Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Undangan yang Berbahaya
Aluna memandangi foto lama itu cukup lama. Wanita yang menggendong bayi tersebut memiliki senyum yang hangat. Meskipun foto itu sudah mulai memudar, wajah wanita itu terlihat begitu cantik.
"Apakah ini benar-benar Ibu?" bisiknya pelan.
Tangannya bergetar ketika membalik kembali foto itu. Tulisan yang meminta dirinya datang seorang diri terus terbayang di pikirannya.
"Kalau ingin mengetahui kebenaran tentang ibumu, datanglah sendiri. Jangan bawa Arsen."
Aluna segera menyimpan foto itu sebelum Ratih melihatnya.
Ia tidak ingin neneknya kembali merasa cemas.
Saat sarapan, Ratih menyadari Aluna terlihat murung.
"Luna, semalam kamu tidak tidur nyenyak?"
Aluna memaksakan senyum.
"Tidak apa-apa, Nek. Mungkin hanya sedikit lelah."
Ratih mengangguk, meski ia merasa cucunya sedang menyembunyikan sesuatu.
Tak lama kemudian, Arsen datang bersama Rangga.
"Selamat pagi."
"Pagi, Nak Arsen," jawab Ratih ramah.
Arsen memperhatikan wajah Aluna.
"Kamu kelihatan pucat."
"Aku baik-baik saja."
Namun Arsen mengenal sorot mata Aluna. Gadis itu jelas sedang memikirkan sesuatu.
Sebelum pulang, Arsen berpesan kepada Rangga.
"Pastikan pengamanan tetap diperketat."
"Siap, Pak."
Sesampainya di sekolah, Aluna kembali mengeluarkan foto tersebut dari dalam tas. Ia memperhatikan setiap detail wajah wanita yang ada di dalamnya.
Tanpa disadari, Keisha berdiri di belakangnya.
"Itu foto siapa?"
Aluna terkejut dan langsung menutup foto itu.
"Bukan siapa-siapa."
Keisha menatap Aluna dengan curiga, tetapi tidak bertanya lagi.
Bel masuk berbunyi, membuat mereka kembali ke kelas masing-masing.
Sepanjang pelajaran, Aluna sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Bayangan tentang ibunya terus memenuhi pikirannya.
Sore harinya, Aluna akhirnya mengambil keputusan.
Ia tidak bisa terus menunggu.
Kalau benar ada seseorang yang mengetahui keberadaan ibunya, ia harus mencari tahu.
Sepulang sekolah, Aluna tidak langsung pulang.
Ia menuju alamat yang tertulis kecil di sudut belakang foto.
Sebuah gudang tua di pinggir kota.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, Aluna masuk ke dalam area gudang.
Tempat itu sangat sunyi.
Debu memenuhi lantai, sementara cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah atap yang rusak.
"Halo?" panggil Aluna pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah semakin ke dalam.
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan.
"Kamu benar-benar datang."
Aluna menoleh.
Seorang pria bertopi berdiri di balik salah satu tiang gudang.
"Siapa Anda?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Aku hanya seseorang yang ingin menunjukkan kebenaran."
"Di mana ibuku?"
"Buru-buru sekali."
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop.
"Di sini ada jawaban yang kamu cari."
Aluna melangkah mendekat.
Namun, saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, suara deru mobil terdengar dari luar gudang.
Pria bertopi langsung menoleh.
"Wah... tamu kita datang."
Beberapa mobil hitam berhenti di depan gudang.
Belasan pria berpakaian gelap turun sambil mengepung seluruh pintu keluar.
Pemimpin mereka tidak lain adalah Victor.
Victor tersenyum puas saat melihat Aluna.
"Akhirnya kau datang juga."
Wajah Aluna langsung pucat.
"Kau..."
Victor tertawa pelan.
"Terima kasih sudah datang tanpa Arsen."
Aluna baru menyadari bahwa surat dan foto itu hanyalah jebakan.
Ia berbalik hendak berlari, tetapi pintu belakang sudah ditutup oleh beberapa anak buah Victor.
Kini ia benar-benar terjebak.
Di saat yang sama, ponsel Arsen berdering.
Rangga berbicara dengan suara panik.
"Pak!"
"Ada apa?"
"Nona Aluna tidak ada di rumah... dan sinyal ponselnya terakhir terlacak di sebuah gudang tua!"
Wajah Arsen berubah tegang.
Tanpa membuang waktu, ia langsung mengambil kunci mobil.
"Rangga, kumpulkan semua orang!"
"Kalau terjadi sesuatu pada Aluna..."
Arsen mengepalkan tangannya.
"...aku tidak akan membiarkan Victor lolos kali ini."
Sementara itu, di dalam gudang, Victor melangkah semakin dekat ke arah Aluna.
Senyumnya semakin lebar.
"Permainan sudah selesai, Aluna."
Namun, Victor tidak menyadari bahwa langkahnya kali ini justru akan menjadi awal dari terbongkarnya rahasia terbesar yang selama delapan belas tahun ia sembunyikan.