Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Hari pertama kerja
Hari pertama Zevanna bekerja di kantor pusat Areksa tidak berjalan semenarik yang ia bayangkan di dalam imajinasinya. Sebagai karyawan baru divisi Pemasaran (Marketing), ia sengaja ditempatkan di lantai empat, jauh dari lantai paling atas tempat ruangan CEO berada.
Tapi dasar Areksa. Pria itu benar-benar mengawasi pergerakan Zevanna bagaikan elang.
Matahari baru saja bergeser tepat di atas kepala ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Belum sempat Zevanna membereskan berkas di mejanya untuk ikut makan siang ke kantin bersama rekan-rekan divisinya, ponsel di atas meja kerjanya mendadak bergetar hebat.
Satu pesan masuk dari nomor yang diberi nama "Pria Mesum":
Posisiku di ruangan. Naik sekarang, atau aku yang jemput ke kubikel kamu dalam 3 menit.
Zevanna menghela napas berat, menahan keinginan untuk melempar ponselnya ke dalam tong sampah.
"Duh, maaf ya, Maya... Sarah..." ujar Zevanna seraya tersenyum canggung pada dua rekan kerjanya. "Aku tiba-tiba dipanggil katering atas buat ngurus berkas antrean makan siang supervisor. Kalian duluan aja ke kantin, ya!"
Setelah berhasil lolos dari curiga rekan-rekannya, Zevanna menyelinap menuju lift khusus yang membutuhkan access card VIP. Begitu menempelkan kartu yang diam-diam diselipkan Areksa ke dalam tasnya tadi pagi, pintu lift terbuka dan membawanya meluncur mulus ke lantai teratas.
Cklek.
Zevanna mendorong pintu kayu jati tebal ruang CEO. Ruangan itu super luas, dingin oleh pendingin udara, dan bernuansa modern minimalis. Namun mata Zevanna langsung tertuju pada meja makan kecil di sudut ruangan yang sudah terhidang berbagai makanan lezat dari restoran bintang lima.
Areksa sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, melepas jas hitamnya dan melipat lengan kemeja putihnya hingga menyisakan lengan berotot yang menawan.
"Tepat waktu. Poin plus buat istriku," kekeh Areksa tanpa berpaling, seolah ia punya mata di belakang kepalanya.
"Kamu tuh bener-bener, ya! Aku hampir aja ketahuan sama anak-anak divisi!" gerutu Zevanna sambil menghentakkan kaki menuju meja makan. Ia langsung melempar tasnya ke kursi. "Lagian ngapain sih harus makan siang di sini? Aku kan mau baur sama temen-temen baru!"
Areksa melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Bukannya duduk di kursinya sendiri, Areksa malah langsung berdiri tepat di belakang kursi Zevanna, menunduk, dan menyandarkan dagunya di bahu Zevanna.
"Nggak boleh," bisik Areksa ringan. "Di kantin bawah banyak pria-pria jomblo yang matanya suka melirik sembarangan. Aku nggak mau ambil risiko."
"Pikiran kamu paranoid banget, deh!" Zevanna memutar kepalanya, membuat hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku tuh cuma mau makan bakso di kantin, Sa!"
"Di sini ada steak, ada sushi, ada sup iga. Kamu mau apa? Aku suapin," goda Areksa santai, sama sekali tak merasa bersalah. Tangannya melingkar santai di perut Zevanna, menarik wanita itu makin rapat ke dadanya.
"Bisa melepas dulu nggak? Aku mau makan!" Zevanna menepuk tangan tegap Areksa.
"Nggak mau. Bayaran buat makan siang bareng aku itu mahal, Zev," bisik Areksa dengan nada jahil yang sangat familiar.
Sebelum Zevanna sempat melancarkan protes kedua, Areksa sudah memiringkan wajahnya dan mendaratkan kecupan hangat tepat di pipi Zevanna, lalu merambat cepat ke sudut bibirnya.
"Areksa! Kebiasaan!" pangkas Zevanna dengan muka merona merah.
"Biar makin nafsu makan, Dear," kekeh Areksa puas. Pria itu akhirnya melepaskan pelukannya dan duduk di kursi sebelah Zevanna, lalu menyodorkan piring berisi potongan daging yang sudah ia potong rapi. "Nih, makan yang banyak. Kamu kelihatan makin kurus gara-gara mikirin saham kemarin."
Zevanna mencibir pelan, tapi tangannya tetap meraih garpu dan mengunyah daging itu. Sebal sih sebal, tapi masakan mahal memang tak pernah salah di lidahnya.
"Gimana hari pertama? Ada yang berani macam-macam atau godain kamu?" tanya Areksa serius, menatap wajah istrinya sambil menopang dagu dengan satu tangan.
"Nggak ada, Bos Besar. Semua orang sibuk sama kerjaan masing-masing," sahut Zevanna acuh tak acuh. "Lagian baju pilihan kamu ini bikin aku kelihatan kayak karung beras berjalan, mana ada yang mau lirik."
Areksa tertawa pelan, suara tawa berat yang selalu berhasil membuat jantung Zevanna berdesir aneh.
"Bagus kalau gitu. Karung beras paling cantik se-Indonesia cuma boleh diliat sama aku," ujar Areksa santai. Namun kemudian, raut wajahnya berubah sedikit dingin. "Tapi tadi aku liat laporan presensi, supervisor divisi kamu cowok, kan? Namanya Rendy?"
Zevanna menghentikan kunyahannya, menatap Areksa curiga. "Iya, Pak Rendy. Kenapa?"
"Nanti kalau dia kasih instruksi, tetapkan jarak minimal satu meter," sahut Areksa datar tanpa beban. "Kalau dia berani pegang pundak atau sok akrab sama kamu... bilang sama aku. Sorenya langsung aku pindahin dia ke cabang Papua."
Zevanna hampir saja tersedak daging yang sedang dikunyahnya. Ia melotot menatap suaminya. "Areksa! Kamu gila ya?! Pak Rendy itu udah punya istri dan anak dua!"
"Aku nggak peduli," jawab Areksa enteng sambil menyodorkan segelas air putih pada Zevanna. "Prinsip aku simpel: safety first buat aset paling berharga milik Areksa."
Zevanna menerima gelas itu, meminumnya cepat, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Menghadapi Areksa yang posesifnya sudah tingkat dewa memang butuh kesabaran ekstra ketimbang belajar teori akuntansi perusahaan.
"Terserah kamu deh, Sa... terserah!" gumam Zevanna pasrah, membuat Areksa tersenyum makin lebar dan kembali mendaratkan kecupan manja di pelipis istrinya.