Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingerie Merah
Luna berada di ruang tengah saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Suara mobil yang terdengar tidak asing. Ia segera keluar untuk menyambut kepulangan Raka.
Namun, ada sesuatu yang berbeda. Perasaan Luna nampak kosong, tak ada lagi senyuman, langkah tergesa-gesa seperti biasanya. Ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, tetapi antusiasme yang dulu selalu hadir kini perlahan memudar.
"Hai." Raka mengecup kening Luna.
"Aku bawakan kopermu," ucap Luna pelan.
Luna mengambil alih koper dari tangan Raka dan membawanya masuk. Namun sewaktu akan membawanya ke kamar, pelayan datang dan menawarkan diri untuk membawanya.
"Biar saya saja, Nyonya."
Luna mengangguk kecil. " Tolong letakan di kamar kami, Bi."
"Baik, Nyonya," sahut si pelayan.
Pelayan itu segera membawa koper tersebut menuju lantai atas. Sementara Luna kembali mengalihkan pandangannya kepada Raka yang masih sibuk menatap layar ponselnya.
Terlihat Raka tersenyum sendiri. Entah apa yang suaminya itu lihat, hingga membuatnya nampak bahagia.
"Mau aku buatkan kopi?" tawar Luna
"Boleh," jawab Raka tanpa mengangkat kepala. Pandangannya tetap fokus pada ponselnya.
Luna hanya mampu menghembuskan napas. Ia lantas pergi ke dapur untuk membuatkan kopi Raka. Tidak lama Luna kembali ke ruangan tengah dengan membawa secangkir kopi panas. Aroma kopi langsung menyebar di ruangan itu.
Luna lalu meletakannya di meja.
"Silahkan, Mas," ucap Luna.
Setelah itu ia duduk di sofa tunggal di samping sofa yang Raka duduki.
"Hmm … terima kasih." Raka meletakan ponselnya ke atas meja lalu mengambil kopi yang dibuat oleh Luna.
Raka menyeruput kopi perlahan. Senyum tipis menghiasi wajahnya
"Aku sangat merindukan kopi buatanmu."
Raka kembali menyeruput kopinya.
"Tidak ada yang bisa membuatkan kopi seenak dirimu," imbuh Raka.
Luna hanya mengangguk nyaris tanpa ekspresi. Tak ada kebahagian saat mendapatkan pujian dari Raka. Entah mengapa, kata-kata manis itu tidak lagi mampu menghapus rasa kecewa yang selama ini menumpuk di hatinya.
Raka meletakan kembali kopi itu ke atas meja. Setelah itu ia melihat sekeliling.
"Kenapa rumah sepi? Papa di mana?" tanya Raka.
"Papa sudah tiga hari gak pulang ke sini," jawab Luna. "Katanya sedang sibuk mempersiapkan acara fashion show."
Raka mengangguk pelan. "Ya, aku juga harus mulai mempersiapkannya."
Senyum percaya diri kembali muncul di wajahnya.
"Tapi aku yakin, tahun ini perusahaanku yang akan mendapatkan apresiasi paling tinggi."
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Luna dengan kening yang mengerut.
"Vanessa membuat desain yang luar biasa indah," jawab Raka.
Nada bangga terdengar jelas dari suara Raka.
"Vanessa?"
Raka mengangguk. "Dia desainer utama di perusahaan kita. Kali ini hasil kerjanya benar-benar mengagumkan."
Luna tersenyum tipis. Senyum yang terasa pahit. Suaminya begitu mudah memuji wanita lain, sementara semua desain yang pernah ia buat justru selalu dianggap biasa saja.
"Sudahlah," ucap Raka sebelum berdiri. "Ini sudah malam, ayo kita beristirahat."
"Kamu duluan saja, Mas."
"Ayolah." Raka menoleh sambil tersenyum tipis. "Aku punya oleh-oleh untukmu."
Ucapan itu membuat Luna sedikit terkejut. Selama menikah, Raka hampir tidak pernah membawakannya oleh-oleh setiap kali berpergian.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan keengganannya. Luna pun mengikuti Raka menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Raka langsung membuka koper dan mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru tua. Ia lalu membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya tersusun satu set perhiasan berlian yang berkilau indah di bawah cahaya lampu.
