"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Interogasi Sang Mayor
Gadis itu mendengus kecil, mengingat kejadian satu jam yang lalu. Tepat jam tiga sore, saat mereka baru saja memesan minuman dan mulai membuka laptop, sebuah pesan singkat nan kaku dari nomor Satria masuk ke ponselnya. Isinya sangat singkat dan padat: 'Sudah sampai di mana?'. Saat itu Keisha hanya membalasnya dengan cuek: 'Udah di kafe, Kak. Aman, enggak pakai nyusruk got lagi kok.'
Keisha mengira rentetan interogasi itu sudah berakhir di sana. Namun ternyata dia salah besar. Jam baru menunjukkan pukul empat sore, dan sebuah pesan baru kembali masuk dari nomor yang sama.
Keisha meraih ponselnya, membuka ruang obrolan, dan membaca baris kalimat yang tertulis di sana dengan saksama.
Kak Satria: Kirim foto keadaan kamu di sana sekarang. PAP. Ibu yang bertanya, khawatir kamu menyimpang ke tempat lain.
Membaca pesan tersebut, Keisha langsung garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Matanya mengerjap-ngerjap heran melihat kombinasi kata-kata yang dikirimkan kakak iparnya. Kirim PAP? Dengan alasan Ibu nanya?
"Kenapa, Kei? Kok muka kamu kusut gitu kayak belum disetrika?" tanya Yeyen yang menyadari perubahan ekspresi wajah Keisha.
"Ini loh ... Kakak ipar aku," gerutu Keisha setengah berbisik agar tidak terlalu menarik perhatian. "Aneh banget tahu enggak sih. Jam tiga tadi udah nanya posisi, sekarang jam empat malah minta PAP. Katanya Ibu khawatir aku nyangkut di tempat lain. Helooo, aku kan udah gede, bukan anak TK yang kalau lepas dari pandangan langsung hilang diculik!"
Hilma langsung tertawa kecil mendengar keluhan Keisha. "Wah, protektif banget ya kakak ipar Mayor kamu itu. Mungkin efek insting tentara, Kei. Segalanya harus serba terpantau dan terlapor sesuai komando."
"Komando-komando ... dikira aku lagi latihan baris-berbaris apa," omel Keisha absurd, bibirnya mengerucut sebal.
Meskipun dalam hati menggerutu dan merasa sikap Satria sangat berlebihan, Keisha tetap tidak berani membantah. Dia tahu betul bagaimana watak kakak iparnya jika perintahnya diabaikan—dinginnya bisa berhari-hari. Dengan malas, Keisha mengaktifkan kamera depan ponselnya.
"Eh, semuanya, geser dikit dong! Sini, foto bareng bentar. Mau laporan ke markas besar nih, biar enggak dicariin," ajak Keisha sambil merentangkan tangan kanannya tinggi-tinggi untuk mengambil sudut foto yang pas.
"Ayo, ayo! Pasang muka paling rajin biar dikira benar-benar belajar!" seru Yeyen bersemangat, langsung merapat di sebelah kanan Keisha sambil berpose dua jari.
Hilma ikut bergeser di belakang mereka sambil tersenyum manis ke arah kamera. Sementara Rendra, yang posisinya berada di sebelah kiri, secara refleks memiringkan tubuhnya mendekat ke arah Keisha agar bisa masuk ke dalam bingkai foto. Wajah Rendra tampak tersenyum lebar tepat di samping wajah Keisha, dengan latar belakang meja kafe yang dipenuhi buku tugas kuliah.
Cekrek!
Satu foto bersama berhasil diambil. Tanpa memeriksa ulang atau memberikan filter kecantikan, Keisha langsung mengirimkan foto tersebut ke nomor Satria. Setelah memastikan tanda centang dua berubah menjadi biru, Keisha langsung melempar ponselnya kembali ke atas meja dan kembali fokus pada draf tugasnya.
