Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Jamuan Makan Malam Berdarah
Malam itu, genap dua minggu sejak surat perjanjian siri ditandatangani di atas genangan darah yang menghitam. Rumah mewah di Pondok Indah tak ubahnya sebuah istana mati yang benderang.
Guna menenangkan saraf Maya yang kian hari kian retak akibat hantaman mimpi buruk waktu itu, Aryo memutuskan untuk menciptakan malam yang normal.
Ia memesan jamuan makan malam privat dari sebuah restoran bintang lima di Jakarta Selatan—menu sup asparagus hangat, wagyu ribeye panggang, dan makanan penutup krim lembut.
Di ruang makan utama, lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang berkilau di atas meja marmer. Alunan musik jazz instrumental diputar pelan melalui pelantang suara nirkabel, mencoba mengubur ingatan tentang gesekan ranting bambu gaib yang kian sering mengetuk jendela.
Maya duduk di kursi ujung meja, mengenakan gaun sutra longgar berwarna biru tua untuk menyembunyikan bercak lebam kehitaman yang kini telah merayap hingga ke pangkal lehernya. Wajahnya dilapisi bedak tebal demi menutupi pucatnya kulit yang kian kuyu.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ada binar kecil di matanya saat mencium aroma sup asparagus yang tersaji di hadapannya.
"Makanlah yang banyak, Sayang. Ini sup kesukaanmu. Dokter bilang kamu harus mengejar kekurangan nutrisimu," ucap Aryo lembut, memotong daging steak di piringnya sendiri. Semburat senyum dipaksakan muncul di wajah sang pengusaha, meski kepalanya sendiri berdenyut nyeri menahan beban batin.
"Terima kasih, Mas," lirih Maya.
Ia meraih sendok peraknya, menyendok sedikit sup hangat itu, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasa gurih dan hangat menjalar di kerongkongannya, memberikan sedikit rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan.
Maya mengembuskan napas lega. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan berjalan lancar. Suasana malam itu terasa begitu intim, mengembalikan memori manis masa-masa awal skandal perselingkuhan mereka yang penuh gairah di apartemen dulu.
Namun, kedamaian di rumah itu selalu memiliki tanggal kedaluwarsa yang sangat singkat.
Tepat saat Maya hendak menelan suapan kelimanya, tangannya mendadak kaku di udara. Sendok perak di jemarinya terlepas, jatuh menghantam piring porselen dengan denting yang nyaring.
Prang!
Aryo tersentak, langsung meletakkan pisau dan garpunya. "Maya? Ada apa? Kepalamu pusing lagi?"
Maya tidak menjawab. Wajahnya yang semula dilapisi bedak tebal mendadak berubah menjadi seputih kertas seka. Matanya membelalak lebar, melotot menatap kosong ke arah vas bunga di tengah meja. Kedua tangannya bergerak cepat naik mencengkeram lehernya sendiri.
"Ugh ... huekk ... huekk...."
Maya tersedak hebat. Suara dadanya bergemuruh, seolah-olah ada sesuatu yang besar dan kasar mendadak menyumbat saluran pernapasannya dari dalam. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung kaku ke belakang menempel pada sandaran kursi.
"Maya!" Aryo panik. Ia langsung bangkit dari kursinya, melangkah cepat memutari meja marmer untuk menghampiri istri mudanya. "Kamu tersedak? Minum, minum dulu!" Aryo menyodorkan gelas berisi air putih, namun Maya menepisnya hingga gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.
"Hueeekk!! Khuk ... khuk ...."
Napas Maya memburu, mengeluarkan suara mencicit yang mengerikan bagai orang yang sedang dicekik dengan tali tambang. Wajah jelitanya mulai membiru akibat kekurangan oksigen. Air mata bercampur maskara hitam mengalir deras membasahi pipinya.
Aryo menepuk-nepuk punggung Maya dengan keras, kepanikan menjalar hebat di dalam nadinya.
"Keluarin, May! Keluarin kalau ada yang mengganjal! Astaga, tolong!"
Maya mencondongkan tubuhnya ke depan, bersandar pada tepi meja marmer. Mulutnya terbuka lebar, rahangnya bergerak-gerak tak keruan seperti sedang mengunyah sesuatu yang sangat keras dan berserat.
Slurrrp ....
Sebuah suara desisan basah terdengar dari dalam tenggorokan Maya.
Bersamaan dengan jeritan tertahan dari mulutnya, seuntai benda berwarna hitam pekat perlahan merayap keluar dari sela-sela bibir Maya yang gemetar. Awalnya hanya beberapa senti, namun benda itu terus memanjang, keluar dengan gerakan lambat yang menyiksa.
Itu adalah helai-helai rambut manusia.
Rambut itu sangat panjang, hitam, tebal, dan kondisinya basah kuyup oleh cairan lendir merah kehitaman yang mengeluarkan aroma sangat busuk—perpaduan antara bau bangkai tikus yang membusuk berhari-hari bercampur dengan wangi bunga kantil yang pekat luar biasa.
Aroma busuk itu mendadak menguar hebat, merajai seluruh ruang makan, mengalahkan bau masakan bintang lima yang langsung terasa mual bagi hidung Aryo.
"Ya Tuhan ... ya Tuhan ... Apa ini?!" Aryo mundur satu langkah, lututnya lemas, matanya membelalak penuh horor menyaksikan pemandangan di hadapannya.
Maya terus memuntahkan gumpalan rambut itu. Air matanya mengalir bercampur darah tipis yang mulai merembes dari sela-sela gusi dan hidungnya.
Dengan jemari tangan yang gemetar dan berlumuran darah hitam, Maya mencengkeram ujung gumpalan rambut yang menjulur dari mulutnya, lalu menariknya keluar secara paksa dengan sisa-sisa kekuatannya.
Sreeek ....
Suara gesekan serat rambut yang keluar dari kerongkongan Maya terdengar begitu jelas di dalam ruangan yang sunyi.
Rambut itu terus keluar, memanjang hingga hampir setengah meter, bergumpal-gumpal di atas piring porselen mewah, mencemari sisa sup asparagus dan potongan steak wagyu di sana.
Dan kengerian malam itu belum mencapai puncaknya.
Ketika gumpalan rambut itu berhasil ditarik sepenuhnya, dari dalam mulut Maya yang masih menganga, terdengar suara denting logam yang beradu dengan giginya.
Klong ... klong ....
Maya terbatuk hebat sekali lagi, dan dari bibirnya yang hancur, jatuh melenting di atas meja marmer tiga buah paku besi berkarat sepanjang sepuluh sentimeter.
Paku-paku itu hitam, dipenuhi kerak tanah merah yang masih basah—jenis tanah merah yang persis sama dengan yang mereka lihat di dalam mimpi buruk kolektif tentang hutan bambu dua malam lalu.
Setelah memuntahkan semua benda jahanam itu, tubuh Maya ambruk ke samping. Ia jatuh dari kursi, terjerembap di atas lantai marmer yang kini dipenuhi pecahan gelas dan genangan darah hitam.
Tubuhnya meringkuk seperti janin, tangannya tak pernah lepas mencengkeram perutnya yang mendadak berkedut kencang dengan gerakan tidak wajar di bawah gaun sutranya.
"Mas ... Aryo ... anak... anak kita ...," lirih Maya, suaranya nyaris habis, menyisakan bisikan parau yang terputus-putus sebelum akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya. Matanya setengah terbuka, menatap kosong ke arah plafon rumah.
Aryo jatuh berlutut di samping tubuh Maya. Ia tidak berani menyentuh gumpalan rambut dan paku berkarat di atas meja, namun tangannya yang gemetar hebat mencoba meraih kepala istri mudanya yang pingsan. Udara di ruang makan mewah itu mendadak turun drastis hingga napas Aryo mengeluarkan kabut tipis.
Srekk ... srekk ... srekk ....
Di luar dinding kaca ruang makan, suara gesekan rumpun bambu kembali terdengar. Kali ini begitu dekat, seolah-olah tanaman gaib itu tumbuh tepat di balik tembok ruang makan mereka.
Di antara riuh rendah gesekan daun bambu itu, telinga Aryo yang hampir gila bersumpah mendengar suara langkah kaki yang sunyi berberak menjauh di pelataran rumahnya, ditinggali oleh sisa keheningan yang mematikan.
Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.
Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?
Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .