Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu menyukai nya?
"Sudahlah, tidak usah dibahas! Saya mau pulang. Kamu masih mau berdiri di sini?" tanya Reygan mengalihkan pembicaraan dengan wajah memerah, pura-pura sibuk merapikan lengan jasnya.
Shella menyunggingkan senyum kemenangan, menyilangkan tangan di depan dada. "Tidak, saya juga mau pulang kok."
Tepat saat itu, Amira melangkah mendekat dengan tas mungil di tangannya. Matanya membelalak kaget saat menyadari pria tinggi berjas rapi di samping Shella adalah atasannya sendiri.
"Oh... Pak Reygan? Selamat malam, Pak. Mau makan malam di sini juga ya?" tanya Amira polos.
"Ya," jawab Reygan singkat dan kaku, kembali memasang mode CEO kaku yang irit bicara.
Amira menoleh ke arah Shella dengan raut serba salah. "Mbak Shella, maaf ya... aku sepertinya ada urusan mendesak dengan Mas Antoni malam ini. Jadi tidak bisa pulang bareng Mbak."
Shella melambaikan tangannya santai. "Nggak apa-apa, Ami, santai saja. Hati-hati di jalan ya, jangan kemalaman!"
Setelah Amira berpamitan dan menghilang di balik pintu kaca restoran, suasana di antara Reygan dan Shella mendadak hening. Shella yang merasa ditatap intensif langsung memutar bola matanya malas.
"Mau apa lagi, Pak? Mau memarahi saya lagi di tempat umum? Mau melipat lengan baju terus membentak dan bilang saya ini 'asisten tidak berguna' lagi? Duh... Bapak itu ya, kalau lagi emosi mulutnya racun banget!"
"Kamu sendiri yang dulu bilang kalau saya bebas mengatakan apa pun sebagai atasanmu,"
"Oh... begitu? Ya sudah kalau begitu, selamat malam Tuan Besar!" seru Shella, langsung membalikkan badan dan melangkah pergi.
Greb.
Jemari Reygan yang hangat dan kokoh refleks terulur, menahan pergelangan tangan Shella secara tiba-tiba. Shella menghentikan langkahnya, menatap tautan tangan mereka lalu menatap wajah sang bos.
"Saya... minta maaf,"ucap Reygan jujur.Kalimat sederhana itu lolos begitu saja dari bibir seorang CEO angkuh yang hampir tidak pernah mengakui kesalahannya.
Shella menghela napas pelan, mencoba menarik tangannya dari genggaman Reygan. "Nggak usah pegang-pegang begini deh, Pak. Ini jalanan umum di depan restoran mewah," tegur Shella halus."Kalau ada jajaran direksi atau kenalan Mbak Gladis yang lihat, bisa panjang urusannya."
"Makanya, kita bicarakan baik-baik. Jangan main kabur begitu saja setiap kali saya mau bicara," balas Reygan perlahan melepaskan genggaman tangannya.
Shella mengusap pergelangan tangannya, lalu mengukir senyum tipis—senyuman tulus yang akhirnya kembali menghiasi wajahnya."Ya sudah, Pak. Saya maafkan," ujar Shella lembut."Tapi... Pak Reygan sudah baikan kan? Kepingan emosinya sudah terkumpul lagi?"
Reygan mendesah lega, mengangguk pelan. "Ya, semua masalah pekerjaan sudah selesai. Sabtu depan... acara pertunangan saya dan Gladis akan dilaksanakan. Kamu datang, kan?"
Senyuman di bibir Shella seketika memudar. Kata "pertunangan" dan "Sabtu depan" seolah menariknya kembali ke dalam kenyataan pahit.
Sekalipun Reygan mengundangnya secara resmi, pergi ke acara pertunangan itu adalah hal terakhir yang ingin Shella lakukan di dunia ini. Di sana sudah pasti akan hadir seluruh keluarga besarnya, termasuk Bramantyo dan Saskia—dua orang yang sangat ingin Shella hindari setengah mati saat ini.
"Kenapa diam?" tanya Reygan, mengamati perubahan raut wajah Shella.
Shella menggeleng pelan, menguasai dirinya kembali. "Saya tidak bisa datang, Pak."
"Alasannya?" cecar Reygan tidak puas.
Shella menarik napas dalam-dalam, lalu memasang wajah dramatis dengan mata yang dikedip-kedipkan memelas—kembali mengaktifkan topeng candaannya.