"Ini untukmu."
Luna menatap perhiasan itu beberapa saat.
"Ini berlian asli," lanjut Raka bangga. "Aku sengaja membelikannya untukmu agar kamu bisa memakainya saat acara fashion show nanti."
"Aku gak ingin kamu mempermalukan aku dengan barang-barang murahanmu," lanjut Raka tanpa memikirkan perasaan Luna.
DEG
Hati luna seperti teriris pisau mendengar ucapan Raka. "Jadi …selama ini dia malu dengan penampilanku yang biasa?" batin Luna.
"Ini gaunnya." Raka memberikan gaun itu kepada Luna. "Pakai keduanya di acara fashion show nanti."
Luna melihat gaun itu dengan kening yang mengerut dalam. Gaun panjang warna merah menyala, bagian belakangnya terbuka lebar, dan bagian depannya terlalu rendah. Ia yakin jika memakainya punggung dan dadanya akan terlihat.
"Aku tidak suka warnanya dan juga modelnya," ucap Luna akhirnya.
Raka spontan menoleh, menatap Luna tidak suka. "Kenapa Luna? Gaun ini sangat bagus dan mahal."
Luna mengangkat pandangannya.
"Mas, warnanya terlalu mencolok dan modelnya sangat seksi. Kamu mau aku memakai gaun ini di depan semua orang?"
"Luna, aku sudah berusaha keras mencari pakaian yang bagus untukmu. Kenapa kamu tidak menghargainya." Nada bicara Raka sedikit lebih tinggi.
Luna menggeleng. Tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada sang suami. "Mas bukan begitu ..."
Ucapan Luna terhenti begitu saja. Pandangannya tidak sengaja menangkap sesuatu di bagian dalam koper. Keningnya mengerut melihat benda yang nampak asing itu.
Dengan rasa penasaran Luna berusaha mengambilnya. Ia membungkuk, tangannya terulur mengambil benda yang ada di antara barang-barang milik Raka.
Sesaat kemudian wajahnya berubah. Matanya terbelalak melihat benda itu, lingerie berwarna merah menyala. Model lingerie itu sangat seksi seperti hanya menutupi sedikit bagian dada dan bagian area intinya. Tangannya mulai gemetar.
"Ini apa, Mas?" Suaranya terdengar lirih. "Lingerie ini punya siapa?"
Wajah Raka langsung berubah. Jantungnya berdegup kencang. Raka nampak gugup, tetapi ia berusaha untuk menutupi kegugupannya itu. "Kenapa bisa lingerie milik Vanessa ada di sini? Bagaimana ini?"
Tatapan Luna mulai dipenuhi kecurigaan.
"Mas," panggil Luna membuat Raka terkejut. "Jawab, Mas. Ini punya siapa?"
Raka langsung merebut lingerie itu dari tangan Luna lantas menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Ini bukan milik siapa-siapa kok," jawab Raka gugup, tetapi ia masih mencoba untuk tenang.
"Lalu?" Luna masih mendesak Raka untuk menjelaskan keberadaan lingerie di dalam kopernya.
"Itu …" Raka masih mencoba mencarinya alasan yang masuk akal dan bisa diterima. "Sebenarnya aku membelikan lingerie ini untukmu." Raka memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Tapi ...lupakan saja." Raka menghentikan ucapannya dan tiba-tiba berdiri. "Aku tahu kamu tidak mau memakainya. Jadi lebih baik dibuang saja."
Raka berjalan menuju tempat sampah lalu menginjak bagian bawah tempat sampah, tutupnya pun langsung terbuka. Raka langsung membuang lingerie itu ke dalamnya.
"Sudahlah." Raja berusaha terdengar santai. "Kita tidak perlu membahasnya lagi."
Raka segera mengambil pakaian ganti, tanpa memberikan kesempatan pada Luna untuk bertanya lebih jauh. "Aku mandi dulu."
Raka pergi ke kamar mandi dan langsung menutupnya rapat-rapat.
Sementara Luna tetap diam di tempatnya sambil memandang tempat sampah. Ia masih terbayang dengan lingerie itu dan entah mengapa penjelasan Raka terdengar begitu janggal. Perasaan curiga mulai mulai mengusai dirinya.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man