Gaza Munarga adalah seorang ahli waris yang memegang kendali atas perusahaan Tirtama Group selama lima tahun semenjak kematian sang ayah.
Ia dikenal sebagai pria es yang mampu membekukan mental seseorang saat bertatapan dengannya.
Zara Maharani, seorang wanita yang hanya tinggal bersama kedua adiknya. Sebagai anak sulung, ia mesti rela berkorban membanting tulang mencari pundi-pundi nafkah demi kelangsungan hidup bersama kedua adiknya itu.
Kepribadian Zara yang polos. Namun, memiliki sifat di mana ia senang memarahi orang lain di saat ia sedang kesal.
Hingga dua insan ini dipertemukan dalam sebuah kecelakaan tanpa sengaja. Kekesalan yang berujung karma bagi Zara, hingga pada akhirnya Gaza menikahi Zara hanya bertujuan untuk membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Terima
Tiba di depan sebuah pusat perbelanjaan mewah yang ia tuju, kini ia membayar tukang ojek tersebut dan tersenyum ramah. "Terimakasih, Nona."
"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan. Dan juga, yang semangat kerjanya." Sembari mengangkat tangan memberikan semangat.
"Nona juga, semoga selalu betah dengan pekerjaannya." Lalu ia pun pergi meninggalkan senyumnya yang paling cerah.
Zara menatap punggung tukang ojek itu hingga lenyap dari pandangan matanya. "Bagaimana aku bisa betah, jika setiap hari aku seakan hanya dikerjai oleh lelaki itu, dia hanya bisa menyuruhku ini dan itu, sama sekali tidak ada bedanya dengan seorang babu." Zara mendengus dengan berat dan menjatuhkan tangannya dengan lemah.
Sebelum masuk, ia menatap mall tersebut dari bawah hingga atas, benar-benar tak terlihat kekurangannya, sangat layak diberi julukan sebagai pusat perbelanjaan nomor satu di kota ini. Namun, siapa yang menyangka, kini sebentar lagi Zara akan menjadi pemilik resmi dari mall tersebut. Dan konyolnya, dia bahkan tidak tahu soal itu. Mungkin banyak orang yang akan berkata, ketiban rejeki besar dalam waktu singkat, ia seketika menjadi millioner hanya dalam beberapa hari menikah dengan Gaza.
"Syafa bilang dia ada di bagian kasir, sebaiknya aku datang menyapanya terlebih dahulu." Zara masuk sambil memperhatikan sekelilingnya, mencari keberadaan kasir di mana temannya berada.
Saat ekor matanya menangkap wajah tomboi dengan rambut sebahu, ia langsung mengenali itu. Ya, dialah Syafa, wanita yang baru saja menargetkan Sekertaris Lee sebagai musuhnya.
"Syafa!" Zara berteriak sambil melambaikan kedua tangannya dengan tinggi agar Syafa bisa langsung menemui keberadaannya. Hal itu tentu saja mengundang semua mata untuk menoleh padanya, lagian, siapa juga yang begitu berani berteriak di dalam mall kecuali dirinya, dia bahkan tanpa malu melambai dengan gembira seolah sedang berada di taman.
Syafa yang menyadari namanya dipanggil oleh seseorang, segera menelisikkan mata mencari sumber suara itu. Namun, seketika ia menepuk dahinya dengan keras. "Astaga, anak ini. Bagaimana mungkin dia bisa berteriak tanpa malu di hadapan banyak orang yang menoleh padanya." Syafa segera berlari menghampiri Zara yang berdiri di ambang pintu utama.
"Kemari, jangan berteriak sembarangan." Sambil menarik pergelangan tangan Zara menuju ke ruang ganti di mana ia sering mengganti pakaiannya ketika datang dan pulang bekerja.
"Ada apa? Kenapa kau menarikku hingga ke sini? Aku bukan penjahat apalagi *******, untuk apa bersembunyi?" Zara segera menarik kembali tangannya dari genggaman Syafa setelah mereka berada di ruang ganti.
"Lihat dirimu, apa kau tidak malu dilihat banyak orang dengan berteriak sesuka hati di dalam mall, bisa-bisanya kau menganggap mall ini sebagai pasar di mana tempat kau sering berbelanja setiap minggu." Syafa segera memberikan peringatan pertamanya agar Zara tidak salah melakukan segala hal di mana tempat itu bukanlah ranahnya. Jika ada yang terganggu dengan teriakan Zara, bisa saja ia mendapat masalah, apalagi ia tahu bahwa Zara bukanlah wanita berduit yang bisa menyelesaikan masalah hanya dengan melempar lembaran uang.
"Ya, teruslah mengoceh seperti monyet, kau benar-benar tak pernah berubah sejak dulu, lidahmu itu hanya bisa kau gunakan untuk membentak seseorang, lihat, berapa umurmu sekarang? Bahkan kau sama sekali tak pernah berkencan dengan siapa pun, kapan kau akan menikah? Tidak mungkin kau akan membuang sisa umurmu hanya dengan menyendiri seorang diri seperti pertapa kuno di zaman dahulu." Zara balik mencibir dengan kesal.
"Ya, anak ini, kenapa kau malah menyudutkanku? Malah menyinggung soal pernikahan dan kencanku segala, seharusnya urus dirimu sendiri, memangnya kau sudah memiliki kekasih?" Sembari menoyor kening Zara dengan geram.
Aku bahkan sudah menikah, hanya saja aku tidak akan memberitahukanmu soal alasannya, yang ada kau akan terus mengoceh karena aku merendahkan harga diri menikah demi uang. Itu sangat konyol jika harus mendengar ocehanmu sepanjang hari. Batin Zara.
"Lihat dirimu sekarang, tidak bisa berkata apa pun lagi, kan? makanya, jangan pernah mau berdebat denganku." Lagi-lagi Syafa menjitak dahi Zara dengan pelan.
"Kau untuk apa datang ke sini? Bagaimana dengan Aldi, apa dia sudah sembuh?" tanya Syafa tiba-tiba.
"Aldi masih dirawat di rumah sakit. Sementara aku ... aku ada urusan makanya datang ke sini, kebetulan kau bekerja di sini, jadi sekalian saja datang mencarimu."
"Iya, dengan berteriak sesuka hatimu hingga membuatku malu," timpal Syafa dengan menekuk wajahnya.
"Yah, maafkan aku, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, jangan marah begitu." Sambil bergelayut manja di lengan Syafa.
"Hei, berhenti bertingkah seperti anak-anak, itu membuatku geli." Sembari melepaskan tangan Zara.
"Ya sudah, nanti kita minum teh di warung dekat sini, aku masih harus menyelesaikan urusan setelah itu akan kembali padamu." Zara pun melambaikan tangan sembari menjauh dari Syafa.
Syafa hanya membalasnya dengan tersenyum kecut dan kasihan pada Zara. "Dari dulu dia selalu pintar menyembunyikan perasaannya, dia pasti mengalami kesulitan dengan menutupinya dengan tertawa, aku berdoa semoga suatu saat kau menemukan kebahagiaanmu, aku di sini akan terus mendukungmu," gumam Syafa ketika bayangan Zara lenyap di ambang pintu.
Zara menunggu di ruang tunggu sesuai dengan arahan Sekertaris Lee, tidak lama kemudian, pemilik mall itu datang menyapanya. "Dengan Nona Zara?" tanyanya memastikan.
"Ya, saya sendiri. Apa Bapak adalah Tuan Zein?" Zara balik bertanya.
"Silahkan tanda tangan di sini." Ia menyodorkan sebuah kertas yang berisi pemindahan saham dari milik Zein menjadi milik Zara.
Zara yang tidak tahu apa pun, langsung menandatangani surat itu tanpa membaca isi kandungan yang terdapat di dalamnya.
"Pak, apa saya boleh bertanya mengenai tanda tangan itu?" tanyanya dengan ragu.
"Ya, tentu saja. Anda pastinya sudah tahu mengapa Anda datang ke sini, seseorang membelikan Anda setengah dari saham milik mall ini, itu artinya sekarang Anda adalah pemilik mall semenjak tanda tangan Anda tercantum di kertas ini," jelas Pak Zein sembari tersenyum kecut.
"Apa? Saya? Pemilik mall? Maksudnya?" Zara tercengang setengah mati, bagaimana mungkin tanpa ia tahu sekarang ia berubah menjadi seorang bos.
"Ya, Anda mungkin memiliki hubungan spesial atau hubungan darah dengan lelaki terhormat di kota ini, dia membelikan Anda saham dan meminta Anda agar memilih gaun dan pakaian apa pun yang Anda inginkan tanpa membayarnya seperser pun."
Ck, apalagi ini? Semuanya pasti ulah Gaza, untuk apa dia melakukan ini semua? Haih, hanya bisa menambah masalahku saja, bagaimana jika orang lain tahu bahwa aku adalah pemilik mall ini, mereka pasti berpikir hal aneh mengenai diriku, mereka bisa menganggap aku memiliki simpanan tua yang bisa kumanfaatkan uangnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Pak, apa saya bisa membatalkan pembelian sahamnya? Saya tidak mau menerima ini semua," sahut Zara tiba-tiba.
Aneh sekali, semua orang jika diberikan saham dengan cuma-cuma pasti akan menerimanya dengan senang hati, tetapi dia malah menolak saham yang berjumlah pulahan persen.
"Sayangnya tidak bisa, Nona. Saya juga sudah menerima uang pembelian ini, jadi tidak akan ada yang bisa dirubah, Anda adalah pemilik mall ini sekarang. Selamat untuk Anda, Nona." Pak Zein pun berdiri dan membungkuk hormat pada Zara.
"Ck." Zara berdecak kesal lalu meninggalkan ruangan itu dengan emosi yang meluap-luap. "Apa dia pikir aku adalah wanita yang haus akan harta?" Terus menggerutu sepanjang ia berjalan menuju ke luar.
Eiittss ... 😁 Jangan lupa lika 👍 koment ✍️ dan vote ya 👌
mereka akan melaknat lekaki kayak ferdi yang sok baik pada istri orang dan membuat rumah tangga orang hancur
pola pikir wanita jablay
Ferdy adalah lelaki baik, jadi boleh peluk sana ini
pola pikir wanita setia
suami pelukan dengan wanita lain itu salah begitu juga istri pelukan dengan lelaki lain itu salah
pola pikir wanita egois
suami pelukan dengan wanita itu salah tapi istri pelukan dengan lelaki lain itu bukan kesalahan karena hanya sahabat
fakta
sebuah novel adalah hasil pola pikir novelisnya yang artinya sebuah novel menggambarkan karakter novelisnya