NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

"Anjir, ganteng banget!"

​Michelle menutup kedua telinganya saat Meyra memekik di sampingnya, cewek itu tampak antusias menonton pertandingan basket kelas XI IPA-1.

​Hari ini bukan jadwal olahraga kelas Michelle, tapi karena kelas sedang jam kosong, Meyra mengajak Michelle ke lapangan basket yang letaknya tidak jauh dari kelas.

​Semula Michelle mengajak Meyra kembali ke kelas saja, di luar sangat panas. Tapi Meyra malah meminta agar ditemani menonton olahraga kelas XI, katanya ingin menunjukkan calon pacarnya yang berasal dari kelas itu.

​"Pacar lo yang mana sih?" tanya Michelle sambil celingukan melihat kelas XI IPA1 yang tersebar di sekitar lapangan basket.

​Meyra menoleh. "Masih calon," jawab cewek itu, lalu menunjuk salah satu cowok yang sedang bermain basket. "Itu tuh, namanya Kak Kael, mukanya kayak Oppa Oppa Korea, kan?"

​Michelle mengikuti arah telunjuk Meyra, mencari sosok Kael yang cowok itu maksud. Kedua mata Michelle menyipit.

​"Yang tinggi banget itu?"

​"Eh bukan! Itu Kak Vian, yang di sebelah Kak Vian tuh! Nah tuh dia bawa bola! KAK KAELLLL!!"

​Michelle kembali meringis, ia berdecak kesal sambil melirik Meyra yang berteriak heboh bersama beberapa cewek di dekat mereka, mungkin juga penggemar Kael atau beberapa cowok ganteng di lapangan basket itu. Michelle baru tahu kalau ada kelas yang rata-rata isinya cogan seperti kelas IPA1 ini.

​"Heh! Kedip lo! Awas nikung Kak Kael, gue patahin betis lo!" ancam Meyra.

​Michelle berdecih. "Gantengan juga Kak Alvin."

​Meyra yang semula menatap lurus pada sosok Kael yang kini menepi untuk istirahat bersama teman-temannya, sontak langsung menoleh, menatap Michelle dengan posisi menyerong.

​"Cinta emang bener bikin buta ya, Chel," ujar Meyra tiba-tiba. "Mata lo udah ketutup sama Kak Alvin sampai cowok IPA1 setingkat Kak Kael bahkan Kak Gio lewat."

​Meyra mengulurkan tangannya menyentuh dahi Michelle. "Bucin nggak bikin otak lo konslet, kan?"

​"Sekata-kata lo!" Michelle menepis tangan Meyra. "Ini namanya cinta sejati!"

​Meyra yang mendengar jawaban Michelle langsung bergaya muntah. "Cinta sejati apa cinta sepihak? Jelas-jelas cuma lo doang yang berjuang, Kak Alvin malah asik pacaran sama Kak Nara," melempar sindiran cewek itu.

​Ekspresi Michelle langsung berubah lesu, yang Meyra katakan memang benar. Tapi setiap kali Michelle ingin terima pada kenyataan sekarang, bayangan masa depan yang sudah ia rancang dengan Alvin yang kini berstatus calon tunangannya membuat Michelle kembali yakin.

​"Selama janur masih ijo dan belum melengkung di depan pagar rumah Kak Nara, tikungan masih banyak Kat. Gue mau gas pol biar waktu tikungan bisa langsung nyerobot mereka!" seru Michelle bersemangat hingga mereka menjadi pusat perhatian para penonton di sekitar mereka.

​Meyra meringis, menunduk malu sambil menggaruk pelipis. "Emang kadang si kecil tumbuh terlalu aktif itu tidak baik ya, bun," gumamnya.

​.

.

.

.

.

​Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, Michelle melihat Devis duduk di salah satu gazebo taman tengah sambil memainkan ponselnya.

​Obrolannya bersama Devis waktu itu kembali terngiang di kepala Michelle. Bohong jika Michelle tidak tergiur dengan penawaran Devis, tapi berkali-kali ia juga merasa ragu, apalagi setelah mengetahui fakta bahwa hubungan Alvin dan Devis jauh dari kata baik.

​Bagaimana kalau Devis tidak tulus membantunya? Bagaimana kalau Devis hanya ingin membalas dendam pada Alvin lewat Michelle?

​Michelle menggeleng cepat, ia berbalik badan hendak pulang, namun langkahnya tertahan karena penawaran itu terus terputar di kepalanya. Michelle sampai harus memukul kepalanya dua kali agar suara Devis tidak lagi terngiang.

​"Akh! Bisa gila gue kalau kayak gini terus!" erang Michelle frustasi, lalu melanjutkan langkah setelah kembali berbalik. Michelle melangkah mendekati gazebo tempat Devis duduk.

​Beberapa meter lagi Michelle akan menapakkan kaki di jalan setapak taman tengah sekolah, tapi langkahnya tertahan karena seseorang mencekal lengannya, spontan Michelle menoleh.

​"Kak Alvin?" Kedua mata Michelle terbuka lebar saat melihat Alvin yang melakukannya.

​"Ayo pulang."

​Michelle mengerjap, pandangannya turun pada lengannya yang masih dicekal Alvin. Cowok itu bahkan tidak melepaskan tangannya selama beberapa saat sebelum Michelle merespon.

​"A-aku bisa pulang sendiri, Kak. Masih ada--"

​"Pulang bareng gue, sekarang," putus Alvin, lalu menarik lengan Michelle sedikit keras membuat Michelle tersentak.

​Michelle berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkah Alvin yang lebih lebar, ia menatap lengannya yang masih berada dalam cekalan Alvin.

​Beberapa pasang mata anak-anak yang masih ada di sekolah terkejut melihat kejadian itu, Michelle menggigit bibir bawahnya, merutuki dalam hati hal bodoh yang Alvin lakukan ini.

​Alvin seolah tidak terusik, cowok itu tetap melangkah melewati koridor dan lorong sampai akhirnya keluar dari gedung. Tangan Alvin baru melepaskan lengan Michelle begitu mereka sampai di sebelah motor putih cowok itu.

​Alvin menatap Michelle yang meringis sambil memegangi lengannya. "Jangan berurusan sama Devis kalau lo masih mau tinggal di rumah gue," ucap cowok itu, lalu memakai helmnya.

​Michelle terdiam, membeku menatap Alvin yang kini memundurkan motornya. Alvin menyerahkan helm hitam pada Michelle yang langsung diterima cewek itu.

​"Naik," titah Alvin.

​Michelle masih menatap Alvin, lalu menghela napas. Setelah melepas jaket yang ia kenakan, Michelle naik ke boncengan motor Alvin, ia meletakkan jaket itu di atas pahanya.

​"Kak Alvin."

​Gerakan tangan Alvin tertahan, cowok itu melirik Michelle lewat spion motornya.

​"Nggak jadi deh, ayo pulang."

​Michelle menggeleng, ia tidak mau langsung menyimpulkan sesuatu. Bisa saja Alvin berkata seperti itu karena Devis adalah musuhnya, bukan karena hal lain. Padahal Michelle sempat berharap kalau Alvin melakukannya karena tidak suka Michelle dekat dengan cowok lain, apalagi dengan musuhnya.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!