Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uji Coba
"Jauh-jauh sana," usir Callie pada Ricko yang berjalan di sampingnya.
Sejak Callie tahu bahwa Ricko adalah penguasa dunia bawah, dia seperti ingin menjauh. Dia tidak mau berurusan secara langsung dengan Ricko yang bisa saja sedang menyelidiki identitasnya. Namun perusahaan sudah terlanjur tandatangan kontrak dengan Ricko. Bahkan uji coba produk robot kali ini juga harus dihadiri oleh Callie langsung. Reska sebagai asisten tidak paham dengan sistem dari robot tersebut sehingga harus Callie sendiri yang turun tangan. Lapangan belakang perusahaan menjadi saksi bagaimana Callie terus mengusir Ricko agar tidak dekat-dekat dengannya.
"Sejak kapan pemimpin perusahaan mengusir clientnya untuk dekat-dekat? Kita itu partner diskusi agar produk berkembang dan semakin laris. Masa nanti mau diskusi harus teriak-teriak dulu kalau jaraknya jauh," ucap Ricko dengan sindirannya. Padahal dia berjalan di samping Callie juga tidak ada niatan yang buruk.
"Sejak hari ini. Soalnya aku suka alergi sama cowok yang cuma ngelihatin doang waktu ada cewek lagi diserang orang," ucap Callie dengan ucapan menohok. Mengingatkan Ricko tentang kejadian kemarin yang dirinya dikepung oleh orang.
Ricko menghela nafasnya kasar mendengar ucapan Callie. Padahal dia sudah memberi alasan mengapa tidak turun terlebih dahulu. "Buktinya kamu baik-baik saja. Bukan kah itu sekalian uji coba robot cacingmu?"
"Cicak, Tuan Ricko. Bukan cacing. Masa gitu aja nggak bisa membedakannya sih," seru Callie tak terima.
"Itu aja bentuknya cacing kok. Kamu saja yang aneh kasih namanya cicak," Ricko menyindir Callie yang memberi nama tidak sesuai dengan bentuknya.
"Mereka berdua lagi ributin apa sih, Tuan Ben? Permen atau balon?" bisik Reska pada Ben yang berjalan di belakang keduanya.
"Ributin harga plastik yang lagi naik, Tuan Reska." jawab Ben dengan raut wajah datarnya.
Pffft...
Reska menahan tawanya mendengar ucapan dari Ben. Apalagi melihat wajah datarnya itu, sangat tidak cocok saat melontarkan kalimat candaan. Berbeda jika itu yang mengucapkan Reska, pasti suasana langsung mencair. Lagi pula keduanya merasa aneh dengan interaksi dari Callie dan Ricko. Mereka bukan lagi seperti sesama client yang tengah berdiskusi tentang pekerjaan. Melainkan berdebat hal yang tidak penting.
"Aku bilang itu cicak ya," seru Callie sambil berkacak pinggang.
"Cacing, bocil gemblung. Ngeyel banget sih jadi bocah," seru Ricko membuat Callie membulatkan matanya. Ben pun menatap aneh pada atasannya itu yang biasanya tak pernah mau berdebat hal tidak penting. Namun sekarang malah meladeni ucapan yang tak perlu diperdebatkan.
"Aku udah enggak bocil. Aku udah SMA," Seruan Callie itu membuat Ricko terdiam. Callie masih anak SMA?
"Kamu masih SMA? Belum lulus kuliah?" tanya Ricko dengan tatapan penasarannya. Dia pikir Callie sudah lulus kuliah walaupun terlihat baby face.
Callie menganggukkan kepalanya kemudian membuka kotak yang dibawa oleh Reska. Dia meletakkan robot "cicak" yang dibuatnya. Walaupun memang bentuknya bukan seperti cicak, melainkan cacing. Sedangkan Ricko masih shock dan tak percaya bahwa pemimpin perusahaan PT Juchi Tech masih anak SMA. Namun bisa membuat robot buatannya sendiri. Ben yang berada di belakangnya pun cukup terkejut mendengar fakta ini.
"Kenapa? Kaget? Maklum lah, walaupun anak SMA gini aku tuh pintar. Udah ngerti buat robot, senjata, dan duit." Callie membanggakan dirinya sendiri dengan nada sombongnya.
