NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Dosa Masa Lalu di Balik Kemudi

***

Gemuruh mesin Mercedes-Benz hitam berkapasitas silinder besar itu menderu halus, membelah aspal basah kawasan kota yang masih menyisakan genangan air sisa hujan malam.

Didalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfer yang tercipta terasa berlipat-lipat lebih mencekam ketimbang konfrontasi di lobi restoran beberapa menit lalu.

Kilatan lampu-lampu jalanan Jakarta yang menembus kaca jendela berputar lambat diatas permukaan dasbor, menciptakan ilusi yang menambah kesan dingin nan tegang.

Galen mencengkeram lingkar kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya lurus menghujam jalanan didepan, namun rahang tegasnya mengeras rapat, mengalirkan gelombang amarah yang siap meledak kapan saja.

Di sampingnya, Freya duduk dengan tubuh yang gemetar hebat akibat luapan emosi. Tas sekolahnya didekap erat di atas pangkuan, menjadi satu-satunya perisai rapuh untuk melindungi harga dirinya yang baru saja diinjak-injak didepan umum.

"Kak Galen benar-benar keterlaluan! Egois! Tidak punya perasaan!". Oceh Freya tanpa henti, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian kabin mobil. "Mau ditaruh di mana mukaku besok di sekolah, hah?! Rendy sudah bersikap sangat sopan dan baik kepada kakak, tapi kak Galen malah memperlakukannya seperti itu! Aku tidak enak pada Rendy! Dia tidak salah apa-apa, Kak!".

"Cukup, Freya”. Potong Galen, suaranya sangat rendah, berat, dan sarat akan ancaman berbahaya.

"Tidak! Aku tidak mau diam!". Sahut Freya dengan keras kepala, menolak untuk tunduk meskipun rasa takut di dalam hatinya mulai merembes keluar.

Gadis remaja itu memutar tubuhnya menghadap Galen, menatap profil samping wajah tampan sang duda dari balik remang cahaya jalanan.

“Kak Galen selalu saja begini! Merasa berkuasa, merasa bisa mengatur segalanya hanya karena kakak memegang kendali atas diriku! Rendy itu temanku! Kami hanya mengerjakan tugas kelompok! Apa yang salah dari tertawa bersama teman sendiri, hah?! Kenapa di mata otak kotor kak Galen segalanya terlihat menjijikkan?!”.

Ckiiiiitttt!

Ban mobil Mercedes-Benz hitam itu berdecit keras di atas aspal saat Galen menginjak pedal rem secara mendadak, menepikan kendaraan premium tersebut di bahu jalanan yang sepi dan remang-remang.

Sentakan hebat itu membuat tubuh Freya terdorong ke depan sebelum tertahan sabuk pengaman. Belum sempat Freya menghela napas, Galen sudah melepas sabuk pengamannya, memutar tubuhnya dan mencengkeram kedua sisi sandaran kursi Freya, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya di dalam ruang kabin yang sempit.

Aroma parfum maskulin yang pekat berpadu dengan kepulan hawa panas amarah langsung menerpa wajah Freya. Sepasang mata elang Galen menghujam lurus ke dalam manik mata Freya dengan kilat kebencian dan rasa posesif kegelapan yang mendalam.

"Kau mengkhawatirkan bocah ingusan itu di hadapanku, Freya?!". Desis Galen tepat di depan wajah Freya, setiap kata yang keluar dari bibir tipisnya terdengar seperti belati yang diasah tajam. "Kau merasa tidak enak padanya? Lalu bagaimana dengan saya?! Bagaimana dengan harga diri saya yang kau injak-injak saat kau tertawa murahan di sudut restoran itu bersama pria lain, hah?!”

"Aku tidak murahan! Berhenti menyebutku dengan kata menjijikkan itu, Kak Galen!". Teriak Freya tepat di depan wajah Galen, air mata kemarahan yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh melewati pipinya. "Aku tertawa karena Sella membuat lelucon! Bukan karena aku merayu Rendy! Kakak saja yang cemburu dan gila!".

"Cemburu?". Galen terkekeh sinis, sebuah tawa dingin tanpa riak kebahagiaan yang sanggup membuat bulu kuduk meremang.

Ia memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan, mengikis habis pasokan oksigen di antara mereka.

"Jangan terlalu tinggi menilai dirimu, Gadis Pembawa Sial. Saya tidak sudi cemburu pada parasit yang hidup menumpang di rumah saya. Yang saya rasakan adalah muak! Muak melihat pembangkanganmu yang terus-menerus menguji kesabaran saya!".

Kata 'Gadis Pembawa Sial' yang keluar dari bibir Galen seolah menghantam tepat di ulu hati Freya. Rasa sakitnya jauh lebih menyiksa ketimbang cengkeraman fisik apa pun.

Freya tahu persis ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara. Luka lama yang sengaja dipelihara oleh Galen selama satu tahun terakhir ini kembali dibuka tanpa ampun.

"Kenapa diam, hm?". Bisik Galen kejam, sudut bibirnya terangkat membentuk smirk sinis yang menyakitkan. "Kau tersindir? Atau kau baru ingat dosa apa yang sudah kau lakukan pada keluarga saya?".

Freya mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas tas sekolahnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian keras kepalanya untuk melawan tuduhan keji yang sudah ia telan selama setahun ini.

"Satu tahun, Kak... Sudah satu tahun Kak Elena meninggal, dan kak Galen masih saja mengungkit hal itu untuk menyudutkanku?! Aku sudah muak!".

"Dan saya tidak akan pernah berhenti mengungkitnya sampai kau sadar posisimu!". Bentak Galen, suaranya menggelegar memenuhi kabin mobil yang sempit, membuat Freya tersentak ketakutan.

