Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.
Setetes airmata jatuh di pipi Bu Safira. Bukan menangisi Maura, tetapi rasa penyesalan yang menyesakkan batinnya terhadap anak kandungnya sendiri. Perkataan Ayah Bastian tempo hari telah menamparnya begitu telak. Menyadarkan dirinya bahwa selama ini memang kurang memperhatikan Zeya. Dan ia berniat memperbaiki hubungan dengan putrinya dimulai dari sekarang.
"Maafkan ibu, Ze. Apa pun akan ibu lakukan untuk menebus semua kesalahan ibu kepadamu," bisiknya lirih, suaranya bergetar menahan sesak di dada.
Ia mengusap airmata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangan, lalu kembali menatap Maura yang masih belum sadarkan diri.
"Ini belum seberapa dibanding luka yang kamu torehkan untuk Zeya," gumamnya dalam hati. "Tapi ibu nggak akan membalasmu dengan cara yang sama. Ibu hanya ingin kamu merasakan bahwa setiap perbuatan pasti ada akibatnya."
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.
Ceklek...
Pintu UKS kembali terbuka. Petugas masuk sambil membawa segelas air hangat dan beberapa peralatan medis. Melihat Bu Safira masih setia duduk di samping ranjang, ia tersenyum tipis.
"Terima kasih sudah menunggunya, Bu," ucapnya ramah.
Bu Safira menarik napas panjang lalu kembali memasang raut wajah penuh kekhawatiran.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya berharap Maura segera sadar."
Petugas itu mengangguk. Ia kembali memeriksa denyut nadi serta tekanan darah Maura.
"Syukurlah kondisinya mulai stabil. Mungkin tidak lama lagi dia akan siuman."
Tak lama kemudian, jari-jari Maura bergerak pelan. Kelopak matanya berkedip beberapa kali hingga akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya masih buram. Ia menatap langit-langit ruangan beberapa detik, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"I... I-bu...?" lirihnya saat melihat Bu Safira duduk di samping ranjang.
Bu Safira tersenyum tipis, lantas menggenggam tangan Maura dengan lembut. "Iya, Sayang. Syukurlah, kamu sudah sadar," katanya dengan nada penuh perhatian.
Maura menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Kilasan demi kilasan kejadian di halaman sekolah kembali memenuhi kepalanya. Sorakan, cacian dan tatapan intimidasi dari ratusan pasang mata. Tubuhnya seketika bergetar.
"A-ku..." bibirnya gemetar hebat. "Semua orang... membenciku...." Airmatanya mengalir tanpa bisa dibendung.
Petugas UKS segera menenangkan, "Jangan dipikirkan dulu. Kondisimu belum pulih. Kamu harus banyak beristirahat."
Maura memejamkan mata rapat, tetapi justru suara-suara hinaan itu kembali menggema di dalam kepalanya. Dadanya naik turun menahan sesak.
Bu Safira menatap wajah Maura dengan pandangan yang sulit diartikan. Di hadapan petugas UKS, ia tampak begitu sabar dan penuh kasih. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu ini hanyalah awal. Bukan awal kehancuran Maura, melainkan awal dari kesadaran bahwa setiap kejahatan, sekuat apa pun disembunyikan, pada akhirnya akan meminta pertanggungjawaban.
.
.
.
Desa Sekar
Di halaman rumah panggung sederhana mereka, Daniel masih sibuk memotong dan mencabuti rumput yang tumbuh liar. Keringat membasahi pelipisnya, sebab matahari siang mulai terasa terik.
Tak jauh darinya, Zeya duduk di beranda sambil memandangi layar ponsel. Sudut bibirnya tak henti-hentinya terangkat membentuk senyum tipis.
Daniel yang melihat itu mengernyitkan dahi. "Ada apa, dia? Kenapa, senyum-senyum sendiri?" benaknya bertanya-tanya.
Pemuda itu menghentikan pekerjaannya lalu mencuci tangan di pancuran air dekat tangga kemudian menghampiri Zeya.
"Dari tadi aku lihat senyummu nggak hilang-hilang," ujarnya seraya menuangkan air dari teko ke dalam gelas.
Zeya terkekeh pelan. "Jenna baru saja kirim pesan."
Daniel meneguk airnya terlebih dahulu, lalu menatap istrinya penasaran. "Pesan apa?"
"Katanya... Maura pingsan di sekolah," jawabnya sembari menatap suaminya.
