NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Interupsi di Tengah Malam.

***

Tetesan air dingin sisa mandi malam itu masih menyisakan rasa segar di permukaan kulit leher Freya.

Dengan mengenakan baju tidur satin berwarna putih gading yang longgar, ia melangkah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambut hitam lurusnya yang basah menggunakan selembar handuk kecil.

Rasa lelah setelah seharian memeras otak dan menghadapi emosional dari Galen perlahan-lahan mulai berkurang.

Freya berjalan mendekati ranjang miliknya, berniat untuk segera merebahkan tubuhnya yang letih dan menjemput mimpi.

Namun, tepat saat jemari lentiknya baru saja menyentuh tepian seprai, ponsel pintar yang ia letakkan di atas meja nakas mendadak bergetar hebat. Sebuah lampu LED hijau berkedip-kedip, menampilkan sebuah panggilan video masuk.

Nama yang tertera di layar membuat sudut bibir Freya secara refleks melengkung, membentuk seulas senyum manis yang teramat tulus.

Rendy Sebastian.

Tanpa membuang waktu atau berpikir panjang, Freya langsung menggeser tombol hijau di layar, mengangkat panggilan video tersebut.

Dalam hitungan detik, wajah tampan Rendy dengan potongan rambut yang sedikit berantakan khas anak rumahan langsung memenuhi layar ponselnya. Cowok itu tampak sedang bersandar di kepala ranjang kamarnya sendiri, mengenakan kaus oblong putih santai.

"Hei, belum tidur, Cantik?". Sapa Rendy, suara baritonnya terdengar begitu renyah dan penuh kehangatan masa muda yang akrab.

Freya terkekeh pelan, menyandarkan ponselnya pada tumpukan bantal agar posisinya pas, lalu duduk meringkuk memeluk lutut di atas kasur.

"Baru saja selesai mandi, Ren. Rambutku bahkan masih basah ini. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Katanya tadi mau langsung cetak draf artikel kelompok kita?".

"Sudah selesai aku cetak kok, tenang saja. Tugas kita aman terkendali di dalam tas". Rendy tertawa kecil, matanya menatap intens ke arah layar, memandangi wajah polos Freya yang tampak begitu memikat tanpa polesan make-up apa pun.

"Aku sengaja menelepon karena masih kepikiran kejadian di lobi restoran tadi, Frey. Kamu beneran tidak apa-apa, kan? Kakakmu itu... pembawaannya memang selalu menyeramkan seperti itu ya kalau di rumah?".

Mendengar pertanyaan Rendy, Freya sempat menahan napasnya sedetik. Memori tentang cengkeraman kasar di bahu jalan dan makian kejam di toilet restoran tadi sore sempat melintas di otaknya.

Namun, melihat binar mata Rendy yang dipenuhi rasa khawatir yang tulus, Freya memilih untuk mengubur rapat ketakutannya.

"Sudah kubilang kan di chat tadi, Ren, Kak Galen itu cuma sedang stres karena urusan kantor sedang banyak masalah. Jadi bawaannya kaku. Jangan dibahas lagi ah, bikin pusing". Protes Freya dengan wajah cemberut yang menggemaskan, mengalihkan pembicaraan.

Rendy yang peka langsung menangkap sinyal bahwa Freya tidak ingin membahas pria itu lagi. Dengan bakat alaminya yang selalu ceria, cowok jangkung itu pun mulai meluncurkan seribu cerita konyol untuk menghibur Freya.

Selama setengah jam lamanya, obrolan mereka mengalir begitu saja, dipenuhi oleh banyolan jahil Rendy tentang bagaimana ia hampir salah memakai seragam sekolah di pagi hari, hingga candaan tentang Sella yang hobi mengorok di kelas.

Suara tawa lepas yang teramat renyah, manis, dan merdu berkali-kali pecah dari bibir ranum Freya.

Gadis remaja itu tertawa begitu lepas tanpa beban, menyembunyikan wajah meronanya di balik bantal guling sesekali akibat gombalan dari Rendy. Kehangatan masa muda yang indah benar-benar sedang memeluk jiwanya malam ini.

Sementara itu, di koridor lantai dua yang sunyi dan remang-remang, daun pintu kamar utama yang bernuansa maskulin gelap perlahan terbuka.

Galen melangkah keluar dengan mengenakan kaus santai berwarna hitam dan celana kain senada. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berniat untuk turun ke lantai bawah guna mengambil segelas air dingin di dapur mewah mereka.

Namun, baru tiga langkah kakinya bergerak menyusuri lantai marmer, gerakan Galen seketika terkunci mati.

Telinga tajam milik sang duda itu mendadak menangkap sebuah gelombang suara yang sangat ia benci masuk berhamburan membelah kesunyian malam. Melalui celah udara dari pintu kamar Freya yang letaknya berdampingan dengan kamarnya, suara tawa lepas yang teramat renyah dan merdu terdengar begitu jelas.

Suara tawa Freya.

Detik itu juga, niat Galen untuk mengambil air minum menguap runtuh tanpa sisa. Darah di dalam tubuh kekarnya seketika mendidih sempurna dalam hitungan detik. Rahang tegas sang CEO muda mengetat begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang kaku.

“Sialan... Di rumahku sendiri, kau berani menantangku sejelas ini?”. Gertak Galen di dalam hati, napasnya memburu pendek penuh amarah yang meletup.

Ternyata seluruh makian kasar di toilet, cengkeraman fisik di bahu jalan, hingga ancaman tentang masa depan Rendy sama sekali tidak membuat Freya jera. Gadis pembawa Sial itu justru dengan lancang bersenang-senang dan bertukar tawa mesra dengan pria lain tepat di balik dinding kamarnya sendiri.

Dengan langkah kaki yang lebar, berat, dan penuh hentakan emosi gila, Galen memutar tubuhnya. Ia melangkah mendekati kamar Freya, lalu tanpa mengetuk atau memberikan tanda apa pun, tangan kekarnya langsung mendorong daun pintu yang kebetulan tidak dikunci itu dengan sekali hentakan kasar.

BRAK!

Pintu terbuka lebar, menghantam dinding kamar dan menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan.

Freya yang sedang tertawa lepas di atas ranjang seketika tersentak hebat. Tubuhnya melonjak kaget dengan sepasang mata bulat yang membelalak sempurna mendapati sosok monster berdarah dingin itu sudah berdiri tegak di ambang pintunya. Tawa cerianya langsung terputus kaku dalam sekejap mata.

"Matikan teleponnya sekarang". Perintah Galen. Suaranya yang teramat rendah—berat, dan dingin menggema memecah keheningan kamar dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan sekecil apa pun. Wajah tampannya yang dingin, memancarkan aura dominan predator yang siap meremukkan apa saja.

Rendy yang berada di balik layar ponsel pintar Freya sempat mendengar suara dentuman pintu dan bentakan kaku tersebut. "Frey? Ada apa?!". Tanya Rendy dengan nada panik dari balik pengeras suara ponsel.

Freya merasakan dadanya sesak menahan gelombang kemarahan yang luar biasa hebat. Ego keras kepala dan sifat pembangkangnya seketika bangkit meruntuhkan rasa takut yang sempat merayap di nadinya.

Ia menatap Galen dengan kilat kebencian yang mendalam, tidak terima wilayah pribadinya diintervensi secara kasar lagi.

"Kak Galen bener-bener gak punya sopan santun ya?! Lagi-lagi masuk ke kamarku tanpa izin!". Teriak Freya dengan nada ketus, menolak untuk terlihat sebagai gadis rapuh yang bisa diintimidasi dengan mudah.

"Saya bilang matikan, Freya Anindita. Jangan membuat saya harus merebut benda bodoh itu dari tanganmu". Desis Galen lambat-lambat, melangkah maju memangkas jarak hingga tubuh jangkungnya berdiri menjulang tepat di tepi tempat tidur Freya, menutup seluruh pasokan cahaya lampu kamar.

Melihat kegilaan posesif pria di hadapannya yang sudah tidak bisa dinalar oleh logika sehat, Freya menggeram kesal. Demi melindungi Rendy dari masalah yang lebih besar, Freya akhirnya terpaksa meraih ponselnya.

“Ren, maaf ya... aku matikan dulu teleponnya. Ada singa yang sedang ngamuk. Sampai ketemu besok”. Ucap Freya terburu-buru dan tersenyum, lalu langsung memutus sambungan panggilan video tersebut sebelum Rendy sempat membalas.

Klik.

Layar ponsel itu mati, menyisakan ketegangan yang teramat pekat di dalam kamar tidur yang temaram. Freya langsung melemparkan ponselnya ke atas kasur secara kasar, lalu berdiri tegak di atas ranjang yang empuk.

Tindakan itu membuat posisinya kini berdiri lebih tinggi, sejajar untuk menatap langsung wajah tampan Galen yang sedingin es batu.

"Puas, hah?! Apa maumu sebenarnya, Kak Galen?!". Pekik Freya, dadanya naik turun memburu akibat emosi yang meledak-ledak. "Kenapa kakak selalu mengganggu ketenanganku? Ini kamarku, ini waktuku, dan dengan siapa aku berbicara sama sekali bukan urusan kakak!".

"Bukan urusan saya?". Galen mendengus sinis, seulas senyum smirk yang teramat kejam terukir di bibir tipisnya. Ia memajukan tubuh tegapnya satu jengkal lebih dekat, mengunci pergerakan mata Freya dengan tatapan elangnya yang pekat akan dominasi kegelapan.

