NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Arka membasuh wajah di toilet sambil mengutuk dirinya sendiri.

"Tenang," gumamnya sambil menekan hidung dengan tisu.

Saat ia kembali ke aula, pelelangan batu pertama sudah selesai. Rangga memenangkan batu itu dengan harga Rp3 miliar dan tampak sangat bangga. Ia bahkan meminta batu itu langsung dibelah di tempat, seolah ingin menunjukkan kepada Bianca bahwa ia masih punya dua master hebat.

Mesin pemotong menyala. Pisau turun perlahan.

"Kelihatan hijau!" seseorang berseru.

Rangga tersenyum lebar. Dua master di belakangnya mengusap janggut dengan gaya tenang.

Potongan kedua dilakukan. Warna hijau muncul lagi. Beberapa orang mulai memuji ketajaman mata para master. Rangga mengangkat dagu, menikmati perhatian itu seperti raja kecil.

Namun saat seluruh bagian batu dibersihkan, senyum itu runtuh.

Benar ada giok di dalamnya. Tetapi ukurannya hanya sebesar kepalan tangan, warnanya kusam, dan kualitasnya biasa. Untuk dibuat gelang saja sulit menghasilkan barang kelas atas. Nilai pasarnya jauh di bawah harga beli.

Aula mendadak sunyi.

Bianca menoleh pada Arka. Matanya memancarkan cahaya yang tidak ia sembunyikan.

"Kamu benar."

Arka menyentuh hidungnya, memastikan darah sudah berhenti. "Kebetulan."

"Terlalu sering kebetulan akan berubah menjadi kemampuan."

Ia tidak mendesak, tetapi cara Bianca menatapnya membuat Arka tahu wanita itu semakin penasaran. Itu baik untuk rencananya, sekaligus berbahaya.

Pelelangan berlanjut. Arka mulai lebih hati-hati memakai teknik penglihatan. Ia hanya membuka sebentar, menutup, lalu memberi komentar dengan bahasa orang awam.

"Yang itu terlihat besar, tapi dalamnya retak seperti tahu hancur."

"Yang ini ada hijau, tapi menyebar dan kotor."

"Yang itu warnanya terlalu gelap. Kalau dibeli mahal, susah balik modal."

Bianca mendengarkan dengan serius. Ia tidak selalu mengerti istilah pasar batu mentah, tetapi ia mengerti nilai jual produk akhir. Setiap komentar Arka ia ubah menjadi perhitungan bisnis.

Sementara itu, Rangga terus membeli berdasarkan saran dua masternya.

Satu batu berisi retakan.

Satu lagi hanya hijau di kulit luar.

Satu batu tampak menjanjikan, tetapi setelah dibuka, bagian bagusnya terlalu kecil.

Wajah Rangga semakin gelap. Dua master mulai berkeringat.

Tidak lama kemudian, sebuah batu besar dengan kulit kasar dinaikkan ke panggung. Bentuknya buruk, warnanya kusam, tidak ada pola menarik, dan di antara batu-batu lain ia terlihat seperti barang sisa yang dimasukkan agar meja tidak kosong.

Juru lelang membuka harga. "Rp500 juta."

Ruangan sepi.

Tidak ada yang mengangkat nomor.

Rangga melirik dua masternya. Keduanya langsung menggeleng, bahkan tidak tertarik mendekat.

Bianca juga hendak melewatkannya, tetapi ia tetap menoleh pada Arka.

Arka menatap batu itu.

Ia membuka teknik penglihatan hanya sekejap.

Kali ini pandangannya berhasil menembus kulit kasar. Di dalamnya, warna hijau pekat menyala seperti danau dalam yang terkena cahaya. Bersih, padat, dan hidup. Arka tidak tahu istilah profesionalnya, tetapi nalurinya langsung tahu bahwa benda itu mahal.

Sangat mahal.

Ia segera menutup penglihatannya. Kepalanya sedikit pusing, tetapi matanya berkilat.

Arka mendekat ke telinga Bianca. "Ambil."

Napasnya menyentuh telinga Bianca. Tubuh wanita itu kaku sesaat, tetapi ia tidak menjauh.

"Yakin?"

"Yakin. Yang ini berbeda. Hijau di dalamnya bersih sekali, seperti air danau yang membeku."

Mata Bianca berubah.

Jika benar seperti yang Arka gambarkan, itu bukan giok biasa.

Bianca mengangkat nomor. "Rp500 juta."

Seluruh ruangan menoleh.

Beberapa orang tidak bisa menahan tawa kecil. Batu seburuk itu jelas terlihat seperti barang mati. Membayar Rp500 juta untuknya terdengar seperti membuang uang demi gengsi.

Rangga langsung tertawa. "Bu Bianca, setelah kehilangan master, seleramu benar-benar berubah. Batu seperti itu pun kamu ambil?"

Bianca tidak menanggapi.

Juru lelang tampak lega karena barang sulit itu akhirnya laku. Setelah hitungan terakhir, palu diketuk.

Batu itu menjadi milik Bianca.

Bianca membayar di tempat. Saat ia hendak meminta staf membawa batu ke mobil, Rangga dan dua masternya mendekat, menghalangi jalan.

"Jangan langsung pergi," kata Rangga. "Kalau sudah berani membeli, bukalah di tempat. Kami juga ingin melihat seperti apa mata ahli muda Bu Bianca."

Bianca menatapnya dingin. "Aku tidak wajib menghiburmu."

"Atau jangan-jangan takut malu?"

Pancingan murahan. Namun di depan begitu banyak orang, jika Bianca pergi begitu saja, Pesona bisa memelintir cerita bahwa Lestari takut membuktikan pilihannya.

Arka maju satu langkah, berdiri sedikit di depan Bianca.

"Anjing baik biasanya tidak menghalangi jalan."

Wajah Rangga menghitam. "Kamu memanggil siapa anjing?"

"Yang menjawab."

Beberapa orang langsung menunduk menahan tawa.

Rangga kehilangan sabar. Ia memberi isyarat pada dua pengawal. "Hajar dia. Aku tanggung."

Dua pria besar mendekat dari kiri dan kanan. Mereka baru mengangkat tangan ketika Arka sudah bergerak.

Dua tendangan.

Cepat, bersih, dan keras.

Pengawal pertama terlempar ke meja minuman sampai gelas pecah dan jus tumpah ke lantai. Pengawal kedua jatuh ke arah kerumunan, membuat beberapa tamu berteriak mundur.

Seluruh aula terdiam.

Rangga menatap Arka seperti melihat orang aneh.

Arka merapikan lengan kemejanya. "Aku bicara baik-baik. Kalau Pak Rangga tidak paham bahasa manusia, aku juga sedikit paham urusan pukul-memukul."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Kalau tidak sengaja melukaimu, aku juga sedikit paham pengobatan. Kalau pengobatan gagal dan kamu mati, aku juga sedikit paham feng shui. Kalau setelah mati masih mengganggu, aku juga bisa coba urus arwah."

Aula hening satu detik.

Lalu tawa pecah di beberapa sudut.

Wajah Rangga berubah seperti arang terbakar.

Bianca menutup bibir dengan punggung tangan, tetapi matanya jelas tersenyum.

"Jadi," kata Arka, "masih mau lanjut?"

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!