Daniel menghentikan gerakannya seketika. "Pingsan?"
Zeya mengangguk. "Iya. Tadi Bu Shandra minta klarifikasi soal kasus video itu. Kata Jenna, Maura baru mau diinterogasi, eh...malah pingsan duluan."
Daniel menghela napas pelan. "Lalu?"
Zeya mengembuskan napas perlahan. "Jenna curiga dia cuma pura-pura aja supaya dikasihani. Soalnya banyak juga yang berpikir begitu."
Daniel terdiam beberapa saat. Ia lalu duduk di samping Zeya. "Mau pura-pura ataupun benar-benar pingsan, sekarang itu bukan lagi hal yang penting."
Zeya menoleh. "Kenapa?"
"Kalau memang dia merasa bersalah, ya, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, bagaimanapun kondisinya," jawab Daniel. Pandangannya menatap jauh ke depan, ke jalanan yang tampak lengang.
Zeya mengangguk pelan. "Aku juga berpikir begitu. Jujur saja... aku memang merasa sedikit lega."
Daniel menggenggam tangan istrinya dengan hangat. "Wajar kalau kamu merasa begitu. Tapi jangan sampai kita terus memelihara kebencian."
"Aku lebih senang melihat kamu tersenyum karena kehidupan kita sekarang daripada karena melihat orang lain jatuh."
Ucapan itu membuat senyum Zeya berubah menjadi lebih lembut. "Iya... sekarang aku merasa jauh lebih bahagia daripada dulu. Walaupun hidup kita sederhana di sini, tapi aku merasa tenang."
Daniel membalas senyum itu. Baginya, melihat Zeya bisa kembali tersenyum dengan tulus jauh lebih berharga daripada apa pun.
....
Sore harinya, langit Desa Sekar tampak begitu cerah. Angin semilir berembus membawa aroma khas tanah dan pepohonan.
"Ze, jalan-jalan, yuk!" ajak Daniel usai sholat ashar.
"Mau ke mana?" tanya Zeya yang baru saja menaruh mukenanya di atas meja.
"Keliling kampung, aja. Mumpung suasananya mendukung," jawab Daniel sembari meraih topinya, bersiap menuruni tangga.
Zeya langsung mengangguk setuju. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalanan desa yang diapit hamparan sawah menghijau. Beberapa warga yang berpapasan menyapa mereka dengan ramah. Keduanya membalas sapaan itu dengan senyum ramah pula.
Langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah lahan kosong yang cukup luas. Rumput liar tumbuh hampir menutupi permukaannya. Di beberapa sudut bahkan tampak semak belukar yang mulai meninggi.
Daniel berdiri cukup lama sambil mengamati hamparan lahan itu.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Zeya penasaran.
Daniel menunjuk ke arah lahan tersebut. "Lihat lahan itu."
Zeya mengikuti arah telunjuk suaminya. "Luas sekali, ya."
"Iya." Daniel mengangguk. "Sayang sekali kalau dibiarkan terbengkalai seperti ini."
Ia kemudian berjongkok, mengambil sedikit tanah, lalu meremasnya perlahan di telapak tangan. "Tanahnya juga kelihatannya subur."
Zeya ikut berjongkok di sampingnya. "Kok, kamu langsung bisa tahu?"
"Belum bisa memastikan, sih. Tapi dari teksturnya, sepertinya cukup bagus untuk ditanami."
Daniel kembali berdiri sambil memandang ke seluruh penjuru lahan. "Kalau ditanami sayuran atau buah-buahan, hasilnya mungkin akan bagus."
Zeya tersenyum melihat semangat di wajah suaminya. "Apa kamu berniat ingin menjadi petani? Nggak ingin kuliah dulu?"
Daniel terkekeh kecil. "Apapun itu, jika ada peluang kenapa nggak? Belajar bisa didapat dari mana saja. Lagipula, jadi petani kan, nggak harus kita yang terjun langsung menggarap lahan. Asal kita punya modal cukup dan tekad kuat, kita pasti bisa sukses."
Zeya menatap Daniel serius. "Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu, dan siap menaklukkan tantangan? Sebab menjadi petani itu nggak mudah."
Daniel tersenyum, meraih tangan Zeya lalu menggenggamnya erat. "Asal kamu selalu bersamaku, mendukungku, aku sangat yakin."
.emaknya datang😁