32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Baskara benar-benar diam lama. Matanya tidak langsung menjawab. Tidak ada reaksi spontan seperti terkejut atau lega. Hanya tatapan yang lebih dalam, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak sederhana. Bukan tubuh Vivi yang ia lihat saat ini. Tapi keputusan yang ada di balik kata-kata itu. Baskara akhirnya bersandar sedikit, suaranya tetap datar ketika ia menjawab. “Kenapa kamu menganggap itu perlu diberitahukan sekarang?”
Vivi mengangkat kepala, sedikit terkejut. “Aku pikir… itu penting.”
Baskara menggeleng pelan, hampir tak terlihat. “Yang penting bukan apakah kamu bisa atau tidak punya anak.”
Kalimat itu membuat Vivi diam sejenak.
Baskara melanjutkan, lebih pelan dari sebelumnya, tapi tetap dingin. “Yang penting adalah kamu masuk ke rumah itu dengan sadar apa yang akan kamu hadapi.” Ia berhenti sebentar. “Anak-anak saya tidak butuh alasan baru untuk menolak seseorang.”
Vivi terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang mengendur sedikit, bukan lega, tapi juga bukan tenang sepenuhnya.
Baskara menatapnya lagi. “Dan aku,” ia berhenti sejenak, seperti enggan melanjutkan kalimat itu. “tidak sedang mencari istri untuk urusan seperti itu.”
Untuk pertama kalinya, Vivi menyadari sesuatu yang lebih rumit dari sekadar takut atau diterima, Pria di depannya tidak sedang menilai apakah ia “layak punya anak atau tidak”. Baskara bahkan seperti tidak lagi percaya bahwa pernikahan ini akan pernah menjadi sesuatu yang normal.
***
Setelah Baskara pergi, ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Bukan karena pendingin udara atau dinding yang tertutup rapat, tetapi karena sesuatu yang tertinggal di dalam kepala Vivi, percakapan yang belum selesai, tatapan yang sulit dibaca, dan kalimat-kalimat yang tidak memberikan pegangan apa pun.
Vivi masih duduk di kursinya. Beberapa menit berlalu tanpa ia benar-benar bergerak. Tangannya tetap di pangkuan, tapi pikirannya sudah jauh melayang, memutar ulang setiap detik pertemuan itu. Baskara tidak menolak. Juga tidak menerima. Ia hanya tidak menjadikan Vivi sebagai pusat dari keputusan itu. Seolah pernikahan ini bukan tentang dua orang yang saling memilih, tapi tentang dua orang yang sama-sama terseret oleh keadaan masing-masing.
Vivi menunduk pelan. “Aku ini sebenarnya sedang masuk ke apa?” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.
Bayangan wajah Baskara kembali muncul, dingin, jauh, masih tertahan di masa lalu yang tidak bisa disentuh siapa pun. Lalu bayangan lima anak itu, yang bahkan belum pernah ia lihat sepenuhnya, tapi sudah lebih dulu menolak kehadirannya. Dan dirinya sendiri. Seorang perempuan yang selama ini hidup dengan keyakinan bahwa ia tidak utuh.
Vivi menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak tawaran itu datang, pertanyaan itu tidak lagi terdengar seperti keputusan orang lain. Tapi benar-benar menjadi miliknya. “Pernikahan seperti apa yang akan kujalani ini?”
Ia menatap meja kosong di depannya, lalu melanjutkan dalam hati, lebih jujur dari sebelumnya. “Apakah ini akan jadi pilihan yang tepat?” Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang tidak memberi kepastian apa pun, seolah hidupnya sendiri sedang menunggu apakah ia berani melangkah, atau berhenti di titik ini dan kembali ke kehidupan yang selama ini sudah ia kenal, meski tidak pernah benar-benar membuatnya utuh.