"Ya... di sana pasti ada Mas Bram, Pak! Dan saya mungkin bakal menangis sedih meraung-raung..." goda Shella dengan nada dibuat-buat. "Sedih... karena lelaki yang tadinya saya impikan untuk jadi masa depan, malah berakhir jadi pengantin dari kakak saya sendiri!"
"Awas ya kamu," ancam Reygan, melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah Shella. "Jangan sampai kata-kata bercandamu itu nanti bukan cuma sekadar gurauan... tapi malah jadi kenyataan."
Shella menaikkan satu alisnya. "Kenyataan? Kenyataan apa, Pak?"
"Kenyataan kalau kamu... sebenarnya memang beneran suka sama saya," tegas Reygan penuh percaya diri, menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Pfft!
Shella menahan tawa geli, mengibaskan tangannya di udara seolah mendengar lelucon paling absurd tahun ini.
"Aduh, Pak Reygan... Tolong ingat ya, umur saya ini sudah 28 tahun!" balas Shella tanpa ampun, menatap sang bos dari atas ke bawah."Di usia matang begini, kalau saya harus memilih pasangan hidup, jelas saya akan cari pria yang
ber-uang dan mapan! Nggak masalah kalau awal-awalnya nggak ada rasa cinta sekalipun, asal dia bisa menjamin masa depan saya dengan tenang... boleh banget lah!"
Shella terkekeh pelan, melambaikan tangannya lalu berjalan membelakangi Reygan untuk menyetop taksi yang melintas.
"Jadi... apa maksudmu bicara seperti itu?!" teriak Reygan dari belakang, suaranya sedikit meninggi menahan rasa penasaran.
Shella menghentikan langkahnya tepat di pintu taksi yang sudah terbuka. Ia memalingkan wajahnya sedikit, menyunggingkan senyum jahil yang menggemaskan. "Kalau suatu hari nanti kita ternyata benar-benar berjodoh, tidak masalah kok, Pak!" seru Shella bercanda dengan nada ceria.
"Toh, menikah dengan pria kaya raya seperti Bapak pasti bisa menjamin kehidupan saya seumur hidup!"
Tanpa menunggu balasan dari bosnya, Shella masuk ke dalam taksi kuning itu dan menutup pintunya rapat-rapat. Mobil itu perlahan melaju, menghilang di antara lalu lintas malam kota Jakarta.
Reygan berdiri mematung di pinggir jalan. Senyum tipis yang amat jarang terlihat mendadak mengembang di bibirnya. Tawa kecil yang renyah lolos begitu saja dari tenggorokannya saat membayangkan ucapan konyol asistennya barusan.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di saku jasnya kembali bergetar kencang. Reygan menghela napas panjang, merogoh ponselnya, lalu menggeser layar untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, Gladis..."
Dari seberang saluran, suara Gladis terdengar sangat bergetar—campuran antara emosi yang membakar dan rasa tidak percaya.
"Kamu benar-benar sengaja tidak mengangkat teleponku dari tadi, Rey?!" tuding Gladis tajam.
"Kamu lebih memilih mengabaikan aku hanya demi bersama adikku, iya?!"
Reygan berkerut dahi, mengusap pelipisnya yang mulai terasa berat kembali. "Kamu bicara apa sih, Gladis? Jangan mulai menuduh yang tidak-tidak—"
Klik.
Sambungan telepon mendadak dimatikan secara sepihak dari ujung sana.
Reygan mendengus kesal, hendak melangkah menuju mobilnya. Namun, sebelum kakinya sempat terayun, suara ketukan tumit sepatu high heels yang nyaring dan cepat terdengar dari arah sudut restoran.
Reygan membalikkan badannya. Gladis berdiri hanya beberapa meter di depannya. Wanita itu mengenakan gaun malam yang sangat anggun, namun raut wajah cantiknya kini tertutup oleh emosi yang sangat gelap. Matanya menyala-nyala menatap Reygan.
"Kamu di sini?" tanya Reygan terkejut."Sejak kapan kamu—"
"Sejak kamu datang ke restoran ini!" potong Gladis dengan nada melengking, menunjuk dada Reygan dengan jari telunjuknya yang bergetar.
"Gladis, kecilkan suaramu. Ini tempat umum," tegur Reygan.
"Kenapa?! Kamu malu?!" serca Gladis tanpa peduli lingkungan sekitar."Aku sudah di sini sejak kamu merendahkan gengsimu! Sejak kamu rela bersembunyi di balik pilar konyol itu hanya demi membuntuti asistenmu yang sedang double date dengan pria lain! Bisa kamu jelaskan padaku, Rey?! Ada apa denganmu?! Kamu sebenarnya suka sama Shella, kan?!"