NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga

​"Kenapa kau mengikutiku?"

​Alena mendadak berbalik, mengunci tatapan Pollux yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. "Aku sudah membayar empat cup mie-mu. Dan asal kau tahu, biarpun rasanya menggoyang lidah, mie instan itu racun kalau dikonsumsi berlebihan. Berhenti membuntutiku. Aku lelah, belum tidur sejak semalam."

​Alena bersedekap, mendongak menantang manik mata Lux. "Dan lagipula, apa kau tidak berniat meminta maaf atas kelancanganmu di bar semalam? Aku bahkan sudah bermurah hati memberi makan gratis saat masih kesal padamu. Jangan lupakan permintaan maafku yang tulus tadi."

​"Aku tidak merasa punya salah padamu," sahut Lux datar, lalu melangkah melewatinya.

​Grep.

​Cekalan tangan Alena di lengan Lux mendadak menghentikan langkah pria itu. Kuat dan tegas, sebuah kejutan dari balik fisik rampingnya.

​"Apa kau punya sindrom amnesia mendadak?" cecar Alena serius.

​"Sepertinya tidak."

​"Lalu kenapa kau bersikap seolah tidak mengenalku? Dan sebelum aku lupa, apa lututku melukai 'asetmu' semalam? Kau sudah memeriksanya ke dokter?"

​Merasakan cengkeraman Alena di lengannya, Lux mendadak teringat pada kembarannya. Ia jadi penasaran bagaimana hasil pemeriksaan organ vital Pax di rumah sakit pagi ini.

​"Aku belum memeriksanya," sahut Lux tenang. Ia kembali berjalan, lalu berbelok tepat di depan gerbang sebuah mansion megah bergaya klasik modern. Rumahnya sendiri.

​"Tunggu, kau mau ke mana?" Alena kembali menahan lengannya.

​"Masuk."

​"Untuk apa? Kau mau mengemis di rumah orang?"

​Lux nyaris tersedak air liurnya sendiri. Apa penampilannya pagi ini sewiraswasta gelandangan hingga Alena mengiranya seorang pengemis? Wanita ini benar-benar ratu dalam mengambil kesimpulan konyol.

​"Baiklah, kalau kau masih lapar, aku belikan mie cup lagi. Ayo," ajak Alena, bersiap menariknya menjauh.

​"Terima kasih tawaranmu, tapi aku bukan pengangguran. Aku harus bersiap kerja." Lux melangkah mantap memasuki pekarangan luasnya.

​Mata Alena membola sempurna, menatap bangunan megah di hadapannya sebelum beralih pada Lux. "Maksudmu... ini rumahmu?"

​Lux mengabaikannya, terus melangkah.

​"Ini sungguh rumahmu, Lux?" kejar Alena takjub. Mengingat tip ratusan dolar semalam, ia tahu pria ini kaya raya. Namun melihat penampilannya yang kacau beberapa menit lalu di supermarket, ia sempat mengira dugaannya keliru. "Wah, apa ini yang disebut jodoh?" pekiknya mendadak gembira.

​Lux menghentikan langkah, berbalik pelan.

"Jodoh? Aku tidak percaya takhayul seperti itu."

​Alena tertawa renyah, suara yang entah kenapa terdengar segar di telinga Lux. "Ternyata kau masuk barisan pria patah hati. Lupakan atmosfer surammu, ini kebetulan yang luar biasa. Beri aku waktu beberapa detik untuk memperkenalkan diri sebagai tetangga yang baik."

​"Tetangga?" Lux menukik sebelah alisnya.

​Alena mengangguk cepat, menunjuk sebuah rumah minimalis bercat putih bersih di sebelah mansion Lux. "Kau lihat bangunan yang tampak seperti sarang semut di samping istanamu itu? Itu rumahku. Aku baru tiga hari menempatinya. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang akur."

​Lux memperhatikan rumah baru tersebut. Ia tahu bangunan itu baru selesai, namun tidak menyangka wanita asing ini pemiliknya. Mengingat Alena membeli properti di kawasan elite ini, jelas dia bukan sekadar turis yang sedang berlibur. Lux hanya mengangguk pelan, tanpa minat.

​"Sebagai jiran yang baik, setidaknya ajak aku masuk untuk menikmati secangkir kopi," seloroh Alena, melenggang santai mendahului Lux menuju pintu utama.

​Anehnya, Lux tidak merasa muak dengan kelancangan mulut berisik wanita itu. Alena seolah punya sihir yang membuat orang di sekitarnya tunduk tanpa protes. Lux yang biasanya benci basa-basi dengan orang asing, kini justru mengekor di belakangnya, mengabaikan tatapan bingung dari sopir dan tukang kebunnya yang berdiri di ambang pintu.