"Dah, kelar tugas negara. Ayo lanjut lagi, tadi sampai mana kita?" ujar Keisha dengan sifat cueknya, mengabaikan getaran kecil yang sempat singgah di hatinya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari kafe, suasana di ruang tengah rumah keluarga Ayah Farrel jauh lebih tenang. Embusan pendingin ruangan membuat udara terasa sejuk. Di atas karpet bulu yang tebal, Rafka sedang asyik menyusun balok-balok mainan menjadi sebuah benteng pertahanan yang megah.
Satria duduk bersila di sebelah anaknya. Laptopnya sudah ditutup dan diletakkan di atas meja kaca. Di tangannya, sebuah ponsel pintar sedang digenggam. Bunyi notifikasi masuk terdengar, disusul dengan munculnya sebuah gambar di ruang obrolan WhatsApp bersama adik iparnya.
Satria membuka foto kiriman Keisha. Detik itu juga, matanya yang hitam pekat langsung memicing tajam. Wajahnya yang semula datar kini tampak semakin mengeras, memancarkan aura dingin yang seolah mampu membekukan ruangan seketika.
Fokus mata Satria bukan tertuju pada sosok Keisha yang tampak segar, bukan pula pada kedua teman perempuannya. Tatapan tajam sang Mayor mengunci penuh pada sosok Rendra yang duduk sangat dekat di sebelah Keisha, tersenyum lebar dengan bahu yang hampir bersentuhan dengan bahu adik iparnya itu. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dada Satria, sebuah perasaan asing yang selama lima tahun ini tidak pernah dia rasakan lagi. Rahangnya mengetat samar, tangannya mencengkeram pinggiran ponsel sedikit lebih erat.
"Papa, benteng Rafka sudah jadi!" seru Rafka dengan riang, menepuk tangannya sendiri.
Karena tidak ada respons dari sang ayah, bocah lima tahun itu memiringkan kepalanya bingung. Dia melihat ayahnya hanya diam menatap layar ponsel dengan ekspresi yang menyeramkan. Rasa penasaran khas anak-anak membuat Rafka langsung bangkit berdiri dan bersandar di bahu tegap Satria, ikut mengintip ke arah layar ponsel yang masih menyala.
"Wah, itu foto Tante Kei, ya, Pa?" tanya Rafka, jari mungilnya menunjuk ke arah layar. Matanya yang bulat memperhatikan foto Keisha bersama teman-temannya.
Rafka terdiam sejenak, mengamati sosok pria yang duduk di sebelah bibinya dalam foto tersebut. Dengan kepolosan anak kecil yang tanpa filter, Rafka tiba-tiba mengeluarkan celetukan yang sukses membuat suasana di tempat itu semakin beku.
"Tante Kei lagi jalan sama pacarnya ya, Pa? Itu Om yang tadi siang jemput pakai motor, kan? Cocok ya, Pa, Tante Kei senyumnya banyak banget kalau sama Om itu."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut anaknya, Satria langsung terdiam. Jantungnya terasa seperti dihantam sesuatu yang tak kasat mata. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Satria langsung menekan tombol *power*, mematikan layar ponselnya hingga menjadi hitam pekat, lalu meletakkannya dengan posisi terbalik di atas karpet.
Ekspresi dinginnya kembali terpasang sempurna, rapi seolah tidak terjadi apa-apa di dalam kepalanya.
Satria menoleh ke arah Rafka, lalu mengusap rambut anaknya dengan gerakan pelan yang kaku. "Jangan bicara sembarangan, Rafka. Tante Kei sedang belajar untuk tugas kuliahnya."
"Oh ... dikira Rafka itu pacarnya Tante Kei," sahut Rafka sambil mengerucutkan bibirnya, lalu kembali duduk di depan benteng mainannya. "Pa, ayo lanjut main lagi! Sekarang giliran robot Papa yang menyerang benteng Rafka!"
"Baik," jawab Satria pendek.
Pria itu mengambil sebuah robot mainan dari lantai, mencoba mengalihkan seluruh fokus dan pikirannya untuk menemani sang anak bermain. Namun, meski tangannya bergerak mengikuti permainan Rafka, tatapan matanya yang dingin sesekali masih melirik ke arah ponsel yang tergeletak bisu di atas karpet.
Bersambung...
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