NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:170.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Ditahan

Dari IGD, Amanda tidak langsung pulang. Dengan wajah masih pucat dan langkah yang belum sepenuhnya stabil, ia menuju kantor polisi terdekat dengan menggunakan ojek online. Di tangannya, map berisi hasil pemeriksaan dan surat visum dari dokter yang baru saja ia urus dengan bantuan petugas rumah sakit.

Pagi mulai beranjak siang, tapi pikirannya masih terasa berat. Begitu sampai di kantor polisi, Amanda sempat berhenti sejenak di depan pintu. Menarik napas dalam. Menguatkan diri. Lalu ia melangkah masuk.

Suasana di dalam tidak terlalu ramai. Seorang petugas yang berjaga di meja depan langsung menatapnya.

"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”

Amanda menelan ludah.

"Saya… mau membuat laporan.”

Petugas itu mengangguk, lalu mempersilahkannya duduk.

"Silakan, Mbak. Laporan apa?”

Amanda membuka map di tangannya, tangannya masih sedikit gemetar.

"Penganiayaan…”

Petugas itu langsung berubah lebih serius.

"Baik, Mbak. Bisa diceritakan kronologinya?”

Amanda menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Dari awal—dari kejadian di depan unit apartemennya, bagaimana Kamil datang, emosi, lalu memukuli Aldo tanpa bisa dihentikan.

Sesekali suaranya bergetar, tapi ia berusaha tetap jelas. Petugas mencatat dengan teliti.

"Nama pelaku?”

"Kamil Riza Mahendra”

"Korban?”

"Aliando Kelana Jaya”

"Hubungan dengan pelaku?”

Amanda terdiam sejenak.

"Dia… orang yang mengenal saya. Tapi bukan siapa-siapa.”

Petugas itu mengangguk, lalu meminta dokumen.

"Mbak ada bukti atau hasil visum?”

Amanda langsung menyerahkan map yang dibawanya.

Ini dari rumah sakit…”

Petugas membuka dan memeriksanya sekilas, lalu mengangguk puas.

"Baik, ini sangat membantu.”

Proses laporan berlangsung cukup lama. Amanda diminta membaca kembali berita acara, memastikan semua yang tertulis sesuai dengan yang ia sampaikan.

Tangannya sempat berhenti di atas kertas, membaca ulang kalimat demi kalimat. Seolah semua kejadian tadi pagi kembali terputar di kepalanya.

Lalu, perlahan, ia menandatangani.

Selesai.

Petugas itu menatapnya.

"Terima kasih, Mbak. Laporannya sudah kami terima. Untuk pelaku, tadi Mbak bilang masih di apartemen?”

"Iya… ditahan sama security.”

Petugas itu langsung berdiri.

"Baik. Kami akan segera tindak lanjuti.”

Beberapa anggota polisi langsung bergerak cepat. Ada yang menyiapkan berkas, ada yang bersiap berangkat.

Amanda hanya bisa duduk diam beberapa detik, memperhatikan semuanya. Cepat. Tegas. Tak lama, dua mobil polisi meluncur menuju apartemen Amanda.

Di pos security apartemen, Kamil masih berada di sana. Wajahnya tegang, emosinya belum sepenuhnya reda, tapi kini terlihat gelisah. Beberapa petugas keamanan berjaga, memastikan ia tidak pergi ke mana-mana.

Tak lama, suara mobil berhenti di depan.

Beberapa polisi turun dengan langkah tegas.

"Selamat pagi. Kami dari kepolisian,” ujar salah satu dari mereka.

Petugas security langsung mengangguk.

"Iya, Pak. Ini orangnya.”

Kamil menoleh, wajahnya berubah.

"Saudara Kamil?” tanya polisi itu.

"I… iya…” jawabnya, sedikit gugup.

"Kami menerima laporan penganiayaan. Saudara kami amankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

Wajah Kamil menegang.

"Pak, ini bisa dijelasin—”

"Silakan jelaskan nanti di kantor,” potong petugas dengan tegas.

Tanpa banyak perlawanan, Kamil akhirnya dibawa. Tangannya tidak diborgol, tapi pengawalan ketat membuatnya tak punya pilihan.

Beberapa penghuni apartemen yang tadi pagi menyaksikan kejadian itu kembali melihat dari kejauhan. Kali ini, tidak ada keributan.

Hanya diam.

Di kantor polisi, Amanda masih duduk di kursi yang sama ketika seorang petugas mendekat.

"Pelaku sudah kami amankan, Mbak.”

Amanda menatapnya, matanya perlahan berkaca-kaca.

Ada rasa lega…

tapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang belum sepenuhnya selesai. Namun setidaknya, hari ini…

dia tidak lagi diam.

***

Malam itu, rumah Pak Hasan tampak jauh lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Sejak siang, halaman sudah dipenuhi kursi-kursi plastik yang disusun rapi berbaris. Beberapa ibu-ibu tampak hilir mudik dari dapur ke ruang tengah, membawa nampan berisi gelas-gelas teh hangat dan piring kecil berisi kue. Aroma bawang goreng dan kuah kaldu dari dapur menyeruak.

Di sudut dapur, dua orang perempuan sibuk mengaduk panci besar, sementara yang lain membungkus nasi untuk dibagikan. Suara sendok beradu dengan panci, diselingi obrolan pelan penuh simpati.

"Ini hari terakhir ya… kasihan Pak Hasan…” bisik salah satu dari mereka.

Di ruang tamu, beberapa lelaki sudah mulai berdatangan. Mereka duduk bersila, berbincang pelan sambil sesekali melirik ke arah foto almarhumah Bu Aida yang terpajang di meja kecil, dihiasi bunga segar.

Hakim berdiri di teras, sesekali membantu mengangkat galon air dan menata sandal para tamu. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap berusaha tegar. Matanya sesekali menatap kosong, seperti masih belum benar-benar menerima kehilangan itu.

Baru saja ia hendak masuk ke dalam, ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya, menatap layar sebentar. Nama Kamil muncul. Keningnya langsung berkerut. Tanpa banyak pikir, ia menggeser tombol jawab dan menempelkan ponsel ke telinga.

"Halo...”

Suara di seberang terdengar berat, seperti tertahan.

"…Bang…”

Hakim langsung berdiri tegak. Nada itu tak biasa.

"Kamil? Kamu di mana?”

Hening beberapa detik, sebelum akhirnya suara itu kembali terdengar, lebih pelan.

"Aku… lagi di kantor polisi, Bang.”

Hakim langsung terdiam. Dadanya seakan dihantam sesuatu yang keras.

"Apa?” suaranya meninggi tanpa sadar.

"Ngapain kamu di sana?”

"…Aku ditahan.”

"Ditahan?” Hakim menurunkan nada suaranya, tapi justru terdengar lebih tajam. “Ditahan karena apa?”

Ada jeda. Napas di seberang terdengar tidak beraturan.

"…Penganiayaan.”

Seketika wajah Hakim berubah. Rahangnya mengeras. Tangannya yang memegang ponsel mencengkeram kuat.

"Penganiayaan?” ulangnya, hampir tak percaya. "Kamu… mukul orang?”

Tak ada jawaban.

Hakim mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan emosinya. Namun gagal.

"Apakah kamu tidak puas mempermalukan keluargamu, hah?!” bentaknya tertahan, tapi penuh amarah. “Ibu baru saja meninggal, Kamil! Baru beberapa hari! Dan kamu—”

Ia berhenti sejenak, napasnya memburu.

"Ceritakan sama aku, apa yang sebenarnya terjadi?”

Sunyi. Hanya terdengar suara napas Kamil di seberang. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan.

"Kamil!” suara Hakim kembali meninggi. “Aku tanya, kronologisnya gimana? Kamu mukul siapa? Kenapa?”