"Callie ini memang masih SMA, usianya 15 tahun. Baru aja beberapa hari yang lalu selesai MPLS," ucap Reska menjelaskan pada Ben dan Ricko.
"Tuan Ricko, kalau anda sedang jalan dengan Nona Callie udah kaya jalan sama anaknya." bisik Ben membuat Ricko memelototkan ke arah asistennya itu.
"Siapa juga yang suka sama dia, Ben?" seru Ricko membuat Callie dan Reska langsung menatap keduanya.
Suka sama siapa, Tuan Ricko?
Sama kuda lumping, Tuan Reska.
Ha?
Reska tampak bingung harus menjawab apa. Sangat aneh dan tidak nyambung bagi Reska. Suka dengan kuda lumping? Namun ini Ricko menyebut kata "dia" yang merujuk untuk panggilan seseorang. Tapi biar lah, itu bukan urusannya. Callie pun segera memperlihatkan cara kerja dari robot cicak yang dimilikinya. Bahkan robot ini bisa diubah bentuknya menjadi seperti ular.
"Coba Tuan Ricko lemparkan ini di depan si cicak," Callie memberikan batu pada Ricko untuk melemparkan di depan robot.
Wush...
Haaaaaa...
Gila...
"Bisa melayang gitu?" seru Ben saat melihat batu yang tadi dilempar oleh Ricko melayang dan terkepung api.
"Ya. Coba aja kalau manusia yang dilemparkan ke situ," ucap Callie yang langsung mematikan sistem pada robot buatannya. Batunya pun jatuh dan api langsung hilang. Ricko pun menganggukkan kepalanya, ada rasa puas dalam hatinya. Robot sekecil itu tapi efeknya begitu besar jika digunakan.
"Tuan Ben mau coba untuk yang pertama kalinya?" lanjutnya menawarkan pada Ben.
"Tidak, terimakasih."
Ben langsung menolak apa yang ditawarkan oleh Callie. Ben dan Ricko sudah puas dengan produk robot yang akan diluncurkan kali ini. Beberapa kali mereka uji coba dengan ikan dan batu bata, hasilnya sama. Tidak perlu dicoba dengan manusia. Biar lah nanti jika produk itu laku, mereka bisa menggunakannya untuk manusia-manusia serakah. Ricko dan Ben yang nanti akan mengatur strategi bagaimana pemasarannya di luar negeri. Pasalnya peminat dari robot seperti ini kebanyakan adalah pemimpin dunia bawah dan pebisnis luar negeri. Sedangkan di negara ini, regulasinya begitu rumit sehingga pebisnis memilih mundur.
"Selesai dan saya puas dengan hasilnya,"
"Kalau anda berkenan, bisa ikut makan bersama dengan kami." ucap Ricko dengan tatapan datarnya menawarkan makan siang bersama pada Callie dan Reska setelah kegiatan hari ini selesai.
"Gratis kan? Kalau bayar, sorry aja ya. Masa cewek diajak cowok makan disuruh bayar sendiri," seru Callie yang langsung mengajukan diri untuk ditraktir.
"Iya, saya yang bayar. Silahkan tunjuk saja salah satu restorant di sini. Saya tidak tahu restorant yang enak itu dimana," ucap Ricko dengan santainya.
"Oke. Ayo, Kak Reska. Ajak saja mereka ke taman dekat kantor," seru Callie membuat Reska menepuk dahinya pelan.
Mau ngrampok ini bocah,
Reska pun membawa Callie, Ricko, dan Ben untuk satu mobil bersama. Tingkah Callie selama perjalanan benar-benar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan. Callie terus menempelkan pipinya pada kaca mobil dengan tatapan berbinar cerah. Dalam hatinya, dia akan mendapatkan banyak makanan. Sedangkan Ricko, sedari tadi terus melihat tingkah Callie yang sangat berbeda dengan saat sedang bekerja.
"Jangan ngelihatin Callie terus, Tuan Rickodok." sindir Callie tiba-tiba membuat Ricko terkejut.
"Saya punya mata. Lagian saya cuma memastikan itu kursi nanti rusak nggak kalau yang duduk sedari tadi tidak bisa diam," ucap Ricko membuat Callie memelototkan matanya.
"Nga..."
Cittt...
Brakkk...
Dor... Dor...