​Mungkin karena dia sudah memberiku makan, batin Lux mencari alasan atas kelunakan sikapnya sendiri.

​Pintu terbuka. Lux melangkah masuk tanpa perlu mempersilakan tamunya, karena Alena sudah lebih dulu menjelajahi ruang tengah dengan tatapan menilai.

​"Wah, rumahmu besar sekali. Tapi kenapa terasa mati? Isinya tidak seindah tampak luarnya," komentar Alena blak-blakan.

​Sama seperti pernikahanku. Tidak seindah penampilannya, gumam Lux dalam hati.

​"Oh, My God..." Pekikan Alena memecah lamunan Lux. Wanita itu terpaku di bawah sebuah potret pernikahan megah yang masih bertengger di dinding. "Aku tidak tahu kau sudah menikah. Istrimu sangat cantik."

​"Dia sudah meninggal."

​Lux tersentak dengan ucapannya sendiri. Sejak kapan ia menjadi begitu terbuka dan rapuh di hadapan orang baru?

​Ekspresi Alena langsung berubah. Ia menangkupkan kedua tangan di dadanya dengan sorot mata penuh penyesalan yang tulus. "Astaga... aku turut berduka, Lux."

​"Bukankah kau ingin kopi?" Lux mengalihkan pembicaraan, melangkah menuju dapur bersih yang diikuti oleh Alena.

​"Beberapa bulan lalu, aku juga kehilangan orang yang sangat kucintai," ujar Alena pelan, menatap punggung Lux yang sedang menyeduh kopi. "Aku menangis berhari-hari. Tapi menangis tidak akan membuatnya kembali. Aku tahu rasanya kehilangan, Lux. Tapi kita tidak boleh membiarkan diri terkurung dalam kesepian yang menyesakkan."

​"Jadi kau meninggalkan negaramu dan datang kemari untuk mengobati luka?" tanya Lux tanpa menoleh.

​"Tidak. Aku kemari untuk mencari kebenaran."

​Suara Alena mendadak memberat, membuat Lux menoleh cepat dan mendapati gurat kemurungan yang pekat di wajah eksotis itu.

​"Kau masih berkabung untuknya?" tanya Lux.

​"Tentu saja. Aku sangat mencintainya. Bagaimana denganmu?"

​"Aku tidak berkabung. Sehari bagiku sudah cukup." Lux meletakkan cangkir kopi di hadapan Alena, lalu menarik kursi di sampingnya. "Cepat habiskan, aku harus segera bekerja."

​Alena mendecit. "Kau mulai menyebalkan lagi. Kau masih punya utang maaf padaku."

​"Jika kau masih menginginkan maaf itu, kenapa kau tidak terlihat marah? Bukankah semalam kau merasa dilecehkan?" Lux menatapnya tajam, penasaran mengapa wanita yang semalam menyerang kembarannya dengan beringas kini bisa bersikap sehangat ini padanya. Lux lupa, dia sedang mencari jawaban untuk tindakan Pax, bukan dirinya sendiri.

​"Tentu saja aku masih kesal!" Alena mendengus, lalu menyesap kopinya hingga tandas. "Tapi melihat caramu membelaku dari Kevin semalam, aku tahu kau pria yang baik. Kau hanya perlu mengurangi sedikit tabiat cabulmu itu. Karena kopiku sudah habis, aku permisi."

​Alena bangkit berdiri, berbalik menuju pintu. "Aku tidak akan mengucapkan terima kasih. Kopi ini kuanggap sebagai kompensasi permintaan maafmu."

​"Senang berkenalan denganmu," ucapan Lux menghentikan langkah Alena di ambang pintu. Wanita itu berbalik, mengulas senyum lebarnya yang khas.

​"Aku memang orang yang menyenangkan, percayalah," sahut Alena percaya diri.

​"Aku akan membuatnya meminta maaf padamu," gumam Lux dengan penekanan samar.

​"Hah? Apa?" Alena mengernyit bingung.

​"Sampai jumpa, Alena."

​Alena mengangguk, senyumnya kembali merekah. "Sampai jumpa, Lux. Jika kau butuh teman mengopi atau orang untuk membelikan mie instan, kau tahu harus mencari ke mana, bukan?"

​Alena melenggang pergi. Di dalam dapur yang kembali sunyi, Lux terkekeh renda, sebuah reaksi spontan yang bahkan membuat dirinya sendiri tidak percaya.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!