Tetap tidak ada jawaban.

Hakim mengepalkan tangannya. Amarah dan kecewa bercampur jadi satu, membuat dadanya terasa sesak.

"Kamu diam saja sekarang?” lanjutnya dengan nada tajam.

Di seberang, Kamil tetap bungkam.

Beberapa detik kemudian, tanpa peringatan—

Tut.

Telepon terputus.

Hakim menatap layar ponselnya, tak percaya. Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan emosi.

Di dalam rumah, suara orang-orang mulai melantunkan tahlil. Irama doa menggema pelan, menenangkan suasana yang seharusnya khusyuk.

Namun bagi Hakim, malam itu justru terasa semakin berat.

Satu kehilangan belum selesai ia terima… kini masalah baru kembali menghantam keluarganya.

Hakim masih berdiri di teras rumah, tapi kali ini langkahnya tampak semakin gelisah. Kakinya bolak-balik menyusuri lantai, sementara pikirannya terasa penuh sesak. Ia baru saja menutup telepon dari Kamil.

Percakapan itu singkat. Terlalu singkat, malah.

Akhirnya Hakim memanggil Iqbal lewat chat WhatsApp. Untung Iqbal membawa ponsel, hingga dia langsung keluar dengan cepat, setelah menerima chat Hakim. Wajah Iqbal sedikit panik melihat raut Hakim yang berubah tegang.

"Ada apa, Bang?”

Hakim menarik napas dalam, lalu mendekat. Suaranya diturunkan, tapi tetap terasa berat.

"Tadi Kamil nelpon aku…”

Iqbal langsung fokus. "Nelpon? Emang dia lagi di mana?”

Hakim mengusap wajahnya kasar, seperti mencoba meredam emosi yang mulai naik.

"Dia sekarang di kantor polisi.”

Iqbal terdiam seketika. “Apa?!”

"Iya…” Hakim mengangguk pelan. “Katanya dia terlibat masalah… penganiayaan.”

Kata itu terasa menggantung di udara.

Iqbal mengernyit. “Penganiayaan? Maksudnya dia yang dipukulin atau… dia yang mukul?”

Hakim menggeleng pelan, ekspresinya menunjukkan kalau dia sendiri tidak punya jawaban pasti.

"Itu dia masalahnya. Dia gak cerita jelas. Suaranya juga kayak lagi kacau. Cuma bilang kasus penganiayaan… terus sekarang dia ditahan buat dimintai keterangan.”

Iqbal menatap kakaknya, mencoba membaca situasi.

"Dia minta bantuan Bang?”

Hakim terdiam sejenak, lalu mengangguk.

"Gak secara langsung… tapi dari cara dia ngomong… aku tahu dia butuh kita.”

Suara lantunan doa dari dalam rumah kembali terdengar, kontras dengan suasana tegang di teras itu.

Iqbal melirik ke dalam, lalu kembali ke Hakim.

"Bang mau ke sana sekarang?”

Hakim menghela napas panjang, matanya menatap ke halaman kosong.

"Aku bingung, Bal…” suaranya melemah. “Ini malam terakhir tahlilan. Banyak orang di dalam… semua pada ngandelin aku.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.

"Tapi di sisi lain… Kamil lagi di kantor polisi. Entah dia salah atau gak, tapi dia sendirian di sana.”

Iqbal mengangguk pelan, mencoba memahami.

"Dan kita juga belum tahu sebenarnya kejadian apa,” lanjut Hakim. “Bisa jadi dia cuma kebawa emosi… atau malah ada hal lain yang lebih besar.”

Hening sejenak. Iqbal akhirnya angkat bicara, suaranya lebih tenang tapi tegas.

"Justru karena kita gak tahu, Bang… kita harus ke sana.”

Hakim menoleh.

