!" teriak Moana dengan ekspresi wajah yang pucat pasi ketakutan. "Kita harus segera berlari kembali ke dalam rumah untuk memanggil bantuan Ayah Roland!"

Namun, tubuh Justin dan Helios mendadak terpaku kaku di atas pasir. Sepasang mata supernatural mereka mendeteksi adanya kejanggalan aneh di tengah lautan.

"Tunggu dulu, Moana! Jangan pergi dulu, lihat ke arah pendaran cahaya itu! Karakteristik warna air laut di sekitar posisi Alan tenggelam mendadak berubah warna menjadi keemasan!" seru Helios Marine sembari menunjuk lurus ke tengah laut, matanya yang biru safir membelalak takjub.

Moana menyisipkan kelopak matanya, memfokuskan pandangannya menatap lurus ke arah koordinat yang ditunjuk oleh Helios.

Sementara di sisi lain, Justin kian dibuat panik setengah mati saat tubuh Alan benar-benar sudah tidak lagi terlihat di permukaan, sepenuhnya ditelan oleh kegelapan lautan Azure.

"Helios, Kak Moana! Bagaimana ini?! Kita tidak bisa menunggu Paman Roland, kita harus cepat melompat untuk menyelamatkan nyawanya!" teriak Justin histeris, emosi persahabatannya mengalahkan rasa takutnya pada air.

Moana dengan gerakan taktis segera merobek saku pakaian luarnya, mengeluarkan selembar bungkus berisi beberapa butir permen karet khusus, lalu menyerahkannya masing-masing satu butir ke tangan Justin dan Helios.

"Ini! Jangan banyak bertanya, cepat masukkan ke dalam mulut dan kunyah dengan kuat! Setelah teksturnya kenyal, langsung sumpalkan gumpalan permen karetnya ke dalam rongga telinga kalian masing-masing!" perintah Moana tegas sembari dia sendiri memasukkan permen karet tersebut ke dalam sela bibirnya.

Meskipun metode pertahanan darurat ini terlihat teramat konyol, naif, dan tidak masuk akal di dalam struktur berpikir Justin, namun di dalam hukum ekosistem wilayah Kota Blue Waves, permen karet khusus hasil olahan tanaman herbal buatan Nerissa Marine tersebut bukanlah sekadar jajanan anak kecil biasa. Komposisi teksturnya yang kenyal, padat, dan memendam isolasi kedap suara tingkat tinggi adalah media pelindung darurat yang paling efektif di semesta untuk menangkal frekuensi mematikan dari gelombang sihir Nyanyian Siren.

Justin dan Helios, meskipun wajah mereka masih merengut didera kebingungan massal, terpaksa menuruti instruksi mutlak dari sang Putri Abyssal Trench. Mereka mengunyah permen karet tersebut dengan gerakan kasar, lalu menyumpalkan gumpalannya ke dalam kedua lubang telinga hingga atmosfer dunia di sekitar indra pendengaran mereka bertiga seketika berubah menjadi sunyi senyap tanpa riak suara angin.

"Apakah kalian berdua sudah menyelesaikannya?!" tanya Moana lewat gerakan artikulasi bibir yang dibaca oleh Justin dan Helios.

Helios dan Justin menganggukkan kepala mereka secara mantap. Moana kembali menolehkan wajahnya sekilas ke arah bangunan toko suvenir, memastikan bahwa ibunya, Nerissa Marine, masih sibuk beraktivitas di dapur belakang dan ayahnya, Roland Nixie, belum melangkahkan kaki kembali dari konter depan toko.

Begitu merasa situasinya aman dari pengawasan ketat orang tua, Moana dengan gerakan cepat melepaskan gaun kain luarnya, menyisakan pakaian renang nilon khusus yang memang selalu dia kenakan di balik baju hariannya.

"Ayo, Justin, Helios! Pegang erat-erat kedua sisi pundakku, aku akan mengerahkan kekuatan Mermaid-ku untuk membawa kalian bergerak mendekat ke arah titik Alan tenggelam!" perintah Moana melalui isyarat tangan.

Didorong oleh keberanian nekat yang menerjang seluruh batangan hukum larangan orang tua, Moana langsung melompat menerjang gelombang ombak pantai, disusul oleh lompatan Helios dan Justin yang batinnya masih dipenuhi oleh rasa kekhawatiran yang masif pada keselamatan Alan.

Namun, sebuah anomali taktil mendadak terjadi saat ketiga anak kecil itu mulai menggerakkan lengan mereka untuk berenang mendekati area episentrum tempat Alan tenggelam.

Semakin dekat jarak posisi berenang mereka dengan titik jatuhnya Alan, karakteristik air laut Azure sama sekali tidak terasa dingin menggigil, melainkan bermutasi berubah menjadi teramat hangat dan dipenuhi oleh getaran frekuensi energi magis yang teramat kuat menghantam kulit lautan mereka.