Tatapan Galen berubah menjadi sangat kelam saat ingatan tentang mendiang istrinya kembali berputar di kepala.

“Andai saja hari itu kau tidak bertingkah manja... andai saja hari itu kau pulang naik kendaraan umum dan tidak membiarkan Elena pergi menjemputmu ke sekolah, kecelakaan maut itu tidak akan pernah terjadi! Elena tidak akan pernah mati di jalanan itu, Freya!".

"Itu kecelakaan, Kak! Kecelakaan!". Balas Freya dengan suara yang parau akibat tangis yang membuncah. Ia menatap Galen dengan pandangan terluka yang amat mendalam. "Tuhan yang mengatur takdir Kak Elena, bukan aku! Kak Elena berangkat menjemputku karena beliau tulus menyayangiku sebagai adiknya! Aku tidak pernah meminta atau memaksa beliau untuk datang hari itu! Kenapa kakak selalu melimpahkan seluruh kesalahan dan kedukaan padaku?!".

"Karena memang kau penyebabnya!". Rahang Galen mengetat begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang kaku.

Napasnya memburu, memikirkan bagaimana istrinya harus meregang nyawa dalam kecelakaan tragis tepat satu tahun yang lalu saat hendak menjemput gadis di hadapannya ini.

"Elena pergi karena kau. Jika kau tidak ada di dalam kehidupan kami, jika ayahmu tidak menitipkanmu di rumah kami dengan amanah sialan itu, Elena masih ada di sini, duduk di samping saya! Kau adalah pembawa sial, Freya Anindita! Kau merenggut kebahagiaan saya, dan sekarang kau pikir kau bisa hidup bebas, bersenang-senang, dan tertawa lepas dengan pria lain di luar sana sementara istri saya membusuk di dalam tanah?!".

Mendengar kata-kata yang teramat kejam dan tidak masuk akal itu, pertahanan mental Freya benar-benar runtuh, namun alih-alih pasrah ketakutan, rasa muak dan keras kepalanya justru membumbung tinggi melampaui batas ego dewasanya.

"Kalau begitu, usir aku, Kak!". Tantang Freya dengan suara melengking keras, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Galen yang mengerikan. "Jika aku memang pembawa sial bagi hidup kakak, kenapa tidak tendang saja aku dari rumah itu?! Serahkan seluruh aset dan perusahaan peninggalan almarhum Papaku yang sekarang dipegang oleh Papa kak Galen, lalu biarkan aku pergi! Biarkan aku hidup bebas tanpa harus melihat wajah kejam kak Galen setiap hari!”.

"Mengusirmu?". Galen tersenyum sinis, menatap Freya dengan pandangan merendahkan yang teramat pekat. Cengkeraman tangannya pada sandaran kursi semakin mengerat.

“Jangan bermimpi, Freya. Mati pun saya tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari jangkauan saya. Mengusirmu terlalu mudah. Kau harus tetap berada di sana, di bawah pengawasan saya, merasakan setiap detik rasa bersalah yang harus kau tanggung seumur hidupmu!".

"Gila! Kak Galen benar-benar sakit jiwa!". Maki Freya sembari mencoba mendorong dada bidang Galen yang terbalut kemeja navy seperti yang ia lakukan di toilet restoran tadi, berusaha menciptakan jarak dari intimidasi fisik pria itu.

Namun, kali ini Galen sudah bersiap. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, tangan kekar Galen langsung menangkap kedua pergelangan tangan Freya, mencengkeramnya erat dengan satu tangan, lalu menekannya ke bawah, mengunci pergerakan tangan mungil gadis itu di atas pangkuannya sendiri.

"Lepas! Sakit, Kak!". Rintih Freya sembari meronta-ronta, mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang terasa seperti dililit oleh borgol besi.

"Dengar baik-baik, Gadis Pembawa Sial," Bisik Galen, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang namun di dalamnya terkandung daya hancur yang luar biasa.

Pria tersebut merendahkan wajahnya tepat di dekat telinga Freya, menghembuskan napas panasnya yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Aset papamu, perusahaan keluargamu, bahkan seluruh raga dan jiwamu saat ini berada di dalam genggaman tangan saya. Kau tidak punya hak untuk menentukan jalan pulangmu sendiri. Mulai besok, tidak ada lagi tugas kelompok di luar rumah. Tidak ada lagi motor merah metalik yang menjemputmu di depan gerbang. Dan jika saya melihatmu berinteraksi lagi dengan bocah bernama Rendy itu... saya pastikan hidupnya di sekolah akan berubah menjadi neraka dalam satu malam”.

"Jangan bawa-bawa Rendy! Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!". Teriak Freya dengan sisa tenaganya, air matanya terus mengalir deras membasahi seragam sekolahnya.

"Dia menjadi berhubungan karena kau memberinya senyuman yang seharusnya tidak kau pamerkan di depan umum”. Sahut Galen dingin sembari melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Freya secara kasar.

Galen kembali memposisikan tubuh tegapnya menghadap ke depan kemudi. Ia merapikan sedikit kerah kemejanya yang kusut akibat pergerakan tadi, menarik napas panjang melalui hidungnya yang mancung untuk meredam sisa-sisa amarah yang masih bergejolak di dalam dadanya, lalu kembali menyalakan mesin mobil tersebut.

Mobil mewah itu kembali melaju membelah keheningan jalanan ibu kota yang basah dengan kecepatan tinggi, menuju ke arah sangkar emas yang menjadi tempat peristirahatan sekaligus penjara bagi seluruh kebebasan masa muda Freya Anindita.

Di kursi penumpang, Freya hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca, menyembunyikan tangisnya yang membisu di balik bayang-bayang kegelapan malam, menyadari bahwa rantai takdir milik sang duda telah mengikatnya terlalu kuat malam ini.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!