Iqbal melanjutkan, “Kalau kita nunggu sampai tahlilan selesai, bisa jadi semuanya udah telat. Setidaknya kita datang dulu, denger langsung dari Kamil, baru kita tahu harus gimana.”

Hakim terdiam. Kata-kata itu masuk akal… tapi tetap terasa berat.

Iqbal menepuk pelan bahu kakaknya.

"Soal di sini… aku bisa bantu jelasin ke keluarga. Kita gak ninggalin, cuma ada urusan mendesak.”

"Tapi jangan bilang dulu ke papa, kasian dia, pasti kepikiran."

"Iya siap."

Akhirnya Hakim mengambil keputusan, yaitu nyamperin Kamil di kantor polisi. Hakim sadar—malam ini bukan cuma tentang kehilangan, tapi juga tentang memilih siapa yang harus segera dia jangkau.

1
Ma Em
Aku kira Raya menangis karena Kamil ternyata Raya menangis karena Allah sdh balas sakit hati dan keluarga nya yg dipermalukan sekarang karma itu nyata dan Kamil sdh menerima karmanya .
sunaryati jarum
Yang belum dapat karma Amanda,Ananda,Kamil sudah merasakan bagaimana dipermalukan.Andra dan Raya segera meried ,dan viral jadi pasangan harmonis,dan karir melejid tanpa meninggalkan rasa syukur
aku
mf nih serakah, si manda gk dpt karma jg kah? 😁 gedeg soalnya msh sombong 😁
Ester Natalia
wah bang andra uda panggil sayang🩷
Arieee
si Kamil gak sadar"🤧
Arieee
finally 🤧🤧🤧🤧🤧🤧
Lee Mba Young
Semoga viral lagi 🤣🔥. kluarga Kamil sdh nyakiti Raya Dan mereka sperti tak punya rasa bersalah kan. mereka ttp mndukung jln Kamil walau Salah. mkne gedek banget ma kluarga Kamil ternyata tak sebaik itu. iblis mereka. mkne dpt karma sekarang. semoga lambat laun bangkrut tu usaha kluarga Kamil biar gk sombong lagi.
Ma Em
Akhirnya Kamil dapat karmanya juga itulah balasan akibat sdh menyakiti dan mempermalukan Raya , Kamil juga merasakan sakit hati seperti yg Raya rasakan .
sunaryati jarum
Bagaimana Kamil, rasanya.Sudah hamil.kok penghiulu mau menikahkan
falea sezi
karma buat jalang amanda mana 😒 dan kamil gmna rasanya 🤣🤣
Nana Geulise
belum puas rasanya lihat keluarga kamil menderita./Panic/belum sebanding dengan penderitaan keluarga raya.walaupun raya sekarang sudah cukup bahagia tapi tetap aja kurang puas/Grin/
Lee Mba Young: bner banget blm puas, semoga viral lagi 🔥🔥
total 1 replies
Alma Putri
kamil otw gila nih 🤣🤣
Uyen Uyen
nah Kamil enak nggak dipermalukan enak kan
sunaryati jarum
Up banyak lagi Thoor
sunaryati jarum
Nah, sekarang tahu bagaimana rasanya dipermalukan di depan banyak orang.Itu belum seberapa kesakitan Raya, apalagi ayah Raya langsung meninggal,kau sampai sekarang tidak merasa bersalah.🤣🤣🤣🤭 kamu masuk jebakan Amanda.
Alma Putri
hahhhh puaasssssss makan tuh karma emang enak 🤣
falea sezi
satu kata buat kamil🤣 mamposssss
Ester Natalia
karma d bayar tunai
gmn para reader sahhhhhhh
aku
yuhuuuuuu ada yg lagi live gk disitu??? FYP nih 🤣🤣
Nana Geulise
SYUKUUURRR.../Facepalm//Facepalm//Facepalm/ biar kamil dan keluarga malu semalu malu ya..Biar kamil+keluarganya merasankan sakitnya keluarga Raya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!