Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 17
" Hallo." Aldri memberi kode kepada artikel untuk menunggunya. Gadis itu mengangguk.
"Fiuh! Aduh jantung berhenti dong main drumbandnya! Capek tau. Malu-maluin aja nih jantung tidak bisa di kontrol." Antika menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tersentak ketika Aldri mengelus pundaknya. Wajah nya langsung mendongak.
" Sudah waktunya nonton. Kita lanjut ke bioskop."
"Eum." Antika mengangguk pelan.
Duh, Darling dengar nggak ya aku ngomong tadi. Ah, malu-maluin aja kamu Tika -Tika.
"Ayo sayang."
"Ah, iya." Karena terlalu gugup, Antika tersandung dan hampir jatuh. Aldri menangkap tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Aldri tampak khawatir. Pria itu memegang erat pinggang Antika.
Antika bersandar pada dada bidang suaminya. Gadis itu mendongak kann wajahnya. Ia dapat melihat jelas betapa tampan wajah suaminya.
"Tika." Aldri suara bariton aldri mengganggu lamunan Antika.
"Ah, iya aku nggak apa-apa, Darling."
"Syukur lah. Ayo kita pergi. Aku gandeng agar tidak jatuh lagi."
"Iya."
Kalau berlanjut terus di sini bisa-bisa otakku ngeres. Memang pantas disebut mesum kamu Aldri.
Aldri menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan perubahan drastis yang terjadi kepadanya.
"Rame banget."
"Iya, karena ini malam Minggu. Mau bagaimana lagi. Apa kita batalkan saja?"
"Jangan dong, sayang banget udah sampai juga. Nggak apa-apa, Darling. Aku malah seneng kalau rame. Kan seru aja."
"Baiklah. Aku pesan tiketnya dulu. Kamu duduk di sini sambil nunggu pesanan selesai." Antika mengangguk.
Antika memandang punggung suaminya yang berjalan menjauh ke tempat pembelian tiket masuk bioskop. Ia memperhatikan sekitar seakan ada rasa familiar. Apa mungkin dulu dirinya suka sekali keluar rumah? Antika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah dapat, sayang. Ayo kita masuk."
"Darling, kita mau nonton apa?"
" Film horor." dengan tegas dan cepat Aldri menjawab.
"Hah? Horor? Aduuuh, Darling. Kenapa harus horor sih? Kenapa nggak film romantis-romantis gitu?"
"Tidak apa-apa. Kata mbaknya film horornya sedang banyak diminati. Makanya, aku penasaran. Tidak apa-apa kalau kamu takut kan bisa tutup mata." Aldri tergelak lebar, tetapi Antika malah manyun.
"Terserah, Darling lah." Antika pasrah dan mengikuti suaminya memasuki ruangan.
Hampir semua kursi sudah terisi. Aldri membimbing langkah Antika. Gadis itu hampir tersandung ketika mendapati sepasang kekasih yang menyandarkan kepala di bahu kekasihnya.
"Hati - hati." Aldri memperingatkan dengan berbisik.
" I - iya maaf."
Antika sama sekali tidak habis pikir mengapa dirinya terheran ketika mendapati hal yang lumrah seperti itu. Meskipun zaman sudah edan ia ingin tetap berpikir positif. Mungkin saja mereka sama seperti dirinya. Kalau pun tidak hal itu bukanlah urusannya.
"Sini. Ayo duduk." Antika pun patuh.
Beberapa kali terdengar teriakan para penonton ketika layar lebar di depannya mempertontonkan adegan menyeramkan tak terkecuali Antika. Gadis itupun terhanyut dengan suasana di sekitarnya. Tanpa disadari ia pun turut serta meramaikan teriakan itu. Sesekali kedua tangannya menutupi wajah terutama matanya. Terkadang pula ia membenamkan wajahnya di balik bahu sang suami.
Aldri sangat menikmati momen ini. Bukan karena film yang mereka tonton, tetapi interaksinya bersama sang istri. Sejujurnya Aldri sengaja memilih film horor karena membayangkan apa yang akan terjadi. Sesuai ekspektasinya hal itu terjadi.
Kebiasaan Antika tidak berubah meskipun ingatannya menghilang. Sejak dulu gadis itu selalu takut melihat film horor maupun action. Gadis itu akan bersembunyi di balik selimut atau punggung Aldri. Namun, rasa penasaran tidak mampu mengalahkan rasa takutnya. Ia tetap ingin menonton hingga selesai. Meskipun akhirnya rasa takut itu akan membayanginya selama beberapa hari.