Alih-alih dikepung oleh kegelapan palung laut, dari balik permukaan air, mereka bertiga justru disajikan oleh pemandangan pendaran cahaya putih keemasan yang teramat benderang menembus visibilitas air, seolah-olah ada sesosok matahari kedua di semesta yang sengaja jatuh terbenam ke dasar samudra Azure.

Sepasang mata Moana, Helios, dan Justin membelalak lebar karena tidak percaya saat melihat visualisasi dari balik permukaan air bawah laut; segerombolan mahluk Siren yang mengerikan itu ternyata sama sekali tidak sedang berpesta pora menikmati daging mangsa mereka.

Sebaliknya, kawanan predator buruk rupa itu justru sedang berenang melesat menjauh dengan pergerakan motorik yang teramat panik, ketakutan, dan histeris, seolah-olah kulit bersisik kusam mereka baru saja menyentuh jilatan bara api neraka yang teramat panas membakar.

Justin, Moana, dan Helios belum memendam pengetahuan taktis bahwa di bawah sana, Alan yang sedang berdiri anggun dalam wujud adaptasi mutasi Pegasus-Mermaid tengah memancarkan radiasi aura energi murni Diamond—sejenis energi suci kuno semesta yang secara fungsional bertindak sebagai racun absolut yang akan membakar habis eksistensi mahluk-mahluk kegelapan berdarah dingin sekelas Siren.

Belum sempat kayuhan lengan berenang mereka berhasil mencapai ke titik posisi Alan berada, tubuh ketiga anak kecil itu mendadak terhempas hebat oleh sebuah gelombang hidrolik dahsyat yang secara tidak terduga meledak muncul di tengah lautan lepas.

Tekanan arus energi dari bawah air tersebut membuang dan terhempas paksa tubuh mereka bertiga melayang di udara, kembali ke arah daratan tepi pantai, hingga akhirnya tubuh mereka menghantam keras batang pohon kelapa tua yang tumbuh condong di sana.

THUDD! BRUKK!

Butiran pasir pantai yang kasar dan kering langsung memenuhi rongga mulut serta kelopak mata mereka yang coreng-moreng. Struktur tulang rusuk di dada Justin dan Helios terasa teramat sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam paru-paru mereka telah dipaksa keluar digantikan oleh jepitan rasa nyeri yang hebat.

Dengan gerakan tangan yang gemetar menahan sakit, Helios Marine mencoba merangkak di atas pasir, mengucek matanya yang perih untuk mencari sosok rekannya di balik bayangan batang pohon kelapa yang tampak retak dan bergoyang akibat hantaman tubuh mereka sebelumnya.

Di kejauhan cakrawala, permukaan air laut yang beberapa menit lalu mengamuk hebat memicu badai arus, kini mendadak berubah menjadi teramat tenang, flat, dan sunyi, namun sosok Alan—entitas mahluk yang menjadi tujuan utama penyelamatan mereka—telah sepenuhnya hilang dari jangkauan pandangan mata.

"Kakak Moana... Helios... apakah kalian berdua... masih berada di dalam kondisi baik-baik saja?"

Justin membuka jepitan permen karet di telinganya, bertanya dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa kekhawatiran yang masif sembari merangkak mendekati Moana.

Moana meringis keras, kedua tangannya memegangi area punggung belakangnya yang menghantam batang kelapa dengan benturan yang cukup keras. "Struktur punggungku... rasanya agak sakit dan ngilu, Justin," jawab Moana dengan nada suara pelan yang menahan perih. "Bagaimana dengan kondisi fisikmu sendiri dan Helios?" lanjutnya memastikan keselamatan sepupu dan temannya.

"Aku tidak mengalami cedera serius, hanya sebatas beberapa luka lecet ringan di bagian lengan," jawab Justin sembari berusaha memaksa tubuh vampirnya untuk duduk tegak, meskipun deru napas manusianya masih tersengal-sengal kasar.

Dia mengabaikan rasa perih di kulit bahunya dan segera beringsut mendekat untuk membantu memijat pundak Moana. Helios di sisi lain tampak sedang sibuk meludahkan butiran pasir dari dalam mulutnya dengan wajah cemberut penuh dongkol.

Suasana di sekitar kawasan Pesisir Azure mendadak berubah menjadi sunyi senyap yang mencekam, hanya menyisakan suara deburan ombak pantai yang kini terdengar mengalun jauh lebih tenang—seolah-olah lautan samudra itu baru saja berhasil menyembunyikan sisa amarah elemennya di dalam perut bumi.

Justin menatap nanar dengan pandangan mata kosong ke arah garis cakrawala laut, tempat terakhir kali mereka melihat siluet tubuh Alan tenggelam.

"Kita harus segera mengumpulkan sisa tenaga dan bergerak kembali ke air sekarang," bisik Justin dengan nada suara serak yang bergetar. "Alan masih berada di dalam sana, Moana, Helios. Kita tidak memilik banyak jatah waktu sebelum arus bawah laut menyeret tubuh kecilnya lebih jauh ke dasar palung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!