Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perdebatan kecil
"Sudah cukup."
Suara Haseena memecah keheningan di antara mereka. Gadis itu berdiri di depan Rayyan, seolah menjadi tembok kecil yang berusaha menahan badai agar tidak semakin besar.
"Bah... biarin Abang istirahat dulu, ya. Mungkin Abang capek."
Rayyan mengembuskan napas panjang. Dadanya masih naik turun menahan amarah yang sejak tadi ia paksa untuk tidak meledak. Tatapannya bergantian memandang Haseena dan Zafran.
"Abah bukan marah karena kamu pergi, Zafran." Suaranya mulai melemah. "Abah cuma takut kehilangan kamu juga."
Zafran menundukkan kepala. Namun, bukan karena luluh. Tatapannya justru semakin kosong.
"Silakan istirahat, Bah," ucapnya datar.
Kalimat itu terdengar sopan, tetapi terasa begitu jauh.
Rayyan mengusap wajahnya pelan. Ia sadar, jika percakapan ini diteruskan, yang tersisa hanyalah luka baru.
"Ayo, Bah." Haseena menggenggam lengan Abah. "Ade bikinin teh hangat."
Rayyan mengangguk pelan. Sebelum berbalik, ia menatap Zafran cukup lama.
"Kalau suatu saat kamu siap bercerita... Abah akan mendengarkan."
Tidak ada jawaban.
Rayyan akhirnya berjalan menuju kamarnya bersama Haseena.
Beberapa menit kemudian, Haseena membawa dua cangkir teh hangat. Satu ia letakkan di kamar Abah, sementara satu lagi ia bawa menyusuri lorong rumah.
Pintu kamar Husna terbuka sedikit.
Haseena mengintip pelan.
Zafran ternyata tidak berada di kamarnya sendiri.
Ia duduk di lantai kamar Husna, bersandar di sisi ranjang sambil menatap sebuah bingkai foto.
Foto itu diambil bertahun-tahun lalu.
Husna yang saat itu masih duduk di bangku SMA memangku Zafran kecil sambil tertawa lepas. Rambut Zafran berantakan karena sengaja diacak oleh kakaknya. Di samping mereka berdiri Haseena yang masih mengenakan seragam SD dengan senyum paling lebar.
Foto itu penuh kebahagiaan.
Kebahagiaan yang kini hanya tinggal kenangan.
"Bang..."
Suara Haseena terdengar sangat pelan.
Zafran menoleh sekilas.
Ia tidak menjawab, tetapi tidak juga mengusir adiknya.
Haseena menganggap itu sebagai izin untuk masuk.
Ia meletakkan cangkir teh di samping Zafran, lalu ikut duduk di lantai.
Beberapa saat, keduanya hanya diam.
Tak ada yang berani memulai percakapan.
Hanya suara hujan yang mulai turun di luar rumah, memecah kesunyian malam.
"Aku boleh nanya sesuatu?" ucap Haseena hati-hati.
Zafran menganggukkan kepala pelan.
"Abang... sebenarnya ke mana selama tiga hari?"
Tatapan Zafran kembali jatuh pada foto di tangannya.
"Cari Kak Husna."
Jawabannya singkat.
"Apa... ketemu?"
Zafran menggeleng.
"Tapi aku nemuin jejak."
Haseena langsung menoleh.
"Jejak?"
"Bekas api unggun."
"Jejak sepatu."
"Potongan kain jaket."
Suara Zafran mulai lirih.
"Aku pikir itu punya Kak Husna."
"Lalu?" tanya Haseena hampir berbisik.
"Ternyata bukan."
Kalimat itu terasa begitu berat.
Seolah selama tiga hari, harapan Zafran dibangun hanya untuk dihancurkan kembali.
Haseena menggenggam kedua tangannya sendiri.
"Bang... kita belum nyerah."
"Kita pasti cari Kak Husna lagi."
Zafran tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Kalian?"
Haseena mengangguk.
"Iya."
"Kita keluarga."
Zafran menggeleng pelan.
"Kamu masih nggak ngerti, Seen."
"Maksud Abang?"
Zafran menghela napas panjang.
"Waktu Ibu sakit..."
"Aku nunggu."
"Aku pikir bakal ada yang nyusul aku."
"Tapi nggak ada."
"Bang..." suara Haseena mulai bergetar. "Aku juga kehilangan Ibu."
"Aku juga kehilangan Kak Husna."
"Aku nggak pernah berhenti mikirin Kakak."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Haseena.
"Setiap malam aku berdoa."
"Supaya Kak Husna pulang."
"Supaya Abang juga pulang."
"Aku nggak pernah milih siapa yang harus aku kehilangan."
Zafran memejamkan mata.
Untuk sesaat, wajah dinginnya runtuh.
Rasa bersalah itu muncul lagi.
Namun hanya sesaat.
Ia kembali memasang wajah datar.
"Sudahlah."
"Aku capek."
"Bang..."
"Tolong."
Suara Zafran tetap pelan.
Namun kali ini terdengar lebih menusuk.
"Aku pengen sendiri."
Haseena masih belum beranjak.
Ia menatap wajah abangnya yang kini terasa begitu asing.
Lelaki yang dulu selalu mengacak rambutnya setiap pulang sekolah...
Lelaki yang selalu membelanya ketika dimarahi teman...
Kini bahkan enggan menatap matanya lebih dari beberapa detik.
"Abang..."
Haseena tersenyum kecil, meski air matanya mulai jatuh.
"Ade kangen Abang yang dulu."
Kalimat itu membuat jemari Zafran yang memegang bingkai foto sedikit bergetar.
Namun ia tetap membelakangi Haseena.
"Pergi, Seen."
Haseena menggeleng pelan.
"Abang..."
"Aku bilang..."
Suara Zafran mulai meninggi.
"Pergi."
Haseena masih diam di tempat.
Tiba-tiba—
Brak!
Bingkai foto di tangan Zafran menghantam lantai.
Kaca pelindungnya pecah menjadi serpihan kecil.
"Aku bilang PERGI!"
Bentakan itu menggema memenuhi rumah.
Tubuh Haseena refleks bergetar.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Itu adalah pertama kalinya...
Abang yang selama ini selalu menjadi tempat paling aman baginya...
Membentaknya dengan tatapan penuh kebencian.
Di luar kamar, langkah kaki Rayyan kembali terdengar berlari menuju sumber suara.
Dan malam itu...
Haseena mulai menyadari satu hal.
Orang yang pulang tiga hari lalu memang bernama Zafran.
Tetapi sebagian dari dirinya...
Seolah tertinggal di suatu tempat yang tak pernah ia ketahui.