Aldri tergelak mengingat itu semua. Gadis yang ia cintai itu sungguh keras kepala. Namun baginya justru hal itulah yang membuatnya kagum.
"Hah, akhirnya habis. Tenggorokan ku sampai kering harus teriak-teriak nggak jelas." Aldri tersenyum.
"Aahhh, ini semua gara-gara Darling. Bisa , copot jantungku."
"Ya, sudah. Ayo kita keluar. Sudah waktunya pulang."
"Iya. Eum.... Darling aku kebelet, nih."
"Ya, sudah cepat ke toilet. Aku tunggu di pintu keluar."
"Tapi, aku takut gimana dong?"
"Lah, terus gimana? Apa kamu mau aku temani?".
"Mau - mau." Tanpa pikir panjang Antika menjawab.
Aldri terkejut mendengar pertanyaan candaannya dibalas persetujuan. "Tika, mana mungkin aku temani ke toilet wanita?"
"Nggak sampai masuk kok, di depan pintu aja, Darling. Please!!!"
Permohonan Antika tidak mampu ditolak Aldri. Ia pun pasrah menuruti keinginan Antika. Sungguh beruntung toilet tidak rame digunakan saat ini. Hanya ada satu dua orang yang memandanginya aneh mendapati seorang pria seolah antri di toilet wanita.
Aldri sama sekali tak memperdulikan tatapan itu. Apalagi tatapan penuh nafsu yang ditunjukkan kepadanya. Aldri memang terlihat sangat tampan malam ini. Tubuhnya atletis dan wajah yang rupawan menjadi topeng yang menyamarkan usianya yang lebih dari 40 tahun. Siapa akan menyangka bahwa dirinya telah matang sepenuhnya sebagai seorang pria.
Sentuhan lembut di bahu mengalihkan pandangan Aldri. "Sudah?"
"He'em. Tapi...."
"Kenapa?"
Antika mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya. Kakinya bercincin dan wajahnya mendekat ke telinga suaminya. Ia bermaksud membisikkan sesuatu, tetapi justru wajah Aldri menoleh ke arah Antika.
Dengan jarak yang begitu dekat membuat pandangan keduanya menjadi intens. Embusan nafas yang lembut menjadi tak teratur. Tanpa disadari tangan Aldri perlahan melingkar di pinggang langsing Antika. Aldri mendekatkan tubuh Antika kepadanya. detak jantung tak beraturan dapat mereka rasakan karena tubuh keduanya kini semakin menempel satu sama lain.
Aldri yang ragu-ragu mendekatkan hidung mancung nya kepada Antika. Kedua mata nya mencari jawaban Antika. Harus kah iya lanjutkan atau tidak. Aldri mendapati Antika tersenyum. Keberanian pun muncul dalam dirinya. Pria itu mendekatkan bibirnya tepat ketika memejamkan mata.
"Auw." Antika meringis merasakan sakit yang mendadak muncul.
"Tika. Kamu kenapa?" Aldri terkejut diserang rasa panik. Bukan nya dirinya berlebihan, tetapi Antika jarang sekali mengeluh sakit.
"Darling, sebenarnya aku mau bilang kalau aku tiba-tiba datang bulan. Bisa nggak kamu bantu belikan pembalut dan pereda nyeri? Maaf." Antika berbisik malu.
Uuuuh, dasar palang merah. Kenapa datang di saat yang gak tepat, sih? Seenggaknya tunggu sampai kami selesai berciuman bisa kan? Duh, mana sakit banget lagi.
"Jadi, kamu sakit karena sedang datang bulan? Syukur lah. Aku pikir kenapa. Baiklah tunggu di sini ya. Kamu benar tidak apa-apa ditinggal? Tidak takut?" Antika menggeleng pasrah. Rasa sakit yang ia rasakan lebih kuat dari rasa takutnya.
Aldri gegas pergi ke minimarket terdekat. Karena terburu-buru, iya lupa bertanya merek pembalut dan pereda nyeri yang Antika minta. Pria itu menelpon Antika, tetapi tak ada jawaban. Opsi lain ia memilih menelpon sang ibu.
Happy reading Kakak - Kakak Readers