"Kau lupa sedang menumpang di rumah siapa malam ini, Anak Sialan? Setiap jengkal ruangan ini adalah milik keluarga saya! Dan kau... kau baru beberapa jam lepas dari cengkeraman saya di mobil, sudah kembali bertingkah murahan seperti pelacur kecil yang haus perhatian, merayu bocah ingusan itu lewat telepon di tengah malam?!".

"Jaga mulut kotor Kak Galen!". Bentak Freya keras kepala, wajah cantiknya memerah padam karena amarah yang membakar batinnya. Ia menunjuk wajah Galen dengan telunjuk mungilnya yang gemetar. "Hanya orang gila dan sakit jiwa seperti kakak yang menganggap obrolan tentang tugas kelompok sebagai tindakan merayu! Aku tidak murahan! Aku hanya berbicara dengan temanku! Kakak saja yang punya otak picik dan cemburu buta!".

"Cemburu?". Galen terkekeh dingin, seolah kata itu adalah lelucon paling sampah yang pernah ia dengar.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia menolak mengakui gejolak posesif gila yang mencengkeram dadanya melihat Freya tertawa lepas untuk pria lain.

Yang ia tahu, ia tidak akan pernah membiarkan gadis pembawa sial ini hidup bahagia setelah merenggut nyawa istrinya.

"Jangan terlalu tinggi menilai dirimu, Freya. Saya tidak akan pernah sudi cemburu pada parasit pembawa sial yang sudah menghancurkan hidup saya!" Desis Galen, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang teramat kejam dan menusuk batin Freya dengan nyata. "Tugasmu di rumah ini adalah membusuk di bawah rasa bersalah atas kematian Elena! Kau tidak berhak tertawa sebahagia itu! Setiap kali suara tawamu yang menjijikkan itu terdengar oleh telinga saya, yang saya rasakan hanyalah muak!".

"Kalau begitu usir aku! Biarkan aku pergi dari rumah ini!". Sahut Freya dengan keras kepala, menantang otoritas sang duda dengan keberanian yang membabi buta. "Jika kakak memang merasa muak melihatku, serahkan seluruh perusahaan dan aset almarhum Papaku yang dipegang oleh Papa kakak, lalu biarkan aku angkat kaki malam ini juga! Aku juga sudah muak melihat wajah monster kakak setiap hari!".

"Mengusirmu?". Galen maju selangkah lagi, menumpu kedua tangan kekarnya di atas kasur, membungkuk dan mengurung tubuh Freya sepenuhnya di bawah kungkungan dada bidangnya yang besar.

Hawa panas kemarahan dan aroma maskulinnya yang pekat langsung menguasai indra pendengaran Freya.

"Jangan pernah bermimpi untuk bisa bebas, Freya Anindita. Sampai kau mati pun, saya tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari jangkauan tangan saya! Kau akan tetap berada di sini, di bawah kaki saya, menerima setiap detik neraka yang akan terus saya tanamkan di kepalamu seumur hidupmu!".

"Gila! Kak Galen benar-benar sakit jiwa!". Maki Freya, mengumpulkan seluruh tenaganya dan langsung mendorong kuat dada bidang Galen demi menciptakan jarak, persis seperti perlawanan keras kepalanya di toilet restoran sore tadi.

Namun, Galen yang harga diri dewasanya sudah terlanjur tersulut, menolak untuk mundur setapak pun.

Pertarungan ego dan amarah di antara sang duda posesif dan gadis remaja yang pembangkang itu kian mengunci takdir kejam mereka di malam yang kian larut, tanpa ada satu pun yang mau mengalah di bawah kegelapan sangkar emas tersebut.

***

1
Alissia
gengsi amat bang kalau bilang suka🤭🤭
Giarty gia: duda satu ini pokoknya gengsi nya yang di gedein. 😄
total 1 replies
Giarty gia
hai... jangan lupa tinggalkan jejak ulasan dan bintang 🌟 nya ya guyss di kolom ulasan. supaya saya juga semangat update bab setiap hari. karena bab selanjutnya akan banyak kejutan. happy reading 🥰
Alissia
awas lo galen,jangan gengsi di gedein ayo nyatain pereasan dong 🤭🤭
Alissia
udah jatuh cinta sama freya tapi gengsi setinggi langit dan keras kepala 🤭🤭🤭
Giarty gia: Ahahaha ketahuan banget ya gengsinya setinggi langit! Freya deket sama Rendy udah ketar-ketir tuh si duda, cuma gengsi aja gak mau ngaku. Siap-siap liat si duda makin tersiksa sama perasaannya sendiri ya! 🤣 Dudanya lagi mode denial maksimal
total 1 replies
Giarty gia
Terima kasih banyak ya, teman-teman, sudah membaca kisah ini! Kalau cerita ini berhasil menghibur atau menyentuh hati kalian, yuk dukung author dengan memberikan ulasan terbaik dan rating bintang 5. Setiap dukungan dari teman-teman adalah energi luar biasa bagi saya untuk terus berkarya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!