***
Malam itu, Vivi sedang duduk di kamarnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bu Mega. Awalnya Vivi mengira itu hanya urusan yayasan. Mungkin tentang jadwal mengajar atau laporan administrasi yang tertunda. Namun begitu membaca isinya, dada Vivi langsung terasa sesak.
[Vivi, Ibu harap kamu sudah bisa memberikan jawaban besok. Kamu dan Baskara sudah bertemu. Kalau memang berjodoh, tidak perlu terlalu lama menunggu. Banyak hal yang harus kami persiapkan.]
Singkat. Sopan. Tetapi justru itulah yang membuat Vivi semakin tertekan. Karena di balik kalimat yang terdengar baik-baik saja itu, ia bisa merasakan desakan yang sangat jelas. Mereka menunggu jawabannya. Dan mereka ingin jawaban itu segera.
Vivi menatap layar ponselnya cukup lama. Belum sempat pikirannya tenang setelah bertemu Baskara, kini ia kembali dihadapkan pada keputusan yang harus dibuat secepat mungkin. Ia meletakkan ponsel di atas kasur lalu memijat pelipisnya. "Kenapa semuanya harus secepat ini?" gumamnya.
Beberapa hari lalu ia bahkan tidak pernah membayangkan akan menikah. Ya, Vivi sempat membuat keputusan mungkin ia tak akan menikah saja setelah berkali-kali gagal menjalin hubungan. Sekarang ia diminta menentukan masa depannya hanya dalam hitungan hari. Bahkan mungkin jam.
Vivi memejamkan mata. Pertemuannya dengan Baskara terlintas lagi. Pria itu tampan. Masih muda. Terlihat bertanggung jawab. Tetapi juga dingin. Dan jelas belum benar-benar melepaskan istrinya yang telah meninggal. Lalu ada lima anak yang belum pernah ia temui. Lima anak yang konon berhasil membuat tiga puluh dua calon ibu tiri menyerah.
Tiga puluh dua. Angka itu saja sudah cukup membuat siapa pun berpikir ulang.
Vivi bangkit lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Di luar, malam terasa tenang. Sangat berbeda dengan isi kepalanya. "Pernikahan kok rasanya seperti wawancara kerja." bisiknya pelan.
Ia tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak lucu. Karena memang seperti itulah rasanya. Semua berlangsung begitu cepat. Pertemuan. Pertimbangan. Keputusan. Seolah hidupnya sedang didorong oleh arus yang terlalu deras. Padahal ia tahu satu hal. Pernikahan bukanlah keputusan kecil. Pernikahan bukan kontrak setahun atau dua tahun. Bukan pula sesuatu yang bisa dibatalkan begitu saja ketika keadaan menjadi sulit. Pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup seseorang. Ibadah yang dijalani setiap hari. Setiap bangun tidur. Setiap makan bersama. Setiap kali menghadapi masalah. Setiap kali memilih bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Dan sekarang Ia diminta memutuskan semuanya hanya berdasarkan satu pertemuan. Satu pertemuan dengan seorang pria yang nyaris tidak ia kenal.
Vivi menatap langit malam di luar jendela. Lalu tanpa sadar berbisik, "Ya Allah... kalau memang ini jalan yang baik, mudahkan lah."
Suaranya begitu pelan. Hampir seperti doa yang malu-malu untuk keluar. Karena jauh di dalam hatinya, Vivi masih menyimpan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang terus datang setiap kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimana jika aku salah memilih? Dan yang lebih menakutkan lagi Bagaimana jika aku tidak benar-benar diberi kesempatan untuk memilih?
***
Pagi itu, Vivi bahkan belum sempat menikmati sarapannya dengan tenang. Semalaman ia sulit tidur. Pesan dari Bu Mega terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan wajah Baskara, lima anak yang belum pernah ia temui, dan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.
Ia baru saja menuang teh ke dalam cangkir ketika ibunya duduk di hadapannya. Tatapan wanita itu berbeda. Seolah sudah menunggu momen yang tepat untuk membahas sesuatu. "Jadi?" tanya ibunya.
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik